Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 15 : Mencairnya Kulkas Dua Pintu


__ADS_3

"Rekor banget jam tujuh malam aku sudah ada di rumah. Biasa lembur terus demi sebongkah berlian. Aku juga tidak mendapati mas Dira di depan gerbang kosan lagi seperti dua hari kemarin. Mungkin sudah waktunya dia kembali ke mode asal. Mode kulkas dua pintu merk Adira Renald!"


"Aaaaah cape syekali... Apa karena lagi hamil ya bawaannya cape terus."


Luna merebahkan dirinya di tempat ternyaman dimuka bumi ini.


Dia menatap langit-langit kamar, sebutir air mata menetes disusul teman-temannya. Luna kembali menangisi hidupnya dan kebodohan serta dosa yang terus mengalir di tubuhnya.


"Tidak! Aku tidak sedang mengulang kesalahan yang sama dimasa lalu. Sekarang waktunya aku berubah seperti apa yang aku inginkan."


Bergegas membersihkan diri dan berserah dihadapan-Nya.


"Ampuni aku atas dosa-dosaku tuhan..."


Setelah puas bermunajat, Luna bergegas tidur setelah sebelumnya mengecek ponselnya dan lagi-lagi tak ada pesan dari kekasihnya yang seharian kemarin selalu mencoba menempel dengannya.


"Luna bodoh... Katanya mau pisah tapi masih saja mengharapkannya!!"


Luna kembali menangis tanpa menunggu lamadia terlelap saking lelahnya.


* * * * *


4 hari kemudian...


Sudah empat hari Luna dan Adira hanya sebatas antar dan jemput itupun kalau Luna tidak lembur. Luna juga merasa bahwa Adira kembali menjaga jarak dengannya.


"Ya sudahlah! Beruntung kesibukan pekerjaanku juga benar-benar membuat aku tidak sempat memikirkan hal lain."


Tetapi sebelumnya dua hari yang lalu Luna mendapatkan ponsel barunya yang bermerk Blackberry yang sangat terkenal pada masanya. Sesuai dengan budget yang dia pinjam dari ibunya, anehnya tidak menyangka Adira juga yang memberi tambahan uang saat mengantar Luna membelinya.


"Luarnya sok cuek padahal dalamnya peduli."


Luna sangat tahu luar dan dalam seorang Adira Renald. Selama mereka bersama delapan tahun lamanya sudah tahu bagaimana sifat asli prianya yang memiliki motto Talk Less Do More!


Masih terlalu pagi sebenarnya untuk bergegas pergi, namun hari ini Luna dan Sandra menjadi peserta salah satu pelatihan mewakili EPSCorp di divisi mereka ke Negara S. Senangnya bukan main. Akhirnya apa yang Luna inginkan terwujudkan.


"Nak, hari ini akan terasa melelahkan. Patuh ya sayang." Luna terus mengelus perutnya berkomunikasi dengan bayinya.


Dari kota B ke Negara S hanya menghabiskan waktu selama 40 menit melalui transportasi laut.


"Semoga aku tidak mual. Aku ingat aku adalah seorang yang pemabuk angkutan umum. Apalagi sekarang ditambah kondisiku sedang berbadan dua, semoga tidak memberi kecurigaan pada Sandra."


"Luna. Disini!" Sandra melambaikan tangan memberi tahu posisinya.

__ADS_1


Luna bergegas menghampirinya. Semalam mereka membuat janji bertemu langsung di pelabuhan. Luna sudah memberi tahu Adira hari ini dia akan pergi ke sebrang.


"Mana paspor mu?" Tanya Sandra


"Nih..." Luna memberikan semua dokumen yang dibutuhkan.


Saat sedang mengantri pengecekan di bagian Imigrasi pundaknya ditepuk seseorang.


"M-as Dira? Kok ada disini?" Terlihat pria itu berdiri sambil tersenyum dan disampingnya juga berdiri salah satu teman satu teamnya Daniel.


"Emangnya cuma divisi kalian aja yang kirim anggota buat training?" Adira menjelaskan datar.


Luna hanya tersipu, tidak menyangka akan pergi ke Negara S bersama Adira. Waktu itu tidak ada hal semacam ini dimasa yang sudah ia lalui.


"Ternyata garis kehidupan memang tidak bisa seenaknya kita yang atur. Tuhan sudah memperhitungkannya."


"Kenapa ga bilang dari awal. Malah biarin aku bilang ga usah jemput segala, tau gitu aku tadi bareng mas kesini." Rutuk Luna kesal.


"Sengaja." Masih dengan ekspresi yang datar.


"Baiklah." Jawab Luna tak kalah datar.


Tidak perlu terlalu berharap jawaban bagus dari seorang yang dingin kayak kulkas hidup semacam Adira. Pertanyaan Luna di jawab saja sudah syukur biasa kalau "Gak", "Iya", dan "Oke" bahkan hanya deheman saja yang terdengar.


"Aku sudah biasa!" Sandra segera berlalu menuju kapal Ferry.


* * * * *


Ini kali pertama Luna berpergian keluar Negara, yang lebih tidak menyangka adalah bisa bersama Adira. Terlebih ini merupakan perjalanan bisnis, jadi mereka tidak mengeluarga biaya apapun untuk ini.


"Lumayan lah ya, mas Dira kan seseorang yang tidak punya inisiatif membawaku jalan-jalan. Eh tapi kan gue udah putus?"


