
Selama berendam Luna merasakan tubuhnya sangat kotor. Dia justru lebih merasa hina setelah kembali kemasa ini. Lebih kotor dari saat dia hamil di luar nikah.
"Berapa kali aku menggosok tubuhku bau amis itu tidak menghilang juga!" Luna menitikan kembali air matanya.
"Sayaaaang...." Terdengar panggilan dari Adira di luar kamar mandi.
"Iya aku keluar sebentar lagi..." Jawab Luna kemudian.
Luna segera menyelesaikan membersihkan diri, dia beranjak menuju wardrobe yang telah berisi pakaian wanita untuknya. Luna tersenyum menatap sekilas ke luar. Adira tengah menonton balapan F1.
Luna mengenakan Lingerie seperti biasa, namun kali ini dia memakai yang lebih transparan dari sebelumnya. Luna menyeringai menggoda.
"Mas sudah makan malam?"
Luna menuju tempat dimana Adira tengah menonton. Mata prianya membulat sempurna, melihat pemandangan indah di depan matanya yang sukses membuat jakunnya naik dan turun. Bahkan adik juniornya tengah berkibar sempurna di balik celana pendeknya.
"Mas ko bengong ih!" Rengek Luna menjatuhkan tubuh disampingnya.
Belum ada Luna melanjutkan kalimatnya Adira beranjak dan menggendongnya.
"Maaaaaaaaaaas!" Pekik Luna terkekeh.
"Senang ya kamu buat aku tersiksa kayak gini!"
"Aaaaaaahh hahaha."
Adira memutar tubuh Luna, membuat semua gerakan terlihat seperti di drama korea. Adira menghentikannya namun belum menurunkan Luna. Luna membelai lembut rambut kekasihnya, turun membelai wajahnya kali ini. Luna menggigit bibir bawahnya menggoda. Luna merasa seperti ada banyak kupu-kupu menemaninya saat ini.
"Aku selalu merasa, setiap kali aku ingin mengakhiri hubungan ku dengannya tapi di lain waktu seperti saat ini dia membuatku kembali merasakan apa itu jatuh cinta!"
"Luna berapa kali lagi aku harus meminta?" Rengek Adira membuyarkan imajinasi Luna.
"Minta apa?" Tanya Luna polos.
"Menikahlah denganku?"
Deg!
Adira menurunkan kekasihnya, mencium bibirnya lembut. Luna menaruh lengannya di bahu kekasihnya, menutup erat matanya. Merasakan semua cinta Adira mengalir hangat ke dalam tubuhnya.
"Bagaimana bisa aku tanpanya..." batin Luna.
Adira menggendong Luna tanpa melepaskan tautannya menuju kamar.
Bruug!
"Arrghh!"
Lenguh Luna membuat darah Adira mendesir, pria itu sudah di kuasai hasratnya yang menggelora.
"Aku akan membuatmu setuju untuk menikah cepat denganku Luna!" Batin Adira menanggalkan setiap helai pakaiannya.
Luna beringsut mundur menggigit bibirnya dia tergoda dengan kekasihnya saat ini. Esofagusnya sesak saat kembali melihat adik Junior milik kekasihnya sedang mengucap salam padanya.
Adira merangkak menuju tempat Luna.
"Sialaaaan!!! Selemah ini iman gue!!"
Adira mendapatkan tubuh Luna, dia tidak banyak berkata dia sudah di kuasai penuh oleh hasratnya.
"Sayaaang..." Rengek Luna yang seolah menolak namun gesture tubuhnya berkata menginginkannya.
"Aku sudah memintamu berkali-kali..."
"Menikahlah denganku sayaaang..."
"Kita tidak perlu lagi melakukan dosa seperti ini lagi!"
__ADS_1
"Mmmm...."
Adira meraup bibir Luna dan menyantapnya dengan rakus. Tubuh Luna meremang, dia menutup matanya merasakan semua getaran memabukan itu kembali mengalir di sekujur tubuhnya.
* * * * *
Pov Mahessa.
Semenjak kepergian Luna ada sesuatu yang menghilang dalam diri Mahessa. "Secepat ini aku merasakan rindu?"
"Farell, aku meminta kamu mencari informasi tentang seseorang. Dimana data itu?" Tanya Mahessa segera setelah rapat selesai.
"Sudah tuan.. Tapi..." Farell menghentikan ucapannya dia takut salah berucap.
