Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 22 : Pria Brengsek!


__ADS_3

Adira meminta maaf pada Luna pasalnya dia sangat nekat untuk menginap di kamar kosannya. Beruntung penjaga tidak memeriksannya. Dia juga sangat brutal semalam sama seperti saat dia di Laguna minggu lalu. Setelah kami berada di kantor tuan Surya yang merupakan papa Adira menghubunginya. Pria paruh baya itu mengatakan bahwa dia sedang berada di kota B.


"DEG!"


Antara senang bercampur takut, Adira bisa mengenalkan langsung kekasihnya pada keluarganya. Dengan begitu keluarganya bisa berpikir dua kali untuk merestui hubungan mereka.


"Luna sedang hamil, sebentar lagi perutnya akan membesar. Sebelum itu terjadi aku harus segera menikahinya!"


"Aku tidak mungkin menyuruhnya aborsi..."


Saat mengetahui alasan sesungguhnya adalah melakukan pengobatan ke Negara tetangga Adira meras kembali di remas jantungnya. Dengan mengabarkan pernikahannya bisa jadi tuan Surya akan kembali mengalami serangan jantung.


Keluarga besar berada di villa paradise milik kakaknya Arnetha Renald. Di kota B sendiri Renald Group telah mengembangkan beberapa lini property dan juga pariwisata. Salah satunya Villa Paradise yang di kembangkan oleh RG kemudian Resort Laguna yang masih dalam tahap pengembangan. Semua di bawah kendali kakaknya Arnetha dan suaminya Damar yang kini di angkat menjadi CEO RG sampai Adira benar-benar siap menjadi CEO RG.


Adira tidak menyukai pemikiran kolot papanya, dimana garis penerus utama terletak pada anak lelakinya. Sedangkan kakaknya Arnetha yang jauh lebih berkompeten selalu di nomor duakan. Bahkan dia menyerahkan jabatan CEO pada suaminya bukan dirinya yang notabenenya adalah anak kandung.


Awalnya Adira di paksabersekolah mengambil ilmu bisnis dan turunannya. Namun Adira menolak mentah-mentah. Dia lebih menyuka menggeluti dunia sistem dan pemograman. Dia bisa sekaligus menyalurkan hobinya bermain game. Bisnis kolot keluarga bukan jalan ninjanya. Hal ini lah yang membuat dia berselisih terus menerus bersama ayahnya selama beberapa tahun terakhir dan dia memilih keluar dari kediaman besar Renald, menjalani kehidupan seperti rakyat biasa.


"Kamu nih senyum-senyum sendiri. Sedang liatin apa? sini papa lihat?!"


Tuan Surya tiba-tiba mengajak berkomunikasi dengan Adira yang tengah memperlihatkan galery potret kebersamaannya dengan Luna saat mereka di pulau Central. Adira belum berani menunjukan Luna, dia takut justru memperburuk keadaannya kelak. Adira menaruh kembali ponsel miliknya ke dalam saku celananya.


"Kapan kamu memperkenalkan calonmu?" Tanya papanya kemudian tanpa menunggu anaknya menjawab pertanyaan sebelumnya.


"Papa yakin mau ketemu dia?" Adira menatap serius papanya.


"Apakah masih orang yang sama seperti yang kamu bilang saat hari raya? Perempuan dari distrik S itu?" Tuan Surya mendelik tak kalah serius dari anaknya.


"Aku sangat mencintainya pah!" Adira mencoba memberanikan diri menguji papanya.


"Atas dasar apa kamu menyukai bahkan bilang dengan mantap sanagt mencintainya?"


"Aku minta profilnya saja kamu tidak bisa berikan padaku!"


"Apa itu namanya cinta?"


"Sudah sejauh mana hubunganmu dengannya?"


"Jangan mengecewakanku Adira!!"


"Kamu adalah penerus dan pewaris Renald Group!!"


Adira terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan papanya yang bagai pedang yang menusuk tepat di jantungnya.


"Aku selalu lupa menanyakan perihal keluarganya. Sewaktu mamanya datangjuga aku tidak banyak berinteraksi. Aku merasa masih canggung. Kami baru menjalin hubungan selama 8 bulan. Namun kami memang sudah keterlaluan dengan terus berhubungan badan."


"Aku sungguh menyesalinya!!!"


"Jika kamu tidak berani bertanya padanya maka bawalah makan malam bersama malam ini. Biar kami yang bertanya." Papanya membuyarkan lamunan Adira dan sekaligus memberikan peluang untuknya.


"Apakah ini cara terbaik? Setidaknya keluargaku sudah bertemu Luna aku merasa senang."


Adira melengkungkan senyumannya membuat Tuan Surya senang bisa kembali melihat senyum putra kesayangannya.


"Papa penasaran seperti apa wanita yang sudah membuat putraku sangat tergila-gila dengannya. Sampai berani membantah keluarganya."


"Mengapa kamu begitu kesulitan mendapat silsilah keluarganya?"


"Apa dia berasal dari keluarga biasa atau setara dengan kita sampai kamu kesulitan?"


Tuan Surya terus mencecar putranya, sejujurnya dia hanya menguji putranya. Dia sendiri telah mencurigai Naluna adalah putri dari orang itu. Keluarga yang tidak boleh di cari di Distrik S.

__ADS_1


Adira sendiri merasa frustasi atas pertanyaan papanya yang bertubi-tubi.


"Aku beneran ga tau apa-apa tentang Luna... Betapa mirisnya hubungan percintaan kami yang saling menutupi


silsilah masing-masing!!"


"Hanya karena aku takut dia menanyakan juga perihal silsilahku yang aku tutupi ini aku tidak terlalu bertanya banyak mengenai keluarganya. Setidaknya aku sudah bertemu dengan ibunya."


