
Tidak perlu menunggu lama pelayan yang diperintahkan Mahessa telah menyerahkan satu set baju baru untuk Luna. Baju terusan tadi sudah koyak oleh tarikan paksa Mahessa.
Luna memakai bajunya "Aku ingin mandi, badanku lengket!!" Rengek Luna.
Mahesa mengulum senyumnya. "Apalagi aku cutie! Kamu sungguh luar biasa membahayakan!!"
Luna menunduk malu dia segera beranjak namun badannya tak seimbang hingga akan tersungkur namun Mahessa sigap menangkapnya.
"Bukankah ini dejavu cutie..." Mahessa berucap di depan bibir Luna dia kembali menyesapnya lembut.
Luna mendorong tubuh lelaki perkasa itu. "Kita membersihkan diri dulu..."
"Aku akan menggendongmu, sepertinya tubuhmu masih lemah.." Tanpa persetujuan Luna Mahessa telah memgendung Luna ala bridal.
Luna tersipu membenamkan wajahnya di dada bidang Mahessa. Dia bisa mencium wangi Zara yang dia suka. Mengingatkannya pada mantan kekasihnya yang pernah memakai jenis ini. Mungkin salah satu alasan kenapa Luna sulit menolak hadirnya Mahessa karena sifat bahkan wanginya mirip sekali dengan mantannya yang sampai saat ini masih ada dipikirannya.
Ketika keduanya keluar ruangan kedua pegawai setianya menunduk hormat. Luna semakin mengeratkan rangkulan dia sangat malu saat ini. Mahessa tersenyum dengan tingkah manis Luna. Hatinya sungguh berbunga saat ini.
"Luna.. Aku tidak akan pernah melepaskanmu!!" Batin Mahessa terus melangkah menuju kamarnya.
Setelah masing-masing selesai membersihkan diri Luna menatap Mahessa yang tengah bersiap.
"Ganteng, tajir, berwibawa dan perkasa!! Jika saja aku bertemu lebih dulu dengannya pastinya aku..." Luna menggeleng kepalanya.
"Pikiran konyol macam apa ini!!" Rutuk Luna dalam hati.
"Aku menginginkan Surat Kontrak tersebut selesai sebelum kita resmi melangsungkan pernikahan. Aku harus memastikan kembali syarat yang harus kamu penuhi." Ujar Luna kemudian membuka suara.
"Sure... Farell akan menyerahkannya padamu nanti malam." Mahessa menjawabnya dengan senyuman ke arah Luna kemudian wanita itu tersipu malu.
"Mari kita bertemu dengan seseorang. Tidak baik membuatnya menunggu..." Mahessa mengulurkan tangannya dan Luna menyambutnya.
"Apa kamu sudah merasa baik? Atau perlu aku gendong lagi?" Goda Mahessa.
Luna hanya menunjukan jari tengahnya membuat Mahessa terbahak. "I like the way your answer!"
Luna tersipu kemudian merangkul lengan Mahessa. Mahessa mengajak Luna kesuatu tempat untuk bertemu seseorang. Namun sebelum menuju mobil ponsel Luna berdering. Dia segera mengangkat panggilan tersebut.
"Halo mas..." Sapa Luna sebiasa mungkin.
Dia memberi isyarat kepada Mahessa agar memberinya waktu sebentar Mahessa mengerti di menjauh dari Luna.
"Sayaaaaang... Kamu ga papa kan? Semalam kenapa terputus gitu aja? Aku telpon balik tapi ga bisa..." Pekik Adira khawatir.
"Maafkan aku mas, ponselku kehabisan daya." Ujar Luna berbohong.
"Kamu baik-baik saja kan? Kamu dimana? Kapan pulang?"
"Ehmmm... Aku masih disini Sandra aku suruh pulang sendiri... Mas tidak ada dirumah aku ingin disini sebentar..." Jawab Luna pasrah.
Dia tidak ingin semakin jauh membohonginya. Cukup status pernikahannya yang dia sembunyikan.
"Kenapa yang..." Tanya Adira khawatir.
