Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 18 : Hari Terkutuk!


__ADS_3

"ASTAGA.. JAM BERAPA INI?" Pekik Adira mengejutkan Luna yang tertidur di sampingnya.


Luna mengucek mata dan mencerna apa yang prianya tanyakan.


"Ya ampun sayang, ko ga bangunin aku?!" Sedikit kesal dia menuju kamar mandi.


Luna melihat jam di nakas pukul satu dini hari, ia tersenyum dan kembali melanjutkan tidur. Dia sungguh sangat lelah sekali. Tidak lama kemudian samar terdengar pintu kamar mandi terbuka.


"Apa penjaga ga akan periksa yang?" Tanya Adira di telinga Luna seraya merangkul dan merebahkan diri disebelahnya kembali.


"Hmm.. Enggak tahu juga mas." Luna membuka mata merasakan sensasi dingin dari tubuh Adira yang menempel dipunggungnya.


"Aaaahhhh, mas aku ngantuk besok masih harus bekerja. Dan ini udah jam satu malam." Luna pikir dia akan pamit pulang nyatanya minta mengulang yang kedua kalinya. Tanpa mmenghiraukan protesan Luna, Adira kembali lagi dia dengan aksinya.


* * * * *


Luna sungguh tidak habis pikir dengan prianya. Dia mengusili sepanjang malam. Bahkan jam tiga dini hari baru menghentikan aksinya. Terakhir Luna pikir dia pingsan karenanya. Belum lagi saat akan membersihkan diri di pagi hari. Tiba-tiba dia kembali masuk dan menyergapku.


"Mas ngapain?" Tanya Luna panik.


"Kita belum pernah melakukannya di kamar mandi sayang." Bisiknya di telinga Luna.


"Badanku sudah remuk rasanya untuk berjalan saja aku kesusahan menahan perih di bagian bawah. Tapi lelaki itu sangat perkasa seolah tidak terjadi apa-apa semalam!"


Sesaat sebelum berangkat Adira meminta maaf karena kebrutalannya tadi malam.Dia benar-benar tidak bisa menahan godaan hasrat yang Luna berika pada tubuhnya.


"Luna, kamu abis diapain sama Dira semalem. Ko gemeteran gitu." Setengah berbisik Sandra bertanya pada sahabatnya yang sedang menahan kesal sebelum dia pamit pulang duluan.


"Eeehh.. Enggak aku cuma sedang berpikir solusi buat kerjaanku ini." Luna menjawab sekenanya.


"Owh." Sandra masih meliriknya dengan tatapan penuh kecurigaan. Apalagi kemarin setelah tidak tahu malu mereka kedapatan berciuman mesra di depannya dan sekarang Luna tidak berani mondar mandir karena terasa perih sekali.


Tiba-tiba Luna mendapat notifikasi dari ponselnya sepertinya ada pesan singkat.

__ADS_1


[Sayang, maaf ya aku tidak bisa antar jemput kamu nanti sore dan dua hari kedepan maaf ya tiba2 aku ada keperluan. Gpp kan yang? Jangan marah ya. Lov you]


"Dia ini spesies yang memiliki kebiasaan menghilang disaat lagi sayang-sayangnya."


Luna sangat emosi menbacanya dia hampir mematahkan pensilnya. Dia juga menopang kepalanya dengan tangan.


"Seharusnya aku tahu mungkin baginya aku ini hanya mainan disaat dia butuh saja. Masih sok-sokan kemaren bilang mau memulai kembali hubungan."


Luna sangat emosional saat ini dia bahkan hampir menangis di kantor. Namun Luna dengan segera mengendalikan emosinya. Beruntung saat ini hanya ada dia di meja ini. Semua telah pulang.


* * * * *


Hari ini akhir pekan, Luna gunakan untuk beristirahat. Namun tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Dia buka pintu segera, ternyata mba penjaga kosan sedang membawa satu bungkusan.


"Mba, tadi ada yang anter paketnya nih." Seru mbanya seraya memberikan barangnya.


"Oh iya mba makasi banyak." Luna menjawab ramah dan memberikan senyuman terbaiknya.


Luna kembali menutup pintu dengan perasaan gundah. Segera dia cek bungkusan tersebut. Ukurannya sebesar box kalkulator. Sesuai dengan yang dia tawarkan privacy aman jadi tidak diberitahu jenis barang apa didalamnya.


