Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 57 : Preparation


__ADS_3

Hari ini sesuai rencana sebelumnya Luna meminta Sandra untuk menginap di tempatnya. Luna akan meminta bantuannya perihal kesepakatan terlarang dengan Mahessa tempo hari. Sebelumnya Luna tidak menceritakan kepada Adira karena dia sangat hapal tabiatnya. Jika dibahas lebih awal maka jawabannya adalah tidak di ijinkan. Jika mendadak seperti ini maka mau tidak mau kekasihnya akan mengijinkannya. Luna mengirimkan pesan singkat dalam aplikasi chat kantor 10 menit sebelum waktu pulang.


[Sayang, hari ini Sandra menginap di tempatku ya.. Dia akan membantuku packing..]


Ting!


[Oke. Aku antar kamu pulang kan sayang tunggu di depan gate ya]


Senyum Luna mengembang, semenjak mereka memulai hubungan lagi dia sudah berubah menjadi lebih baik.


"Ayok san, mas Dira udah ngijinin. Dia nunggu di depan gate." Ajak Luna pada Sandra.


"Anterin dulu gue ambil baju kan?" Tanyanya kemudian.


"Pake baju gue aja kan bisa!" Tawar Luna.


"Lu kalo ngehina fisik alus bener emang!" Sungutnya kesal.


Luna terbahak, badan Sandra memang agak berisi dibanding dirinya. Namun Luna merasa dia juga memiliki sebagian baju yang longgar.


"Dia aja mikirnya baju aku tuh kayak iklan sliming tea mulu!"


"Ya udah kuy!" Ajak Luna kemudian.


Mereka bergegas menuju loker dan melakukan finger print. Sebelumnya Luna sudah tidak melihat Adira di ruangannya. Setelah keluar terlihat Adira tengah menunggu mereka di depan gate. Luna membuka pintu depan dan Sandra di belakang.


"Mas Dira kapan ganti mobil lagi?" Batin Luna.


"Dir, mobil lu ganti terus..."


"Elu beneran crazy rich yang nyamar jadi gembel?" Selidik Sandra.


Luna terkekeh "Iya mas ini perasaan tadi pagi ga pake mobil ini deh..."


"Lah tadi kamu bilang mau bawa Sandra."


"Kalo pake mobil aku ga muat sayang..." Ujarnya polos.


"Aku tukeran sebentar sama teman."


"Nanti aku ganti lagi."


"Dir, Nyonya lu nyuruh gue nginep ditempatnya."


"Tapi kerumah gue dulu ya ambil baju." Ujar Sandra meminta ijin.


"Hmm.." Jawabnya singkat.


"Lu kalo mo ngambek sama dia!"


"Kenapa gue merasa aura lo kek aura mo bunuh orang!" Rutuk Sandra.


Luna hanya terkekeh kemudian merangkul lengan prianya yang memegang kemudi.


"Dia mau membantuku packing jualan, jangan ngambek terus ya." Luna mencium pipi kekasihnya spontan.


Adira tersipu dan menunjukan senyum terpaksanya "Gemas sekalii..." Batin Luna.


"Cih gue tau bakalan kek nyamuk."


"Aslinya ogah banget sih semobil ama lu pada!" Sungut Sandra dengan raut muka cemberut.


Luna terkekeh kemudian dengan tidak tahu malunya tangan Adira menarik tangan Luna dan menciuminya. Luna menjadi salah tingkah walaupun tahu Sandra telah mengetahui segalanya namun seperti ini juga ia merasa malu. Dari kaca depan dia melihat Sandra mendengus kesal dan mengalihkan pandangan.


Luna menatap Adira, "Aku sungguh jatuh cinta untuk kesekian kalinya. Aku bahkan tidak tau alasan logis yang mana yang membuat aku mencintainya. Namun bersamanya aku merasa sangat nyaman. Walau dia satu spesies dengan es batu tapi sejujurnya dia mampu mencairkan hatiku yang dulu mati sekarang hidup kembali."


