
"Aku dimana ini?" Luna mengedarkan pandangan kesekeliling ruangan.
Masih dengan sedikit lemah serta pusing yang masih mendera. Luna mencoba bangkit dan bersandar.
"Ini di rumah sakit, aku yang membawamu kesini." Jawaban Mahessa yang tiba-tiba membuat Luna sedikit
terkejut kemudian membantunya untuk duduk.
"Mahessa?"
Luna terkejut "Mengapa dia yang berada disini?"
Luna mencoba mengingat "Oh iya aku ingat. Dia yang membopongku saat aku tak sadarkan diri."
Suasana menjadi canggung Luna bingung harus seperti apa. Tapi tiba-tiba pintu kamar terbuka.
"Selamat malam, tuan dan nyonya." Sapa seorang suster datang beserta seorang dokter yang akan menghampiri keberadaannya.
"Tamatlah sudah riwayatmu Naluna! Semua akan dokter jelaskan bahwa aku tengah menggugurkan kandungan." Luna menundukkan pandangan menggenggam erat selimut yang menyelimuti dirinya yang penuh dengan bau amis dosa.
"Bagaimana jika mereka mengetahui pasal aborsiku? Apa mereka akan membagikan informasi pribadiku? Aku
frustasi untuk yang kesekian kali!" Luna merutuki dirinya sendiri.
"Malam Dok, bagaimana hasilnya? Jadi dia sakit apa?" Mahessa membantu Luna berkomunikasi dengan dokter.
"Nyonya tengah mengalami keguguran. Apakah tuan tahu jika nyonya tengah hamil?" Dokter menjelaskan.
Deg!
Luna semakin gelisah, keringat dingin bercucuran. "Kenapa aku harus takut dengan orang yang tidak aku kenal sama sekali ini?"
"A-PA? KEGUGURAN?" Pekik Mahessa terlihat syok.
Luna hanya bisa terdiam bibirnya sulit untuk berucap apalagi otaknya sedang melakukan rebooting. Hanya saja sebutir air mata lolos begitu saja tanpa dia sadari.
"Tuan tenangkan diri dulu. Apa hubungan tuan dengan nyonya? Saya perlu bicara serius dengan anggota
keluarganya." Sambung dokter bijak.
"Saya suaminya." Dengan tegas Mahessa membuat mata Luna membulat sempurna menatap kearahnya tajam.
"Oh maafkan kelancangan saya tuan. Nyonya mengalami keguguran saya perkirakan baru berlangsung selama enam jam."
"Apa nyonya ada mengkonsumsi sesuatu sebelumnya? Atau sebenernya nyonya mengetahui atau tidak kalau tengah hamil? Karena keguguran ini dipicu sejenis obat atau makanan yang merangsang kontraksi dari dalam."
Penjelasan dokter membuat Mahessa terlihat kebingungan sendiri tapi masih dalam kondisi tenang. Dia kembali melirik Luna berharap bisa mendapat jawaban. Namun Luna hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Saya pikir kami belum mengetahui kehamilan ini. Mungkin istri saya juga begitu karena sebelumnya dia terlihat sehat seperti biasanya." Mahessa berusaha menjelaskan yang dia bisa jelaskan.
"Aku sedikit kagum dengan pria yang baru aku kenal beberapa jam yang lalu sudah bisa berakting sebagus ini!"
"Aku akan memberikan nominasi Global Award padanya! Padahal aku jelas bukan siapa-siapa dan motif apa yang membuat Mahessa membantu aku berkali-kali hari ini? Apa ada tujuan tertentu? Aku sungguh tidak mengenalnya di kehidupanku sebelumnya aku tidak pernah bertemu dengannya sepertinya."
"Baik jika begitu. Nyonya mengalami pendarahan di **** ************* dan ada infeksi di dinding rahim. Ini yang mengakibatkan darah yang terus menerus keluar. Nyonya harus terus dipantau kondisinya. Karena jika terlambat maka nyonya kemungkinan akan kesulitan memiliki anak lagi kelak." Penjelasan dokter jelas dan mudah dipahami membuat jantung Luna seolah lepas dari tempatnya kali ini.
Bagai disambar petir disiang bolong. Tiba-tiba Luna histeris!
"AAAAAAAA!"
"Ini bukan yang aku inginkan! Ini bukan yang direncanakan sebelumnya. Ya Tuhan!"
Secepatnya Mahessa memeluk tubuh Luna yang bergetar hebat. Luna dengan refleks memeluk Mahessa sangat
erat dan meraung menangis pilu.
