
Angin malam sudah semakin menusuk tulang Luna, mereka berdua memutuskan segera kembali ke hotel. Dia lirik jam ditangan sudah menunjukan pukul 12 malam.
"Kita ke hotel sekarang yuk udah malem." Bisik lelakinya serta menggigit lehernya.
"Mas ni vampire ya!" Rengek Luna manja.
"Harum tubuhmu membuat aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi sayaaang." Adira merangkul Luna erat menyesap lehernya dengan kuat membuat Luna sedikit melenguh pelan.
"Aaarghh.."
"Sayang jangan disini..."
Mata Luna mengerjap merasakan sentuhan sensualitas prianya membuat tubuhnya semakin meremang.
Adira melepaskan pelukannya, Luna menarik tangannya menatap kedua netranya lekat. Adira tersenyum manis sekali. "Ya tuhaaan... Ga kuat aku tuh!!"
Luna mengambil bingkisan kecil berisi gelang couple yang ia beli di toko aksesoris sebelumnya.
"Sayaaang..."
Luna kembali memanggilnya seraya mengangkat satu tangan kekasihnya dan memasukkan gelangnya. Gelang biasa yang terbuat dari anyaman berwarna coklat. Luna mengikatnya agar tidak terlepas. Setelah selesai dengan kekasihnya ia memakai gelang yang sama di tangannya.
"Tadaaaaaaa... Gelang ini memang biasa saja harganya juga murah. Tapi, gelang ini menunjukan ketulusanku mencintaimu. Semoga mas menjaganya dan menyukainya." Ucap Luna tulus dengan menatap mata lelakinya mengisyaratkan betapa ia bahagia hari ini.
Sedari tadi Adira hanya terpaku kemudian tidak disangka tanpa mengucap apapun dia menggendong dan memutar tubuh kekasihnya hingga Luna memekik terkejut. Adira menurunkan wanitanya dan mengucapkan kalimat yang membuat hati Luna terenyuh.
"Semua yang kamu berikan adalah hadiah terindah yang akan selalu aku jaga selamanya sayaaang."
Mereka kembali tenggelam dalam kebahagian yang bertubi-tubi terjadi hari ini. Luna berharap bisa menghentikan waktu. Dia tidak ingin melewatinya begitu saja. Luna tidak ingin melepaskan genggaman, pelukan, bahkan ciuman mesra bersama kekasihnya saat ini.
Mereka kembali memutari Central Island dengan sepedah mengayuh kembali ke tempat awal dan menggunakan MRT menuju dimana tempat hotel berada. Kali ini mereka bersenda gurau sepanjang jalan. Bahkan awalnya ia mengambil posisi membelakanginya setelah prianya tersadar memekik khawatir dan sepedah menjadi oleng Luna hanya tertawa lepas. Adira juga selalu tertawa sepanjang perjalanan.
"Tuhan, aku sungguh bahagia hari ini. Aku berharap kebahagiaan ini akan membersamai kami selamanya. Tanpa apapun dulu mas Dira meminangku aku bertahan hingga delapan tahun. Apalagi saat ini kelak aku yakin aku akan menghabiskan sisa waktuku hanya bersamanya."
Setelah menempuh waktu sekitar 20 menit mereka telah berada kembali di hotel. Selama perjalanan Luna merangkul tangan Adira seperti pasangan pasutri yang tengah berbulan madu.
Setelah memasuki lift Adira mendorong dan tanpa rasa malu menciumi kekasihnya.
"Mas..." Rintih Luna ditengah gelora hasrat Adira yang tengah mencapai ubun-ubunnya.
Lengan baju Luna tengah diturunkan sehingga mengekspose bagian dada, Adira menyesapnya kuat menyapu seluruh bagian kulitnya.
"Tunggu... Dia akan menggila!" Rutuk Luna dalam hati.
Tring.
Beruntung pintu lift telah terbuka. Buru-buru Adira melepaskan kekasihnya dan menutup kembali tubuh polosnya. Mereka bergegas keluar dan menuju kamar.
"AAAAAHH..."
Luna terkejut, tanpa aba-aba mendorong tubuhnya di dinding setelah memasuki kamar. Sama seperti yang di lakukan Mahessa sebelumnya Adira menekan tubuh Luna dan mencengkram erat kedua tangan Luna diatas kepalanya.
Deru nafas keduanya memburu dengan tatapan penuh hasrat menyelidik di tiap sudutnya. Adira mendekatkan wajahnya dan kembali meraup dan menyesap lembut bibir merah kesukaannya.
Luna kembali menutup matanya erat menikmati sentuhan prianya di titik kelemahannya. Luna melenguh seksi di indra pendengaran prianya. Tangannya telah di lepaskan. Adira kembali menarik lengan kerah baju wanitanya.
