Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 30 : Penyesalan mendalam


__ADS_3

Adira tengah menyematkan cincin yang di berikan ibunya sebelumnya. Dia bilang untuk memberikan pada wanita yang akan menjadi istrinya kelak. Saat ini tentu saja dia memberikannya pada Luna.


"Saat ini kamu nyonya Adira." Adira mengecup kening wanitanya.


Luna hanya tersenyum bahagia menerimanya.


"Masuk dulu yu, kamu bisa masuk angin..."


Adira merangkul tubuh calon istrinya memasuki kembali kamar mereka dan menutup pintu balkon.


"Kamu istirahat ya, aku kupasin buah mau?"


"Mau..."


Adira mengecup kening Luna "Belum ijab qabul aja aku dah ngerasa kamu istriku sayang..."


Adira dan tersipu bersama, mereka benar-benar tengah di mabuk asmara saat ini.


Luna memainkan cincin di jemarinya. Dia benar-benar tidak percaya apa yang telah terjadi padanya saat ini.


"Maafkan ibu Nena, kami berbahagia di tengah aku menggugurkanmu..."


"Huh!"


Luna kembali menghirup nafas dan membuangnya kasar. Setelah itu Adira menghampirinya.


"Ini..."


Luna terduduk di pinggir ranjang besar.


"Mas yang isi seluruh perabot ini?"


"Mengapa aku tidak pernah mengetahuinya?"


Pertanyaan Luna membuat Adira salah tingkah untuk jujur pasal identitasnya saat ini entah mengapa Adira belum berani.


"Kami baru saja berbaikan... Apa dengan mengetahui pasal identitasku dia akan kembali marah?" Perang dalam batin Adira membuat Luna terpaku.


"Aku sudah tahu mas, mengapa kamu menutupinya?" Batin Luna.


"Mas..." Tanya Luna kemudian.


"Aku membelinya sudah seperti ini..."


"Aku tidak punya waktu untuk mengisi dan mendekor semuanya."


"Jadi aku beli memang untuk langsung aku tinggali."


"Berapa semua ini?"


"DEG!!"


"Luna... Semua ini tidak penting ya..."


"Kapan aku membawa kelaurgaku bertemu keluargamu."


Kini giliran Luna yang gelisah, dia melupakan sesuatu. Seperti misi awal dia ingin di hidupkan, dia ingin fokus berkarier sebelum semuanya di kekang oleh pria posesif di depannya ini.


"Mas... Aku mau meluruskan semuanya."


Adira terkejut, dia tengah khawatir.


"Aku menerima cincin ini bukan berarti kita akan menikah dalam waktu dekat ini."


"Aku masih belum siap jika harus meneruskan ke jenjang yang lebih sakral ini..."


"Beri aku alasan yang masuk akal Luna!!" Adira mulai merasa kesal dengan pemikiran calon istrinya.


"Aku ingin berkarier..."


"Aku ingin menjalani kehidupan bebasku sebelum aku benar-benar menjadi istrimu."


"Aku akan menyetujuinya Luna..."


"Aku mohon mas..."


Luna tengah memelas pad prianya saat ini, dengan tatapan sayu dan wajah yang masih terlihat pucat Adira menerima dengan terpaksa.


"Banyak hal yang belum mas ketahui tentang aku, begitu pula sebaliknya."


"Kita bisa mencari tahu setelah kita menikah!!"


"Apa mas ingin menikahi ku hanya karena sudah meniduriku?"


"Ini murni kesalahanku yang membiarkan mas menjamah tubuhku dengan cuma-cuma."


"Aku sudah tidak pantas berkata menyesal..."


"Kita perbaiki hubungan kita ya?"


Luna menggenggam tangan Adira memelas. Adira menyambut genggamannya.


"Bagimana jika aku tidak tahan untuk terus memintanya sayang!!"


"Kita nikah siri ya sayaang..."


"Astaga dragon!!"


"Dia maksa nikah cuma buat melegalkan hal mesumnya denganku!!"


