
Adira menatap ponselnya lekat kekasih hati yang dia sudah anggap calon istrinya selama beberapa hari ini tidak menghubunginya. Dia yakin pasti telah terjadi sesuatu.
"Sepertinya aku dejavu dengan kebiasaan Luna yang seperti ini."
"Sama saat pulang mudik bulan lalu!"
"Apa dia akan kembali memutuskan ku lagi setelah ini?!"
Adira tertawa frustasi seperti orang gila, dia terus memikirkan kekasihnya tetapi sepertinya kekasihnya tidak pernah menghiraukannya sama sekali.
Adira mencoba menghubungi ponsel Luna kembali hasilnya tetap sama ponselnya tidak aktif. Adira tidak lagi melakukan panggilan telpon kekasihnya. Dia segera berlalu bertemu keluarganya.
"Sini sayang..." Ajak Julia.
"Mama masak apa?" Tanya Adira mencoba menghilangkan segala kegundahan hatinya.
"Masakan kesukaanmu tentu saja."
"Makasi ma..."
Adira mencium pipi ibunya kemudian duduk di sampingnya.
"Oh ya kak, besok aku akan kembali ke Kota B." Adira menatap kakaknya serius.
"Oh kebetulan aku juga ada urusan." Ujar Arneth acuh.
"Dira, apa kamu yakin membuka cabang RG di kota B?!" Tanya papanya.
"Calon istrinya disana tentu saja buka cabang disana!!"
"Dia ini bucin parah mana mau berjauhan!!!"
Adira hanya merespon dengan terdiam dan senyuman canggungnya membuat Arnetha justru tengah curiga ada sesuatu yang terjadi lagi dengan mereka.
"Mama tidak sabar bertemu calon mantu mama!!"
Adira hanya menanggapi kembali dengan senyuman. Setelah selesai sarapan dirinya di ajak papa dan kakaknya ke kantor pusat RG di kota K. Dia akan di kenalkan kepada selurus jajaran pengurus dan pegawai disana.
* * * * *
Luna dan Angela telah selesai merapihkan diri masih tersisa 20 menit untuk pergi menuju Harbour.
"Anda sangat cantik nona!!"
"Jika saya laki-laki saya juga akan sangat tergila-gila dengan anda..."
Angela terpesona dengan tampilan elegan seorang Naluna saat ini.
"Kamu bisa aja..." Luna tersipu malu.
Luna dan Angela bergegas menuju ruang presidir. Disana Mahessa masih berkutat dengan beberapa berkas.
"Sayaaang katanya ada penjamuan!!" Ujar Luna membuka pintu tanpa di ketuk terlebih dahulu.
Mahessa melirik kearah asal suara yang sudah sangat dia kenal. Dirinya terpaku melihat tampilan istrinya yang menawan di banding tadi.
"Sejak kapan dia?" Gumam Mahessa berdiri dan mendekati istrinya.
"Kamu cantik sekali cutie...." Mahessa menyesap leher Luna dia merasakan wangi tubuh dan parfume Luna bercampur membuatnya semakin gila ingin memilikinya.
"Ayok!!"
__ADS_1
"Dari sini ke marina kan sekitar 20 menitan."
"Ga bagus ngebiarin orang nunggu terlalu lama..." Luna melonggarkan pelukan Mahessa.
"Aku tidak punya kata-kata lagi untuk memujimu sayang!!!" Mahessa mencium bibir Luna lembut.
Luna membiarkannya prianya menyentuh dan mengusap tiap inci tubuhnya. Mahessa mengangkat satu kaki Luna ke atas dan menyapu lembut paha mulus istrinya. Tak berapa lama dia menggendong istrinya dan keduanya memilih duduk di sofa. Mahessa mendudukan istrinya di pangkuannya. menyibak kerah baju Luna dalam satu tarikan menampilkan bukit indah milik istrinya.
"Mahessaaaa!!"
"Jangaaan..."
Luna mencoba menolak tetapi Mahessa sudah sangat berhasrat dia terus menyesap kuat kulit putih Luna hingga meninggalkan bekas. Luna tak mau kalah dia sudah sama tersulutkan gairah, dia juga menyesap leher suaminya agar meninggalkan jejak disana.
"Cutie kita main sebentar saja!"
"Aku janji 5 menit saja!!" Mahessa tengah menurunkan G-string Luna dan membalikkan badannya.
"Aaaahhhh... Aaahhh.... Ahhhhh..." Luna mulai melenguh menikmati permainan suaminya.
"Aaaahhh sayaaaang...." Mahessa menarik dagu Luna dengan tangannya ke arah wajahnya lantas meraup bibirnya. Tangannya tak tinggal diam dia meremas kencang bukit indah kesukaannya.
"Aaaaaarrgghhh..." Luna merasakan dirinya akan menuju puncaknya.
"Keluar bareng ya sayaaang...." Mahessa semakin mempercepat tempo permainan.
"Aarrgghh!!!" Pekik keduanya berbarengan.