Seharusnya tempat duduk Luna bersama dengan Sandra, namun Adira tidak mengijinkan Sandra untuk duduk disamping kekasihnya. Akhirnya dengan kesal Sandra mengalah dan duduk di sebelah dengan Daniel.


"BTW aku juga memiliki gangguan kecemasan berlebih, dalam kondisi tertentu seperti dalam kondisi mengendarai trasportasi darat, penerbangan bahkan sekarang hanya menggunakan kapal ferry saja aku sudah gelisah tak menentu. Entahlah apa ya penyebab semua ini?"


Luna merasakan Adira menggenggam tangannya dan membelai anak rambut Luna mesra. Mungkin dia menyadari kegelisahan Luna.


"Aku berniat jual mahal dulu kali ini, pasalnya dulu aku sangat murahan!" Luna menepis perlahan dengan senyuman.


Adira justru terkejut dengan perubahan sikap Luna yang dirasa sangat signifikan baginya. "Kamu ga suka ya aku pegang? Padahal ini bisa redain kegelisahanmu loh... Kamu lagi gelisah kan?"


Adira menatap wajah Luna sangat dekat. Dia sampai menelan salivanya tercium parfumnya yang menggoda telah mengoyak keteguhan hati Luna.

__ADS_1


"Mas sudah dua kali minta putus tapi terus minta balikan lagi.. Mas memang senang bermain-main kan?" Luna berujar lirih didepannya.


Adira memiringkan wajahnya dan berbisik di telinga Luna.


"Aku tidak pernah ingin putus hubungan denganmu sayaaang... Aku sudah berkali-kali bilang loh. Apa kamu mau aku hukum sekarang juga?" Tiba-tiba sebelah tangannya tengah merangkul dan menggerayangi tubuh Luna di dalam Ferry.


Mata Luna membulat tidak menyangka prianya akan melakukan hal ini. Luna terdiam segera menepis geraytangan kekasihnya dan tak sengaja mengalihkan pandangan kesekitar. Luna melihat Sandra dan Daniel terbelalak melihat tingkah Adira kali ini yang tiba-tiba berubah 180 derajat.


Siapa yang tidak tahu sifat Adira di kantor yang sangat dingin terhadap wanita bahkan terhadap teman satu divisinya pun jika tidak ada keperluan dia tidak akan banyak basa-basi. Ngomong seperlunya juga adalah jalan ninjanya. Sudah jelas penampakan seperti saat ini itu seperti bukan seorang Adira.


Dia selalu menganggap gaya pacaran yang terlalu show up terkesan lebay! padahal ya aslinya mungkin dia jauh lebih menakutkan dibanding dengan yang dia anggap lebay. Diam-diam dia telah menghamili anak gadis orang!


"Lantas mengapa aku mau dengannya? Aku tidak ingat jelas yang pasti wujudnya yang menawan dan sulit didapat semakin menggoda. Apalagi aku juga jomblo cukup lama ini tidak tahan untuk tidak di jamah dengan kasih sayang."


Luna sangat malu dengan perlakuan Adira barusan. Tanpa banyak bertanya Luna menyenderkan kepala di bahu prianya, memejamkan mata karena kapal telah bertolak dari pelabuhan. Luna sungguh gelisah dia genggam erat tangan Adira.


"Kamu takut?" Adira memulai percakapan.


"Hm...." Luna mengangguk perlahan seraya memajukan bibirnya.


Luna takut jika ia mengeluarkan kata dia akan muntah. "Ya Tuhan betapa memalukannya aku!"


"Kamu takut apa sih? orang cuma naek ferry aja, 40 menit doang." Candanya mencairkan suasana.


"Gimana kalau tiba-tiba ada hiu mendekat? terus dia melahap kapal ini? Atau ada sebongkah batu membuat kapal ini karam?" Akhirnya Luna berujar dengan semua ekspektasi abnormalnya atas perjalanan ini.


" HAHAHA kamu ini lucu. Pemikiran bodoh macam apa itu?"


Dia melihat Adira tertawa puas mendengar jawaban Luna sambil mencubit kecil hidungnya. Luna berpikir terkadang pemikiran konyol ini lah yang membuat dia terganggu dan menjadi sangat gelisah. Setelah puas tertawa Adira berkata perlahan dengan membelai pipi kekasihnya lembut.


"Kamu tenang aja ya kan ada aku. kamu boleh bersandar dan tidur lah sekarang."


"Ya Tuhan, saat dia mengucapkan hal itu aku merasa sangat bahagia. Belum pernah dia melakukan hal semanis ini semasa hidupku sepertinya. Aku yakin pipiku sudah memerah tersipu!"


Luna masih terpaku dengan perkataan Adira dan melanjutkan bersandar dibahunya. Tiba-tiba Luna merasakan Adira memberikannya Earphone di telinga dan mereka mendengarkan lagu berdua selama perjalanan. Dengan saling berpegangan tangan dari awal kapal bertolak hingga berlabuh.


Tanpa disadari, Sandra yang memperhatikan kejadian langka tersebut tersenyum haru, dan teman sebelahnya yang sudah seperti kepiting rebus merasa semua ini merontokan jiwa kejombloannya kemudian mengomel.


"Harusnya aku membawa kacamata hitam. Semua ini terlalu menyilaukan dan menodai mata suciku!" Rutuk Daniel kesal.


"Mimpi apa gue semalem di satukan sama manusia sejenis elu!" Dengus Sandra tak kalah kesal.


* * * * * * * * * *

__ADS_1


__ADS_2