Luna merutuki kelakuan mantan suaminya itu dalam hatinya. Selain itu Luna juga merasa dia dan Adira seolah masih ada jarak yang entah apa itu yang membuat mereka seolah akan sulit bersama. Luna mengetahui pasal identitas asli Adira sejujurnya, bahwa dia memang berasal dari kalangan berada. Namun bagi Luna yang sudah belajar mandiri sedari dini dan berdasarkan pengalamannya dengan pacar terakhirnya dia ingin menjadi wanita yang bisa berdiri di atas kakinya sendiri "Seseorang mengatakan Don't marry with rich, BE RICH!


Itulah alasan utama dia harus bisa bertahan dan membuat dirinya bisa mandiri secara financial. Bahkan walau dia sangat mampu dengan bantuan keluarga dia tetap berambisi semua dalam kendali penuh dirinya.


* * * * *

__ADS_1


Setelah pembahasan yang menggantung Luna meminta ijin membersihkan diri lebih dulu, kemudian di susul prianya.


Ceklek!


Terdengar suara pintu kamar mandi sebelah kamar utamanya terbuka. Terlihat pria yang dia gilai saat ini keluar dengan hanya berbalutkan handuk setengah badan. Pria itu tengah menggosok rambutnya yang basah dan menggerakan kepalanya membuatnya seperti beradekan di iklan shampo kenamaan. Wangi sabun yang menyeruak di indra penciuman Luna serta terlihat bagian setakan roti sobek beraneka rasa itu membuat Luna menumpahkan ilernya.


"Lap ilermu tuh yang!" Adira melempar handuk kecil yang dipakai mengeringkan rambutnya kearah kekasihnya dengan kekehan.


"Geer!!" Wajah Luna memerah malu.


"Gosok rambut yang..." Kekasihnya telah duduk di pangkuan Luna. Dengan senyum manisnya Luna menggosok perlahan rambut basah kekasihnya.


Baginya ini bukan yang pertama kalinya, di kehidupan yang sudah dia lewati dia sudah sangat hafal dengan sifat manja kekasihnya ini. Jika di banding dirinya yang merupakan seorang wanita. Menikah dengan Adira Renald justru dia Raja Drama.


"Dia sangaaat.. Sangaat manja!!"


Luna mengingat bangaimana Adira merengek jika dia bangun tidur dan istrinya tidak ada disampingnya.


"Kamu ko bisa yang menghilang secepat itu yang..."


Pertanyaan Adira membuyarkan lamunan masa lalu Luna.


"Aku juga ga bisa nemuin kamu di rumah sakit manapun."


"Kemarin kamu di RS mana?" Adira menatap Luna dari bawah.


Luna mengatupkan bibirnya, dia tampak tengah berpikir keras.


"Percayalah Luna kamu seperti itu aku selesaikan kamu!!" Adira justru tersulutkan hasratnya dengan respon menggemaskan Luna di mata Adira saat ini.


"Mas ini mesum banget!!"


"Aku dibantu seseorang..."


"Sejujurnya aku tidak tahu berada di rumah sakit mana."


"Karena aku pingsan di jalan..."


Adira segera bangkit dari pangkuan Luna dan kembali rasa bersalah itu menyeruak di dalam dadanya. Predikat Pria Brengsek di dalam dirinya seolah sulit dihilangkan.


"Maafkan aku Luna..."


"Aku mengetahui setelah aku menyelesaikan administrasiku dan pulang hari ini."


"Apa kamu tahu siapa orang yang menyelamatkanmu? Aku ingin berterima kasih padanya..."


"Deg!"


"Adira adalah pencemburu berat jika dia tahu Mahessa menempel denganku sepanjang waktu bahkan dia menciumku. Habis sudah kamu Luna!!!"


Untuk kedua kalinya Luna berbohong pada Adira "Dia terus menyembunyikan identitasnya aku pun demikian..."


Adira mengeratkan genggaman tangannya "Aku berhutang dua nyawa padamu dan pada anak kita."


"Maafkan aku sayang..."


"Aku sungguh membenci diriku sendiri!!"


"Aku membuatmu menderita selama ini!!"


"Sudahlah mas..."