Mahessa membersihkan sisa permainan mereka dengan tissue. Luna terkulai lemas di sofa, dengan pakaian dan sepatu yang masih melekat di kedua kakinya mereka memainkan dengan sangat cepat namun keduanya terpancar raut kepuasan.
Di luar ruangan Farell dan Angela menggunakan headset dan mendengar musik kencang sesaat setelah mendengar jeritan Luna kembali menggema. Dengan kembali sibuk mengerjakan tugas mereka.
"Mau ganti baju?" Tanya Mahessa kemudian.
"Ini udah jam berapa?!"
"Ga usah aja ya..." Rengek Luna beranjak berdiri setelah mengumpulkan kembali tenaganya.
"Baiklah... Ayok..." Mahessa mengulurkan tangannya.
"Kamu mesum banget di kantor juga usil!!!" Rutuk Luna.
"Salahin kamu begitu menggoda." Bisik Mahessa di telinga Luna.
"Apa kamu tidak tertarik dengan Angela dia juga memiliki bentuk tubuh yang indah?" Goda Luna mengusap pipi Mahessa.
"Tidak!!"
"Aku hanya akan tergoda oleh satu orang wanita di dunia ini."
"Dia istriku..."
"Gombal!!!"
Keduanya keluar ruangan dan di sambut kedua manusia yang secepat kilat melepas headset mereka dan membungkuk.
Farell mengikuti keduanya dari belakang. Kali ini dia akan menjadi supir pribadi. Di dalam mobil Farell mencoba memikirkan dirinya tengah sendiri dan tidak mencoba melihat kebelakang. Pasalnya kedua sejoli di belakang tengah bermesraan dengan bertautan sepanjang perjalanan.
"Harusnya aku bawa headset ku tadi!!" Rutuk Farell dalam hati.
Setelah menempuh waktu selama kurang lebih 15 menit keduanya telah sampai di pelataran Marina View. Luna mengusap lembut bibir dan leher Mahessa yang tertanggal lipstiknya disana dengan tissue basahnya. Mahessa memperhatikan lekat wajah istrinya.
__ADS_1
"Aku sungguh tergila-gila denganmu sayang..." Lirih Mahessa sendu.
Luna hanya tersenyum kini giliran dia memperbaiki riasannya.
"Aku lihat kamu tidak berhubungan dengan Adira selama kita bersama."
"Apa kalian putus?"
Luna menutup kotak make up nya. "Ini bukan urusanmu!"
"Aku hanya bersikap profesional di saat bersama suami ku aku mencoba menjadi istrimu seutuhnya."
"Tapi saat kita sendiri-sendiri jangan pernah campuri urusanku!!"
Mahessa mengeratkan kepalan tangannya. Dia kembali merasa sangat kecewa dengan jawaban Luna. Setelah apa yang terjadi dengan mereka berdua hampir seminggu ini.
"Apa hanya aku yang merasakan kebahagian ini?!" Batin Mahessa.
Farell membukakan pintu Mahessa keluar lebih dulu kemudian mengulurkan tangannya menuntun istrinya. Luna tersenyum merangkulkan tangannya di lengan Mahessa manja.
"Maaf terlambat tuan Rudolf..." Sapa Mahessa pada salah satu pria paruh baya disana.
"It's okay tuan Mahessa..."
"Saya justru tengah menikmati pemandangan disini..."
Keduanya menjabat tangan, tak lupa Mahessa mengenalkan Luna pada rekan bisnisnya.
"Kenalkan ini istri saya Luna..."
"Luna..."
Keduanya berjabatan tangan.
"Saya dengar juga tentang pernikahan anda.. Tidak menyangka istri anda sangat cantik."
"Terima kasih pujiannya." Senyum Luna mengembang.
Acara penjamuan makan berjalan lancar. Keduanya telah berpamitan dan pergi dengan urusan masing-masing.
"Sudah terlanjur disini apa kamu ingin menginap disini?!" Tanya Mahessa melingkarkan tangannya di pinggang ramping Luna.
"Boleh..." Luna membalas mengusap pipi suaminya dan mengecupnya.
"Farell siapkan kamar untuk ku!!"
"Baik tuan..."
"Kita jalan ke tengah sana yuk..." Ajak Luna antusias.
Luna memang menyukai laut entah apa alasannya. Dengan melihat pemandangan laut lepas dengan pantulan cahaya biru menyilaukan mata dengan air yang tenang bahkan deburan ombak membuatnya semakin jatuh cinta dengan laut yang membuatnya merasa menenangkan dirinya.
Setelah puas bermain air Luna di bopong suaminya menuju kamar mereka. Sebelumnya Mahessa berpesan pada Farell membawakan baju ganti mereka. Dirinya berencana menghabiskan waktu di Marina View hingga esok tidak jadi di Paragon Hill.
Mahessa memeluk istrinya yang tengah terlelap dengan menyisakan peluh di sekujur tubuhnya.
"Waktuku masih panjang bukan?"
"Aku akan membuat kamu jatuh hati padaku sayang..." Mahessa mengecup bahu Luna dan segera terlelap disampingnya.
* * * * * * * * * *
__ADS_1