"Akhirnya, tepat seperti yang sudah aku prediksi."


Luna melihat ada tiga kantong obat yang sudah diberi keterangan, dosis dan cara pemakaiannya. Bergetar Luna memegangnya.


"Nena, maafkan ibu."


Luna mengusap perutnya, berkali-kali dia mengucap istigfar. Namun dia sudah membulatkan tekad menggugurkannya. Demi menjaga air muka keluarga besarnya terlebih demi masa depan dan impiannya. Dia tahu setelah menikah dengan Adira dia benar-benar tidak di beri kebebasan. Bahkan kebebasan memilih hobinya yang sangat menyenangi membaca komik baik itu berupa buku atau aplikasi seperti MT!


Adira dengan frontal melarang keras Luna membaca yang menurutnya tidak berguna itu.


"Lihat aku akan buktikan tidak ada yang sia-sia dalam hidup ini!!" Umpat Luna kesal.


Satu jam sudah Luna menangisi dosa-dosanya. Sekarang Luna telah siap melakukan yang di instruksikan. Obat berlangsung selama tiga jam.

__ADS_1


Dosis kesatu di jam pertama dan selang satu jam berikutnya dosis kedua begitu pun dosis ke tiga. Luna hanya berharap semoga semua lancar, jikapun dia over dosis maka dia sudah tidak di dunia ini.


"Aku tidak akan menyusahkan siapapun. Paling-paling aku benar-benar dimasukan ke dalam Neraka lewat jalur prestasi!!"


Luna sudah meminum obat pertamanya, sudah tak terbayang lagi kusutnya wajah wanita itu. Hari ini Adira tidak hanya tidak menemuinya namun pria itu juga tidak bisa dihubungi sama sekali membuat Luna semakin depresi.


"Lama-lama disini aku frustasi!" Luna mengacak rambutnya.


Luna bahkan sudah mengabaikan pesan dari banyak orang, dia masih saja menunggu pesan dan kabar Adira. Berharap dia menenangkannya kali ini sama seperti saat pria itu menenangkannya di dalam Ferry atau bagaimana lembutnya saat dia menjamah tubuhnya sehari sebelumnya.


Masih dengan berderai air mata Luna menunggu obatnya bereaksi, dia merasakan bagian bawahnya seperti tengah mengeluarkan cairan.


"DARAAAH!!" Pekik Luna histeris.


Luna bahkan tidak berani mengganti pakaian dalamnya dia masih mematung di dalam kamar mandi. Dia terduduk lemas dia membiarkan darah itu terus mengalir.


"Tidak ada jalan kembali lagi, yang telah dimulai harus dituntaskan. Obat sudah kuminum seluruhnya, aku sudah menjalankan semua instruksinya."


Dengan wajah pucat dia segera mencuci dirinya dan mempersiapkan pembalut sama seperti dia tengah menstruasi. Dia hanya menghapus darah yang berceceran di lantai dengan tissue dan menaruhnya di bak tempat sampah miliknya di ujung kamarnya.


Bau anyir menguar menusuk hidung Luna, dia kembali menangis mengetahui bahwa dengan tega dia membunuh bayi kecilnya yang tidak berdosa.


Bayi itu diberi nama Nena Putri Renald yang kini gumpalan daging miliknya telah Luna bersihkan di toilet miliknya.


"Maafkan ibu Nena... Maafkan ibu Nena..." Luna masih terisak dengan prilaku bejadnya berkali-kali dia memanggil nama putrinya.


Karena merasa tertekan berada di kosan. Luna akhirnya bangkit dan pergi ketempat yang selalu dia sukai disini.


Harbour Bay!


Semilir angin meniupkan rambut panjang Luna yang sengaja dia gerai. Dia menatap kosong kearah laut. Dia sudah tidak bisa menangis lagi. Menu yang dia pesan belum ada yang dia sentuh sama sekali. Dia sungguh tidak berselera. Dari awal datang hingga sekarang dia hanya terpaku menatap kosong ke depan. Sampai akhirnya Luna tersenyum melihat nama orang yang paling Luna butuhkan menghubunginya kembali.


* * * * * * * * * *

__ADS_1


__ADS_2