
Luna mendorong tubuh Adira, mengisyaratkan keberatannya atas tindakan Adira saat ini.
"Mas bawa apa?" Beruntung Luna bisa mengalihkan suasana yang mulai tidak kondusif.
Dia ingat, mantan suaminya itu setiap bertemu akan sangat mesum terhadapnya, namun saat di luar akan sangat dingin. Bahkan dia bersikap seolah Luna bukan pasangannya di kantor. Dia lebih terkesan menyembunyikan status mereka di banding Luna yang memang ingin show up pada semuanya.
"Owh ini..." Adira mengangkat bungkusan plastik yang dia beli dari pujasera depan.
"Sarapan buat kamu..."
"Gara-gara kamu bilang cuti aku kepikiran kamu pasti ga akan keluar kamar sampe sore."
"Kamu kan pemalas naudzubillah!!" Ejeknya kemudian.
"Idiiiihh!!"
Plaak!
Luna menepuk bahu Adira kesal, Adira menanggapi dengan tawa lirihnya.
"Ko cuti ga bilang-bilang?" Adira menyerahkan bungkusan plastik pada Luna.
Wanita itu segera menyambar dengan senyuman dan membawanya ke meja yang digunakan Luna untuk apapun.
"WOW BUBUR AYAM!!" Pekik Luna girang bukan kepalang.
Dia merindukan makanan favoritnya selama tinggal di kota B ini. Semenjak dia ketahuan hamil dan Adira menikahinya mereka segera pindah ke ibu kota.
"Segitu senengnya sama bubur ayam sama aku kagak!!" Adira mulai menunjukan sikap manjanya.
"Eh..." Luna mengamati sikap Adira yang mulai melunak padanya padahal seingat dia seharusnya tahun ini dia masih sangat dingin. Jika bukan bermain di ranjang pria itu tidak akan banyak berbicara. Dia bahkan belum mengenal baik sifat pria itu tapi dia sudah merelakan tubuhnya di nikmati gratis oleh pacarnya.
"Kenapa liatin aku gitu?" Adira kembali merangkul tubuh Luna yang membuat prianya kecanduan luar biasa.
"Maas... Aku pake baju dulu ya." Luna mengecup pipi Adira.
"Sepagi ini kamu selalu membuat imanku bergejolak hebat Luna!!!" Bisiknya kembali.
Luna sangat takjub dengan prianya yang benar-benar tidak bisa menahan hasratnya jika berduaan saja.
"Aku kan ga godain mas... Hanya saja aku benar-benar abis mandi..."
"Mana aku tahu juga mas mau kesini ikut cuti bareng aku."
"Pokoknya aku bakalan minta kompensasi gara-gara kamu aku ikutan cuti!!"
"Idih!!" Luna menarik dirinya keluar dari pelukan pria perkasanya. Bergegas mengambil pakaian dan memakainya di dalam kamar mandi.
"Luna... I'm addicted to you!" Gumam Adira.
Dia segera menata sarapan paginya dengan Luna, kemudian menatap nanar ke arah luar jendela kamar Luna.
"Luna, bagaimana aku mengatakan bahwa hubungan kita belum mendapat restu orang tuaku?"
Adira tengah berpikir serius tentang hubungannya dengan Luna. Dia selalu berbuat mesum dengan wanitanya, dia ingin mengakhirinya. Dia ingin segera meminangnya sehingga tidak lagi melakukan dosa ini terus menerus. Adira sangat mantap memilih Luna menjadi istrinya namun sayangnya keluarga besarnya belum memberikan lampu hijau pada hubungannya dengan Luna.
Kreek!
Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, Luna tengah mengenakan pakaian yang selalu dia kenakan. Atasan Off-Shoulder warna hitam yang kontras dengan warna putih kulitnya dengan celana hots pants yang memperlihatkan kulit mulusnya.
"Dia make baju gitu terus gimana iman gue ga anjlok tiap kali ketemu dia!!"
__ADS_1
"Huh!!"
Adira mendengus kesal dengan gaya berpakaian pacarnya.
Setelah menghabiskan seluruh porsi sarapan pagi mereka Adira kembali membuka percakapan yang sangat mustahil di kehidupan sebelumnya.
"Kamu emang kenapa sih ampe cuti ga bilang!!"
"Kan aku bilang kesiangan... Di banding potong gaji mening cuti sekalian..."
"Kan tinggal mandi bentaran aja yang... Aku juga bakalan nungguin... Dari tempatmu ke kantor cuma 15 menit doang!"
"Lah tadi yang bentak-bentak bilang kesiangan siapa!!"
Keduanya berujung adu mulut saat ini. Adira menggeleng kepalanya, dia mendekat ke arah wanitanya yang tengah merajuk dengan raut cemberut dan bibir majunya membuat Adira gemas sendiri dengan Luna.
"Ya udah sekarang udah cuti... Mau jalan-jalan ga?"
"Atau mauu...."
"IH MASHROOM!!!" Luna mengacak wajah Adira dengan tangannya kesal di sambut kekehan prianya yang langsung mendekap erat tubuh Luna.
"Sayang... Aku sangat rindu..." Bisiknya di depan wajah Luna.
Keduanya bertautan namun tidak berapa lama Luna merasa mual dia mendorong tubuh Adira dan bergegas menuju toilet.
Hoek... Hoek... Hoek...
"LUNAA!!" Pekik Adira mendekat dan khawatir dengan keadaan pacarnya.