Dia menelan salivanya, jakunnya naik dan turun matanya menatap nyalang belahan dada wanitanya yang sungguh menggoda imannya.
"Sayaaang..."
Bisiknya seksi membuat tubuh Luna semakin menginginkannya. Tangannya membelai lembut pipi Luna.
"I love you so much Naluna Maharani."
Kata yang langsung membuncah hati Luna, suara lembut dan tulus prianya meruntuhkan kembali pertahanan dirinya. Adira kembali meraup bibir wanitanya.
Luna menautkan kedua tangan di bahu prianya. Hal yang tak di duga selanjutnya dilakukan prianya adalah dia mencoba mengangkat salah satu kaki Luna dan menaruh di bahunya. Jeritan kencang Luna menggema saat prianya sudah tidak tahan membenamkan miliknya tanpa foreplay lebih dahulu.
__ADS_1
"Sakiiit sayaaang..." Rintih Luna yang di artikan godaan bagi prianya.
Kuku jari Luna yang mencengkram bahu Adira menghentikan prianya sejenak, dia juga belum berhasil masuk sepenuhnya.
"Luna masih sangat sempit!!" Rutuknya dalam hati.
"Kita coba sekali lagi ya sayaang..." Adira meyakinkan kekasihnya untuk tetap melakukan dengan gaya baru mereka yang seperti ini. Dengan wajah penuh gairah dan peluh yang sudah mulai menghiasi tubuh keduanya Luna mengangguk mengijinkan prianya kembali menjejal miliknya.
Luna kembali merintih, jeritannya diperkirakan akan terdengar hingga keluar kamar mereka. Adira sudah tidak memperdulikannya. Senjata milik prianya sepenuhnya telah berada disangkar emasnya. Adira menatap dengan senyuman dan sentuhan lembut di wajah kekasihnya.
"Tubuhmu luar bisa sayaaangku!" Bisik Adira sejenak menghentikan pergerakan kemudian tanpa bisa Luna jawab pernyataan kekasihnya dia kembali di buat menjerit melengking dengan apa yang dilakukan prianya pada tubuhnya.
"Sayaaang... Perih!!"
Luna sudah tidak tahan, rasa sakit dan perih di pusat tubuhnya membuatnya tidak nyaman. Adira menyadarinya, dia menghentikan kembali kenikmatan yang tengah dia rasakan saat ini.
"Maafkan aku sayang..."
Adira menggendong tubuh Luna tanpa melepaskan miliknya, Luna sungguh tidak punya kata lagi bagi beruang liarnya. Akhirnya tubuh Luna di hempaskan perlahan di ranjang besar keduanya. Wajah penuh hasrat Luna dan rintihan kecilnya membuat Adira hilang akal. Dia menanggalkan semua pakaian yang melekat di tubuhnya. Luna menelan salivanya dan mengatupkan bibirnya erat.
"Ya ampun laki gue menggoda iman banget!!!"
"Gue rela di apain juga, belum tentu dapet yang sebening dia!!"
Otak nista Luna membuat dia semakin menginginkan prianya. Adira turun melepaskan high heel milik kekasihnya, bahkan kini dia menciumi kaki hingga atas tubuh kekasihnya. Tubuh Luna menggeliat hebat, rangsangan prianya membuatnya terbang melayang saat ini.
Dia melempar kesembarang arah dan mulai menyibak dress dari tubuh kekasihnya, kini keduanya dalam keadaan polos. Adira menggerakan lidahnya diluar bibirnya, sungguh benar-benar menggoda Luna untuk semakin menginginkannya segera!
"Maaaas..."
"Ayoook... Mas ini lagi nyiksa aku ya!!"
Adira tak kunjung kembali membuat mereka berada di surganya dunia, melainkan terus memberi sentuhan sensualitas bagi kekasihnya hingga frustasi yang tak kunjung di dapatinya.
"Luna sayaaang..."
"Aku tidak pernah merasakan perasaan mencintai sekuat ini."
"Aku begitu menginginkanmu sayang."
"Kamu adalah hal terhebat dan terindah yang terjadi di hidupku saat ini dan selamanya..."
"The one and only you!"
Deg!
Kata yang sudah sangat sering dia dengar tidak hanya dari satu lelaki yang selama ini hadir di hidup Luna membuat dia segera menumpahkan air matanya tiba-tiba.
"Aku sangat mencintaimu Luna..."
"Sejak pertama kali aku bertemu denganmu di kosan..."
"Sejak itu kau telah mencuri hatiku!"
"Sampai detik ini bahkan aku berjanji selamanya..."
"Cinta dan hidupku hanya untukmu seorang Naluna Maharani..."
Tumpah sudah air mata Luna, dia bahkan tidak menyangka Adira menitikan air matanya membasahi pipi Luna.
