
Hari ini Adira akan bertemu kembali dengan kekasih hatinya. Dia sungguh tidak sabar melihatnya, memeluk dan mencumbunya. Sebelumnya ia sempatkan membeli satu buket mawar besar. Adira sendiri belum pernah melakukan hal ini sebelumnya. Dia pikir semua ini terlihat berlebihan. Namun semenjak bersama Luna bahkan setelah merasakan kehilangannya dalam satu hari semua akan dia lakukan ia tidak ingin lagi kehilangannya.
"Maaaaas...."
Luna yang terlihat syok, membuat Adira gemas, pria itu merentangkan tangan kemudian wanitanya menghambur dalam pelukannya. Luna selalu terlihat cantik di mata Adira. Pria itu sudah sangat terbiasa melihat kekasihnya hanya mengenakan Lingerie yang dia tutupi dengan kimononya. Rambutnya panjang terurai dan sedikit bergelombang dengan riasan yang natural serta wangi parfumenya yang menggoda sukses membuat sesuatu yang harusnya masih bertahan untuk tidak bereaksi, namun bereaksi dengan cepatnya. Tapi Adira harus bersabar untuk mencumbu kekasihnya.
"Dia sungguh tau waktu terbaik untuk meruntuhkan hasrat yang tengah mencuat!" Rutukku dalam hati.
Rengekan manja kekasihnya membuat Adira tidak tahan, akhirnya mereka melakukan makan malam. Sejujurnya Adira sendiri masih terlihat sangat lelah. Sebelum berangkat dengan tidak sopannya Arnetha memberikannya satu tumpukan berkas untuk ia periksa dan tanda tangani. Saat melihat wajah kekasihnya apalagi dengan senyum terbaiknya semua lelah itu sirna begitu saja.
* * * * *
Hari ini sesuai janji yang telah Adira layangkan tempo hari dia akan mengajak Luna vacation ke seberang. Sebelumnya Adira telah menyuruh asisten pribadinya mempersiapkan hotel dan juga makan malam romantis di salah satu tempat terfavorit disana. Adira sedikit heran Luna tidak terlihat terkejut dengan semua fasilitas yang Adira berikan saat ini. Adira tidak ambil pusing dia hanya ingin bersama kekasihnya sepanjang waktu terus mengisi daya cinta dan kehidupannya.
"Aku sungguh acungi seratus jempol buat kekuatan kaki Luna yang tidak lelah kesana kemari."
Dari toko satu ke toko lainnya bahkan wanitanya menawar dengan sadis di beberapa tempat. Ingin rasanya Adira saja yang bayar.
"Selisih lima dollar aja dia putar balik!"
Adira yang tengah membawakannya beberapa paper bag yang sudah tidak sanggup ia bawa dengan tangannya, bergegas membeli koper besar ia masukkan semuanya.
"Luna sungguh tega dia tidak melihat bagaimana tanganku sudah lecet meninggalkan bekas merah karena tentengannya semakin lama semakin menjadi!"
"Apanya yang liburan ini aku malah dijadikan budak!!" Rutuk Adira kesal.
"Maaf sayaaang!" Luna terkekeh.
"Satu lagi yaaa..."
"Skincare punyaku bentar lagi abis!"
"Disini lagi diskon kapan lagi SKII ngadain diskon gede-gedean kek gini!"
"Nanti malam aku puasin deh apapun yang mas pengen."
Rayuan Luna sukses membuat Adira tidak bisa berkata apa-apa. Justru malah menyeringai penuh makna. "Dia paling tahu cara melemahkan hatiku!"
Adira menatap kekasihnya lekat kemudian Luna menggoda dengan kecupan di pipi kekasihnya di depan umum. Membuat wajah Adira memerah seketika.
"Semua bersama Luna selalu jadi yang pertama!" Batin Adira tersipu malu.
"Godaan wanita itu harta, tahta, zalora, zara, prada, sociolla, lazada...." Luna melonggarkan pelukan segera berlari dan berbaur dengan para wanita lainnya. Adira hanya tersenyum melihat tingkah kekasihnya.
"Aku baru tahu gaya berbelanjanya sangat mengerikan."
"Selain gila kerja dia gila belanja!!"
"HUH!"
"Aku sungguh bersyukur, keuanganku kembali untuk mensupport hobby wanitaku!"
"Aku juga bersyukur di setiap toko yang dia masuki ada tool yang berguna dan menolong ku!"
Adira mendaratkan bokongnya di kursi merebahkan diri dan mendengus kasar, dia dan beberapa pria menjadi korban para wanitanya.