"Astagaa!!"
"Tidak!! Aku tidak mungkin hamil kan saat ini?"
"Aku ingat dulu aku ketahuan hamil di bulan November... Harusnya saat ini gejala kehamilanku sudah muncul."
Luna mencuci wajahnya dan menyembunyikan raut frustasinya di hadapan Adira saat ini.
"Jika kemarin aku mengakuinya, maka saat ini aku akan menyembunyikannya!"
"Maafkan aku mas..."
Luna keluar kamar mandi dengan wajah pucat yang tidak bisa dia tutupi di depan Adira.
"Kamu kenapa sayang?"
"Kita ke dokter mau?"
Adira terus membombardir Luna dengan pertanyaan khawatirnya, Luna bersiap menutupi semuanya.
"Ga usah mas, kayaknya aku beneran masuk angin deh..."
"Mana mungkin... Barusan kamu baik-baik aja sayang."
Adira memberikan Luna air hangat yang sudah pria itu siapkan. Luna menatap gelas air mineral itu.
"Mengapa dia sangat berbeda dari terakhir aku kenal..."
Luna menenggak habis air minumnya, dia kembali di bawa mengingat bagaimana Adira memperlakukannya sebelumnya. Sebelum dia menikah Adira benar-benar tidak memperdulikan Luna. Dia bahkan marah jika Luna sakit, bukannya khawatir. Maka dari itu Luna tidak pernah memberitahukan pasal asam lambungnya yang selalu kumat karena jadwal makannya yang berantakan.
Luna juga mengatakan pasal kehamilannya karena sudah sangat buntu dengan apa yang akan terjadi kedepannya, perutnya akan membesar. Mengetahui kehamilan tak terduga Luna, Adira juga menyakiti dirinya sendiri mengetahui bahwa Luna bisa hamil di luar nikah salah satu bentuk penyesalannya. Tanpa basa-basi juga Adira segera meminta Luna mengundurkan diri dan dia akan menikahinya saat itu walau tanpa restu kedua orang tuanya. Setidaknya mereka sudah berstatus menikah.
__ADS_1
Luna menyesal, sangat menyesal. Semasa hidupnya dia tidak begitu mendalami ilmu agama. Dia juga tidak memikirkan dampak psikologis kedepannya. Saat itu dia merasa dengan menikah semua akan kembali baik-baik saja. Nyatanya tidak...
"Memangnya di komik, menikah dengan pria tampan dan seorang jutawan jalur hamil duluan."
"Di komik enak, ceweknya hamil kabur, ga dinikahin si pria bodo amat... Langsung skip to the good check di 5 tahun kemudian. Anaknya lahir, dan terlahir jenius pemersatu emak bapak!"
"Hello ekspektasi...."
"Sayaang..."
Ucapan Adira membuyarkan pikiran Luna, Luna menatap Adira sayu.
"Kamu hamil?"
"DEG!!"
"Dari mana mas bisa mikir aku hamil?!!" Umpat Luna gelisah.
"Sayaang... Kita sudah sangat sering melakukannya. Bahkan minggu kemarin aku berkali-kali..."
"Berkali-kali apa?" Luna menatap nanar pada prianya.
Adira mengusap kasar wajahnya berdiri membelakangi wanitanya yang masih duduk di kursinya.
"Aku tidak mungkin bilang aku mengelurkannya di dalam!!" Batin Adira merasa menyesal.
Memang benar melakukan dosa itu nikmatnya tidak ada duanya. Namun saat ini mereka telah kena batunya.
"Mas membohongiku bukan?"
"Mas mengeluarkannya di dalam?"
Ingin rasanya Luna memukul prianya menumpahkan segala kekesalannya. Namun untuk apa, Luna akhirnya menyadari semua tidak ada artinya lagi. Semua sudah terlambat, benih itu telah hadir di rahimnya.
"Mas tidak mungkin bohong bukan? Aku tidak hamil..."
"Aku masuk angin aja... Semalam aku begadang makanya kesiangan."
Adira berbalik badan kembali, ada keraguan dia rasakan pada setiap perkataan Luna saat ini.
"Luna tidak mungkin berbohong padaku?" Batin Adira.
"Sayang kita keluar yuk!!" Ajak Luna mencairkan suasana.
"Kamu mau kemana?" Adira bersimpuh di bawah kaki Luna.
"Kamu pengen kemana aku anterin... Ke ujung dunia sekalipun..." Adira mengacak rambut Luna.
Luna sudah tidak tahan untuk tidak menangis. Adira mengusap lembut kedua netra Luna yang telah basah oleh air matanya.
"Kenapa menangis sayang?"
"M-mas... Dulu mas tidak perhatian seperti ini..." Lirih Luna merasa pedih di saat dia selalu merasa cinta sendiri selama ini.
"Maaf kan aku Luna... Maaf kan aku sayang... Aku janji aku akan perbaiki sikapku ya..." Adira memeluk erat wanitanya.
"Terima kasih..."
"Maafkan aku mas, aku akan menggugurkan benih cinta kita. Dan kita tidak mungkin bersama kedepannya..."
Luna semakin terisak dalam pelukan Adira, pria itu dengan sabar mengusap lembut punggung wanitanya. Sesekali mencium pucuk kepalanya. Dia sama menyesal telah merusak wanita yang paling dia cintai sebelum dia menghalalkannya.
__ADS_1
* * * * * * * * * *