"Maafkan aku..." Adira mengusap lembut wajah Luna yang telah basah, air mata wanitanya dan dirinya kini saling menyatu.
"Tanpa perlu aku katakan padamu berulang kali, aku sangat mencintaimu Adira."
"Aku sudah mengorbankan segalanya untukmu..."
Dengan segera Adira memeluk kekasihnya bahagia dan terharu dan juga takut membaur menjadi satu.
__ADS_1
Masih dalam keadaan polos Adira melongarkan pelukannya membetulkan posisi mereka dan kembali melabuhkan cinta dan hasrat keduanya. Keduanya kembali merasa di atas awan, perasaan seperti melayang seolah tengah menggapai kebahagian mereka. Segala perih yang sebelumnya mereka jalani kini menguap begitu saja. Semua berganti dengan kebahagian dan kenikmatan bersamaan. Adira melakukannya penuh kelembutan, membuat Luna terus merintih menginginkannya lagi dan lagi.
"I'm addicted to your heart, Adira Renald."
* * * * *
Luna terbangun oleh sinar matahari yang menyelusup di balik tirai kamar mereka. Luna terbangun dengan melengkungkan senyumannya. Dia belum menyadari bahwa prianya tidak di sampingnya. Luna masih tidak percaya apa yang tengah dia lakukan semalam bersama kekasihnya. Mereka melakukannya hingga menjelang subuh tidak ada kata lelah di dalam pikiran mereka semalam.
Luna bangkit dan menyadari prianya tidak disana. Dia mengambil ponselnya di atas nakas sebelah ranjang. Waktu menunjukan pukul delapan pagi. Tubuh Luna seperti tengah di lindas truk besar rasanya. Terlebih area inti miliknya masih merasakan perih.
"Beruangku mah gitu!"
"Abis enak-enak menghilang!!"
Luna menuju kamar mandi dengan tertatih, setiap melangkahkan kakinya dia meringis menahan perih.
"Si beruang ini sungguh arogan!"
"Apa mungkin dia mengetahui aku memakai KB?"
"Semalam dia terus keluar di dalam."
"Walau menolak terang-terangan dia tidak peduli!!!"
Luna membenamkan dirinya di bathtub menikmati mandi paginya. Tidak berapa lama Luna merasakan bibirnya di kecup seseorang.
"Maaas..." Pekik Luna terbangun dari tidurnya di dalam air rendaman sabun mandinya.
"Ko kaget gitu yang kayak baru pertama kali aja!" Goda Adira menanggalkan pakaiannya dan ikut masuk dalam bak mandi.
"Mas ngapain?" Tanya Luna panik.
"Mandi lah!"
"Terus mandiin kamu dan...."
"Aaaaarrgg!!!"
Luna tengah mempersiapkan dirinya dengan baju yang akan mereka kenakan hari ini. Rencananya semalam Luna meminta Adira untuk pergi ke Disneyland. Adira menyanggupinya, apapun permintaan istrinya tidak akan dia tolak. Bahkan saat ini mereka mengenakan pakaian couple yang di beli Luna saat mereka berada di Royal Juction.
"Seumur-umur si kulkas ini mana mau couplean..."
"Tumben banget!!"
Adira mengenakan T-Shirt berwarna putih dengan tulisan Soul dengan short pant warna nude, di padu dengan sneakers Adidas putih andalannya. Sedangkan Luna memakai T-Shirt hitam bertuliskan Mate dengan hot pants model cuffed. Saking niatnya Luna untuk couple atas bawah, dia membeli sneaker serupa dengan merk yang sama dengan kekasihnya.
"Ganteng banget pacar gue!!" Pekik Luna saat memakaikan kembali anting imitasi pada kekasihnya.
"PACAAR?"
"Aku suamimu sayangg..."
Luna tersipu malu, mereka kembali bertautan mesra sampai ketukan di pintu kamar terdengar. Adira bergegas menuju ke depan. Luna kembali merias dirinya, kali ini di memoles make up natural di wajahnya. Bahkan dia tengah mencepol rambutnya keatas agar terlihat imut kali ini. Sangat kontras dengan penampilannya semalam yang seksi dan menggoda.
"Sarapannya sudah siap sayang..."
Luna menghampiri kekasihnya yang sudah memanggil dirinya.
"Wow, kamu sangat cantik sayaaang..."
Adira kembali menarik tubuh Luna dan memeluknya mencium leher kekasihnya.
"Terus aja gombal gini biar aku ga pake blush on!!" Rutuk Luna dalam hati seraya tersipu malu.
Adira melepaskan tubuh kekasihnya yang membuatnya addicted mereka bersiap melakukan sarapan yang kesiangan.
* * * * * * * * * *
__ADS_1