Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 26 : Be Loved


__ADS_3

Belum ada dua puluh menit tapi Sandra telah berada kembali ke ruang inap.


"NALUNA!!!" Luna di kejutkan dengan pintu yang terbuka kasar dan teriakan Sandra.


"Habislah aku, pasti biayanya gede banget sampe Sandra seemosi itu!" Luna mengatupkan bibirnya dengan wajah frustasinya.


"SETAN KO YA.. MALU GUA!" Sandra menjewer telinga Luna.


"Sakiiit...." Pekik Luna


"Kau tau tidak bahwa semua biaya dan lain sebagainya sudah dilunasi suamimu!"


'Gua malu sumpah buat apa gue nanya sok-sokan mau bayarin!!!"


"NALUNA MAHARANI LU MESTI BAYAR MAHAL ATAS KEJADIAN INI!"


"Hari ini sepertinya menjadi hari menganga untukku. Selain terkejut aku menganga lebar dengan kembali mengeluarkan kedua bola mataku. Cape rasanya!"


"Aku bersumpah aku tidak tahu San." Luna bersikap menyembah memohon ampun.


"HUH!" Sandra masih kesal.


"Aku berjanji mentraktirmu kopi selama sebulan penuh!" Luna memberi kompensasi atas kekesalannya.


"Siapa dia?" Selidiknya kemudian.


"Siapa apanya?" Luna berpura-pura bego.


Sandra mengambil minumannya kembali duduk disampingku.


"SUAMIMU ITU LAH!"


"Ehmm sepertinya yang menolongku." Luna menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.


"Dia bernama Mahessa. Aku tidak sengaja bertemu dengannya di Harbour saat aku dicampakan dan dia mengantarku ke tempat lain buat nunggu pak Amir."


"Eh gue pingsan. Pas bangun malah yang muncul dia." Luna menjelaskan apa adanya.


"Beruntung banget lo ya!"


"Tunggu Mahessa ya?"


"Seperti pernah melihat nama ini dimana ya?" Sandra terlihat seperti berpikir.


Luna mengangkat kedua bahunya.


"Baru ketemu aja udah kayak gini!"


"Gue heran selalunya setiap cowok yang ketemu sama elu mereka auto suka!"


Luna menaikan kedua alisnya bingung "Maksudmu?"


"Kamu pake ilmu nyi pelet ya?" Sandra berbisik pelan mendekat ke arah Luna.


"HAHAHAHAHAHA..." Luna terbahak.


"Dari mana kamu tau?" Luna mencoba mengusili Sandra.


"Seriusan? Pelet dari mana?" Sandra terlihat antusias.


"Iya aku pake pelet gini!"


"Pelet..peleet..peleet!" Luna menjulur dan mengeluarkan dan memasukan lidahnya bergantian dengan cepat mengucap kata pelet.


"BANGCAAAAAAD!!" Dia mengoyang-goyangkan badan Luna dengan keras!


"HAHAHAHAHAHAHA." Luna kembali terbahak puas.


"Lagian hari gini percaya yang begituan!" Luna memegang perut dan mengusap pelupuk matanya yang berembun.


Sayup terdengar suara ketukan dan pintu terbuka membuat keduanya auto frezee mode!


"Oh maaf aku datang di waktu yang tidak tepat ya?" Mahessa ikut terkejut dia menjadi canggung dengan keberadaan Sandra.


Sandra mengubah posisinya kini dia berdiri di samping ranjang Luna "Siapa dia?"


"Ganteng sumpah!!"


"Aku seperti merasakan yang namanya love at first sight." Sandra berbisik lirih.


Luna memutar kedua bola matanya bersikap konyol.


"Mmm.. Mahessa kenalin Sandra.. Dia teman baikku."


"Sandra." Sandra mengulurkan tangannya.


"Mahessa." Membalas menjabat tangan.


"Oh ini orang yang menolongmu Luna?" Sandra mendelik tidak suka.


"Aku dengar dari bagian administrasi kamu meminta segera keluar dari rumah sakit ya?" Mahessa bertanya pada intinya.


"Hah?"


"Secepat itu dia tahu aku meminta keluar sendiri?" Luna menatap dengan tatapan curiga pada pria di depannya.


"Ehm... Iya aku ingin segera keluar dari sini."


"Lebih cepat lebih baik!" Luna menjawab sejujurnya.


Sandra yang merasa tekanan udara seketika berubah karena tatapan kurang menyenangkan dari Mahessa mencoba mengalihkan pembicaraan. "Gue temenin lu malam ini ya..."


"Ada yang mau lu bawa ga dikosan?


"Gue balik dulu ke rumah ambil baju ganti."