"Bayiku..." Pikik Luna kembali histeris.
Dia mencoba menenangkan Luna, dia meminta dokter dan suster untuk memberi mereka waktu pribadi. Untungnya mereka mengerti setelah berpesan beberapa patah kata tentang pengobatan mereka pamit undur diri. Setelah hampir setengah jam Luna menangis sekarang pandangannya kosong air matanya seolah sudah kering. Mahessa yang masih setia mendampingi dan menenangkannya perlahan memberanikan diri bertanya.
"Apa kamu sudah tenang?" Tanyanya hati-hati.
Tak ada jawaban dari wanita di depannya.
__ADS_1
"Ada yang ingin kamu makan?" Dia kembali bertanya.
Luna menggeleng dia kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Kamu harus makan, jika kamu terus seperti ini maka akan semakin lama proses penyembuhannya." Bujuk Mahessa kembali.
"Aku tidak ingin apapun, aku pecundang aku dengan yakin ingin menggugurkannya. Namun, sekarang? Aku sangat
menyesalinya. Apa benar yang dikatakan dokter berikutnya aku akan kesulitan mengandung? Lalu bagaimana aku bertemu kedua buah hatiku seperti di kehidupanku sebelumnya."
Bukan jawaban yang Mahessa dapatkan melainkan kembali dia mendengar Luna menangis pilu.
"........"
* * * * *
Setelah cukup tenang, Luna meminta bantuan Mahessa menyerahkan tas miliknya. Dia memberanikan diri mengirim pesan singkat pada atasannya bu Lidya. Dia telah berpikir cepat untuk tindakan selanjutnya. Luna mengirim pesan meminta cuti panjang dia berbohong bahwa dia tengah pulang kerumahnya di kota S.
Di lihatnya masih banyak puluhan panggilan tak terjawab dari kekasihnya. Luna tersenyum getir menatapnya, Mahessa terus memperhatikannya.
"Aku ingin sendiri saat ini..." Gumamnya lirih.
Ada sesak di dada jika mengingat perlakuan kasarnya, mungkin benar dia tidak sepenuhnya mengerti dan mencintai Luna. "Apa yang bisa di harapkan dari hubungan yang baru delapan bulan kami bina? Bahkan delapan tahun yang sudah aku lalui sekalipun tidak bisa aku mengerti seorang Adira!"
"Apa kamu ada saudara yang bisa di hubungi atau siapapun disini? Aku ada urusan sebentar aku harus
meninggalkanmu apa tidak masalah?" Mahessa bertanya dengan sopan membuyarkan lamunannya.
"Saudara? Disini aku tidak memiliki siapapun." Luna kembali dirundung pilu.
"Aku minta maaf merepotkanmu, jika kamu ada urusan maka tinggalkan saja aku disini. Aku tidak memiliki
saudara atau siapapun."
Tangannya kembali menopang wajahnya,dia kembali menangis pilu. Tiba-tiba Mahessa menghampirinya dan mengusap lembut punggungnya. Luna menyadarinya dan menepis berusaha ke posisi semula.
"Oh maaf aku lancang, aku memang tidak tahu masalah apa yang sedang menimpamu. Namun bisakah kamu
mengijinkanku menemanimu sampai kondisimu pulih." Ujar Mahessa lembut.
Sekilas kulihat raut muka pria itu tersipu.
Luna baru menyadari bahwa makhluk didepannya adalah pria yang tampan dan manis. Parasnya seperti tidak asing namun siapa itu dia sudah lelah untuk mengajak otaknya kembali bekerja keras saat ini.
"Oh iya Mahessa, bolehkan aku bertanya dan meminta bantuan?"
"Apa itu?" Dia duduk dikursi sebelah tempat tidur Luna.
"I-itu, apa kamu tidak memberitahukan informasiku kepada pihak rumah sakit?"
"Informasi apa?"
"Ya identitasku seperti data KTP gitu."
"Masalahnya aku memang tengah melakukan aborsi, jika informasiku terlihat oleh orang yang mengetahui tentang
aku...." Luna menggantung kalimatnya.
"Aku belum menikah, jika orang yang mengetahui identitasku tahu aku aborsi maka kamu sudah tau kan seperti apa
maksudku..." Luna malu mengakuinya.
"Kamu aborsi? Jadi kamu sudah tau kalau kamu hamil?" Mahessa terkejut dengan pernyataan Luna.
Luna hanya bisa mengangguk.
