Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 41 : Kesepakatan


__ADS_3

Luna telah selesai mengganti pakaiannya. Kali ini dia menggunakan dress satin lembut lengan tali tipis sudah seperti Lingerie. Menonjolkan bagian dada dan lekuk tubuh dengan warna tan senada dengan kulitnya. Luna sengaja mengurai rambut panjangnya yang sedikit bergelombang karena ikatan cepolan sebelumnya.


"Bagaimana penampilanku sekarang?" Luna mengejutkan Mahessa yang tengah menyesap anggurnya.


Pria itu berbalik badan dan tertegun beberapa saat. Mahessa menelan salivanya dan tanpa menunggu lama mendekati wanitanya.


"Kamu sangat cantik cutie..."


"Aku semakin menginginkan mu sayaaang!" Mahessa merangkul pinggang Luna kemudian mencium bibirnya tanpa meminta ijin lebih dulu.


"Mahessaaa..." Luna mendorongnya perlahan.


Mahessa tersenyum sangat tampan, membuat darah Luna mendesis hebat. Rasa yang di hadirkan dari sebuah perselingkuhan memang menghasilkan sensasi yang berbeda.


Saat ini telah hadir beberapa orang yang memainkan biola dan cello mereka membuat semuanya terlihat sempurna. Tangan Luna bertumpu pada bahu prianya. Sang pria merangkul pinggang si wanita dan bergerak lembut kekiri dan kanan. Luna tersipu dibuatnya, Luna tidak ingat apa suaminya pernah melakukan hal ini selama mereka berhubungan.


"Kamu sepertinya sering melakukan ini dengan Adira?" Mahessa melontarkan pertanyaan yang membuat Luna terdiam.


"APA?" Tanya Luna kembali memastikan.


"Gerakanmu tidak canggung bahkan terlihat terbiasa..." Ujarnya menyesap bahu Luna yang sedari tadi menggoda untuk disentuh.


Luna terdiam, dia tidak yakin selain dia lupa apa yang sudah terjadi di tahun ini dia juga tidak ingat jelas saat hububgan setelah pernikahannya dengan Adira.


"Mahessa kita berjalan ditepi pantai depan situ yuk..." Luna sengaja mengalihkan pembicaraan dan memelas meminta Mahessa menuruti keinginannya saat iini


"Boleh sayang..." Pria itu menyibak jasnya dan mengenakannya kepada Luna.


Dia kuga menggenggam tangan Luna dan berjalan dengan mesra seperti sepasang kekasih bagi yang tidak mengetahuinya.


Luna membuka high heels dan menentengnya. Berlarian kecil meninggalkan Mahessa di belakang. Terlihat sekilas Mahessa tersenyum menatapnya. Luna usil dengan menyipratkan air kearahnya. Dia tak mau kalah melakukannya juga pada wanitanya. Beberapa saat kemudian Mahessa menarik lengannya dan kembali mencium bibir Luna liar.


Dibawah sinar rembulan dan kerlip lampu disekitaran Luna merasakan dia seperti di beberapa adegan drama kisah percintaan.


"Aku sangat menyukaimu Luna..." Mahessa memegang pipi Luna dengan terengah dan tatapan menginginkan wanitanya membuat Luna menelan salivanya.


"Mengapa rasanya sangat nyaman."


"Sadar Naluna!! Dia bukan pacarmu!!!"


Hatciiii!!


Mahessa tersenyum dan membelai pipi Luna "Maaf aku membawamu terlalu lama... Kita beristirahat sebentar di bungalow depan. Kamu juga perlu mengganti pakaianmu."


"Aku tidak mungkin sedang jatuh cinta padanya bukan?" Batin Luna menyimpulkan perasaannya saat ini.


Tepat di sebuah bungalow yang sebelumnya Luna gunakan mengganti pakaiannya mereka masuk bersamaan.


"Apa aku akan diberikan potongan harga jika aku berencana menginap disini bersama temanku?" Tanya Luna memulai percakapan menatap prianya nakal.


"Untukmu tentu saja free...." Mahessa tersenyum memberikan Luna satu gelas ssampanye


Luna sengaja menggoda Mahessa melepas jas yang dia kenakan menerima sampanye dari Mahessa dan langsung menenggaknya.


"Pelan-pelan sayang... Pantas kamu lebih cepat mabuk!" Dia duduk disampingnya saat ini.


Luna menyenderkan kepala dibahu Mahessa. Dia merasa kepalanya berputar mungkin sampanye yang dia minum sudah bereaksi.