Sandra merapikan tas miliknya bersiap keluar ruangan.

__ADS_1


"Casan HP sis!"


"BB gue koit!" Rengek Luna pada Sandra.


"Okay... Baju?"


Belum ada Luna jawab Mahessa sudah memotong diskusi mereka berdua.


"Oh iya Luna, ini aku belikan kamu beberapa set baju."


"Maaf aku lancang... Kamu ga ada baju ganti soalnya dari kemarin kan? Kamu juga ga ada bilang apa-apa..." Ujar Mahessa menyela yang di sambut raut muka takjub oleh keduanya.


Mahessa menunjukkanku beberapa paper bag besar dengan merk yang tidak asing bagi kedua wanita yang memang hobi membeli baju "Murah hati sekali cowok satu ini!"


"Seharusnya kamu tanya aku terlebih dahulu!"


"Kalo kayak gini aku makin sungkan."


Luna tidak menyukai hutang budi, dan tindakan Mahessa kali ini memang di luar batas.


"Tidak masalah aku senang melakukannya."


"Semoga muat dengan ukuranmu." Mahessa menjawab dengan senyuman manis menunjukan jelas ketampanan seorang pria.


"ASTAGA!!"


Kedua wanita yang menatapnya mendadak mimisan berjamaah.


"Btw, aku saja yang menemani Luna."


"Hah?" Luna kembali dalam mode lemotnya.


Mahessa duduk di sofa yang tersedia.


"Bukankah kamu tahu sendiri statusmu apa disini?"


Sandra dan Luna saling beradu pandang.


"AH SIAL!!"


"Sepertinya dia benar-benar memberitahu bagian Administrasi bahwa aku istrinya!!"


Luna mengumpat dalam hatinya, Sandra memperhatikan dengan kebingungan.


"Jadi... Maksudnya gimana SIS?!" Sandra menekan kata SIS seperti ingin menelanjangi Luna saat ini juga.


"Sepertinya aku harus menyelesaikan urusanku disini dulu San."


"Maaf aku telah menyusahkanmu."


"Aku minta bantuanmu tentang pekerjaanku ya... Please!!"


Luna tidak sanggup menjelaskan alasan pasti mengapa Mahessa bersi keras menunggu Luna saat ini.


"LEPAS!!" Hardik Sandra kasar.


"Njeh kanjeng ratu..." Canda Luna bersikap hormat.


"Ppfft!"" Mahessa menahan tawa melihat kedekatan keduanya.


Sandra berencana keluar namun Luna mengingat sesuatu dan secepatnya menahan lengannya. "San..."


"Apa lagi non?" Tanyanya heran.


"Kamu janji ya bantu aku buat menutup mulut atas apa yang terjadi denganku saat ini?"


"Terlebih mas Dira. Aku tidak ingin dia tahu aku ada disini sekarang." Luna menatap Sandra serius dan memelas.


"Kau pikir aku setega itu membongkar aibmu?" Jawabnya dibuat ketus.


"Terima kasih..."Luna mengucapkan tulus dengan wajah pucatnya.


Sandra kembali berbalik dan merangkul sahabatnya sebelum benar-benar keluar "Selalu ingat untuk bahagia secukupnya, sedih secukupnya dan bersyukur sebanyak-banyaknya."


"You're not alone dear.. I'll be with you whenever you wrong!" Bisik Sandra bijak membuat Luna sangat terharu.


"Aku hanya butiran serbuk rinso without you dear."


"BA to the COT... BACOT!!" Dia kembali bar-bar.


"Hihi..."


"Dah aku balik dulu."


"Mahessa minta tolong ya jaga temen aku..."


"Cuma ati-ati aja jangan deket-deket dia Rubah!" Goda Sandra sekilas menjulurkan lidah kearah Luna.


"BACOOT!!" Luna membalas dengan menjulurkan jari tengah.


Mahessa menganggukan kepala dengan kekehan, kemudian bayangan Sandra menghilang setelah pintu dia tutup kembali.


"Aku senang kamu sudah membaik."


"Ternyata kehadiran temanmu sangat mempengaruhi moodmu." Mahessa berucap ke arah Luna.


Luna tersenyum "Aku sungguh tidak enak loh Mahessa..."


"Aku banyak menyusahkanmu.."


"Apa sebelumnya kita pernah bertemu?"


Tanya Luna berusaha berkomunikasi dengan pria penolong hidupnya.


"Ehm...." Mahessa terlihat tengah berfikir.


"Oh may be kita beneran pernah ketemu sebelumnya." Otak nista Luna mulai bekerja.

__ADS_1


"Oh ya?" Mahessa terlihat penasaran menautkan kedua alisnya yang lebat dan tersusun rapi itu.


