
Di ruang makan telah berkumpul seluruh keluarga besar Renald. Adira turun menghampiri mereka dengan raut wajah yang masih lesu.
"Sayaaang!!"
"Akhirnya kamu bisa pulang cepat!!"
"Gimana keadaanmu?"
xSudah baikan kan?"
Julia ibu Adira segera merangkul anaknya. Kedatangannya membuat dia semakin bersyukur keluarganya tidak lagi kacau seperti 3 hari kemarin.
"Pah..." Adira tersenyum lega melihat papanya telah sembuh dan bisa kembali berada di rumah.
"Terima kasih nak sudah berusaha keras membuat perusahaan kembali bangkit dari keterpurukan." Ujar Surya sendu.
Adira hanya membalas dengan senyuman.
"Sudah.. Sudah..."
"Ayo kita makan dulu ya!"
"Sebelumnya kita mengucap syukur, kita masih di beri kehidupan yang baik oleh tuhan saat ini setelah sebelumnya kita mengalami masalah berat..."
Makan malam dirasa sangat khidmat. Setelahnya Surya mengajak Adira berbincang serius di ruang kerjanya.
"Bagaimana rasanya menjadi CEO RG Dira?" Surya menatap anaknya dengan tatapan haru penuh kebanggaan.
"Pusing pah..." Jawab Adira polos.
"Hahaha..."
"Namanya juga perjuangan selalu ada kesulitan di balik kesuksesan!!"
"Terlebih..."
"Kamu sendiri bukannya merasakan sesuatu yang aneh?" Selidik Surya mencoba memancing Adira.
"Ya..."
"Apa kamu tidak ingin terbuka dengan papa?"
"Aku harus menceritakan apa?"
"Toh semua sudah aman terkendali dan kembali seperti semula." Ujar Adira biasa.
"Semua ini berkenaan dengan pacarmu itu kan?"
Adira terdiam tidak lagi menanggapi dengan cepat seperti sebelumnya. Tuan Surya bersiap bercerita dia menghirup dan membuang nafas perlahan.
"Sedari awal saat kamu bilang menyukai seseorang yang berasal dari Distrik S. Papa sudah memiliki firasat dan bahkan papa sangat takut jika gadis itu adalah keluarga Kusuma."
"Maksud papa?!"
"Di Distrik S sangat tidak mungkin ada gadis yang berkeliaran sampai kota B."
"Kemungkinannya sangat kecil..."
"Disana ada sebuah keluarga besar yang rumornya sudah santer terdengar di penjuru negri kita."
"Papa mengetahuinya saat papa tengah memperluas bisnis RG. Dengan mencari sponsor kesana kemari."
"Bukankan papa pernah menceritakan sebelumnya?!"
"Luna adalah anak dari Wira Kusuma dan Liliana Tan!"
"Sang ayah pemilik dataran L fan sang ibu bangsawan Negara S!"
Adira terpaku dengan penuturan papanya. Mengapa baru dia ketahui pasal calon istrinya saat ini?!
Adira kembali mengingat pertemuannya bersama ibu Luna atau dia bisa sebut sekarang nyonya Tan.
"Dengan nak Dira ya?"
Adira di undang ibu Luna berbincang di salah satu cafe di Kota B.
"Iya tante..."
"Perkenalkan saya Adira."
Adira menunduk sopan dan menjabat tangan calon mama mertuanya dengan santun.
"Maaf nak Dira..."
"Tante menemuimu memang ingin berbincang serius pasal Luna. Dia tidak perlu mengetahuinya."
"Ada apa ya tante?!"
Adira merasakan firasat tidak baik dalam hubungannya dengan Luna.
"Apa kamu serius dengannya?"
"Iya tante saya serius dengan Luna..."
Sejujurnya Adira sedikit ragu, pasalnya beberapa waktu lalu mereka bertengkar karena Luna memutuskannya tanpa alasan kemudian saat bertemu seolah melupakannya.
__ADS_1
"Apa kamu tahu, Luna memiliki cedera serius di kepalanya."
"Hal itu menyebabkan dia menderita Amnesia partial."
"Dia telah memiliki tunangan!!"
"Saya harap kamu maafkan Luna jika dia berpikir dia single dan menerima cintamu menjalin hubungan denganmu saat ini seolang dia tidak memiliki pasangan sebelumnya. "
"Saya sangat tahu dia mencintai tunangannya namun mereka berdua mengalami kecelakaan."
"Bahkan saat ini tunangannya masih di rawat di RS di kota S!"
"Luna menderita amnesia yang mengakibatkan dia lupa akan kejadian tempo hari. "
Adira merasa dirinya sangat konyol dengan apa yang baru dia dengar dari ibu Luna yang melukai hatinya.
"Mama mohon, mama minta bantuan nak Dira menjaga Luna selama dia disini 4 bulan terakhir ini."
"Jangan sampai kalian saling jatuh cinta!!"
Karena dalam batas waktu tertentu saya akan mempertemukan mereka kembali dan tiba saat itu dia akan melupakanmu dan mengingat semuanya tentang tunangannya."
"Kenapa tante memaksakan perasaan Luna seperti ini?"
"Jika dia memang melupakan kisah cinta lamanya bukankah lebih baik menerima kisah yang baru yang tidak akan menyakitinya?!"
"ADIRA!!"
"Aku tidak ingin memaksa mereka namun kamu tidak tahu kisah di belakang mereka!!"
"Mereka mencintai satu dengan yang lain."
