Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 82 : Wedding Dress


__ADS_3

Mahessa tertegun memandangi kekasih hatinya tengah memakai gaun pernikahan yang membuatnya terlihat sangat cantik. Melupakan ketegangan yang tengah terjadi sebelumnya.


"Cutie..." Lirihnya.


"Tuan, nona sudah selesai fitting anda bisa langsung mengenakan Tuxedo pasangan berikut."


Seorang pelayan mengarahkan Mahessa untuk mencoba pakaiannya. Mahessa menepi menghampiri Luna yang tengah terduduk dan menutup matanya.


"Kamu sangat cantik cutie..." Bisik Mahessa ditelinga Luna.


Secepat kilat Luna membuka matanya dia seperti terkena arus listrik. Kedua netra Luna membulat melihat tampilan Mahessa kini dengan tuxedo hitam classic. Penampilannya yang rupawan tidak menampik membuat Luna menelan salivanya.


"Demi apa gue kegoda!!! Murahan sekali kamu Luna!!" Rutuknya dalam hati.


Luna bangkit dari tempat duduknya pelayan memperbaiki gaunnya agar terlihat lebih rapi. Luna mengenakan gaun pernikahan dengan model A Line tanpa lengan warna putih. Rambutnya terurai rapi menutupi sebagian kulit punggung Luna yang terekspos. Mahessa yang kini melihatnya juga tengah menelan salivanya berulang kali.


"Tuan dan nyonya sangat serasi..." Senyum mengembang dari pelayan dan kemudian mereka pamit.


Mahessa mendekati Luna.


"Mau apa kamu..." Luna mundur dia takut Mahessa menyentuhnya kembali.


"Mami sedang memperhatikan kita, sebaiknya kamu tidak melakukan kecurigaan yang berlebihan..." Ancam Mahessa.


"Apa?" Luna mengernyit kesal.


Mahessa mendekat membelai wajah Luna.


"Apa kamu ingin model gaun lain?" Tanya Mahessa lembut dekat sekali dengan wajah Luna.


Luna merasa detak jantungnya tak beraturan.


"Aku hanya melakukan apa yang diperintahkan dan diberikan. Ini pernikahanmu bukan pernikahanku!!" Ujar Luna dingin.


Mahessa menyeringai, tangannya perlahan memegang pipi Luna. Saat akan menepisnya Luna melihat Sesillia menuju tempatnya. Dia menutup matanya dan kemudian Mahessa menyesap bibir Luna dan bermain disana.


"OWHHH...." Sesillia menutup mulutnya kemudian dia berjinjit mundur kembali agar tidak mengganggu keduanya.


Keduanya bertautan, Satu tangan Mahessa merangkul pinggang ramping Luna mendorongnya mendekat kedalam dekapannya. Satu tangannya masih membelai pipi Luna kemudian turun kelehernya.


Luna masih terpejam dia menikmati sentuhan Mahessa yang semakin menuntut. Tangannya dia rangkulkan di Leher Mahessa. Lelaki itu turun menciumi leher Luna yang jenjang.


"Kamu wangi sekali sayaaang..." Lirih suara berat Mahessa yang tengah menahan hasratnya yang kembali mencuat.


"Aaaaahh..." Lenguh pelan Luna keluar begitu saja.


Mahessa memainkan bukit indah Luna yang terekspos kemudian menyesap puncaknya.


"Aaaaahhhh hentikan Mahessa..." Luna mencoba mendorong Mahessa.


Keduanya tengah terengah dan salah tingkah.


"I'm addicted to you cutie..." Lirih Mahessa.


"Karena kamu telah melanggar perjanjian maka kamu harus membayarku..." Ujar Luna asal dengan masih terengah.


"Baiklah nyonya... Berapa yang harus aku bayar?" Senyum Mahessa mengembang.

__ADS_1


"Kamu sungguh membuat aku kecanduan Luna..." Batin Mahessa.