"Ya may be we meet in other nation." Luna berucap sedikit serius agar terlihat meyakinkan.


"Seriously? Where's that?" Jawab Mahessa serius.


Luna menahan tawanya "IMAGINATION!"


"HAHAHA" Luna akhirnya tertawa namun berhenti saat pria di depannya hanya terpaku.


"Lah ga lucu ya?" Luna mejadi canggung.


Namun tidak lama kemudian Mahessa terbahak.


"Lah ganteng-ganteng loadingnya lamaaaa..HAHAHA" Luna mengejek Mahessa dalam hati.


"HAHAHA.."


"Kamu lucu sekali Luna..." Dia menyeka sudut matanya.


"Ternyata kamu sebenarnya seorang yang periang ya.."


"Siapa yang begitu tega membuatmu seperti ini?" Keluhnya kemudian menghilangkan atmosfir keceriaan barusan.


Luna terdiam mencoba tidak membahasnya. "Aku pikir semua ini tidak ada urusannya denganmu."


"Oh iya aku beneran ingin keluar dari sini..."


"Berapa yang harus aku bayar?" Tanya Luna mengalihkan pembicaraan.


"Aku kan sudah bilang kalau tidak perlu kamu pikirkan." Jawab Mahessa lembut.


"Aih.. Aku tidak suka punya hutang budi..." Jawab Luna polos.


Mahessa menyeringai. "Aku suka..." Lirihnya


"Kamu bilang sesuatu?" Tanya Luna seperti mendengar sesuatu.


"Tidak ada, anggap saja ini pemberian perkenalan kita ya." Mahessa beranjak dari sofa dan mendekati Luna.


"Bolehkah aku tahu kenapa kamu mengambil resiko menggugurkan kandunganmu?" Tanyanya hati-hati.


Luna menunduk, "Kenapa kamu sangat kepo?"


"Bukankah kamu bilang pacarmu setuju bertanggung jawab."


"Kenapa kamu tidak mau?"


"Apa kamu diperkosa olehnya?"


"Makin lama pertanyaan dia makin ga sopan!!" Keluh Luna membatin.


"Ini urusanku, aku melakukannya atas dasar suka sama suka."


"Alasanku menggugurkannya tentu saja karena kami belum menikah."


"Ini Aib bagi kami terutama keluarga besar kami!"


"....." Mahessa tidak berkata.


"Bukannya para pria memang selalu seperti ini ya."


"Unboxing wanitanya sebelum menikah." Luna menatap Mahessa yang kini tengah salah tingkah.


"Aku tidak seperti itu." Jawabnya terbata.


"Oh ya?"


"Baguslah... Jarang loh ada cowok udah mah ganteng, kaya dan shaleh lagi..." Luna menggodanya.


Mahessa tersipu dia menundukan pandangannya.


"Betapa beruntungnya pacarmu." Luna kembali menggodanya.


"Aku tidak mempunyai pacar." Hardiknya kilat.


"Oh ya? Sayang banget ganteng-ganteng ko jomblo." Luna menahan tawa.


"Bagaimana kalau kamu yang jadi pacarku." Lirihnya dengan nada serius.


"Apa?" Sontak Luna terkejut dan  ingin memastikan apa yang dia ucapkan barusan.


Dia menatap Luna lekat, Luna salah tingkah. "Sudah malam.. Aku lelah ingin istirahat..." Luna mengalihkan  pembicaraan rasanya auranya mendadak tidak bersahabat.


Mahessa mengusap wajahnya terdengar hembusan nafas kasarnya yang perlahan seperti menahan sesuatu. "Maaf aku membuatmu tidak nyaman."


Ya udah kamu cepetan tidur. Semoga besok sudah bisa di ijinkan pulang."


Mahessa berdiri dari tempatnya menuju kembali ke sofa panjang dan duduk disana.


"Malam Luna..." Dia tersenyum penuh arti.


Luna terpaku sangat lama memperhatikan keberadaan Mahessa saat ini.


"Selamat malam Mahessa, maaf ya kamu jadi tidur di sofa."


"Kamu boleh ko pulang istirahat."


"Disini nanti kamu malah sakit badannya tidur di sofa gitu." Luna mencoba perhatian dengan penolongnya.


"Aku malah lebih memilih tidur di sofa ini dibanding di kamar hotel..." Giliran Mahessa menggoda Luna saat ini.


Luna salah tingkah, dia mengatupkan bibirnya erat dan tidak lagi menanggapi berpura-pura tertidur.


"Semoga esok akan lebih membahagiakan..." Lirih Luna.


* * * * * * * * * *

__ADS_1


__ADS_2