Tanpa waktu lama mereka telah sampai di depan pekarangan rumah orang tua Sandra. Mereka sepakat menunggunya diluar saja, dengan alasan biar cepat. Adira mengambil kesempatan dengan menciumi Luna selama di dalam mobil.


"Mmmm... Aah!" Luna mendorong tubuh Adira perlahan.


"Mas, nanti ada yang liat."


"Tenang aja, kacanya tidak tembus pandang." Jawabnya datar dengan kembali mencumbu Luna.


Luna tersenyum, melingkarkan kedua tangan dan kembali bertukar saliva dengan pacarnya. Adira bahkan tengah meremas dua bukit indah kekasihnya hingga Luna mengerang. Di saat gejolak gairah mereka menggebu terdengar bunyi pintu pagar, Adira melepaskan Luna. Luna segera memperbaiki tampilannya.masuk di kursi belakang.


"Mas kita makan malam dulu ya.. Aku lapar!" Rengek Luna manja.


"Najis banget gue denger suara lo!" Gerutu Sandra.


"Mau makan apa yang?" Tanya Adira tidak menghiraukan Sandra.


"Hokben!" Seru Luna.


"Jangan junkfood terus ah sayang..."


"Ga bagus!" Ujarnya menolak.


"Mau itu!!" Luna kembali merengek.


"Hais... Ya sudah lah." Akhirnya kekasihnya pasrah.


Sandra hanya mampu menggeleng kepala di belakang. Sekarang mereka tengah berada di salah satu resto cepat saji. Mereka tengah memilih tempat duduk dan memulai aktifitas makan malam.


"Dir, lu yakin nikahin Luna?" Cibir Sandra memulai obrolan.


"Emang kenapa?"Jawabnya dingin.


"Lah gitu modelnya." Sandra menunjuk tingkah Luna saat ini.


Luna yang tengah sibuk memasukan beberapa makanan dimulut berhenti dan melihat Sandra kesal!


"Iri bilang bos!!!" Dengus Luna kesal.


Adira mengacak rambut Luna dan mencium pipinya mesra.


"Ga papa yang penting gue cinta." Jawabnya datar.


"Hoeeeek." Sandra berekspresi muntah di depan keduanya.


Luna kembali merasa sangat terharu dengan perubahan sikap Adira yang menurutnya sangat drastis ini. Otak Luna kembali bekerja nista agar semakin panas ia menambahkan dengan membalas semua sikap manis Adira barusan.


"Makasi sayaaaang."


Luna merangkul lengan kekasihnya mesra dan bersiap membalas ciuman di pipinya. Namun siapa sangka Adira memalingkan wajahnya menatap kekasihnya.


Cup~

__ADS_1


Keduanya berciuman bibir saat ini, Adira tersenyum melihat kedua bola mata Luna yang membulat sempurna.


"OMG aku malu!!" Jerit Luna dalam hati.


Sandra terpaku dengan aksi keduanya barusan, kemudian dia memberi wejangan.


"Eh tolong ya, walau kalian memang akan melanjutkan ke jenjang pernikahan tapi saran gue jangan terlalu mengekspose gaya pacaran kalian yang ekstream itu!"


"Ga baik juga nanti orang liat."


"Syukur-syukur kalo orang ga mikir aneh."


"Tiba mereka mikir yang aneh-aneh sama kalian atau ada yang nyebarin rumor negatif, yang bakalan rugi banyak elu non!"


"Lu sebagai cewek pastinya yang kena imbasnya."


Keduanya terdiam dengan perkataan Sandra. Suasana mendadak canggung, Luna segera mengalihkan dan mengajak mereka segera pulang.


* * * * *


Mereka telah sampai di mansion milik Luna, Adira menyuruh Sandra keluar lebih dulu. Luna terkekeh dengan tingkah Adira yang benar-benar di luar ekspektasinya.


"Cih, mo mesra-mesraan lagi kan lo!" Gerutu Sandra kesal membuka pintu dan keluar menuju area lobby mansion.


"Aaaaarghhh sayaaang..."