* * * * *
"Aku tidak percaya dibalik sosok Naluna yang menggoda ternyata dia punya sisi kekanak-kanakan seperti ini."
Adira menatap kekasihnya yang tengah berlarian dan melompat di kasur mengajaknya untuk main kejar-kejaran. Setelah puas mereka berencana makan malam bersama. Saat melihat tampilan kekasihnya yang berbeda dari biasanya. Adira menelan ludah beberapa kali, bahkan adik juniornya langsung berdiri hanya karena melihat tampilan the next level calon istrinya!
Adira hampir saja lepas kendali karena hasratnya yang menggebu, namun rengekan Luna yang mengatakan dia lapar membuat hasratnya kembali menurun. Keduanya pergi ke salah satu restoran yang sudah di pesan Adira sebelumnya. Luna terlihat takjub dan terharu, Adira sungguh puas.
"Akhirnya aku bisa membuat dia senang..."
Adira bahkan mengetahui Luna juga sering meminum minuman seperti wine. Sungguh pengetahuan baru baginya. Segala perasaan kecemasan berlebihannya dia tampik demi tidak membuyarkan kebahagiannya saat ini bersama Luna. Walau sejujurnya banyak sekali pertanyaan yang ingin dia tanya pada kekasihnya yang masih sangat misterius itu.
__ADS_1
Adira sendiri berniat menceritakan pasal identitasnya saat ini namun saat melihat kecantikan Luna dia kembali lupa akan niatnya. "Sepertinya Luna juga tidak mempermasalahkannya..."
"Mengapa semua sangat sulit aku ucapkan!" Adira menatap lekat wanitanya yang tengah melakukan touch up hingga memerlukan waktu yang lama di kamar mandi.
Sebelumnya dia khawatir ingin menyusulnya, namun bayangan Luna telah menampakan dirinya.
Luna kembali mengajak berjalan-jalan, demi melewati waktu terbaik saat ini.
"Aku sudah sangat mual melihat departemen store!" Lirih Adira saat Luna mengajaknya untuk mampir sejenak entah apa yang akan di lakukan wanitanya.
"Ya Tuhan!"
"Aku yakin dia adalah satu-satunya wanita dengan mini dress dan high heels tujuh centinya yang berkelakuan seperti anak tk!"
Luna tengah menggunakan trolly belanja seperti skateboard. Sejujurnya tidak masalah bagi Adira, namun apa yang jadi kekhawatirannya terjadi juga. Kekasihnya terjatuh!
"Astaga Naluna!!"
"Kalau kamu mau maenan bombom car ayok kita ke play ground." Rutuk Adira kesal.
Dengan cemas Adira membantu Luna berdiri dan memeriksa tubuhnya apa ada yang terluka atau tidak. Namun kekasihnya sangat bebal! bukannya menyesalinya dia mengulanginya lagi. Sebelumnya Adira memang tidak pernah mempunyai waktu seperti ini dengannya. Terlebih mereka sama-sama bekerja waktu libur sangat sulit didapat dan yang sering menjadi pertengkaran keduanya adalah saat wanitanya senggang, dia lebih memilih diisi dengan hang out bersama temannya, ke salon dan berbelanja. Adira seperti tidak dianggap olehnya, sialnya saat berkunjung ke tempatnya mereka hanya akan melakukan kenistaan sepanjang waktu. Adira bergidig mengingat bagaimana mereka habiskan dengan bercinta seharian dengan kekasihnya itu.
Adira tersentuh kembali menuruti kemauan pacarnya, wanitanya tengah memberikannya tindik imitasi dan kalung. Adira sungguh baru pertama kali melihat Luna bebas, tidak seperti tengah menyembunyikan keinginannya seperti sebelumnya yang selalu penuh kepura-puraan.
Adira tidak mau kalah, dia memberikan satu set perhiasan yang dia telah siapkan sebelumnya. Melihat Luna begitu terenyuh ingin rasanya mereka kembali ke hotel dan Adira ingin melahat Luna saat ini juga. Luna yang tiba-tiba mengajaknya berdansa dan mengajarinya beberapa gerakan dasar membuat Adira kembali di dera perasaan gelisah.
"Dia seperti sangat terbiasa..."
"Apa dia melakukan hal ini bersama mantannya."
Perasaan cemburu menguar di hati Adira, namun lagi-lagi dia harus berpikir rasional! Apalagi saat Luna memberikannya sepasang gelang couple.
"Aku tidak peduli bagaimana dia habiskan waktu bersama mantannya!"
"Hal yang paling penting saat ini dan seterusnya dia adalah milik ku!"
Tring!
Merekabergegas menuju kamar saat menutup pintu Adira menarik tangan Luna dan kembali mengungkungnya di dinding. Sungguh Adira sudah hilang kendali atas dirinya.