Luna terdiam dia bingung apa yang seharusnya dia katakan. Dia akan meminta pengunduran pernikahannya hingga setahun ke depan. Apa Adira akan menyetujuinya? Dia berniat menggunakan alasan kebohongan statusnya. Namun hatinya sakit mengingat sesungguhnya Luna lah yang berkhianat.
"Sayaaang maafkan aku... Sampai saat ini papa belum juga sadar... Aku pikir kita akan mengundur pernikahan kita... Aku tidak tau sampai kapan aku disini..." Lirih Adira sama frustasinya dengan Luna.
Runtuh sudah pertahanan Luna dia kembali menangis. Tidak perlu dia yang mengatakan kekasihnya sudah lebih dulu meminta pembatalan pernikahannya.
"Sayaaang.. Jangan menangis! Maafkan aku... Aku berjanji setelah urusan disini selesai.. Kita akan langsung mengadakan pernikahan..." Pinta Adira.
Luna menyadari bahwa Adira sama tengah menahan tangis. Kepala Luna semakin terasa nyeri.
"Bertahan Luna! Kamu kuat... Aku di hidupkan kembali atas keinginanku. Kali ini jangan ada kesalahan lagi!!" Luna menguatkan diri sendiri
Mahessa mengepal tangannya. "Apa yang sedang mereka bahas.... Luna dua kali aku melihatmu semenyedihkan ini dengan orang yang sama... Jika saja kamu memilih denganku sedari awal maka kamu tidak perlu semenyedihkan ini... Aku berjanji akan selalu membuatmu bahagia..." Batin Mahessa.
"Aku tau mas... Maaf kan aku... Aku yang membuat papa mas masuk rumah sakit... Maafkan aku maaas...." Luna berucap dengan berderai air mata.
"Tidak sayaaang... Jangan pernah menyalahkan dirimu... Papa hanya kecapean... Minta doanya semoga papa lekas membaik... dan mama juga lebih kuat..." Adira meyakinkan Luna agar dia tidak perlu khawatir.
"Maafkan aku mas..." Luna masih dengan perasaan bersalahnya. Jika bukan karena Mahessa menginginkannya mungkin dia tidak akan menargetkan keluarga Adira.
__ADS_1
"Sayaaaang... Aku ingin sekali memelukmu... Aku lapaaaar... Aku ingin makan masakanmu..." Rengek Adira manja namun terasa menyakitkan ditelinga Luna.
Luna tidak menjawab dia terus berderai air mata. Dadanya semakin sesak jika dia biarkan dia akan kembali pingsan. Dia mencoba terus tersadar mengontrol emosinya, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya dan berpikir jernih.
"Aku menunggu mas disini. Nanti aku buatkan makanan kesukaan mas ya... Mas harus berjanji padaku... Mas harus selalu menjaga kesehatan... Aku tidak ingin melihat mas sakit lagi... Mas mau kan berjanji padaku...." Ujar Luna mencoba tegas dan tak ingin lagi menunjukan air matanya.
"Ini akan semakin sulit.... Aku harus melindungi semua yang aku sayangi... Aku harus kuat... Aku yang memulainya... Aku harus bertanggung jawab...." Batin Luna.
"Sayaaaang... Kapan pulang ke kota B? Apa kamu bersenang-senang?" Adira mencoba mencairkan suasana.
Adira tidak ingin berlarut dalam kesedihan. Selama Luna bahagia dan aman dia tenang disana.
"Ehmm... Bolehkan aku berjalan-jalan disini beberapa hari... Mas mendadak pergi tanpa memberitahuku... Aku kesal! Jika aku dirumah tanpa melihat mas aku akan kembali bersedih..." Ujar Luna dengan sekuat tenaga bersikap manja dan mencari alasan sempurna agar Adira juga tidak mengkhawatirkannya.
"Hmm... Kamu ga boleh macem-macem ya sayaang... Doakan semoga papa lekas sadar aku akan segera pulang... Kita akan bersama lagi..." Lirih Adira.
Luna menutup mulutnya. Dia sudah berusaha keras tidak menangis lagi namun semua ini sangat menyesakkan.
