Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 83 : Love and War


__ADS_3

Luna tengah mempersiapkan bathtub dengan berbagai bunga dan essential oil serta lilin. Semua mirip seperti pelayanan honeymoon. Dia melepas kimononya segera masuk dan merebahkan diri. Dia menelpon seseorang.


"Halo sayaaang..."


"Kamu udah pulang yang?" Tanya Adira.


"Sudah..."


"Aku sedang berendam.. Lelah sekali..."


Luna menjawab dengan mata terpejam.


"Sudah beli eypunnya?"


"Sudah sayaang..."


"Kita video call ya..."


Luna tersenyum "Dasar mesum...."


Luna mematikan sambungan dan beralih menggunakan video call.


"Sayaaaaang..."


"Kamu sangat menggoda..." Ujar Adira disebrang sana merasa terobati melihat Luna saat ini.


Luna sendiri merasa sangat bahagia bisa kembali melihat pujaan hatinya.


"Mas... Cepat pulang... Aku rindu..." Ujar Luna menatap layar ponsel dan mengusap wajah Adira.


"Sayaaang... Kamu sedang berendam ya? Ga boleh lama-lama loh nanti masuk angin..."


Luna menggoda Adira dengan gerakan seperti iklan sabun cair.


"Ya tuhan Lunaaa..."


"Kamu mandi aja banyak gaya!!" Rutuk Adira.


"HAHAHAHAHA..." Pecah tawa Luna melihat ekspresi Adira yang menahan kesal atau mungkin menahan hasratnya.


"Mas mau menggosok punggungku?" Goda Luna kembali.


"Sabar ya sayang..."


"Sebentar lagi aku pulang."


"Disaat itu aku akan membawamu kerumah dan kita akan menikah." Ujar Adira tiba-tiba sendu.


Deg!


"Apa yang harus aku katakan..." Batin Luna.


"Tapi mas... Apa keluarga mas telah merestui kita?"


"Tanpa restu mereka aku akan tetap menikahimu sayang." Ujar Adira serius.


"Kamu mau kan sayang?!" Tiba-tiba Adira merasa perasaan yang sulit dia terka.


"Mas..."


"Kita tidak perlu terburu-buru ya."


"Yang terpenting saat ini kesehatan papa."


"Gimana keadaan disana?"


Luna mencoba mengalihkan pembicaraan mengenai pernikahannya. Dia sudah tidak sanggup berbohong banyak lagi.


"Ini aku di RS gantian jaga.."


"Mama juga sudah lumayan baikan, mungkin sudah bisa perawatan di rumah saja."


Adira memperlihatkan lokasi RS sekarang.


"Mas yang sabar ya sayang."


"Mas udah makan?"


"Mas tampak pucat!"


"Mas janji kan jaga kesehatan disana?"

__ADS_1


Luna memperhatikan kekasihnya sangat murung dan terlihat sangat letih.


"Aku rindu masakanmu sayang..." Jawab Adira.


"Mas harus makan ya..."


"Kalo mas ga mau makan ga usah hubungungin aku lagi!!!" Ujar Luna sedikit mengancam.


"Iya sayang..."


"Kamu udahan gih nanti masuk angin."


"Abis itu tidur istirahat ya... Besok udah pulang?"


Luna terdiam sejenak, "Aku masih ingin disini boleh kan?"


"Kenapa sekarang istriku betah di negara orang?"


"Kamu tidak menyembunyikan sesuatu kan sayang?" Selidik Adira.


DEG!


Jantung Luna seperti akan copot dari tempatnya. Dia memegang dadanya kuat di dalam air rendaman.


"Sayaaang ni apaan sih mikirnya kemana aja...." Luna menjawab dengan sedikit gugup.


"Aku tuh masih belum puas shopping."


"Lagian aku pulang ga ada mas akan sangat berasa kesepian." Lirih Luna.


"Hehehe aku bercanda sayang..."


"Maafkan aku ya..."


"Nanti kalo aku udah pulang, kita kembali liburan kemana pun kamu mau..." Ujar Adira lembut.


"Benarkah?" Luna bersemangat kembali.


Adira menjawab hanya dengan senyuman.


"Love you sayangnya aku..."


"Mmmuuuach..." Luna mencium ponselnya.


"Love you too Luna.. Mmmuuuach..." Adira melakukan hal yang sama.


Keduanya mengakhiri percakapan. Luna menenggelamkan diri di bathtub. Kembali merasakan perasaan hancur. Dirinya tengah mengkhianati kekasih hatinya.


Mahessa sendiri yang mengantar makanan ke kamar Luna. Entah mengapa dia ingin terus disampingnya saat ini. Setelah membuka pintu yang tidak terkunci Mahessa mendorong trolly makanan dan menyimpannya disamping jendela.


"Apa dia belum selesai?" Gumam Mahessa menatap ke arah kamar mandi.


Dia beranjak mendekati kamar mandi. Tepat sekali Luna membukakan pintu kamar mandi.


"Aaaa..." Luna terkejut.


"Maafkan aku..." Ujar Mahessa gugup.


"Bikin kaget aja!!"


"Aku membawakanmu makanan."


"Kenapa harus kamu bukannya ada pelayan?"