Adira masih saja terdiam, pikirannya masih berkecamuk hebat.


"Dasar anak degil!!"


"Jemput dia... Kita pastikan sama-sama.." Ucap papanya bijaksana.


"Terima kasih pah." Hanya itu yang bisa Adira ucapkan.


"Nih!" Tuan Surya melempar sebuah kunci mobil.


"Loh apa ini pah?" Adira seperti mengenali kunci mobil miliknya.


"Si blacky!"


"Lihat saja keluar." Dia beranjak dari tempat duduknya berlalu menuju bagian dalam rumah.


"Thanks pah."


Adira mengatakannya sebelum papanya benar-benar beranjak pergi. Ingin rasanya dia memeluk papa yang sangat dia sayangi namun egonya yang membuat dia terpaku sulit menggerakan tubuhnya.


"Bocah degil!! Kami sekeluarga sangat menyayangimu.. Jaga diri baik-baik."


Tuan Surya berbalik dan menarik lengan Adira merangkulnya dalam dekapan.


Adira semakin sesak atas pernyataan papanya. "Aku sudah mengecewakanmu... Aku telah menghamili pacarku!"


"Aku juga sayang sama papa kalau bukan papa sangat keras kepala dan ngotot aku menjadi bagian dari RG saat


ini.."


"Hahaha..."


Tuan Surya berlalu dan Adira segera bergegas menemui kekasihnya.


"Luna, aku merindukanmu..."


"Selangkah lagi kita akan hidup bersama dalam ikatan pernikahan!!"


* * * * *


"Astaga, batre tinggal sepuluh persen lagi! salah satu kelemahan merk apel sepotong ini gini nih!"


"Batre kek dipake perosotan!!"


Adira dibuat kesal saat ini oleh kekasihnya, dia sudah mengetuk pintu kamarnya lama tapi wanitanya itu belum muncul juga. Bergegas menghubungi nomor telpon kesayangannya dengan sedikit kesal tidak biasa Luna tidak ada kabar hari ini.


"Halo, dimana? Aku sudah di depan pintu kamar kamu cukup lama!"


"Aku kesana sekarang!"


Tut!


"BANGSAT MATI!!" Adira bergegas pergi untuk menjemput kekasihnya sebelumnya dia mampir ke kosannya mengambil charger ponsel.

__ADS_1


"Kenapa Luna ada disana?" Perasaan Adira berkecamuk hebat.


Tidak perlu memakan waktu lama Adira menemukan pujaan hatinya. Betapa terkejutnya saat tampilan Luna seperti mayat hidup. Wajahnya pucat pasi, dan tubuhnya sangat dingin dengan tatapan kosong kedepan.


"Luna..."


Adira segera mengatakan pasal kehamilan Luna, dan mereka kembali berselisih paham. Di dalam mobil sportnya Adira baru menyadari semua kekesalan Luna saat ini. Dia sungguh menyesal ternyata selama ini dia benar-benar telah menyakiti kekasihnya.


"Maaf mas aku telah menggugurkannya."


Mendidih langsung darah Adira saat mendengar apa yang kekasihnya ucapkan.


"Aku bahkan telah bersedia bertanggung jawab dia tanpa persetujuanku telah menggugurkan kandungannya!!"


Adira sudah tidak bisa mengontrol emosinya lagi. Setelah dia memaki kasar kekasihnya dia menarik paksa Luna keluar mobil hingga tersungkur di trotoar.


"Aku sungguh tidak habis pikir Luna sangat tega menggugurkan benih cinta kita berdua!"


"Aku sanga kecewa Luna!!!!"


"Dia menggugurkan bayinya, dia tidak menginginkannya."


"Dia tidak ingin bayi dari benihku!!"


Adira sungguh gelap mata dan berpikir dangkal. Dia meninggalkan kekasihnya memacu mobilnya dengan perasaan hancur saat dia tahu bayi tak berdosa itu kini telah tiada.


Cekiiiit!


Adira segera menghentikan mobilnya, dia tersadar dari gelap pikiran sempitnya.


"ASTAGA ADIRA!! BETAPA BRENGSEKNYA KAMU HARI INI!"


Dia memaki dirinya sendiri, harusnya dia yang di hukum oleh Luna mengapa sebaliknya!


"Maafkan aku sayang..."


Adira segera memacu kecepatan untuk kembali menjemput kekasihnya. Lokasi itu adalah kawasan resort yang tidak sembarang orang berlalu-lalang. Adira mengkhawatirkannya!


Adira semakin takut luar biasa saat dia tidak bisa menemukan Luna dia area dimana dia menurunkan kekasihnya. Adira kembali memutari area Harbour berkali-kali namun tetap nihil.


"Apa mungkin dia memanggil pak Amir? Harusnya dia sedang menunggu. Aku belum meninggalkannya selama lima menit. Tapi sekarang dia menghilang."


"ASTAGA ADIRA DUMB DUMBER!!" Pekik Adira frustasi.


Dia segera menghubungi Luna, namun tidak ada jawaban darinya.


"Ayolah sayang... Maafkan aku!! Kamu dimana?!!"


Adira terus menyelusuri daerah terdekat yang mungkin Luna singgahi sebelum menyusulnya ke kosan. Tanpa dia sadari dia berpapasan dengan mobil mewah yang tengah membawa Luna ke rumah sakit terdekat.


"Deg!"


"Perasaan apa ini!!"


Dering ponselnya memecah kegelisahannya, dia berharap itu kekasihnya namun nyatanya bukan.


"Papa?"


Pov Adira End


* * * * * * * * * *

__ADS_1


__ADS_2