
Luna bertanya dari satu toko ke toko lainnya. Luna telah berpikir dengan cepat. Untuk mengakhiri kebodohan gaya hidupnya yang cukup menguras isi dompetnya dia mengingat di masa depan bisnis online dan marketplace akan sangat diminati. Dengan pengetahuannya yang dia bawa di masa yang sudah dia tempuh Luna akan membangun bisnisnya sendiri mulai saat ini.
Ponsel yang memudahkan dia berjualan online adalah Blackberry, dengan sistem membuat group jualan olshop. Dulu dia sering sekali ikut join beberapa olshop fashion yang sering memberikan mereka katalog produknya. Memudahkan kita memilah produk mana yang kita minati. Sebelum marketplace merebak di tahun berikutnya.
Setelah menikah dengan Adira, dia juga mendapat fasilitas kekayaan dari keluarga besar Adira yang masih menyokong hidup mereka. Terlebih saat putri nya lahir di bulan keenam mereka baru menjalani biduk rumah tangganya. Semuanya mengetahui pasal hamil di luar nikah Luna.
Luna kembali di rundung duka mendalam jika harus kembali ingat bagaimana dia begitu hidup dalam kejaran aib yang tidak bisa dia bersihkan dari dirinya.
"Gimana yang?" Tanya Adira membuyarkan lamunan Luna
"Eh iya..."
"Kok kamu sering ngelamun sih yang?!"
"Kamu beneran gapapa?"
"Aku kok khawatir banget!!"
"Kita ke dokter ya sekarang..."
"Eh apa sih mas!!"
"Aku tuh cuma mikir bagusnya milih mana..."
"Pengen beli BB aja..."
"Tapi pengen beli eypun juga..."
"Eypun?" Adira mengerutkan keningnya.
"i-Phone yang..." Gerutu Luna.
"Owh.. Haha!"
Keduanya tengah duduk di kursi yang di sediakan pihak mall bagi yang merasa lelah.
"Mas... Aku lapeer..." Rengek Luna menggerakan lengan prianya berulang-ulang.
__ADS_1
"Okay sayang mau makan dimana?"
"Hm..."
"Mau ayam goreng ini!!"
Luna mencium wangi ayam rempah yang menguar hingga menusuk hidungnya sukses membuat dia menelan ludah lapar.
"Ayam goreng mana?"
"Ini loh wanginya kecium ampe sini... Pake sambel mangga pake lalapan es teh manis dingiinn!!"
"Aaahh lapar maas."
"Kamu kok kek ngidam gitu.."
"Ih apa sih mas!!"
Adira tersenyum "Yuk, kayaknya di lantai atas ini. Kita bisa cari atau mungkin yang baru opening kemaren ayam kampung omma yang kamu minta kesana terus."
"Oh ya?" Luna di buat menyeringai terkejut dia tidak ingat.
"Pelan sayang..." Ucap Adira manis membuat Luna tersipu malu.
Luna jauh lebih menguji pacarnya dia menyenderkan kepalanya di bahu prianya. Anehnya Adira ikut merespon mengusap lembut rambutnya.
"Ajaib banget ini cowok gue!!"
"Kenapa ga dari dulu sih minta di hidupkan ulang!!"
"Ya tuhan Luna kamu tidak tahu diri!!"
Keduanya telah memasuki Kedai makan yang dari luar wangi rempah tercium menusuk indra penciuman keduanya. Luna memilih tempat duduk di belakang menghindari dari banyaknya orang yang akan berlalu lalang. Dia juga memilih di area terbuka dengan semilir angin yang akan menyejukan mereka.
Setelah memesan menu makan siang mereka, Luna memeriksa kembali ponselnya kalau-kalau Sandra atau yang lainnya mencarinya. Namun ternyata sepi dari panggilan.
Adira kembali merogoh ponselnya dan seperti biasa dengan eypun empat plusnya dia memainkan game online miliknya. Luna mengalihkan pandangannya keluar jendela dan kembali membawa dirinya mengingat potongan-potongan memory lamanya.
