Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 49 : Beautiful We Are


__ADS_3

Saat berlarian menuju lorong MRT tiba-tiba saja rintik hujan diikuti teman-temannya datang. Mereka terdiam sebentar mendongakan kepala keatas.


"Yaah.. Ujan..." Keluh Luna tak tahu diri.


Adira segera mendekati Luna dengan membuka kemejanya dan membuatnya menutupi kepala kekasihnya.


"Ayok lari bentar kedepan.." Titahnya.


Luna mendekat di dekapan prianya mereka bergegas menuju lorong. Sesampainya disana Adira mengibaskan kemejanya dan memakaikannya dibahu Luna.


Luna hanya terpukau memperhatikan tingkah laku prianya yang lagi-lagi untuk pertama kalinya.


"Aku ingin menangis terharu sekarang!!"


"Mengapa aku berselingkuh disaat dia berubah!" Batin Luna.


"Kamu basah ga yang?" Tanyanya memegang kedua pipi Luna.


Luna menggelengkan kepala seraya memeluk erat pacarnya.


"Yuk yang mumpung keretanya udah berenti." Ajaknya kemudian.


Mereka bergegas masuk dan kebetulan gerbong yang mereka masuki penuh sudah tidak ada lagi tempat duduk. Jika terus mencari kedepan rasanya malas bagi mereka. Akhirnya keduanya memilih berdiri di sisi dekat dengan pintu. Disini Adira seolah mendekap Luna.


Dia menghalangi orang lain agar tidak bersentuhan dengan kekasihnya. Dagunya menopang pada kepala Luna, sesekali dia mengecupnya. Sepanjang perjalanan Luna sungguh dibuat mabuk cinta saat ini.


Karena merasa bosan Luna memainkan tangan kekasihnya yang tengah memegang besi penyangga. Dengan membuka dan menutupkan jarinya. Tapi yang Luna dapat adalah gigitan kecil ditelinganya.


"Aaahh.... Apa dia tidak peduli dengan orang sekitar!"


"Tapi ekspresi dia mah datar aja gitu."


"Cih sok cool!"


Gumam Luna lirih.


Mereka telah sampai di tujuan kembali mengunjungi Central Island. Luna berharap disini hujan telah reda. Benar saja, setelah mereka keluar dari area MRT hujan telah reda.


Luna senang bukan kepalang. Luna berlarian sekali lagi melakukan hal absurd lainnya dengan menyipratkan genangan air ke arah prianya.


"Ya tuhan Nalunaaa... Aku tidak menyangka jiwamu lebih mirip anak tk!" Rutuknya.


Luna hanya membalas dengan juluran lidah. Adira menghampirinya gemas dan merangkulnya erat.


"Tidak masalah selama kamu senang aku jauh lebih bahagia." Adira mencium pipi Luna dan menekannya gemas.


Mereka sungguh sudah tidak malu lagi menunjukkan kemesraan dimanapun mereka berada.


"Mentang-mentang di negeri orang!!"


"Mas, ada rent bike! Naek yuuuuk ke cruise ship."


"Siap nyonyaaaa..."


Setelah selesai proses pembayaran Adira menyuruhnya naik.


"Ayok..."


"Bentar."


Mengingat Luna memakai mini dress agak sulit duduk di jok belakang akhirnya dia duduk menyamping.


"Pegangan yang kenceng ya yang..."


Luna eratkan pegangan tangannya di pinggang kekasihnya. Sepedah melaju di pelataran Central Island. Pemandangan laut malam terhampar didepan mata. Dengan banyaknya kelap kelip lampu dimana-mana. Pemandangan yang jauh lebih menakjubkan dibanding saat sore kala itu.


Luna melirik jam di tangan menunjukan pukul 22.30 pantas saja lebih sepi dibanding sebelumnya. Luna lalui semuanya dengan haru. Selain mengeratkan pelukan Luna juga menyenderkan kepala dipunggung prianya. Namun tiba-tiba kekasihnya menggelitik tangannya.

__ADS_1


Luna terkejut membuat keseimbangan terganggu dan sepedahnya oleng.


"Maaaaas..." Pekik Luna.


"Maaf kamu gapapa kan? Abis tiba-tiba hening." Ujarnya khawatir.


"Apa perlu aku menyanyi naik-naik kepuncak gunung?" Ejek Luna kemudian.


"Hahahaha" Adira malah terbahak dengan jawaban polos kekasihnya.


Mereka telah sampai di pelataran cruise ship. Adira memarkirkan sepedahnya. Luna sudah tak sabar, tanpa menunggu kekasihnya ia bergegas menuju depan.


Terpangpang jelas sebuah keindahan dunia yang tuhan ciptakan. Laut lepas dengan banyaknya pantulan cahaya. Namun tempatnya berdiri suasananya redup agak jauh dari lampu penerangan yang berada disudut. Luna memegang erat di pagar pembatas. Menutup mata seraya berdoa.


"Terima kasih tuhan, aku sungguh bahagia saat ini. Aku meminta maaf janjiku belum aku penuhi untuk menjadi hambaMu yang taat."