"Hanya karena kami memiliki banyak masalah serius yang tidak bisa saya jelaskan dan kamu tidak akan mengerti."
"Lalu bagaimana jika Luna mencintai saya?!"
"Bagaimana jika dia memilih saya?!"
"Tidak mungkin!!!"
"Saya yakin 100% saat dia melihat tunangannya dia akan ingat kembali semuanya!"
"Dan kamu?"
Adira tersenyum pilu, "Inikah alasan Luna mencampakkan ku kemarin!"
"Ini tidak adil untuk saya tante..."
Adira masih ngotot mempertahankan cintanya.
"Maka dari itu..."
"Jauhi Luna atau kamu sendiri akan menyesalinya."
"Saya sudah memperingati Bram, jangan sampai kalian memiliki perasaan terhadap Luna."
"Jika kalian mengingkarinya atau kalian menyakiti Luna maka terima akibatnya mengusik keluarga kami."
Jantung Adira seperti diremas kencang saat ini saat memory itu kembali terngiang di kepalanya.
"Adiraaa?!"
Panggilan ayahnya membuyarkan lamunan Adira.
"Iya pah."
"Kamu sudah tau atau belum tentang silsilah Luna?"
"Ini aku baru tahu dari papa..." Ujar Adira lemah.
"Apa kamu menyinggung mereka?"
"Ti dak."
Adira terdiam, "Apa mungkin keluarga Luna tahu pasal aborsi Luna?"
Adira kembali di dera perasaan bersalah bertubi-tubi!
"Aku minta maaf pah."
"Aku mencintai Luna."
"Aku akan mengusahakannya jika memang Luna benar mencintaiku aku akan berjuang!"
"Tapi jika Luna memang tidak menginginkan ku...."
"Aku dengan sendirinya menyerah..."
"Dira...." Surya merasa iba.
Kini putranya tengah menitikan air mata mengusapnya perlahan, dan mendongakan wajahnya menahan kembali buliran air mata yang lainnya yang mendesaknya untuk mengeluarkannya.
"Kamu sangat mencintainya?"
"Iya pah..."
__ADS_1
"Berusahalah..."
"Papa berdoa yang terbaik untuk kalian!!"
"Tidak perlu lagi memikirkan perusahaan."
"Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan."
"Terima kasih pah."
"Papa tidak sedang memecatku bukan?"
"Hahahaha..."
"Tentu saja tidak."
Keduanya tersenyum merasa hubungan mereka pun menjadi lebih membaik. Tuan Surya mendekati putranya merangkulnya erat.
"Kau sudah tbuh dewasa, maafkan papa yang selalu memaksakan kehendak papa!"
"Papa bangga dengan pencapaian pekerjaan mu!"
"Terima kasih..."
Adira tersenyum mendengar pengakuan papanya.
* * * * *
Luna telah selesai dengan perawatan tubuhnya. Dia merasa semakin fresh, dia mengubah tampilannya dengan memotong sedikit rambutnya memberi aksen layer yang sedikit membuatnya berbeda.
"Nona..." Sapa Farell.
"Apa Mahessa masih sibuk?"
"Iya nona beberapa server kami tiba-tiba down."
"Apa anda mau langsung mengendarai mobil anda."
Luna memperhatikan mobil barunya dia memesan pada Farell membelikannya warna putih warna kesukaannya.
"Sejujurnya aku masih takut dan apa aku masih ingat caranya?!" Luna terbahak.
"Kebetulan saya sudah mempersiapkan mentor anda. Dia yang akan memberitahu anda jika anda lupa."
"Perkenalkan saya Lukas nona..."
"Luna..."
Keduanya berjabatan tangan, Luna meyakinkan dirinya untuk berani kembali memegang kemudi itu.
"Come on Luna!!!"
"If you're not moving forward.. You fall back!!" Luna meyakinkan dirinya lagi.
Dia akhirnya memberanikan diri memasuki mobilnya.
"Ya kalo tiba-tiba panic paling nubruk doang!!" Keluh Luna dalam hati.
Farell menghampiri Luna "Nona tenang saja mobil ini sudah kami modifikasi dengan keamanan extra!" Ujar Farell di balik pintu kemudi Luna.
"Terima kasih Farell."
"With pleasure nona..."
Luna menutup kaca jendela kemudian menarik nafasnya perlahan dan menghembuskannya.
"Anda sudah siap?"
"Rileks saja nona..."
"Apa anda masih mengingat semua fungsi dari mobil anda ini.."
"Iya..."
"Saya hanya takut melihat jalan raya."
Luna terkekeh canggung sekaligus gelisah luar biasa.
Instruktur terdiam dan berfikir "Apa anda pernah mengalami kecelakaan besar?"
"Iya..." Luna kembali sendu dia tidak ingin mengingat kejadian itu.
"Oke saya mulai aja deh!"
Luna perlahan membaca doa dan menyalakan mobilnya. Kemudian setel persneling dan menjalankan mobilnya perlahan namun pasti.
"Jika anda tegang mungkin bisa menyalakan musik?"
"AH IYA BETUL!!!"
Luna mencari ponselnya dan menyambungkannya dengan music player di mobilnya.
"Anda juga bisa bebas menyanyi atau mengobrol bercerita dengan saya."
"Tapi tetap harus fokus melihat jalan." Saran instruktur kemudian.
__ADS_1
"Terima kasih...." Akhirnya Luna kembali bisa mengendarai mobil setelah satu tahun lamanya dia tidak ingin menyentuh kemudinya.
* * * * * * * * * *