
Setelah menempuh kurang lebih 15 menit dari tempat tinggal Luna, kini mereka telah berada di Central Paragon Hill tepatnya kediaman Mahessa yang bak istana. Kediaman Luna sendiri tergolong besar namun dia memiliki koleksi pria yang kaya raya seperti ini membuat dia syok!
"Ayok kita turun." Ajak Mahessa.
"Mendadak jiwa missqueenku bergejolak!!"
Mahessa terkekeh dengan ucapan polos Luna, dia sungguh gemas dengan wanitanya yang selalu membuat harinya berwarna. Beberapa pelayan tengah menyambut kedatangan mereka, Luna mengatupkan bibirnya erat dia seperti cinderella kesiangan saat ini. Mahessa menggenggam jemari Luna dan membawanya menuju taman belakang.
Pandangan Luna tidak pernah lepas dari menyelidik tiap sudut kediaman Mahessa yang begitu mewah baginya.
"Wah kalau aku tinggal disini bisa mati kelelahan."
"Kok bisa?" Mahessa terkekeh menarik kursi untuk Luna gunakan.
Luna duduk berhadapan dengan Mahessa, kemudian dengan wajah berbinar Mahessa membuka kotak bekalnya. Dia begitu menyukai masakan Luna. Setiap kali Luna membuatkan dia makanan dia akan otomatis menyukainya.
"Wanita ini sungguh pandai memikat!"
"Selain parasnya yang cantik, tubuhnya yang harum bagai opium, masakannya juga juara!"
"Aku sungguh tidak punya kata untuk mengagumi dirinya."
"Betapa beruntungnya Adira menemukannya lebih dulu!!"
Tiba-tiba Mahessa merasa sesak dia harus terus cemburu pada status Luna yang masih mencintai pacar brengseknya.
Saat akan memulai sarapan asisten khususnya menghampiri.
"Pagi tuan, apa ada yang anda perlukan?"
"Luna, perkenalkan ini Asisten Khusus aku."
"Farell."
"Luna...."
"Jika anda membutuhkan sesuatu jangan sungkan."
Keduanya saling menjabat tangan dan Luna melayangkan senyuman ramahnya.
"Berkas untuk hari ini kamu simpan di ruang kerjaku."
"Suruh Angela mempersiapkan conference call rapat pagi ini pukul delapan. Aku tidak mau menunggu!"
"Sisanya kamu sudah tau harus melakukan apa."
Mendengar titah Mahessa yang begitu lugas dan dingin membuat Luna sedikit merinding.
"Baik tuan saya undur diri."
"Nona Luna saya pamit. Senang mengenal anda."
Farell mengembangkan senyumnya sebelum dia beranjak meninggalkan keduanya. Luna sedikit terpana dengan asisten khusus Mahessa yang tidak kalah ganteng dari artis korea.
"Ga usah lirik!" Sungut Mahessa dengan tatapan dinginnya.
"M-maafkan saya tuan.." Farell menjawab gugup dan segera undur diri.
"Pfftt!"
Luna menahan tawanya melihat jiwa posesif kekasih gelapnya. Ini kali pertama Luna mengetahui sisi serius dari seorang Mahessa.
"Ada yang kamu mau cutie?!" Tanya Mahessa kemudian membuyarkan lamunan Luna.
"Ya aku mau rumah ini..." Candanya dengan sedikit menggoda.
"Apa-apaan sih Luna!" Rutuk Luna dalam hati merasa candaannya tidak wajar.
"Sure!"
"You'll be here as Mrs. Mahessa cutie..."
Mahessa seolah di beri lampu hijau dalam hubungannya dengan Luna. Luna menyadari bahwa prianya telah salah mengartikan candaannya.
"I'm just kidding loh... Hehe"
"Okay let's start our breakfast.."
Mahessa sudah tidak sabar sejujurnya, dia segera melahap bento yang di siapkan wanitanya dengan suka cita.
"So delicious!!!" Puji Mahessa girang.
"Mulutmu manis sekali!!"
Sejujurnya Luna sangat senang, ternyata masakannya bisa di terima selain kekasihnya. Keduanya menyantap sarapan mereka dengan di selingi beberapa candaan dan hal random lain yang membuat suasanya lebih hidup. Luna sedikit takut, karena hal ini lah yang dia cari selama ini. Bersama Adira di kehidupannya yang lalu sungguh membosankan.
__ADS_1
"Aku tidak boleh berpikir macam-macam..."
"Sudah terlihat Adira menunjukan perubahan yang besar sejauh ini."
Luna membesarkan hatinya saat ini, dia menyelesaikan dengan cepat dan mengajak Mahessa untuk mengantarnya segera.
Di dalam mobil Mahessa mendekati wajah Luna "Aku sungguh kecanduan bersamamu sayang..."
Mahessa menyesap bibir Luna lembut, membuat tubuh Luna meremang reflek melingkarkan tangannya di bahu prianya. Mahessa melepaskan Luna segera saat dirinya merasa akan turn on.
"Sungguh sangat berbahaya bersama wanita ku ini!" Mahessa menyentuh bibir basah Luna dengan jemarinya.
Wajah Luna terlihat pasrah dan tengah menahan hasratnya, wanita itu juga menelan salivanya. Terlihat sangat liar di mata Mahessa.
"Aku mencintaimu Luna..."
"Aku tidak percaya jika kamu tidak punya sedikit perasaan untuk ku sayaaang!"
DEG!
"May be..." Goda Luna di depan wajah Mahessa.
Pria itu tersenyum tipis menyukai tarik ulur wanitanya.