"Apa pacarmu yang menyuruh kamu menggugurkannya? Dia tidak ingin bertanggung jawab? Makanya kamu ditinggal sendirian dijalan itu?" Tukas Mahessa dengan sedikit emosi.
Luna terkejut dengan respon berlebihan pria itu.
"Tidak! Itu tidak benar. Justru dia membenciku setelah tau aku menggugurkan anaknya. Dia meninggalkanku di
jalan karena emosi mengetahui aku aborsi tanpa sepengetahuannya." Luna segera menjelaskan keadaan sebenarnya yang membuat dahi Mahessa berkerut.
__ADS_1
Suara dering ponsel Luna mengalihkan pembicaraan mereka.
"Apa itu dia? Kamu tidak ingin membicarakan dan menyelesaikannya?" Tanya Mahessa ingin tahu.
"Halo mas." Jawab Luna cemas.
"Sayang... Akhirnya kamu menjawab panggilanku. Kamu dimana?" Suaranya terdengar seperti putus asa.
"Aku di rumah sakit mas." Jawab Luna datar.
"APA!!"
"RS MANA AKU SEGERA KESANA??!!" Suaranya membuat telinga Luna sakit.
"Tidak perlu mas, kamu sendiri sudah bilang kamu tidak ingin melihat aku lagi kan? Aku sudah membuat kamu
kecewa sejauh ini aku baik-baik saja." Dadanya sesak mengucapkannya.
"Maafkan aku sayang. Aku bersalah... Aku tahu aku salah... Aku mohon sayang... Aku ingin bertemu..." Adira memelas.
"Aku tidak ingin bertemu siapapun!"
"Maaf mas, aku ingin sendiri..." Jawabnya tegas.
"Naluna! Kesabaranku ada batasnya!! Jika kamu ga mau kasih tau maka aku akan menelusuri semua rumah
sakit di kota ini!"
Tiba-tiba jawaban Adira mengingatkannya akan film Taken abang Bryan Mills bilang I'll find you and I'll kill you!!
Segera Luna memutuskan sambungan sepihak. Dia pikir dia akan menghubunginya lagi seperti yang sering dilakukan Diaz. Tapi tidak ada lagi panggilan darinya.
"Iiissshhh!!!! Parah kali dia ini!"
"Bujuk lagi kek!"
"Memelas lagi kek!!"
"Dasar kulkas!!!"
Luna menunjukan kekesalannya di depan Mahessa membuat pria itu menahan tawanya.
"Kamu istirahat dulu saja besok pagi baru dibicarakan lagi ya... Kamu sudah dengarkan nasehat dokter
barusan." Ucap Mahessa menenangkan.
Luna tersadar, dia mengiyakan perkataan Mahessa "Aku sungguh lelah...."
"Kenapa aku tidak mati saja bersama putriku... Bahkan aku tidak sempat melakukan USG melihat wujudnya.. Aku hanya tahu menghabisinya saja.. Maafkan ibu Nenaa..." Luna kembali menangis dalam diam.
Pagi harinya Luna terbangun dengan perasaan hampa, seolah separuh jiwanya hilang entah kemana.
"Tidak!"
"Jangan sampai semua ini sia-sia. Aku sudah mengorbankan anakku. Aku akan berjuang mewujudkan mimpiku mulai saat ini!!" Luna menyemangati diri sendiri.
"Kamu sudah bangun?" Tanya Mahessa yang baru dia sadari dia tertidur di sofa samping tempat tidurnya.
"Kamu menemaniku semalaman?" Tanyanya heran.
"Hehehe... Aku tidak tenang. Apa kamu menginginkan sesuatu?" Jawabnya santai.
"Sejujurnya aku ingin ke kamar mandi namun tidak mungkin meminta bantuannya." Batinnya.
"Bolehkah memanggil perawat kesini? Aku ingin membersihkan diri. Aku minta maaf merepotkanmu..." Luna tidak enak mengungkapkannya.
"Oh iya.. Tidak masalah tunggu sebentar ya..." Mahessa tersenyum manis.
Tidak membutuhkan waktu lama perawat datang dan membantu segala kebutuhannya. Sampai pada waktu sarapan pagi Luna tidak melihat Mahessa dia bergegas memakan sarapan paginya. Luna memeriksa ponselnya. Puluhan panggilan dari beberapa orang masih mendominasi. Dia terus menscrollnya sampai saat akan memeriksa pesan masuk tiba-tiba ponselnya berdering.
"AAAA KAGET AKU!!" Luna hampir menjatuhkannya.
"SANDRA? MAMPUS AKU!!"
__ADS_1
* * * * * * * * * *