"Aku menginginkan Black Cardku diaktifkan..." Sejujurnya Luna telah memiliki dari Adira. Ini hanya spontanitas.


Mahessa terkekeh dan mendekati kembali kearah Luna.


"Baiklah tidak masalah... Aku bahkan akan memberikan dua bahkan tiga dengan akses unlimited... Bolehkah aku meminta hak ku kembali sayaaaang..." Bisik Mahessa bibirnya menyentuh telinga Luna.


Luna mematung, merasa kembali tersengat arus listrik dari tindakan Mahessa.


"Ternyata benar, kamu sangat sensitif dibagian telinga ya sayaaaang...." Lirih Mahessa kemudian merangkul kembali tubuh Luna dan mencium bibirnya kembali.


Sesillia merasa sudah cukup lama menunggu dua sejoli itu berciuman. Saat kembali menghampiri mereka ternyata keduanya belum selesai.


"ASTAGAAAA BOCAH NAKAL INI GA SELESAI-SELESAI!!!" Batin Sesillia.


"Ehmmm.... Gimana gaunnya tidak perlu perbaikan kan?" Ujar Sesillia membuyarkan hasrat keduanya.


"Sejujurnya aku tidak ingin mengganggu keharmonisan kalian hanya saja aku sudah tidak tahan melihat kalian dengan pakaian pernikahan ini..." Batin Sesillia.


Keduanya melepaskan tautan. Luna tertunduk malu dan memerah.


"Mam kamu perusak suasana..." Rutuk Mahessa.


"Bocah nakal. Kamu bisa melakukannya besok malam sepuasnya bahkan lebih..." Ujar Sesillia datar.


Luna menutup wajahnya yang semakin memerah karena malu. Mahessa menjadi salah tingkah dengan penuturan ibunya.


"Ya tuhan ekspresi mereka sungguh menggemaskan. Malu-malu kucing... Tidak sesuai dengan umur mereka..." Rutuk Sesillia dalam hati.


"Apa mungkin besok malam aku akan bisa memiliki Luna seutuhnya?" Batin Mahessa menatap Luna.


"Susah amit sih ini...." Luna mencoba meraih resleting dengan kesal.


"Kamu kan bisa pake kata sakti sih...." Ujar Mahessa berdiri bersilang tangan dan menyender di pilar penghubung.


"Cih..." Jawab Luna ketus.


Mahessa mendekat.


"Mau apa kamu?" Luna berbalik dan waspada.


"Sini..." Mahessa membalik badan Luna.


Luna pasrah dengan ekspresi cemberut. Mahessa memperhatikan dari kaca besar. Dia terkekeh dengan ekspresi Luna. Namun tak berapa lama Mahessa terdiam dia menahan emosi yang tiba-tiba menjalar dihatinya.


"Kamu benar-benar menjadi budak cinta Adira ya? Apa bagusnya dia?" Ujar Mahessa ketus seraya mengusap punggung Luna yang saat ini tengah bertuliskan nama seseorang.


"..............." Luna terdiam.


"Maksudmu apa... Cepat lah selesaikan membukanya... Aku mau berendam... Lelah seharian diluar..." Imbuh Luna kemudian.


"Tato nama ini?" Mahessa menekan jarinya dipunggung Luna yang bertuliskan nama Adira dalam tulisan arab.


"Jujurly sebenarnya itu menandakan bahwa tubuhku ini milik Adira..." Jawab Luna dingin.


Saat ayahnya di barbershop dia pamit ketempat pembuat tatoo sekitaran dan meminta dibuatkan tatoo di area punggungnya kecil namun masih bisa terbaca bertuliskan

__ADS_1


" My beloved أدر رينالد "


Mahessa sudah sangat tersulut emosi dia membalikan badan Luna memegang kedua pipinya dengan satu tangannya dan berucap dekat sekali dengan wajahnya.


"Besok tubuhmu milikku juga!!" Dengan mata tajam Mahessa berucap.