Adira segera menyantap bibir manis strawberry kesukaannya, tanpa ampun dia bahkan menggigit kecil bibir bawah kekasihnya dan menyesapnya kuat memberikan sensasi kejutan pada tubuh Luna yang langsung meremang.


"Ohh... Pacar mesum ku paling tahu caranya bikin bergairah dimana pun kita berada!!" Rutuk Luna dalam hati.


Dengan lincah satu tangan Adira menanggalkan kancing kemeja Luna, ciumannya turun melewati leher dia menyapu dengan ujung lidahnya membuat tubuh Luna bergetar hebat. Luna mengeratkan cengkraman tangan di bahu kekasihnya.


"Aarhh maass..." Luna takut dia tidak bisa menahan hasratnya.


Satu tangan yang lain mengusap lembut tengkuk leher Luna, sedangkan satunya yang dia gunakan membuka kancing kini tengah menyelusup membuka kancing denim wanitanya. Dia sungguh lihai memainkannya. Luna memejamkan matanya dia menutup mulutnya saat jemari kekasihnya menyentuh pusat inti tubuhnya.


"Aarghh!" Jerit Luna mendorong tubuh Adira.


Pria itu memberikan tanda cinta yang kuat di salah satu bukit kembar Luna meninggalkan rasa panas dan perih nikmat secara bersamaan. Luna juga menarik tangan Adira.


"Kamu udah basah sayang!" Goda Adira.


"Mas cabul bangeet ih!!!" Pekik Luna malu.


"Love you sayang." Adira mencium mesra bibir Luna.


"Ini hukuman tiba-tiba mengajak Sandra bermalam!" Dia memegang bibir bawah kekasihnya dan kembali menggigitnya.


"Jangan macam-macam sama Sandra ya." Luna menatap mata kekasihnya yang dipenuhi hasrat saat ini.


Luna tersenyum "Sayang tenang aja ya. Aku hanya milikmu seutuhnya."


"Sayang satu bulan itu lama ya."


"Aku sudah tidak sabar. Apa kita lakukan besok aja!" Rengek Adira menggemaskan.


Tangan Luna memegang pipi kekasihnya "Sabar ya sayang..."


"Aku juga belum membicarakan semua ini dengan keluargaku."


Terlihat raut kecewa di wajah Adira, dia mengembalikan posisi duduknya dan menatap kosong kedepan.


"Ga boleh begadang ya..."


"Aku masuk dulu dah cukup lama kasian Sandra."


"Tar dia mikir macem-macem lagi!!"


Adira melihat kekasih hatinya berlari kecil menuju mansion.


"Baru beberapa detik saja aku sudah merasakan rindu." Lirihnya seraya tersenyum dan segera meninggalkan pelataran mansion setelah memastikan Luna sudah memasuki gedung.


Adira merogoh saku celananya dia menghubungi seseorang.


"Kak, bulan depan aku akan menikahi Luna." Adira berujar langsung tanpa basa-basi.


"Kenapa kamu tiba-tiba ingin menikahi pacarmu terburu-buru seperti ini?" Selidik Arneth curiga.


"Jangan bilang kamu menghamili dia!!" Sungut Arneth.


".............." Adira terdiam dia mendadak bingung.


"Heh anak durhaka! Jangan macam-macam Adira Renald!" Ancam Arnetha.


"Enggak."


"Aku hanya tidak ingin berlama-lama."


"Sebelum kalian berubah pikiran aku harus bertindak cepat!" Jawab Adira sendu.


"Kamu sudah menelpon papa? Aku masih di ibukota."


"Aku......"


"Kamu menghadapi papa saja susah bagaimana kamu mau bisa menghadapi keluarga besar Luna?"


"Kamu sudah bertemu dengan mereka?" Tanya Arneth.


".............." Adira menepikan mobilnya.


"Haish..."


"Adek ku yang ganteng tapi bodoh!" Ejek Arneth tiada henti menghancurkan mood Adira saat ini.


"Kamu sibuk meminta restu dari keluarga kita."


"Apa kamu yakin sekali bertemu dengan keluarga mereka kamu langsung mendapatkan restunya?" Arneth mendengus kesal.