"Kau bilang apa yang kamu mau aku akan kabulkan..."


"Tetaplah di sampingku..." Ucap Luna cepat.


"Naluna Maharani aku sangat mencintaimu!!"


Kruuuuuk ~


"Hahaha... Mau makan disini apa diluar?"


Luna menutup wajahnya malu, pasalnya perutnya telah meminta haknya.


"Aku masih kurang fit mas, lagian aku tengah berbohong pasal pulang kampungku..."


"Baiklah... Kamu mau makan apa?"


"Hokben aja..."


"Tunggu ya..."


Adira bergegas menuju wardrobe room sebelah kamar dengan pakaian kasual yang sangat pas dengan stylenya membuat Luna makin jatuh hati dengannya.


* * * * *


Sebelumnya di kediaman Central Paragon Hill.


"Selamat siang tuan..."


"Sesuai instruksi dari anda hari ini jadwal penandatanganan kontrak dengan Seacorp saya undur menjadi pukul stu siang ini." Farell menyambut tuannya yang baru saja tiba dikediamannya.


Farell tengah mencurigai tuannya pasti menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Semenjak kedatangan mereka di Kota B ini tuannya tidak pernah memanggilnya. Biasanya dia akan sangat cerewet bahkan untuk urusan makan sekalipun asisten khususnya ini yang siapkan.


"Farell, bantu aku untuk menyelidiki seseorang. Selengkap mungkin!" Mahessa memberi titah sambil terus melaju menuju ruang kerjanya.


"Baik tuan."


"Siapakah dia." Farell segera membukakan pintu ruang kerja.


Mahessa duduk di kursi kebesarannya. "Aku butuh wine.." Ujarnya lagi.


Dengan sigap Farell menyiapkan apa yang tuannya inginkan.


Mahessa menggoyang gelasnya dan menyesapnya perlahan.

__ADS_1


"Carilah informasi mengenai Naluna Maharani." Ujar Mahessa tegas.


"Ehm...." Farell ragu inginnya dia menanyakan lebih lanjut namun sepertinya tuannya sedang tidak dalam kondisi yang baik.


"Baik tuan... Saya pamit undur diri." Farell membungkuk dan segera berbalik meninggalkan ruangan bosnya.


"Tunggu..." Belum ada dua langkah Farell berbalik arah Mahessa kembali memanggilnya.


"Iya tuan? Apa anda membutuhkan sesuatu yang lain?" Tanya Farell.


"Iya... Panggil Angela segera menghadap kemari." Titah Mahessa dingin.


"Baik tuan." Farell bergegas menuju keluar ruangan.


Mahessa kembali menyesap gelas yang berisikan winenya hatinya sungguh gelisah.


"Luna... Aku terus memikirkanmu..."


"Senyummu, tawamu bahkan rasa bibirmu semua masih jelas dalam ingatanku." Mahessa menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya. Dia menutup matanya erat, bayangan mereka berciuman pagi tadi semakin jelas di ingatannya.


Samar terdengar ketukan pintu "Masuk." Titah Mahessa.


Angela segera masuk keruangan bosnya yang saat ini dalam keadaan mood yang tidak bagus. Seharusnya dia menjaga setiap ucapan dan tingkah lakunya. Angela sudah menjadi sekertaris Mahessa selama lima tahun. Mahessa menyukai cara kerja Angela yang telaten dan inovatif. Juga bukan tipe wanita penggoda seperti sekertaris terdahulu yang selalunya menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Namun karena inisiatif yang berlebihan kemarin mengantarkan Angela dalam keadaan tidak baik sekarang.


"Siang tuan, apa ada yang bisa saya lakukan?" Angela berkata dengan sangat hati-hati seraya menunduk.


"Apa kamu tahu mengapa saya memanggilmu kesini?" Mahessa mengetuk-ngetukan jarinya di meja membuat


suasana semakin mencekam.


"Maafkan saya tuan, saya tidak tahu."


"Maafkan saya jika ada sikap atau pekerjaan yang saya lakukan tidak sesuai saya mohon, saya akan memperbaikinya." Angela menunduk meminta ampun kepada bossnya.


