
Keduanya kini tengah makan rujak pinggir jalan. Mereka memang terbiasa makan dimana saja tidak akan mempermasalahkan. Tiba-tiba saja Luna menepikan mobil dan membeli rujak yang sempat viral di jagat media sosial kota B.
"Kamu ga ngidam kan yang?!" Canda Adira menatap nakal kekasihnya.
Buug!
"Iih!!"
Luna memukul bahu kekasihnya dengan sling bag miliknya.
"Emang makan rujak harus ngidam dulu ya?!" Umpat Luna kesal.
"Ya enggak sih..."
Adira kembali terkekeh, kemudian dia merogoh saku celana dan memberi jarak sedikit dengan Luna menjawab panggilan.
"Kenapa sekarang kalo nerima telpon harus jauhan gitu ya?!"
Luna menatap gerak gerik kekasihnya, kemudian tidak sengaja kedua netra mereka beradu pandang, Adira mengerlingkan satu matanya pada Luna membuat wanita itu berdebar tidak karuan.
"Aaah!!"
"Sejak kapan dia menjadi tidak tahu malu seperti itu!"
Luna menundukan wajahnya yang tengah memerah, Adira yang menatapnya terkekeh sekarang.
"Udah belum?!" Adira mendekati Luna dan mengajaknya kembali pulang.
Adira memberikan dompetnya pada Luna. Luna terpaku sejenak, dia ingat dulu setelah menikah semua yang bayar adalah dia dengan uang suaminya tentu saja.
"Aku seperti dejavu." Gumam Luna lirih membayar makanan mereka dan kembali ke mobil dimana saat ini kekasihnya telah lebih dulu berada di kursi kemudinya.
"Jadi gimana mas?!"
"Mau ke wilayah mana lagi?!"
"Tadi udah area Plaza."
Luna mengawali percakapan mereka setelah duduk di kursinya. Adira memakaikan Luna seatbeltnya, Luna tersipu dan sengaja menggoda mencium pipi kekasihnya. Adira membalas dengan mencium bibir Luna.
"Menurut kamu bagusnya dimana ya?!" Adira meminta saran kekasihnya.
Dia benar-benar dejavu dengan semua hal saat ini. Sudah bukan hal aneh jika suaminya selalu berdiskusi pasal bisnisnya selama ini. Hanya sekedar bertanya bagusnya seperti apa dan bagaimana jika....
"Aku benar-benar tamak sebenarnya!"
"Adira ini type pria idaman sebagian wanita."
"Dia tidak pernah menuntut apapun padaku, dia juga selalu meminta pendapat ku di setiap pengambilan keputusannya."
"Dan aku dengan angkuhnya menginginkan bercerai dengannya saat dulu!"
Luna bermonolog dalam dirinya, entah apa sebenarnya yang terjadi di masa yang sudah ia lewati. Karena jujurnya dia hanya ingat saat terakhir kali pertengkaran hebatnya dengan Adira yang berujung dia bermunajat minta di kembalikan di kehidupan sekarang ini.
"Sayaaang?!"
"Kok malah ngelamun?!"
Panggilan kekasihnya membuyarkan lamunan Luna akan kehidupan yang sudah dia lewati sebelumnya.
"Ehm, aku ga ngelamun cuma berpikir."
"Aku kepikiran mau sewa ruko juga buat bikin toko offline sekaligus aku jadiin gudang barang-barang jualan ku."
"Jadi aku pikir bagusnya sekalian nyetok barang aja di banding sekali pergi jastip dan bawa balik barang yang di pesan aja!"
"Boros ongkos!"
"Eh, malah mikirin jualan aku!!!"
"Maaf maaas!!"
Luna menangkupkan kedua tangan di atas kepalanya membuat Adira tertawa.
"Hahaha!"
__ADS_1
"Ya ga papa aku justru seneng berarti pikiran kamu tuh kritis langsung bisa nyambung kemana-mana!"
"Aku bahkan punya ide gimana kalau kamu jadi sekertaris ku?!"
"Keluar dari Eps dan jadi sekertaris pribadi aku gimana?!"
"Sekertaris plus-plus maksud mas?!"
"Hahahaha!!"
"Boleh juga..."
"Jadi bersamamu sepanjang waktu!!"
"Dih malesin!!!"
"Lah?!"
Luna cemberut saat ini, dia paling tidak suka kehidupannya 24/7 bakalan bersama kekasihnya. Tangan kanan mengetahui tangan kiri begitu pula sebaliknya. Berpotensi menimbulkan kejenuhan dalam sebuah hubungan.
"Kita tuh bahkan bisa serumah, setempat kerja, se apa lagi?!"
