Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 86 : What You Put I Through!


__ADS_3

Malam sebelum hari pernikahan Luna.


Hari ini perasaan Adira mendadak tidak menentu. Semenjak berada di kota K dan berjauhan dengan Luna dia selalu merasa tidak enak perasaan, seperti memiliki firasat buruk mengenai kekasih hatinya.


"Bagas bagaimana perkembangan nilai saham?" Tanya Adira langsung setelah pulang dari berjaga di rumah sakit.


"Kakak sudah mengalihkan sebagian saham property untuk stabilkan RG."


"Tapi masih kurang beberapa lagi!!"


Arnetha yang sudah siap bergiliran menjaga papa mereka di RS menjawab pertanyaan adiknya yang kian hari wajahnya kian kusut.


"Mas Damar hari ini berangkat ke ibu kota mengikuti tender dari Emperor."


"Ini kesempatan bagus buat kita."


"Terima kasih kak..."


"Kenapa wajahmu pucat sekali?"


"Jaga kesehatanmu disaat seperti ini!"


"Segera sarapan di meja makanan telah tersedia."


"Bibik baru saja siap memasak."


Arnetha memegang dahi adiknya, adik yang selalu dia manjakan.


"Mama hari ini sepertinya bisa pulang ke rumah."


"Barusan aku sudah urus administrasi semuanya...'


"Aku keburu lelah hari ini."


"Semalam aku melacak ada beberapa hacker yang mempermainkan laporan keuangan kita."


"Benarkah?"


"Tidak sia-sia kamu lulusan informatika!!"


Arnetha mengacak rambut adiknya dengan bangga. Ada rasa iba menyelimuti hatinya melihat kondisinya saat ini. Dia tidak pernah berpikir adiknya akan mengalami kondisi seperti saat ini. Hanya setelah dia berikrar ingin menikahi Naluna semua kehidupannya berubah.


Adira segera memasuki kamarnya. Merebahkan dirinya dan terlelap setelahnya, dia terbangun oleh dering ponsel dari Luna.


"Setiap aku melacak nomor ponselnya dia selalu berpindah dengan cepat!"


"Bahkan aku mendapati dia pernah berada di kawasan Beverly Hill."


"Sedang apa dia disana?"


"Namun sekajap kemudian kembali berada di Ritz Carlton."


"Apa mungkin berpindah secepat kilat?"


Adira memiliki firasat buruk akan kekasihnya, terlebih kekasihnya itu tidak ingin segera pulang ke kota B. Setiap kali mereka melakukan komunikasi via telpon wanitanya selalu menangis. Bagas juga melakukan pemeriksaan CCTV secara berkala namun anehnya ini terlalu mulus.


Karena berusaha keras menstabilkan nilai saham selama dia baru menjabat beberapa waktu menjadi presidir RG. Adira melupakan dan terus merapel jadwan makan dia demi menghemat waktu. Dia juga lebih jarang menghubungi Luna. "Aku selesaikan satu per satu agar lebih fokus dan tenang. Satu-satunya alasan papa masuk RS karena merosotnya nilai saham bahkan hampir gulung tikar karena laporan keuangan yang menyatakan mereka merugi besar."


Adira puas karena hasil kerja kerasnya membuat RG stabil seperti semula. Dia akan melacak keberadaan wanitanya dan menyelidiki segalanya. Disaat akan menghubungi Luna, Adira terjatuh dari tangga dan langsung dilarikan ke rumah sakit.


"Satu orang keluar, satu lagi masuk!!"


"Ada apa dengan keluargaku?"


Arnetha merasa frustasi akhir-akhir ini semua permasalahan terus berkelanjutan tiada hentinya.


"Bagas... Apa kamu mencurigai sesuatu?"


"Saya tidak berani berkesimpulan nona."


"Semua terjadi setelah deklarasi Adira akan menikahi Luna!"


"Ini aneh bukan?"

__ADS_1


"Selama ini bahkan tidak pernah ada yang bisa menyentuh RG!"


"Jika bukan orang yang mempunyai kekuasan lebih tinggi dari kita."


"Bagas aku minta tolong bagaimanapun caranya cari tahu silsilah Naluna kembali."


"Baik nona."


"Si degil itu pacaran pacaran aja ga pernah mau cari tahu latar belakang pacarnya di bilang kuno lah bla bla bla..."


"Jika sudah seperti ini... Haiiissshh!!!" Rutuk Arnetha kesal.


"Sabar nonaa..."


"Nona tau sendiri tuan Adira bersifat bebas..."


"Bahkan sudah 4 tahun dia berani hidup keluar dari kediaman besar." Ujar Bagas menenangkan.


"Jika bukan campur tangan aku dan mama mana mungkin juga dia bertahan!!!!"


"Mana bisa dia memakai barang biasa saja!"


"Dia alergiannya luar biasa!!"


"Bocah degil!"


* * * * *


Prosesi ijab kabul berjalan lancar, keduanya telah sah menjadi sepasang suami istri secara agama bahkan negara S. Luna terus berderai air mata, bagi orang yang tidak mengetahuinya mungkin beranggapan dia tengah menangis bahagia. Kenyataannya dia sedang meratapi kebodohannya menjual dirinya demi keselamatan Adira.


