
Setelah menunggu setengah jam mobil yang di bilang bukan mewah itu datang.
"Semoga Luna tidak mengomel lagi..."
"Tapi aku suka jika dia terus mengoceh tanpa henti. Menggemaskan rasanya!"
Sesuai kesepakatan Luna meminta Mahessa untuk datang saat suasanya di kantornya sepi.
"Aku merasa sudah merendahkan harga diriku menjadi simpanannya!"
Tak perlu menunggu lama Luna terlihat kebingungan di depan gate. Mahessa segera menghampirinya namun kembali lagi wanitanya mengoceh dan mengeluarkan ekspresi konyolnya.
"Ingin rasanya aku menggigitnya!"
Bukannya jengah, Mahessa justru menyukainya.
"Apa yang akan dilakukan Adira jika rumor ini beredar di kantornya."
"Naluna diantar dan jemput oleh orang lain selama dia di luar kota."
"Aku akan mencobanya!" Batin Mahessa dia menatap Luna dengan senyuman penuh arti.
Setiap kali bersama Luna, suasana menjadi hidup. Tanpa rasa malu atau sungkan Luna akan melakukan karaoke dengan lagu favoritenya yang Mahessa tidak pernah dengar sebelumnya. Sifat alami Luna juga yang membuat Mahessa sangat tertarik padanya.
"Bagaimana jika aku mengajaknya ke club?"
Mahessa sendiri tidak menyukai berada disana, namun pengecualian selama itu bersama Luna. "Dia benar-benar mengalihkan semua duniaku!"
Naluna mengajak Mahessa ke salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Kota B. Sungguh murah hati sekali Luna akan membelikan temannya ponsel. Mahessa kembali menyelidik tampilan Luna saat ini. Wanitanya hanya memakai kemeja putih polos yang dimasukkan dalam celana denimnya sebagian, kancing atasnya dia buka sebagian hingga belahan dada yang sedikit terekspose. Celana denim warna gelap pas di kakinya yang jenjang, berikut high heel 7 cm kurasa dengan warna senada. Riasan wajahnya yang natural serta rambutnya yang dia cepol keatas memperlihatkan lehernya yang menawan. Mahessa menelan salivanya seketika.
"Pantas saja Adira tidak bisa melepaskannya."
"Dia begitu menggoda."
"Walau hanya dengan pakaian biasa seperti ini!"
Saat Luna menatap Mahessa dengan nyalang, Mahessa membalikan badannya mengetahui bahwa Luna akan mengomel bagai burung pipit kecil yang nyaring suaranya. Mahessa memang memberitahukan pihak kasir agar pembayaran menggunakan kartu miliknya yang dia berikan pada kasir itu sebelumnya.
Luna menggelayut manja di lengan Mahessa, membuat debaran jantung Mahessa berpacu dengan cepatnya. Dia spontan mencium pucuk kepala Luna, harum lembut dari rambutnya membuat Mahessa sulit mendapatkan kata-kata untuk terus memujinya.
"Luna..."
"Harus apa lagi aku mendapatkan dirimu sayang!!"
"Apa perlu aku lenyapkan keberadaan Adira?!"
Mereka telah berada di pelataran mansion Luna, Setiap kali berduaan tanpa bisa diketahui orang mereka selalu ingin lagi dan lagi melakukan hal di luar batasan hanya sekedar teman. Mahessa berhasil meyakinkan Luna memasuki rumahnya.
"Aku telah menyuruh Farell melakukan beberapa rekaman palsu kegiatan keseharian Luna menggantinya dan yang asli hanya milikku. Aku sudah mengeluarkan uang yang sangat banyak hanya untuk bertemu dengannya seminggu ini. Bahkan aku telah mempersiapkan cek pembayaran kesepakatan bersamamu sayang!"
Mahessa tidak tahan untuk tidak segera mengungkungnya dalam dekapan. Dia tidak menolaknya Mahessa segera merebahkan tubuhnya di atas sofa. Suara lenguhannya sungguh membuat Mahessa semakin gila. Dia bahkan bisa menjamah setiap detail tubuh kekasihnya.
"Aarrghh... Sshh!"
"Mahessa..."
Wanitanya menggelinjang hebat, Mahessa semakin hilang kendali.
"Sialaan!!"
"Suaranya begitu seksi saat mengatakan namaku dengan penuh gairah!!"