"Aku mencintaimu Adira Renald...." Luna tidak tahu apa yang harus dia ucapkan saat ini.
"Hehe dasar cewek gombal.... Aku juga sangat mencintaimu Luna... Tunggu aku ya sayang... Kita pasti akan segera menikah..." Jawab Adira bahagia.
"Kamu masih menangis ya sayaaang?" Tanya Adira khawatir.
"Aku terharu mas... Kamu berjanjikan apapun yang akan terjadi kamu tidak akan meninggalkanku?" Tiba-tiba Luna merasa sangat takut kehilangan.
"Kenapa kamu tiba-tiba berkata seperti itu? Tentu saja aku tidak akan pernah meninggalkan mu... Aku tanpamu bagai ikan dilaut tanpa airnya..." Adira mencoba menggombal.
Adira mengingat saat mengawali masa pacaran Luna lah yang selalu menggombal dan menggodanya terus menerus sampai terbiasa.
Tiba-tiba Luna terkejut Adira mencoba melawak. "Hahaha... Apa sih maaaas..."
"Nah gitu dong... Nangis terus tar aku pulang kamu jadi jelek aku mesti gimana?"
"Apa?" Tiba-tiba perasaan sedih hilang menjadi emosi.
"Jadi kalo aku jelek mas ga mau?? Ya udah cari sana yang lebih cantik dan seksi dari AKU!!" Sungut Luna.
"HAHAHA Luna... Aku lebih memilih kamu marah-marah ketibang harus mendengar kamu menangis..." Lirih Adira.
"Sebentar ya sayang.... Aku janji saat aku pulang aku akan menservice mu luar dan dalam sampai kamu puas yang..." Jawab Adira mesum.
"DASAR MESUM!!!" Rutuk Luna.
"HAHAHAHA ga usah gengsi gitu yang kamu rindu aku kalo bukan aku temani diranjang apa lagi?!" Adira tengah cengengesan dan berpikir yang tidak-tidak disana.
"Ok Hands up!!" Jawab Luna.
"Sayaaang... Aku pergi ke RS dulu ya... Padahal pengennya terus ngecas energi kehidupan sama kamu.... Miss you so much my wife..." Ujar Adira manja.
"Semoga papa lekas membaik yang... Aku akan selalu mendoakannya... Aku lagi halangan tapi aku akan selalu berdoa dalam hatiku.. Semoga Tuhan mengabulkan segala harapan kita... Amin." Ucap Luna tulus.
"Kamu sedang menstruasi?" Jawab Adira tiba-tiba.
"Iya... Kenapa?" Tanya Luna heran.
"Asiiik aku pulang kamu udah beres ya...." Canda Adira.
Sejujurnya dia tidak ingin mengakhiri percakapannya. Dia masih sangat membutuhkan Luna menguatkan harinya yang saat ini sedang porak-poranda. Mendengar suara Luna dan segala hal absurdnya membuat dia menjadi lebih bersemangat melupakan segala kepenatan dunia.
"YA TUHAN OTAK ADIRA!!!" Rutuk Luna dalam hati.
"MAAAS..." Pekik Luna geram.
"Cepat pulang ya sayaaaang nanti aku kasih sepuasnya..." Goda Luna diapun kini tengah tersipu.
Mereka larut dalam obrolan aneh lainnya. Mereka lupa bahwa mereka tengah menjalani hidup yang sangat berat saat ini bahkan kedepannya akan sangat terjal jalannya. Mahessa menyadari situasi dua sejoli yang sedang melepas rindu. Dia menghampiri berharap Luna menyadari dan menghentikan sambungannya.
"Apa yang mereka bicarakan... Bisa-bisanya Luna sekarang marah-marah bersikap manja..." Mahessa merasa cemburu.
Menyadari situasinya saat ini Luna tersadar.
"Aih... Perusak suasana ini..." Rutuk Luna dalam hati.
__ADS_1
"Oh ya mas... Katanya mau ke RS?" Tanya Luna.
"Iya... Tapi batre kehidupanku baru terisi 80 persen..." Rengek Adira.