"Luna..." Sapa Wira kini tengah berada di ruang ganti.


"Bisakah kalian keluar sebentar?"


"Saya ingin berbincang dengan papa saya." Titah Luna kepada para perias dan orang-orang yang berada diruangan itu.


"Kenapa papa melakukan hal itu?"


Air matanya seakan tidak ada habisnya membanjiri wajahnya. Tanpa aba-aba saat ini Wira memeluk putri kesayangannya erat. Kini terdengar raungan Luna yang sedari tadi ia tahan. Papanya terus memeluknya erat menenangkannya mengusap rambut dan punggung Luna.


"Kamu sampai seperti ini, ini semua salah papa!"


"Papa sungguh menyesal!!"


"Kamu luput dari pengawasan papa."


"Inilah alasannya kenapa papa selalu melarangmu keluar dari wilayah papa."


"Papa tidak bisa mengawasimu sayang."


"Kekuatan papa terbatas!"


Wira mengusap lembut kedua netra Luna yang kini tengah sembab. Luna tertawa lirih merasa geli atas penuturan papanya yang berlebihan barusan.


"Luna yang salah pah..."


"Luna terlalu egois dan berambisi!"


"Jangan selalu menyalahkan diri papa."


"Papa selalu menjadi papa terbaikku dengan versimu sendiri."


"Terima kasih pah."


"Aku tidak menyangka di kehidupan ini papa lah yang menjagaku dengan baik."


"Papa berjanji mulai saat ini papa akan terus mengawasi kamu sayang..."


"Siapa pun yang menyakitimu harus melewati papa dulu!"


"HAHAHAHA!!"


"So iyeh deh papa!"

__ADS_1


"Aku baru tau mahar aku senilai 1M tidak sesuai dengan perjanjian!!"


"Tidak sesuai? Memang kamu minta berapa?" Rutuk Wira.


"Dua puluh persen kepemilikan saham E.T!"


Wira membuka mulutnya lebar dengan ucapan polos putrinya. Dia tertawa lirih ternyata dia memang menginginkan harta dan jabatan.


"Jika dia tahu kelak perusahaan ku akan menjadi miliknya mungkin dia akan menyesal mengemis recehan dari ET!"


"Aku saja bisa mengakusisinya saat ini!"


Wira mengusap pelupuk matanya yang berembun, dia sungguh tengah mendapat karmanya karena selalu membohongi Luna akan identitas mereka.


"Papa menangis?"


"Memalukaaan..."


"Papa tidak menyangka papa bisa mendengar kembali tawamu!"


"Terakhir papa mendengar saat kamu berusia 15 tahun..."


Luna terdiam dan tersenyum. "Mulai saat ini papa akan selalu mendengar tawaku."


"Aku lapaaaar..." Rengek Luna.


"Haha papa akan menyuruh pelayan kamu mau makan apa?"


"Apa saja lah yang penting bikin kenyang!"


"Kepura-puraan ini sungguh menghabiskan banyak energi!"


Wira tersenyum pahit dan beranjak menyuruh beberapa pelayan melayani anaknya.


Selang beberapa saat Mahessa datang. "Maaf om, saya boleh berbicara dengan Luna."


Mahessa masih terlihat canggung pada papa mertuanya.


"Kamu bisa memanggilku papa kalau kau mau." Ujar Wira datar.


"Dengan syarat jaga Luna baik-baik!!" Ujar Wira menepuk bahu Mahessa.


"Terima kasih pah."


"Aku berjanji akan selalu menjaga Luna."


Mahessa menundukan wajahnya, dia menghormat pada mertuanya. Wira kemudian keluar dari ruangan sedang Mahessa berjalan menghampiri Luna yang sibuk dengan makanannya.


"Terima kasih karena mau bekerja sama denganku..."


Mahessa duduk di samping Luna, sesungguhnya Mahessa ingin sekali memeluk istrinya saat ini. Namun seperti yang diketahui pernikahan ini hanya sebuah kontrak dimata Luna.


"Hmm..." Jawab Luna dingin.


"Oh iya bukannya aku meminta mahar 20% saham mu kenapa aku hanya diberi 1M?" Protes Luna.


"Apa kamu tidak takut menjadi tamak?"


"Apa yang di pikirkan istriku hanya lah makan dan uang!!"


Mahessa menggoda Luna dengan sedikit kekehan.


"TIDAK!"


"Aku memang hidup untuk kedua hal itu..."


Mahessa terdiam melihat jawaban datar istrinya yang enggan menatapnya saat ini.


"Semua akan menjadi milikmu saat kontrak selesai."


"Cih..."


Sebenarnya Luna tidak begitu peduli dengan itu namun saat ini dia telah menyusun berbagai rencana di otaknya. Semoga daya ingatnya sedang berada dipihaknya kali ini. Mengingat setelah kembalinya dia dari masa depan ke masa sekarang ini daya ingatnya semakin menurun. Dia mudah melupakan sesuatu!

__ADS_1


* * * * * * * * * * *


__ADS_2