Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 63 : Spirit of My Life


__ADS_3

Pov Adira


Pagi ini sesuai janji yang Adira ikrarkan sebelumnya ia sempatkan membeli satu buket bunga untuk Luna. Kekasihnya terlihat sangat senang.


"Semakin lama semakin menggemaskan tingkah lakunya. Nanti malam aku akan memintanya untuk serumah kembali."


Adira sudah tidak kuat untuk berjauhan dengannya.


"Toh sebulan lagi aku akan resmi meminangnya. Kemarin malam aku mendapat informasi dari Bagas mengenai butik pemesanan gaun dan beberapa resort yang cocok untuk mengadakan resepsi."


"Malam ini aku akan mengajaknya pergi." Gumam Adira senyum-senyum sendiri.


Seperti biasa Luna selalu lupa akan jam pulang! Jika tidak Adira ingatkan dia akan betah berada di kursi kerjanya. Sudah sekitar lima belas menit pria itu menunggunya. Akhirnya dia muncul juga setelah di chat dan mengingatkannya bahwa dia tengah menunggu.


"Kamu harus dihukum sayang!" Adira menyeringai.


Adira salut dengan usaha Luna yang luar biasa dalam bisnis olshopnya. Kemarin Adira sudah menyuruh Bagas mencari beberapa orang untuk dipekerjakan membantu masalah packing dan antar barang.


Adira juga berencana membuatkannya badan usaha sekalian. Namun semua terkendala dengan urusan pekerjaannya di RG.


Adira memintanya untuk kembali serumah awalnya Luna menolak namun Adira yakin setelah sampai dirumah dia tidak akan bisa menolaknya.


Adira melajukan mobilnya ke sebuah butik yang sudah Bagas konfirmasi. Adira sudah tak sabar melihat tampilan istrinya dalam balutan gaun pernikahan. Setelah dia memasuki fitting room Adira menunggu sekitar lima menit dan pelayan memberitahukan bahwa Luna telah selesai dan ingin dia melihatnya.


Adira terkejut saat melihatnya dalam balutan gaun pernikahan, Adira terharu sampai menitikan air matanya. Gaun yang wanitanya pilih selalu menunjukkan lekuk tubuhnya.


"Dia tahu apa yang dia sukai dan apa yang ingin dia tonjolkan. Aku suka karena dia selalu berusaha menjadi dirinya sendiri tanpa perlu menuruti kehendak orang lain."


"Kamu cantik sekali sayang..."


Adir memeluknya mencium bibirnya, Adira sungguh tidak sabar ingin rasanya hari ini juga mereka mengadakan pesta pernikahan.


Adira memotretnya banyak sekali kemudian slah satunya dia jadikan wallpaper ponselnya. Saat sesi photoshoot dia selalu terlihat cantik bagaimanapun pose yang dia tunjukan. Adira juga menyuruh pelayan yang lain memotret dengan ponselnya.


Saat proses pembayaran Adira menyuruh Luna untuk menunggu dimobil. Ekspresi cemberut kekasihnya sungguh menggemaskan.


"Total semuanya 25ribu dollar mas. Cash atau debit?"

__ADS_1


"Debit." Adira menyodorkan black cardnya.


"Oh iya pastikan untuk tidak mencantumkan semua harga saya tidak ingin istri saya tau, dan saya ingin barangnya dikirimkan ke mansion PA nanti ada orang saya yang akan mengkonfirmasi ulang." Terang Adira pada pelayan butik. Jika Luna tahu nominal semua ini dia rasa dia akan mengomel.


"Baik mas, terima kasih banyak. Lancar untuk setiap prosesnya ya mas dan mbanya..." Ujarnya kemudian.


"Amin."


Adira segera menyusul Luna. Beberapa menit setelah mobil melaju Luna menggelayut manja dan mengucap kata sayang mesra. Sepertinya ini sudah level maksimal Adora menahan hasratnya!! Dia memacu mobilnya diatas angka seratus dan ia terkekeh wanitanya mengomel sepanjang jalan. Bahkan saat telah berhenti dia masih mengomel seperti bebek!


Sesampainya di rumah Adira sudah tidak bisa menahan. Dia merebahkan wanitanya di sofa dan bersiap mencumbunya. Tampilan kekasihnya memang hanya menggunakan kemeja yang selalu dia buka kancingnya sampai sedikit terlihat belahan dada, celana slimfit yang selalu pas dengan heelsnya. Rambut yang selalu dia cepol keatas memperlihatkan jelas leher jenjangnya yang mulus. Namun selalu sukses membuat area terlarang Adira berdiri sempurna!


"Sayaang, kamu selalu tau bagaimana membuatku puas." Bisik Adira di telinga kekasihnya setelah mencapai puncaknya. Adira kembali melakukan ronde lanjutan dikamarnya saat ini.


"Aku tidak mengerti ada apa dengan tubuh Luna!"