"Hahaha apa sih mas... Oh ya.. Mas boleh ga aku tiga hari ini jalan-jalan disini... Aku ingin mengunjungi destinasi lainnya disini... Boleh ya..." Rengek Luna.
"Lama sekali 3 hari mau ngapain?" Tanya Adira.
"Shopping... Jalan-jalan... Traveling..." Jawab Luna sekenanya. Kali ini dia khawatir semoga Adira tidak curiga.
"Owh... gapapa sendiri?"
"Enggak apa-apa ko..."
"Inget pake ATM aku ya yang..." Jawab Adira.
"Oh iya... mengenai ATM sepertinya mas perlu menjelaskan sesuatu kan nanti saat mas kembali." Ucap Luna.
DEG!
Adira menyadari hal ini akan datang juga.
"Iya sayang... Aku berjanji aku akan menjelaskan semuanya... Tunggu aku pulang ya... Kamu jangan pikir aneh-aneh ya... Semua itu untukmu sayaaang..." Jawab Adira lembut
"Makasi sayaaang... Aku tunggu kepulanganmu."
"Jika aku tidak bisa dihubungi mungkin aku sedang di jalan ya sayang... Nanti aku akan menghubungimu kembali. Jangan khawatirkan aku... Mas harus berjanji menjaga kesehatan disana jangan sampai lupa makan dan istirahat ya sayaaang..." Imbuh Luna menambahkan.
"Baik nyonya... Have fun... Kamu juga jaga kesehatan.. Ga boleh makan hotpot terus... Kurangi junk food juga ya sayang.. Jaga dirimu..."
Luna tersenyum namun sudut matanya berembun. "I Love you Adira..."
"Love you too Naluna... Kiss nya manaaaaa.... Dari tadi kamu ga mau kiss aku..." Rengek Adira.
"HAHAHA mmmmuuuaaaccch..." Luna sedikit malu melakukannya.
Adira terdiam. Dia sungguh ingin memeluk Luna saat ini.
"Ga asli!!" Jawab Adira.
"Hadeh mulai deh..... Ga akan kelar gini terus sampe firaun naek ojek juga...." Rutuk Luna.
"HAHAHAHA sayaaaang kamu mah ada-ada aja... Mmmuuaaachhh..." Adira terbahak disana.
"Dah ya yang keburu panas..." Jawab Luna dia sudah dipelototi Mahessa.
"Iya nyonya... Nanti malam aku telpon ya sayang..." Akhirnya mereka memutuskan sambungan telpon.
"Mood mu kembali bagus dengan menghubungi pacarmu itu?" Sindir Mahessa saat tau Luna tengah selesai dengan panggilannya.
"Tentu saja. Hanya dia yang bisa membuat aku kembali bersemangat menghadapi kenyataan hidup yang pahit ini." Jawab Luna tegas.
Mahessa mengepalkan tangannya dia menelan salivanya.
"Sudahlah.. ini sudah terlalu lama... Mengalah untuk saat ini..." Batin Mahessa.
"Ayo sudah terlambat..." Mahessa beranjak dan menyuruh Luna mengikutinya.
Mau tak mau Luna mengikuti bosnya saat ini. Walau tidak ingin tapi demi keselamatan Adira dan keluarganya dia rela.
"Kita akan kemana?" Tanya Luna penasaran saat berada di dalam mobil mewah Mahessa.
Mahessa menatap Luna "Nanti juga kamu akan tahu... Ini kejutan..." Jawabnya lembut.
Luna memalingkan wajahnya keluar jendela.
Setelah beberapa saat mereka tiba disebuah pelataran hotel kenamaan Ritz Carlton. Mahessa membukakan pintu untuk Luna. Kemudian mempersilahkannya dan menunjukan jalannya. Mereka tiba disebuah Resto di dalam hotel. Sekilas Luna melihat Farell tengah berada disana bersama seorang pria.
"Maafkan saya om telat mengunjungi anda setelah berada disini." Ujar Mahessa sopan.
Pria itu kini menatap Mahessa dingin.
"P-PAPA...." Pekik Luna.
__ADS_1
* * * * * * * * * *