"Mas ga bosan kah ngeliat aku lagi dan lagi?!"
"Enaknya kalo ada jarak itu, kita tau arti kata rindu!"
"Ciee... Ciee... Rinduu!!" Adira menggoda Luna.
"IIHHH!!!"
"Aaaw!!"
Luna mencubit paha kekasihnya, Adira terbahak karenanya.
"Mau kemana ini mas?!"
Luna baru menyadari dia baru pertama kalinya menelusuri jalan yang tidak pernah dia jangkau sebelumnya selama dia di kota B.
"Ini kawasan Villa Paradise, rumah kakak aku!"
DEG!!!
"Mas mau ngapain kesana?!" Luna mulai cemas.
"Hari ini keluarga ku baru sampai."
"Harusnya kemarin tapi hasil tes papa belum keluar jadinya hari ini deh."
"STOOP!!!"
CEKIIIITT!!!
"Kenapa sayang?!"
"Kamu ga mau aku kenalin sama keluarga besar aku ya?!"
Plaak!!
Luna memukul bahu Adira keras, dia sungguh kesal.
"Mana ada yang mau ketemu camer pake baju santai kayak aku sekarang?!!!"
"Emang kenapa?!"
"Kamu cantik menggoda begini!!"
"Aaawwhh!!"
"Sayaang ih sakit di cubit muluuu!!!"
Rengek Adira saat Luna kembali mencubit paha kekasihnya yang lempengnya semacam jalan tol bebas hambatan.
"Atuh lah please yang!!!"
"Puter balik!!"
__ADS_1
"Aku harus ganti baju!"
"Dandan!!"
"Ke salon!!!"
"Masa iya cuma pake kaos, hotpants sama rambut di cepol begini!!"
"Auto di depak!!"
"GA SOPAN TAHU?!!!"
"PUTEEEERR BALIIIK SEKARAAANG!!!"
Adira menganga dengan ocehan kekasihnya.
"Tapi aku tidak masalah..." Lirih Adira meyakinkan agar dia tidak perlu kembali putar arah.
"GA MAAAAU!!"
"KALO GA AKU TURUN AJA!!"
"Huuh!!"
"Okay sayaaang..."
Adira menghela nafas kasar, padahal inginnya bikin kejutan. Kekasihnya memang benar-benar membuatnya terkejut dengan semua pemikirannya.
Sejurus kemudian Adira melengkungkan senyumnya atas kepedulian Luna dengan penampilan untuk bertemu keluarganya.
Mereka telah berada di mansion Luna. Adira tengah bersila tangan dengan mimik wajah putus asanya melihat calon istrinya tengah mengacak-acak lemari wardrobe miliknya.
"GA ADA BAJUU BARU YANG BAGUS!!!" Pekik Luna frustasi.
"Ya tuhan, yang di depan mata semua baju bagus sayang."
"Bahkan aku lihat ini baru kamu beli kan?!"
"Aku belum pernah lihat kamu memakainya."
Adira mengambil salah satu baju di rak yang tergantung manis. Sebuah terusan merk Mango yang baru Luna beli minggu lalu dengan model kerah tinggi tanpa tangan di atas lutut berbahan ringan dengan motif floral.
"Tapi mas pake baju biru!!"
"Ini warna orange!!!"
Gubraaag!!
Ingin rasanya Adira menggotong Luna dan menghukumnya di atas ranjang. Mereka telah melewati 20 menit hanya untuk memilih baju Luna.
"Kamu pake ini ya sayang, aku juga pengen lihat kamu make ini pasti cantik banget!!!"
Adira berharap Luna tidak keras kepala dan memperlambat keduanya sampai di Villa kakaknya.
"Benarkah?!"
"Iya sayangku..."
"Tidak peduli kamu pake baju apa, merk apa, jenis apa dan warna apa!"
"Bagi ku kamu lebih bagus dan cantik kalo ga pake baju!!!"
"ANJEEEENG!!!"
"PERGI SANA!!!"
"HAHAHAHHAHA!!!"
"Aku tunggu di luar ya sayaaang."
Adira mencium bibir manis Luna. "Bibir ini sangat manis, tidak cocok mengeluarkan kata kasar sayang!"
"Cih!"
Luna mendengus dengan memajukan bibirnya kesal, Adira menggeleng kepalanya tertawa lirih dengan ekspresi kekasihnya yang benar-benar kasar jika sudah mengumpat. Apalagi jika di gabung dengan Sandra dan temannya yang lain.
__ADS_1
Adira menunggu Luna di ruang tengah, dia mengirim pesan pada kakaknya karena mereka akan datang sedikit terlambat.
* * * * * * * * * *