Mahessa merangkulkan satu tangannya dipinggang Luna sedangnya yang satunya membelai anak rambut wanitanya. Deru nafasnya semakin terasa memburu. Dia kembali mencium bibir dan merebahkan Luna di atas ranjang.


"Luna sungguh membuat aku tidak bisa lagi menahan hasratku padanya!!" Batin Mahessa gelisah.


Tangannya telah mengelus perlahan paha dan menaikkan dress wanitanya.


"Aaaah..." Luna melenguh perlahan menerima semua rangsangannya.


Luna seolah seperti tersihir oleh tindakan Mahessa saat ini.


"Mahessa..." Luna merengek manja serta mendorong tubuh prianya namun sia-sia.


Luna mengatupkan bibirnya erat saat wajah Mahessa di letakan di lehernya, lidah pria itu tengah menyapu kulit mulus wanitanya turun terus menuju area terlarang.

__ADS_1


Mahessa hampir kehilangan akal sehatnya tangannya menarik tali tipis dress Luna dan terkejut dengan keindahan yang baru dia lihat selama hidupnya.


"Cutiee..." Suara beratnya sungguh mengoyak keteguhan Luna.


"Aaarghh!!"


Mahessa bangkit dari posisinya, dia tersadar mengusap kasar wajahnya. Luna masih terbaring terengah. Tubuhnya bergetar hebar atas rangsangannya pria yang baru dia kenal beberapa waktu itu.


Tubuh Luna bergetar karena ketakutan dia juga kini menumpahkan air matanya. Dia telah menodai kepercayaan kekasihnya.


"Maafkan aku Luna..." Lirih Mahessa menyesali perbuatannya.


"Bisakah kita pulang sekarang?" Pinta Luna seraya beranjak dan memperbaiki pakaiannya yang sudah hampir tidak menutupi tubuhnya sepenuhnya.


Mahessa beranjak dari tempat tidur "Aku menunggumu diluar. Gantilah dulu pakaianmu..." Ujarnya dingin kemudian berlalu.


"Naluna you're really B*TCH!!" Luna segera mengganti pakaiannya dalam kekecewaan yang besar dan bergegas keluar.


Di dalam mobil suasana menjadi semakin tertekan. Luna menyalakan music player menghubungkannya dengan iPodnya. Memilih lagu kesukaanku.


"Aku minta maaf Luna..."


Mahessa masih tidak enak perasaan.


"It's okay..." Luna tersenyum kearahnya.


"Ya tuhan, aku sungguh menginginkan wanita ini!!" Batin Mahessa menjerit.


Ponse Luna berdering. "Mas Dira? MAMPUS AKU!!" Jantungnya seakan berhenti berdetak. Mahessa kini tersenyum usil kearahnya.


"Halo mas.."


"Sudah pulang?" Tanyanya disebrang sana.


"Ini lagi OTW..." Luna menjawab sedikit bergetar dan menggigit bibir bawahnya.


"Pake apa yang? Taksi kan?" Nadanya seperti tengah mengkhawatirkan kekasihnya.


"Iya..."


"Sedang memikirkanmu..." Lirihnya.


"Gombaal!!" Luna tersipu malu melupakan bahwa disebelah ada seseorang.


"Aku tutup dulu ya bentar lagi aku turun. Nanti aku telpon balik boleh?" Luna kini menyadari tidak bisa berbincang disaat seperti sekarang ini.


"Hmmm..." Terdengar hembusan nafas kesal kekasihnya.


"Baiklah... Hati-hati sayang. Sekalian beli makan juga kan?" Adira enggan menutupnya.


"Aku sudah makan dikantor... Sudah dulu ya sayang. Love you.." Luna segera berinisiatif mengakhirinya.


"Love you too sayang... Cepetan ya!" Rengek kekasihnya manja.


Luna tersenyum malu mendengarnya lalu menutup sambungan. Tanpa Luna sadari mobil Mahessa telah berada didepan kosan lamanya.


"Oh iya, aku sudah pindah ke Aston Mansion."


"Kamu tidak bilang sebelumnya..." Mahessa kembali melajukan mobilnya.


Hanya berjarak satu blok saja dengan kosan lama sebenarnya jadi tidak perlu memutar jauh. Mereka sudah berada di pelataran Aston. Mahessa memarkirkan mobilnya. Berbalik badan menghadap Luna.


"Luna... Sejujurnya aku menemuimu untuk meminta bantuan." Mahessa terdengar serius.


"Oh ya? Bantuan apa?" Tanya Luna kemudian.


"Menjadi pasanganku di acara anniversary perusahaan akhir bulan ini." Dia menatap Luna lekat.