"Tapi apa?" Mahessa berbalik menatap Farell kemudian menuang wine kegemarannya dalam gelas kemudian menggoyangnya dan menyesap perlahan.
"Data yang saya dapat hanya sedikit. Di data server yang tersedia hanya ini saja."
"Oh ya? Apa perlu aku sendiri yang membayar XK?" Ejek Mahessa menatap Farell tajam.
"Bawa kesini!" Pria itu membawa gelasnya menuju kursi kebesaranku.
"Maafkan saya tuan, saya juga sudah berusaha menghubungi pihak XK dan data inilah yang dia berikan." Ujar Farell tertunduk khawatir tuannya mengamuk.
Mahessa merebut berkas dari tangan Farell. Membacanya dengan seksama.
"Naluna Maharani, 23 tahun, Sarjana Akuntansi Universitas Negeri S, tinggal di Distrik S."
"That's it?" Mahessa mengerutkan keningnya.
"Kamu semakin menarik Luna..." Mahessa mengulumkan senyumnya.
"Keluarlah..." Titah Mahessa.
"Apa tuan bermaksud menggunakan wanita ini untuk memutuskan Alena?" Tiba-tiba Farell mengatakan sesuatu yang Mahessa tidak pikirkan sebelumnya.
"Maaf tuan saya lancang." Farell bersikap menutup mulutnya. Mahessa semakin senang dan menyeringai.
"Terima kasih ide brilianmu itu." Mahessa tersenyum menyesap tetesan terakhir wine ku.
Mahessa menghubungi cutiepienya dengan perasaan gembira, namun semua itu runtuh saat Mahessa tahu wanita itu berada di apartemen kekasihnya.
"Bukankah dia kemarin aku turunkan ditempat kosnya? Apa dia kembali menjalin hubungan dengan pacarnya?!"
Saking emosinya Mahessa mematahkan cerutunya dan meremasnya menjadi buliran halus.
Kesempatan baik itu datang, Mahessa mengajaknya makan siang dan Luna menyetujuinya. Dia tak ingin mengulur waktu segera menjemput pujaannya.
"Park Avenue... Adira?"
"Aku harus mencari tahu siapa pacar Luna ini."
"Seumur hidupku, hanya Luna yang mampu menjadikan aku sebagai selingkuhan."
"I'm so blind..."
Dengan terusan manis dan seksinya membuat jantung Mahessa terus berdebar. Dia bahkan dengan berani membuat pria itu tersipu dan merasa apa itu kasmaran. Senyum manis pujaannya membuat dia terus menelan salivanya berkali-kali.
Luna bermain-main dengan Mahessa di dalam mobilnya, semua godaan wanita itu membuat Mahessa frustasi. Laguna menjadi tempat pertama Mahessa merasa seolah dirinya tengah berkencan dengan seorang wanita. Memikirkan bagaimana pagi kemarin mereka bertautan Mahessa kembali ingin merasakannya lagi.
"Aku benci mengetahui Luna sangat mahir membuat aku kecanduan dengan semua ini!!"
Mahessa benar-benar melupakan semuanya, dia menggenggam tangan Luna, dia merasa bahwa Luna miliknya sampai saatnya dia terus mencari tahu pasal Luna lebih jauh dia sangat cemburu.
"Gaya pacaran anak muda jaman sekarang memang mengerikan. Aku saja yang kolot sampai saat ini baru Luna yang bisa dia sentuh!!"
Sepanjang perjalanan pulang juga Mahessa seperti memiliki kehidupan lainnya. Dia bahkan mau diajak bernyanyi di dalam mobil dan hal random yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya.
__ADS_1
"Mengapa denganmu aku sangat nyaman Luna."
"Sayang sekali kamu sangat mencintai kekasih bajinganmu itu!!"
Di dalam kamar sewa Luna kembali terisak, Mahessa sungguh iba dengan wanita itu.
"Adira aku bersumpah kamu akan menerima karmamu. Kamu merusak wanita seperti Luna. Aku tidak bisa memikirkan balasan apa yang lebih setimpal kelak." Mendengar wanitanya menangis tanpa sadar kedua pelupuk mata Mahessa juga ikut berembun.
"Luna, kamu wanita yang sangat kuat dan tangguh. Aku yakin tuhan sedang mempersiapkan hadiah terindah untukmu." Batinnya masih dengan terus mengusap lembut punggung Luna yang masih terisak.
Hal yang tidak pernah di pikirkan sebelumnya selama 28 tahun dia hidup di dunia Mahessa bisa seliar ini dengan seorang wanita.