Luna menelan salivanya, dia sangat takut melebihi takut saat mantannya dulu emosi. Mahessa tersadar dia melepaskan tangannya. Mengusap lembut air mata yang tengah keluar dari kedua pelupuk mata Luna.


"Maaf kan aku..." Lirihnya.


Luna memalingkan wajahnya. Mahesa kembali membalikkan badan Luna perlahan dan segera membantunya menurunkan resleting. Dengan perlahan Mahessa melakukannya tak lupa menyentuh setiap inci kulit punggung Luna. Terakhir dia mengecup punggung Luna.


Luna terkejut, kedua matanya membulat dia seperti terkena sengatan listrik.


"Astaga!!! Mahessa sengaja melakukan ini kan?!" Rutuk Luna kesal.


Tangan Mahessa merangkul Luna dan mengelus perut rata Luna. Namun tangan Luna menghentikannya.


"Mahessa... Aku pengen mandi boleh kan?" Rengek Luna manja.


"Boleh sayaang..." Ujarnya berbisik dibelakang telinga Luna.


Mahessa melepaskan Luna, dia siap berbalik meninggalkan Luna. Namun saat akan memberitahu Luna untuk segera bergegas makan malam, mata Mahessa membulat sempurna. Dia terdiam tanpa berkedip melihat pemandangan yang tak sengaja dia lihat. Luna membiarkan gaunnya terlepas kebawah, kini dia hanya memakai pakaian dalam saja kemudian dia mengambil kimono yang tergantung tak jauh dari tempatnya berdiri.


Mahessa menelan salivanya dan jakunnya turun naik berkali-kali.


"NALUNA!!!"


"Akhirnya ada yang berdiri tegak namun bukan tiang bendera..." Pekiknya dalam hati.


"Loh kamu belum pergi..." Tanya Luna polos tengah mengaitkan kimononya.


"Kamu jangan lupa nanti makan malam dibawah...." Jawab Mahessa gusar.


Luna menyeringai otak nistanya selalu saja membuat dia seperti memiliki kepribadian ganda. Luna mendekati Mahessa yang masih tidak bergerak. Luna menautkan kedua tangannya dileher Mahessa. Kemudian berucap manja menatap Mahessa.


"Bolehkah aku makan di kamar ini saja sayaaang... Aku sangat lelah..." Rengek Luna.


Mahessa menatap Luna lekat dan turun melihat belahan dada luna yang terekspos. Membuat debar jantungnya semakin kencang. Bahkan rasanya akan terlepas dari tempatnya.


"Terserah kamu sayaaang..." Ujar Mahessa seraya mendekap tubuh Luna erat dan menghisap leher Luna.


"Aaaaah...." Luna melenguh seraya menjambak lembut rambut Mahessa.


"Astaga Luna, kamu benar-benar mencari masalah!!" Batin Mahessa.


"Mandi lah... Istirahat yang cukup... Nanti akan ada orang yang mengantar makan malammu..." Mahessa melepas rangkulannya.


Luna terdiam. "Impresif sekali... Jika saat ini didepanku ini Mas Dira maka habis sudah aku akan dilahapnya tak bersisa...." Batin Luna.


"Terima kasih...." Luna tersenyum kemudian menjauh berlalu menuju kamar mandi.


Mahessa yang masih terdiam mendengus kesal.


"Aku sudah sangat berusaha keras untuk tidak terpancing nafs*... Kamu hebat Mahessa!!"


Dia mengapresiasi diri sendiri atas perjuangannya menjaga kehormatan Luna.

__ADS_1


"Aku bertaruh jika barusan diposisiku adalah Adira maka saat ini dia telah menikmati tubuh Luna. Bajingan memang Adira ini dia tidak pernah bisa menjaga kehormatan seorang wanita!!!" Rutuk Mahessa emosi kemudian.


* * * * * * * * * *


__ADS_2