Mahessa tidak menyangka dia bisa melakukan gerakan sensualitas seperti adegan dewasa pada umumnya. Padahal dia sendiri tidak memiliki pengalaman. Luna terus menjerit memohon ampun, Mahessa tidak punya cara lain untuk membuat Luna setuju dengan kesepakatan mereka. "Aku minta maaf Luna, kamu sungguh keras kepala seandainya kamu sedikit melunak mungkin aku tidak akan merendahkan dirimu seperti ini."
Mahessa menggunakan aksinya barusan untuk mengancam Luna membuat hubungannya dengan Adira akan berakhir.
* * * * *
__ADS_1
Bayangan dia tengah bercumbu tadi masih terlintas di benak Mahessa. Dia bahkan melakukan hal tidak wajar di kamar mandi, sangat memalukan dia memerawani keperjakaannya dengan tangannya sendiri. Membayangkan ekspresi Luna dan suara lenguhannya.
"I hate this!!!"
Mahessa mengusap wajahnya kasar, dia tidak pernah sebrutal ini dalam hal mengekspose gairahnya. Selama ini dia tidak masalah dengan gangguan abnormalnya yang tidak bisa menyukai lawan jenis. Bahkan saat calon tunangannya menjebaknya dia sama sekali tidak bereaksi. Dia justru akan muntah hebat dan merasa jijik jika bersentuhan dengan wanita.
"Naluna... Apa yang kamu lakukan pada tubuh mu?!"
"Kamu memiliki daya tarik luar biasa!!"
"Kenapa aku menyukai dan menginginkan mu saat kamu telah bersama orang lain!!"
Tiba saatnya hari terakhir dia melakukan job sebagai pacar pengganti. Mahessa mengajak Luna berkunjung ke kediamannya di Central Paragon Hill. Luna membawakan bekal sarapan untuk Mahessa. Pria itu senang bukan kepalang.
"Farell, tadi aku melihat sepertinya tuan Mahessa kembali lagi dan membawa seorang wanita?" Tanya Angela memulai percakapan.
"Benar." Jawab Farell mantap.
"Ini aneh bukan?"
"Biasa tuan tidak pernah membawa wanita ke rumah jika bukan pegawai."
"Bahkan nona Alena sekalipun tidak diijinkannya memasuki rumah ini." Selidik Angela.
Farell hanya mengangkat bahu. Namun beberapa saat kemudian Farell bersiap menggibah bos angkuhnya.
"Kamu tau, nona Luna sepertinya seorang yang special di hati tuan muda!" Farell memprovokasi Angela.
"Sebelumnya tuan memintaku mencari detail informasi mengenainya."
"Namun anehnya profil nona Luna access denied."
"Bahkan aku membayar mahal XK melakukan semua ini namun hanya data basic yang tersedia."
"Kamu tahu artinya apa?" Farell menambahkan.
Farell mengangguk "Tuan juga sudah menghabiskan uang banyak untuk memanipulasi CCTV kediaman nona Luna. Semua ini yang pertama dilakukan tuan untuk seorang wanita."
"Dan sialnya nona Luna telah memiliki pasangan!!"
Farell menjelaskan dengan menggebu, dia sedang meluapkan kekesalannya beberapa hari ini dia hanya berurusan dengan CCTV.
"Nona Luna juga sangat cantik dan berkelas wajar aja sih kalau tuan menyukainya."
"Nona Alena jelas bukan tandingannya!"
"Aku ingat tempo hari tuan meminta membelikan pakaian wanita ternyata untuk nona Luna. Aku kena semprot setelahnya." Ekspresi Angela berubah suram.
"Ya.. Setelah mengenal nona Luna emosi tuan sungguh mudah berubah. Setiap mereka akan bertemu maka tuan akan berseri bahagia sekali tadi saja mereka terbahak bersama. Namun setelah mereka berpisah tuan akan mengamuk seperti gorilla!!" Sungut Farell.
"Oh ya? Tuan terbahak?!" Angela menganga melebarkan mulutnya tak percaya.
"Apa kalian sudah bosan bekerja disini?"
"Apa perlu aku belikan tiket ke Afrika sekarang?" Ujar Mahessa dingin tepat dibelakang mereka berdua.
"Aaaaaaa...." Farell dan Angela memekik seraya menunduk memohon ampun pada tuannya.