"AKU SANGAT MENGINGINKAN MU NALUNA MAHARANI!!"
Mahessa kecewa pada wanita yang telah mencuri cinta darinya dia selalu meminta mengakhiri hubungan mereka.
"Setelah apa yang sudah terjadi selama setengah hari kami bersama?"
"Luna kamu seorang play girl!"
"Aku bukan seperti para lelaki yang gampang berganti pasangan bahkan aku tidak seperti Leo yang hanya menggunakan wanita untuk kebutuhan biologisnya. Setelah bosan dia campakkan begitu saja."
"Kamu adalah wanita pertama yang bisa aku sentuh. Jangankan berciuman, aku didekati sekertarisku saja bisa membuat aku mual. Apalagi para wanita sosialita yang menggunakan parfume menyengatnya akan dengan mudahnya membuat aku muntah hebat setelah mendekati mereka."
Tapi Luna, only Luna yang membuat Mahessa bisa menggila dan lupa akan gangguan philophobianya.
"See you soon cutiepie... Aku yakin aku bisa membuat kamu berpaling dari Adira..."
* * * * *
"Tuan, dokumen kuasa hukum atas HiTech sudah bisa di verifikasi." Angela menghadap seperti biasa melakukan beberapa pekerjaan yang tuannya perintahkan.
"Saat ini moodku sering berubah-ubah. Hanya karena seorang wanita yang tidak disengaja bertemu dengannya. Setiap bersama Luna aku selalu merasakan yang namanya kebahagiaan. Namun saat tengah berjauhan aku akan sangat uring-uringan. Mengapa demikian?"
"Taruh semua dokumen di rumah." Titah Mahessa.
"Anda pulang ke Beverly atau di Paragon Hill tuan?" Tanya Angela lagi memastikan.
Proses akusisi kali ini dengan HiTech sedikit mengalami kendala. Pihak HiTech memberi perlawanan akhirnya E.T membalikkan keadaan menjadi pengendali penuh atas saham HiTech.
CEO mereka Daniel Wang sungguh hebat tidak mudah dijatuhkan begitu saja. Dalam proses akusisi ini Mahessa sudah kehilangan milyaran dollar. Mereka mengadakan penjamuan di Harbour Bay sekaligus penandatanganan hasil akhir Seacorp. Setelah acara berakhir saat perjalanan menuju valet parking tidak sengaja melihat sosok yang tidak asing.
"Luna?" Gumam Mahessa.
Dia berhenti sejenak memperhatikan Luna dengan seksama.
"Iya tuan? Apa ada yang bisa saya bantu?" Sela Angela dia tadi kurang jelas mendengar apa yang diucapkan tuannya.
"Hari ini saya di Paragon. Semua berkas kamu taruh disana!"
"Baik tuan." Angela segera berlalu.
"Apa yang sedang Luna lakukan disini? Kalau tidak salah pria yang bersamanya adalah Mr. Ong keponakan Daniel Wang."
"Suatu kebetulan yang tidak diduga. Mengapa Luna bisa bersama dengan orang-orang yang tidak biasa.. Kamu semakin menarik Luna."
Mahessa menuju tempatnya, ternyata dia juga bersama Sandra. Keduanya terkejut dengan kedatangannya. Namun Mahessa jauh lebih terkejut lagi pasalnya Luna MABUK!! "Apa yang dilakukan Mr. Ong padanya saat keluar dari ruang penjamuan!!"
Mahessa mendengar rumor dikalangan petinggi HiTech Mr. Ong merupakan pria yang senang bermain dengan wanita. "Dia menyentuh Luna aku pastikan hidupnya tidak akan tenang."
"Sandra mengucapkan kalimat yang membuat aku setuju dengannya. Dibanding mengkhawatirkan Luna aku isengi justru sebaliknya aku khawatir Luna lah yang akan usil menggodaku! Haha"
Mahessa sangat menyukai gaya pertemanan mereka yang apa adanya tanpa dibuat-buat. Luna yang terlihat sangat takut ketahuan mabuk oleh pacarnya membuat Mahessa berpikir keras.
"Kenyataan yang aku lihat saat ini ternyata bisa mengubah pandanganku. Sepertinya memang Luna sangat senang bermain. Pacarnya saja tidak mengijinkan dia mabuk!"
"Luna semakin kesini aku semakin ingin mengenalmu... Mahessa kamu sedang mempersulit diri sendiri!!"
__ADS_1
* * * * * * * * * *