"Aku kesulitan melakukannya dalam keadaan berdiri."
"Wanita ku ini sepit teruuss!!"
Adira berinisiatif mengangkat kaki Luna, dan menaruhnya di bahu agar ia leluasa memasukannya. Adira terkejut saat teriakan kekasihnyanya sudah seperti meneriaki seorang maling. Adira terdiam sejenak membiasakan milik Luna menerima kehadiran adik juniornya, bonusnya kuku panjang lentik kekasihnya mencengkram bahunya kuat sekali.
"Aarghh!" Erang Adira setelah miliknya masuk sepenuhnya.
"Kamu enak banget sayaang!!!" Racaunya kemudian.
Rintihan kekasihnya justru membuat darah Adira semakin panas. "Luna kamu sungguh luar biasa! Aku tidak akan mengijinkan orang lain mendapatkanmu!!"
Adira sudah tidak perduli bagaimana Luna mencakarnya seperti rubah betina yang sedang mengamuk!
"Tapi aku juga belum pernah melihat bagaimana rubah mengamuk. Mungkin seperti dia saat ini!"
* * * * *
Adira mengerjapkan matanya, dering ponselnya terus memaki. Untungnya tidak membangunkan kekasihnya yang masih terlelap dengan tubuh polosnya. Adira melepaskan pelukannya, mencium lembut pipi dan bahunya. Adira kembali memperhatikan tubuhnya yang tanpa satu helai benang. Untuk pertama kalinya ia memberikan kissmark sebanyak itu. Adira juga menggigit bahunya saking gilanya dia semalam. Semua tempat dan gaya ia lakukan dan Luna tidak pernah menolak.
"Love you sayang..." Bisiknya.
Adira menaikan kembali selimut menutupi tubuh indahnya. Adira bangkit mengambil ponselnya dan beranjak keluar. Mengambil rokok di saku celananya. Semenjak beban pekerjaannya bertambah Adira butuh pelarian. Selama berpacaran dengan Luna kekasihnya selalu meminta ia berhenti merokok. Minimal tidak merokok didepan dan saat bersamanya.
"Halo.."
"Tuan mansion anda telah saya perbaharui dan rapihkan, semua berkas yang perlu anda verifikasi saya taruh di meja kerja anda di Park Avenue." Ujar Bagas.
__ADS_1
"Lain kali jika aku tengah bersama Luna jangan telpon. Untung dia tidak terbangun."
"Maafkan saya tuan. Lain kali saya akan perhatikan."
"Baiklah. Terima kasih telah membantuku."
"Dengan senang hati tuan."
Adira segera memutuskan panggilan dan segera menelpon kakak bawelnya.
"Halo kak."
"Apa!"
"Berkas apalagi yang kamu berikan?"
"Pengalihan hak atas Aston Mansion."
"Jika perlu kamu juga bisa membeli beberapa saham Park Avenue atau langsung akusisi saja!"
"Aku rasa 10M sudah cukup."
"Kau pikir 10M jatuh dari langit!"
Adira mengumpat kesal, saat liburan saja dia dikejar pekerjaan.
"Tentu saja tidak. Tapi kamu harus pikirkan bagaimana itu terjatuh ditanganmu segera."
"Oh iya jangan lupa proyek Resort Laguna di pulau B."
"Harus terus kamu pantau sudah sejauh mana progressnya." Titah kakaknya membabi buta.
"Kalian tengah memperbudak otakku saat ini!" Umpat Adira semakin kesal.
"Ini baru permulaan."
"Kamu hanya tinggal menjalankan yang telah kami mulai."
"Kamu bahkan tidak perlu mengemis para investor untuk pertama kalinya!"
"Tidak perlu mengeluh!"
"Aku rasa Luna tidak menyukai pria lemah!"
"Terima kasih atas motivasinya!"
"Menggunakan Luna memang efektif menjadikan kelemahanku!"
"Satu hal lagi!!"
"Dalam berbisnis jangan sampai rivalmu tahu apa kelemahanmu!"
"Saat ini untungnya tidak banyak yang mengetahui hubunganmu dengannya tiba saat sudah sangat jelas apa kelemahanmu maka mereka akan menggunakannya untuk menjatuhkanmu."
"Patuhlah maka Luna akan aman."
"Cih!"
"Tanpa kalian aku akan melindunginya."
"Saat ini kamu masih jauh dari ancaman tiba waktunya aku rasa kamu akan mengerti kenapa kami melakukan semua ini."
"Terima kasih."
Pov Adira End.
* * * * * * * * * * *
__ADS_1