__ADS_1
Namun entah mengapa dia tiba-tiba mengingat mantan pacarnya Diaz Wijaya. Dia adalah pacar pertama dan satu-satunya. Mereka telah berpacaran selama 6 tahun ini seharusnya. Luna ingat jika dia menginginkan sesuatu dia tinggal meminta dan merengek pada kekasihnya yang kaya raya itu.
Mereka terpaut usia satu tahun, Luna jauh lebih tua dari Diaz. Namun begitu, Luna selalu bersikap manja pada kekasihnya itu. Diaz merupakan anak dari salah satu keluarga terpandang dan bahkan seharusnya tahun ini ayahnya menjadi pejabat di kota S dalam pemilihan di kotanya.
Luna merasa seperti istri yang selalu meminta nafkah dari suaminya. Semua dari yang terkecil hingga tidak tanggung-tanggung seperti rumah apartemen dan mobil sportnya sudah Diaz penuhi sejauh mereka membina hubungan. Jika ditanya bagaimana mereka melewati sepanjang harinya. Sama halnya dengan Adira bahkan keduanya tinggal dalam satu atap yang sama. Bedanya Diaz sangat pandai menekan hasratnya. Mereka hanya sebatas cuddling semata. Diaz sendiri telah menyentuh seluruh tubuh Luna bahkan hal paling intim sekalipun.
Nilai plus lainnya dari seorang Diaz adalah dia mendapat restu penuh dari seluruh anggota keluarga Luna terlebih ibunya. Diaz pandai memikat hati keluarganya apalagi dirinya. Dia sempat mencoba bunuh diri saat pertama mereka putus hubungan namun dia sadar Diaz tidak bisa dia pertahankan lagi. Selain sikap posesif dan sangat ringan tangan di saat marah membuat Luna terkadang mendapat perlakuan kejam oleh prianya. Apalagi jika bukan karena cemburu melihat Luna berjalan dengan pria lain bahkan Luna tidak terlalu di ijinkan bersama teman-teman mainnya.
Dia anggap wajar selama kebutuhan fisiologi dan materinya tercukupi semua oleh Diaz. Luna tidak membantah sampai batas kesabarannya habis dia menjauh dari kota S dan memilih bersama Adira saat ini. Kehidupannya dengan Adira sedikit berbeda, entah mengapa dengan pria yang malah lebih tua itu dia tidak berani meminta uang sepersen pun.
Awal mula mereka berpacaran mereka bahkan mengeluarkan uang masing-masing. Sampai akhirnya saat ini dengan sendirinya Adira berusaha mencukupi finansial Luna.
"Dia dan Diaz bagai Bumi dan Mars..." Batin Luna membandingkan kedua pria yang singgah di hatinya.
"Jadi sayang udah mutusin mau beli apa?" Adira kembali membuyarkan lamunan Luna.
"BB dulu deh tapi minggu depan..."
"Uangku tidak cukup..." Luna menyeringai malu.
"Ya udah kamu ada berapa nanti aku tambahin okay?"
"Apa?"
Luna terkejut dengan penuturan prianya. Dia seperti baru pertama kali mendengar kekasihnya mencoba menyokong financialnya. Terlebih barang yang di beli adalah kebutuhan pendukung yang ga penting banget buat dia.
"Iya aku juga ga begitu banyak tapi kalo nunggu gajian nanti aku beliin eypun biar samaan kita..." Ujarnya mengukuti aksen yang sering Luna gunakan.
"Makasi mas nanti aku ngerepotin... Tapi kalo mas maksa aku sih dengan senang hati menerima.."
Adira tertawa dengan pernyataan Luna.
"Sayang, aku sungguh nyaman berada di samping mu."
"Sejujurnya sangat mudah bagiku untuk membelikan apapun yang kamu inginkan... Tapi... Maafkan aku Luna aku belum bisa mengungkapkan identitasku saat ini."
Adira menatap Luna serius, ada rasa bersalah menjalar di hatinya. Dia membohongi pasal identitasnya pada kekasihnya. Dia masih berselisih dengan papanya. Semua akses keuangannya di bekukan oleh papanya hanya karena Adira belum siap menjadi penerus keluarga mereka dengan mengelola perusahaan sawit dan yang terbaru yang di kembangkan kakaknya yaitu lini properti seperti perhotelan dan pengembangan resort serta perbankan.
__ADS_1
* * * * * * * * * *