Mahessa kembali tertegun pasalnya Luna tengah mengenakan Lingerie tipis dan menerawang. Dia bisa melihat jelas di balik kain tipisnya.


"Dia ini setiap hari seperti ini pakaian tidurnya?"


"Apa mungkin setiap hari melayani Adira?" Batin Mahessa emosi dan mengepalkan kedua tangannya.


Luna melewati Mahessa, Luna sangat acuh dengan tampilannya saat ini.


"Bodo lah gue juga bukan cewek suci lagi tidak perlu sok menutupi."


"Lagian dia juga sudah menyentuhku beberapa kali." Rutuk Luna dalam hati.


"Wow cheese cake!!"


"Apa ini berasal dari tempat kemarin itu?" Luna berbalik badan menanyakan pada Mahessa dengan sumringah.


"Sure..."

__ADS_1


"Kamu hafal dengan wanginya ya." Mahessa merangkul pinggang Luna.


"Terima kasih."


Jantung Luna berdegup kencang dengan perlakuan Mahessa padanya. Dia tidak tahu bisa sampai kapan bertahan untuk tidak menyukainya.


"Duduklah..."


Mahessa mempersilahkan kursi seperti biasa. Keduanya kini tengah berhadapan. Mahessa tidak fokus dengan pemandangan didepannya dia membuka kancing kemejanya merasakan aura panas.


"Kamu selalu berpenampilan seksi seperti ini ya?" Tanya Mahessa tidak tahan ingin tahu.


"Iya..."


"Lagian ini kan waktu tidur juga..."


"Tidak ada yang melihat."


Luna menjawab polos dan fokus dengan makanannya.


Mahessa kembali menelan salivanya. Dia berdiri mengambil botol wine dan menaruh di gelas panjang.


"Kamu mau?"


"Boleh..."


"Benarkah?"


"Ya..."


"Kamu sering meminumnya?"


"Tentu saja tidak..."


"Orang missqueen macam aku mana mampu beli."


"Mening beli makan buat beberapa minggu udah bisa ngopi di sturbuk juga."


Mahessa terkekeh dengan jawaban pujaan hatinya "Sepertinya ada masalah dengan Luna. Papanya bisa meratakan Huateng dan mungkin E.T juga sangat mungkin!"


"Sekarang dia bilang dia missqueen?"


"Aku sungguh kagum dengan cara berfikir wanitaku!!"


"Apa ini kali pertama?" Mahessa menyodorkan segelas Wine yang disambut oleh Luna.


Luna menggoyang gelasnya dan menyesap perlahan. Kemudian mengernyit merasakan kerasnya minuman beralkohol itu.


"Tidak..."


"Dulu dijaman jahiliyah aku dan teman-teman selalu meminumnya saat ke pub."


"Terlebih mantanku yang mengenalkannya lebih dulu."


Mahessa terdiam atas penutura jujur wanita di depannya. Dia melihat Luna tengah menatap kosong seolah tengah berpikir tentang masa lalunya yang membuat Luna berubah sendu seketika.


"Kamu mau apa?"


Luna terkejut Mahessa mendekati dirinya saat ini dengan tatapan yang sukar dia artikan.


"Bolehkah aku meminta hakku?" Goda Mahessa di depan wajah Luna yang kini tengah mendongak menatap pria di depannya.


Luna menyeringai berdiri dari kursinya meraih gelas yang dipegang Mahessa dan menenggak habis isinya. Menaruh kembali gelas dimeja dan menatap wajah Mahessa.


"Kamu pasti sudah sangat sering melakukannya dengan wanita lain bukan?"


"Mengapa harus repot dengan wanita jelek seperti aku?" Tanya Luna merangkulkan tangannya dileher Mahessa.


Mahessa terus memperhatikan Luna sebisa mungkin tidak melewatkan setiap pergerakan Luna yang sungguh membangkitkan gairahnya.


"Kamu wanita pertama yang bisa aku sentuh sayang..." Bisik Mahessa ditelinga Luna dan membelai pipinya lembut.


Luna menutup matanya perlahan merasakan dan menikmati sentuhan pria tampan di hadapannya.


"Benarkah? Kamu pasti tengah menggombal.."


Luna semakin tidak terkendali, wajahnya semakin dia dekatkan dengan wajah prianya. Keduanya kini hanya berjarak satu helaan nafas saja. Dia mencium bibir Mahessa lembut kemudian menyesap dan saling membelitkan lidah keduanya. Gerakan bibir Luna sanvat lincah membuat Mahessa terus mengimbanginya. Mereka bahkan telah bertukar saliva dan terus menekan lidah keduanya di dalam rongga mulut pasangannya.


Tangan Luna membuka kancing-kancing kemeja Mahessa dengan lincahnya, karena begitu terbiasa dengan pacarnya. Mahessa terkejut atas tindakan Luna yang benar-benar liar di hadapannya saat ini. Sangat kontras bagaimana wanita itu membencinya tempo hari dan mengutuknya membenci dirinya.


"Cutiee... Sssh!"

__ADS_1


Mahessa tak kuasa membendung hasratnya, wanitanya sungguh pandai mempermainkan gairahnya.


* * * * * * * * * *


__ADS_2