"Dia sungguh membuatku candu luar biasa!!"


"Aarrghh, mass aku keluar!!"


"Aaargh aku juga sayang!"


"Maaaas!!"


"Kenapa di keluarin di dalaaam ihh!!!"


Adira terkekeh saat Luna menyadari aksinya, sialnya adik juniornya kembali bereaksi karena suara seksi kekasih hatinya.


Adira kembali menggempur Luna habis-habisan sampai Luna tertidur lebih dulu.


"Entah kenapa setiap selesai berhubungan semangat ku justru seperti terisi kembali."


"Tempur lagi dengan berkas-berkas menyebalkan itu!"


Adira tidak tahu harus memberitahu pada Luna di mulai dari mana. Sejauh ini dia tidak menyembunyikan bahwa dia tengah bekerja. Hanya saja untuk serius mengatakannya Adira masih sangat takut. Takut jika Luna tersinggung dan meninggalkannya.


Tak terduga Luna menghampirinya dikala sedang memverifikasi beberapa berkas tender. Adira segera merapihkan posisinya dan menutup laptopnya dengan spontan. Saat akan menghampirinya wanitanya menekan tubuhnya lebih dulu kembali dikursi.

__ADS_1


"Ya tuhan, hanya dia yang berani melakukan hal ini. Kamu memang ratuku..." Adira terkekeh dalam hati.


Adira hanya bisa menjadi bawahannya. Bekerja keras demi memenuhi semua kebutuhan wanitanya yang baru dia ketahui bahwa semua kosmetiknya saja hampir senilai separuh gajinya. Belum baju brandednya serta sepatu dan tas yang selalu dia beli tiap gajian. Setelah itu tiap pergi dia mengeluh bahwa dia tidak memiliki baju yang cocok dengan heels atau tasnya!


"Dasar wanita!"


Namun Adira sungguh tertarik karena Luna tidak pernah meminta, bahkan Adira mencetak mutasi kartu atm yang di berikannya tempo lalu tak pernah dia gunakan.


"Aku bingung dengannya aku lihat saat berbelanja di Royal Junction kala itu dia membeli beberapa kebutuhan pribadinya."


"Aku pikir dia memakai kartu atm dariku. Apakah mungkin semua itu dari keuntungan bisnisnya? Mengingat semua barang yang dia beli tidak ada yang dibawah seratus dollar."


"Berapa jumlah keuntungan jastipnya dia hampir menghabiskan uang diatas seribu dollar." Gumam Adira.


"Luna, terkadang laki-laki tidak menyukai perempuan yang terlalu mandiri. Aku malah lebih senang jika kamu merengek meminta kepadaku."


Bagi laki-laki seperti Adira cara menghargai kerja kerasnya adalah dengan meminta langsung atau memakai semua pemberian yang telah diberikan.


* * * * *


Hari ini mereka disibukan dengan laporan fiskal tahunan di EPS. Keduanya sama-sama sibuk, apalagi Divisi Luna sudah pasti lebih sibuk setara Divisi keuangan. RG juga sedang sibuk dengan berbagai berkas tender dan laporan laba rugi yang membuat kepala Adira akan meledak.


Pagi hingga sore dia mengerjakan EPS, malam hari hingga dini hari kembali berkutat dengan laporan RG.


Dua hari ini Luna kembali pulang ke mansionnya. Adira sungguh tidak bisa banyak berkomunikasi dengannya. Akhirnya badannya sudah tidak sanggup. Adira drop tanpa Luna ketahui. Bagas yang memanggil dokter pribadi dan menyiapkan segala keperluannya.


Sampai akhirnya kak Arneth menghubungi dan memakinya. Untuk yang kesekian kalinya dia meminta Adira resign dari EPS. Adira sendiri sudah memutuskan resign rencana minggu depan. Saat ini dia masih ingin melihat Luna setiap hari. Hanya melihatnya saja dia sudah sangat bersemangat menghadapi segalanya.


"Luna, kali ini aku memiliki tujuan hidupku. Setelah beberapa tahun hidupku hanya begini-begini saja. Aku berjanji aku akan berusaha keras untuk kehidupan kita mendatang. Aku ingin membahagiakanmu dan keluarga kecil kita kelak. Karena kelak kalianlah penyemangat hidupku."


Namun perkataan kak Arneth mengenai mereka yang masih saling tertutup akan membahayakan hubungan keduanya kedepan membuat Adira merasa kurang nyaman. Setelah kecurigaan tentang uangnya, kini silsilahnya kembali mencuat kepermukaan.


"Apa dia benar seseorang yang papa curigai berasal dari keluarga rahasia?!"


"Apa yang harus aku lakukan.. Bagaimana caranya memulai memberitahunya pasal identitasku."


Adira mengusap wajahnya kasar!

__ADS_1


* * * * * * * * * *


__ADS_2