Mereka sudah sampai di pelataran kantor Luna, Mahessa memarkirkan mobilnya di tepi. Luna menatap prianya, rasanya sangat sulit untuk tidak berdebar dalam keadaan kali ini.
"Terima kasih Mahessa..."
"It's my honor..."
Mahessa kembali mendekati wajah Luna dengan tatapan yang benar-benar menginginkan wanitanya.
"Mahessa..."
Luna mencoba memberi kembali pengertian pada kekasih gelapnya.
Mahessa kembali pada posisinya, dia mencengkram erat kemudinya.
"Hari ini Adira kembali pulang."
"Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan bukan?"
"Hm..." Jawab Mahessa dingin.
"Aku berusaha...." Lirih Luna tidak mempunya pilihan lain.
Mahessa menarik tangan Luna dan mencium jemarinya "Aku akan menunggumu dengan sabar..."
"Jika dia terus begini aku yakin aku benar-benar akan goyah dan berpaling padanya!!"
Luna menatap nanar ke arah pria yang sangat lihai menggodanya. Seketika dia teringat dengan mantan pacarnya.
"aku pergi dulu ya..."
Luna pamit pada Mahessa, Mahessa menahan tangan kekasihnya. Luna mengerutkan keningnya.
"Aku belum menerima ciuman perpisahan..." Bisik Mahessa di telinga Luna.
Luna terkekeh dia mencium pipi Mahessa lembut.
"Dah ya..."
"Take care..."
Wajah Mahessa memerah dengan ciuman dan ucapan lembut wanitanya. Dia merasa geli sendiri, baru merasakan apa itu jatuh cinta di saat usianya menginjak kepala tiga.
* * * * *
Luna sudah berada di ruangannya dengan mendengus kesal dan perasaan gelisah sepanjang masa selama Mahessa mengantar dan menjemputnya. Dia sungguh bagai penjahat yang diam-diam menyembunyikan kejahatannya.
"Sandra ga masuk ya?"
Luna menghampiri meja Hapsari, dia menyadari siblingnya tidak ada di tempatnya.
"Ada ko, dia ke toilet apa kantin kali ya." Jawab Hapsari datar masih fokus dengan ketikan keyboardnya.
"Oh... Okay!" Luna berencana kembali menuju posisinya.
"Kenapa?" Tanya Hapsari kini menatap Luna curiga.
"Enggak hehe..."
"Biasa dia tidak pernah meninggalkan kursinya pagi-pagi."
"Elu aja yang datengnya siang hari ini tumben!"
__ADS_1
"Telat lu ya?"
Luna menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sungguh pisau bermata dua, niatnya cuma bertanya kini dia justru tengah merasa akan di introgasi.
"Ya begitulah..." Luna menyeringai.
"Owh..."
"Fuuihh!"
Luna bersyukur Hapsari tidak memperpanjang pertanyaannya. Jika tidak dia tidak tahu harus seperti apa menanganinya. Luna kembali ke tempatnya menyalakan komputer dan berusaha menyelesaikan pekerjaannya.
"Hari ini sayangku pulang..."
"Aku ga boleh lembur!!"
Senyum Luna mengembang, sungguh sangat mengherankan. Padahal sebelumnya dia merasa jatuh cinta pada Mahessa.
"Ampir lupa!!"
Akhirnya Luna meyadari "Aku harus menghapus history Mahessa." Gumamnya merogoh ponsel di tas miliknya.
Tap!
"ANJENG!!!" Pekik Luna terkejut dengan tepukan tiba-tiba di pundaknya.
"Yang punya dosa biasanya jadi suka kagetan!" Sungut Sandra.
"Tumben lu dari mana?" Luna memegang dadanya yang saat ini seperti terkena serangan jantung.
"Abis dapet info seputaran karyawan kantor." Ujar Sandra datar menuju kursinya.
Mata Luna berbinar "Ini adalah moment ghibah before hard work!"
Pemikiran nista Luna kadang menjerumuskan.
"Ada gosip baru ya?" Luna mendekati meja Sandra.
"Heeh!" Ujar Sandra masih mode kalem.
"Who?"
"Elu lah siapa lagi!!"
Luna membuka mata dan mulutnya lebar.
"Makin kesini makin ngelunjak ya Lu!"
"Ga takut ya?"
"Takut apa?" Lirih Luna kini pura-pura tidak tahu.
"Seminggu di anter jemput Mahessa?"
"Tiba Adira tahu gosip ini gimana?"
DEG!
Luna terpaku dengan penuturan Sandra, dia sejujurnya tidak masalah Sandra memang mengetahui hubungan Luna dan Mahessa. Tapi gosip yang beredar di kantornya dia sendiri belum mendengarnya.
"Lu mau denger ga, gosip teranyar lu adalah wanita penggoda!"
"Ampe bilang yang anterin lu itu semua sugar daddy lu!"
Luna terdiam, gosip dia dan Bram saja belum benar-benar menghilang di tambah ini lagi. "Sungguh berat sekali, di hidupkan kembali hanya untuk menambah beban."
"Gue ko baru tahu gosipnya sekarang."
"Hapsari juga ga bahas, biasa dia yang paling menggebu!"
"ITU JASA GUE NYET!"
"Jika bukan gue inget lu dah gue anggap sodara apalagi baru beliin eypun males gue!!"
Luna melebarkan senyumnya dan memeluk Sandra tanpa ragu.
"LEPAAS!!" Sungut Sandra kesal.
"Makasi Sandra sayaaaang.."
"Sssstttt..."
Tiba-tiba Bu Lidya mendekat dan menyuruh mereka tenang sontak keduanya terkejut dan kembali melakukan aktifitas mereka.
* * * * * * * * * *
__ADS_1