"Hahaha... Kenapa harus aku?" Tanya Luna menggodanya.


"Aku sudah punya tunangan Mahessa, jika Adira tahu aku sudah sejauh ini membohonginya aku tidak sanggup lagi bertahan..." Lirih Luna sendu.

__ADS_1


"............" Dia menghembuskan nafas perlahan.


"Aku hanya memintamu berpura-pura didepan mereka sehari saja. Mereka juga tidak akan mencari tahu lebih banyak tentangmu. Hanya pasangan penjamuan makan tidak ada yang lain." Dia membujuk Luna kembali.


"Apa aku akan dibayar melakukan hal berbahaya seperti ini?" Mendadak otak nista Luna menuntunnya mengatakan hal ini.


"Sure..." Jawabnya kilat.


"How much?"


"Berapapun yang kamu mau.. Aku akan penuhi.." Bisiknya ditelinga Luna membuat tubuh wanita itu meremang.


Luna sangat menyukai harum parfume Mahessa, terlebih pria itu sama tampannya bahkan jauh lebih maskulin dari Adira yang lebih charming.


"Aku ingin tahu berapa nilai diriku dimatamu?"


"Kamu tak ternilai untukku... Maka jadilah wanitaku yang sesungguhnya semua finansial dan hidupku aku alihkan menjadi atas namamu!" Jawaban Mahessa tegas tanpa keraguan sedikitpun membuat Luna terpaku.


"Seandainya aku belum bertemu Adira mungkin aku akan sangat mencintai lelaki ini!!" Batinnya.


Luna sungguh terpesona oleh sikap Mahessa dia membelai pipi prianya dan mengecup bibirnya perlahan. "Aku tidak seberharga itu. Aku sudah tidak suci lagi, aku sudah pernah aborsi, dan yang terpenting hatiku sudah ada yang memiliki... So? It's just a business!"


Luna menekankan semua kata berharap dia tidak sedang memberikannya harapan palsu.


Raut wajah Mahessa berubah seketika seperti tengah menahan amarah yang besar, dan siap meledakkannya.


"Bagaimana dengan seratus ribu..." Jawabnya kemudian.


"Seratus ribu rupiah?" Tanya Luna memastikan.


"Hahaha USD sayaaaang..." Dia mengecup pipi Luna gemas.


Luna sungguh tidak ingin beranjak.


"Kalau dirupiahkan berapa jumlah kosongnya?" Luna sungguh terlihat bodoh saat ini. Mendengar pertanyaan ini Mahessa kembali terbahak.


"Karena jumlah kosongnya ada sembilan maka aku akan memberikanmu dalam bentuk cek besok. Bagaimana sayang?"


Pernyataan Mahessa membuat mata Luna membulat sempurna!


"Apa gue akan kaya mendadak saat ini?!"


"Kenapa bengong? Besok aku menjemputmu."


"Adiramu masih diluar kota bukan?"


"Iya... Dia seminggu diluar kota. Akhir pekan ini baru pulang." Jawab Luna polos.


Mahessa menyeringai kemudian kembali menciumi bibir Luna dengan liar. Keduanya benar-benar tengah melepaskan hasrat keduanya.


Luna terengah dan memejamkan matanya saat wajah Mahessa kembali diletakannya di dadanya.


"Kamu mau ke atas sayang?!"


"Aku akan melayanimu dengan baik."


Luna sungguh arogan saat ini membuat Mahessa tidak terima dengan pernyataan wanitanya yang merendahkan harga dirinya.


"NALUNA!!" Pekiknya melepaskan aksinya.


"One billion harga yang sangat pantas... Tentu saja aku harus memuaskanmu bukan?"


"DENGAR NALUNA AKU TIDAK MEMBAYARMU UNTUK MENIKMATI TUBUHMU SEPERTI ADIRA BRENGSEKMU ITU!!" Dia menekan kedua pipi Luna dengan satu tangannya dan menghempaskannya.


"Sungguh penghinaan yang luar biasa!!" Rutuk Luna dalam hati.


"Maafkan aku Luna..." Dia kembali tersadar dan berkata lembut.


"Sudahlah aku yang seharusnya minta maaf selalu memancing emosimu."


"Aku masuk dulu... Terima kasih atas malam indahnya Mahessa...."

__ADS_1


Luna masih enggan berpisah dia melingkatkan kedua tangannya di bahu prianya. Mahessa menelan salivanya. Keduanya kembali bertautan hingga kehabisan udara dan Luna menyudahi dengan segera meninggalkan Mahessa.


* * * * * * * * * *


__ADS_2