Dia sangat hafal dengan sifat tuannya. Dia tidak suka berlama-lama dengan wanita. Saat ini dia di suruh berpikir tentu saja ada hal yang membuat pria dingin di depannya tidak nyaman.


Angela bukan tipe karyawan yang suka menjilat majikannya. Dia apa adanya terlebih kejujurannya menjadi nilai plus bagi Mahessa walau sifat lemotnya sedikit menyusahkan.


"Jika bukan karena dedikasimu selama ini aku sudah membuangmu sekarang." Ucap Mahessa dingin dan menusuk.


"Namun, tetap saja aku harus menghukummu bermaksud kamu tidak lagi melakukan tindakan di luar batasan."


"Mohon maaf tuan, saya janji tidak akan mengulanginya!"


"Tapi, bolehkah saya tahu kesalahan saya dimana?" Angela mengharap belas kasih tuannya.


Mengingtnya kembali Mahessa sungguh kehilangan muka di hadapan Luna, dia beranggapan Luna pasti menganggapnya pria hidung belang.


"Aku tidak pernah menyuruhmu membeli Lingerie, tugasmu kala itu membeli pakaian dalam, pakaian tidur dan


pakaian formal!"


"Apa kamu sengaja membuat wanitaku berpikir kalau aku pria hidung belang?" Bentak Mahessa kembali tersulut emosi.


Mata Angela membulat sempurna, dia tidak menyangka jika alasan bosnya marah adalah perihal pakaian wanita tempo hari!


"Maafkan saya tuan." Angela dalam posisi membungkuk memohon belas kasih tuannya berulang kali.


"Sudahlah, lain kali kamu harus menanyakannya terlebih dahulu kepadaku!"


"Sekarang pergilah." Mahessa menyenderkan kembali bahunya di kursi kebesarannya seraya menutup matanya.


Rasanya hari ini moodnya berantakan karena berpisah dari Luna.


"Oh iya mengenai berkas HiTech kapan kamu akan selesaikan pengajuan kontraknya?" Mahessa kembali keposisi


semula dan memijat pelipisnya.


"Terima kasih atas kemurahan hati tuan."


"Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Angela bernafas lega.


Sejauh ini dia juga sangat beruntung memiliki pekerjaan sebagai sekertaris di perusahaan ternama E.T dengan gaji


yang fantastis serta bonus yang menggiurkan siapapun yang mengetahuinya. Namun salah satu tantangan  terbesarnya adalah bosnya memiliki sifat Bossy dan Moody. Terlebih syarat utama menjadi sekertaris Mahessa adalah tidak diperbolehkan memiliki perasaan khusus, bahkan dilarang menggodanya yang sudah di kenal Philophobia itu.


"Untuk urusan HiTech tim advokasi masih belum menyelesaikannya."


"Saya akan kembali follow up mereka."


BRAAAAAAK!!!!


Angela terkejut jantungnya hampir lepas dari tempatnya.


"Bilang pada mereka apa mereka memakan gaji buta HAH!"


"LAKUKAN DALAM DUA HARI INI!!"


"SAYA INGIN HASILNYA DUA HARI INI SELESAI! PANGGIL FARELL MASUK SEKARANG!"


Mahessa menggebrak mejanya menatap tajam kearah Angela.


"B-baik tuan." Angela segera meninggalkan ruangan yang mencekam tersebut. Berdiri sepuluh menit berasa sepuluh tahun lamanya.


"Farell kamu cepat datang temui tuanmu. Dia menyuruhmu datang. Cepatlah!" Angela panik setelah berada diruangan tuannya.


"Apa sekarang aku yang akan kena marah?" Farell baru saja akan melaksanakan tugas baru dari bosnya.


Angela menaikan kedua bahu. "Berdoalah Farell barusan aku sudah hampir dimakan singa. Huhuhu"


Farell bergegas pergi. "Nasib.. Nasib..."


"Ya Tuan..." Farell membuka pintu segera menghadap tuannya.


* * * * * * * * * *

__ADS_1


__ADS_2