* * * * *
Setelah selesai dengan tugas menjadi pacar pengganti, Mahessa kembali ke Negara S, untuk melakukan persiapan acara tahunan perusahaannya. Tanpa dia duga sebelumnya, dia menangkap siluet tubuh seorang wanita yang dia kenal bahkan dia cintai.
"Luna?"
"Dengan siapa dia bergandengan tangan semesra itu?"
"Oh iya ADIRA!!"
__ADS_1
Mahessa meremas tangannya kuat, kecemburuannya menyulutkan emosinya.
"Farell, menepi!"
"Baik tuan."
"Apa ada yang anda inginkan?"
Tidak pernah sekalipun Mahessa berlaku seperti ini. "Kamu turun dan pulanglah!!"
"Suruh supir lain menjemputmu disini. Dari sini aku yang akan menyetir sendiri."
Mahessa telah keluar dari tempatnya.
"M-maksud tuan?" Farell sedikit bingung.
"KELUAR SEKARANG!" Sungut Mahessa emosi.
"B-aik tuan maaf respon saya lambat." Jawab Farell terbata.
Mahessa segera mengambil alih kemudi dan melajukan mobilnya mengikuti dua sejoli yang sudah menyulutkan emosi. Entah alasan apa kini Mahessa menguntit keduanya seperti seorang paparazi. Dia mencari tempat duduk yang pas untuk memantau keduanya.
"Luna, seharusnya yang disampingmu itu adalah aku bukan dia!"
Darah Mahessa mendidih saat melihat kebersamaan keduanya sungguh membuat matanya perih dan hatinya sakit!
Keberuntungan tengah berpihak padanya saat ini, Luna bangkit dari tempatnya dan menuju toilet. Mahessa tidak ingin melewatkan kesempatan.
"Mmmm..."
Mahessa menarik tubuh Luna menuju toilet VVIP dia mencumbu paksa wanitanya. Semua dia lakukan dengan kasar, rintihan memohon Luna saja dia abaikan. Dia benar-benar ingin menghukum Luna.
"Berani-beraninya kamu bermesraan dengan pria lain!!"
Mahessa melepaskan Luna yang tengah berderai air mata, Mahessa menyesali perbuatan tercelanya barusan. Namun rubah liarnya justru kembali menyulut hasratnya saat dia membalas menyesap bibir Mahessa lembut.
"Aku tidak tahu harus berkata apa sayang!"
Mahessa berniat untuk tidak meneruskan menguntit kekasihnya, namun lagi-lagi semesta menyuruhnya untuk mengikuti kemana mereka berada saat ini. Jantung Mahessa merasa diremas kencang, melihat kemesraan keduanya saat di sepedah, saat berdansa bahkan saat mereka melakukan adegan dewasa di depan umum!
"BAJINGAN!" Darah Mahessa kembali mendidih ingin rasanya membunuh Adira saat ini juga.
Bisa-bisanya tanpa malu Adira mencumbu Luna di depan umum, kemudian Mahessa kembali ingat bagaimana dia juga mencumbu Luna sebelumnya. Pemandangan yang menakjubkan bagi keduanya mungkin adalah kebahagian tapi bagi Mahessa semuanya menyisakan luka.
"Aku akan mengembalikan semuanya kepada kalian!"
"Semakin melihat kalian bahagia seperti ini aku semakin ingin menghancurkannya."
"HAHAHA"
Mahessa segera menghubungi Farell "Farell, lakukan sesuatu untuk ku."
"Prioritaskan hal ini, aku ingin semua selesai paling lama hari jumat sebelum perayaan tahunan E.T." Mahessa menutup sambungan telpon.
"Kita lihat saja minggu depan Adira!"
"Nikmatilah waktu bahagiamu bersama Luna seminggu ini karena mulai minggu depan dia akan menjadi Nyonya Mahessa."
"Hahahaha"
"Luna, sebentar lagi kamu hanya akan dimiliki olehku. Aku tidak perduli apa yang telah kamu lakukan dengan Adira. Bahkan aku tidak peduli kamu pernah mengandung dan aborsi anak dari dia!'
"Mulai minggu depan kamu hanya akan menjadi milik Mahessa."
"Bahkan mayatmu sekalipun. Hanya boleh aku yang memilikimu!"
Pov Mahessa End.
__ADS_1
* * * * * * * * * *