Sebuah pelukan hangat dengan aroma yang sangat Luna kenal membuyarkan lamunannya. Tangannya menggenggam erat tangann kekasihnya dalam rangkulan. Adira mengecup pipi Luna lama sekali.


"Yaaang..." Panggil Luna, tubuhnya mudah sekali merinding.


Adira melepaskan kecupan dan rangkulan tangannya. Kini dagunya menyandar dibahu kekasihnya.


"Apa nyonya Adira tengah merasa puas saat ini?" Tanyanya lirih.


Luna mengangguk dengan penuh semangat. Masih dengan menikmati pemandangan didepan. Tiba-tiba Adira merentangkan sebuah kalung didepan Luna.


Refleks Luna menutup mulut dengan kedua tangannya. Luna tidak percaya dengan semuanya. Tanpa basa-basi Adira mengenakan kalung di leher jenjang kekasihnya.


"Apa ini mas?" Tanya Luna lirih dengan memainkan liontin yang berbentuk seperti bulan namun masih ada bulatan kecil seperti berlian ditengahnya.


"Kamu suka?" Tanyanya mesra.


Dia membalikkan tubuh Luna menghadapnya. Mata Luna tengah berembun dia sungguh sudah tidak bisa menahan kebahagiannya kali ini. Luna berinisiatif lebih dulu mencium kekasihnya, ia meraih pipinya dan menyesap bibirnya yang menggoda, Adira terkejut akan sikap Luna yang terburu-buru. Lama kelamaan keduanya bertautan dengan mesra terus menggerakan kepala mereka mencari titik kenyamanan di tiap permainan lidah mereka.


Adira tengah melepaskan tautan mereka.


"Aku menangis bahagia."


"Terima kasih mas. Kamu selalu berusaha membahagiakanku. Aku selalu merasa jatuh cinta padamu berkali-kali."


"Aku tidak perlu alasan lain untuk bilang aku mencintaimu mas."


"Aku sangat mencintaimu Adira Renald."


Luna mendekapnya erat dengan masih berderai air mata. Adira melepaskan pelukannya kembali menyeka air mata kekasihnya.


"Sayaaang, mulai saat ini berjanji ga boleh lagi nangis ya. Kamu jelek kalo nangis." Godanya.


"Maaaas...." Luna memukul bahu prianya. .


"Senyum dong sayang...." Candanya lagi.


"Kamu cantik sekali Luna." Lirihnya.


"Benarkah?" Luna tersipu.


Luna mengangkat satu tangannya ke atas. Luna berputar seperti tengah berdansa.


"Apa aku cocok dengan kalung ini?" Tanyanya lagi.


"Tentu saja... Apapun yang kamu kenakan terlihat cantik!" Adira kembali mendekatkan tubuh kekasihnya menarik tengkuk leher kekasihnya dan kembali mencium bibirnya liar.


"Eh tunggu..." Luna buru-buru mendorong tubuh kekasihnya.


"Kenapa yang?" Tanyanya heran.


Luna mengeluarkan iPod dan memutar music player. Luna mencari lagu Chistina Perri yang berjudul a thousand years. Dia teringat saat Hapsari membawanya menonton breaking down dan saat pernikahan edward sama bella lagu ini sukses bikin haru mencuat kepermukaan. Luna berharap kelak Adira meminangnya dan mengajaknya berdansa dengan lagu ini. Saat ini sepertinya suasana sedang mendukung.

__ADS_1


"Kita dansa disini yuk..." Pinta Luna lirih memeluk kekasihnya.


Adira hanya tersenyum kemudian menyambut kedua tangan Luna, mereka hanyut dalam lantunan melodi yang dalam.


^^^Heart beats fast^^^


^^^Colors and promises^^^


^^^How to be brave?^^^


^^^How can I love when I'm afraid to fall?^^^


^^^But watching you stand alone^^^


^^^All of my doubt suddenly goes away somehow^^^


^^^One step closer^^^


^^^I have died every day waiting for you^^^


^^^Darling, don't be afraid^^^


^^^I have loved you for a thousand years^^^


^^^I'll love you for a thousand more^^^


^^^Time stands still^^^


^^^Beauty in all she is^^^


^^^I will be brave^^^


^^^I will not let anything take away^^^


^^^What's standing in front of me^^^


^^^Every breath^^^


^^^Every hour has come to this^^^


^^^One step closer^^^


^^^I have died every day waiting for you^^^


^^^Darling, don't be afraid^^^


^^^I have loved you for a thousand years^^^


^^^I'll love you for a thousand more^^^


^^^And all along I believed I would find you^^^


^^^Time has brought your heart to me^^^


^^^I have loved you for a thousand years^^^


^^^I'll love you for a thousand more^^^


^^^One step closer.^^^


"Kamu adalah hadiah terindah yang tuhan kasih untukku." Lirih Luna dalam pelukan kekasihnya.


Adira melonggarkan pelukan, menatap kekasihnya lekat terlihat jelas kedua netranya sedikit berkaca.


"Aku mencintaimu Luna dengan segenap jiwaku!"


* * * * * * * * * *

__ADS_1


Note : Lirik lagu diambil dari Google.


__ADS_2