"Ingat sampai saat ini silsilah Luna masih tidak diketahui."


"Jangan berbuat macam-macam dengannya."


"Kita tidak tahu dia siapa!! jangan pertaruhkan segalanya Adira!!"


"Halo.. ADIRA!!" Bentak Arneth kesal merasa diacuhkan sedari tadi dia berucap.


"Iya aku mendengarkan..." Lirihnya.

__ADS_1


Arnetha merasa iba dengan adik semata wayang yang dia sayangi itu. Segera dia menenangkannya.


"Don't be afraid.. I'll be there with you."


"But, before it. You must have any preparation..."


"So.. Be patient!"


Mendengar pernyataan kakaknya Adira jauh lebih tenang dia mengulum senyuman kemudian berterima kasih dan memutuskan sambungan telpon.


Adira membanting kemudi "Semenjak mengetahui kehamilan Luna pikiranku sangat kacau.. Aku sungguh tidak ingin kehilangannya. Namun aku melupakan banyak hal selama ini."


"Hubunganku dengan Luna tidak pernah baik-baik saja!!" Adira mendongakkan kepalanya.


Adira kembali menghubungi seseorang "Bagas, aku ingin minta bantuan. Tolong mintakan kembali XK menyelidiki perihal Luna. Berapapun harganya maka akan aku bayar!!" Kemudian dia mematikan sambungan telpon.


"Luna, adakah arti hubungan kita ini jika memang kita di takdirkan berpisah?!!" Tanpa terasa buliran beningnya jatuh membasahi kedua pipinya.


Setelah mengembalikan kembali mobilnya dia menuju PA dan memasuki kawasan parkir penghuni apartemen. Adira bergegas beranjak menuju mansionnya namun sebelumnya terlihat Bagas telah menyambutnya didepan.


"Tuan, ini beberapa berkas tambahan yang anda inginkan. Kemudian Nona Arnetha menginginkan anda mengundurkan diri dari EPS segera mungkin." Ujarnya hormat.


"Terima kasih!" Jawab Adira lemah.


"Apa anda baik-baik saja tuan?" Ujar Bagas khawatir.


Adira menghentikan langkahnya "Segera lakukan penyelidikan tentang Luna. Oh iya aku dengar Xinlai memiliki sistem pelacak satelit terbaru."


"Aku ingin mendapatkannya!"


"Baik tuan..." Bagas menunduk patuh terhadap tuannya.


Adira segera berlalu menuju mansionnya.


* * * * *


Ini kali pertama Sandra berkunjung ke mansion Luna. Biasa dia selalu sibuk dengan urusan pekerjaannya. Terlebih Adira selalu menempel dengan Luna membuatnya tidak mungkin mengajak temannya berkumpul bersama. Luna membuang nafas kasar kembali kebebasan memiliki waktu sendiri menjadi terbatas saat ini.


"Lu sewa apa beli?" Tanya Sandra seraya meletakkan tasnya di meja.


"Sewa...." Jawab Luna singkat.


"Berapa?"


"Ko kamu bisa tau ada yang sewa disini?"


"Setauku mansion ini ga ada informasi disewakan loh."


Sandra merasa penasaran dengan kondisi Luna saat ini.


"Mas Dira yang mencarikannya untukku."


"Apa kamu mencurigai sesuatu lagi?" Dengusku kesal.


"Hanya janggal saja. Jadi berapa harganya?"


"Satu setengah."


"Serius?"


"Memang kenapa?"


"Apa kamu mau bilang ini aneh juga?"


"Suka-suka yang nyewain sih!"


Luna menjadi kesal setelah di provokasi oleh sahabatnya.


"Ya sudah lah. Ini barang dagangan lu?" Sandra menyudahi perselisihan barusan.


"Laris manis ya sis, pantes lu jarang lembur lagi sudah memiliki pemasukan lain."


"Gih mandi duluan." Luna tersenyum dan memberikan handuk untuknya.


Selagi Sandra membersihkan diri Luna segera menghubungi kekasihnya.


"Aku tidak ingin saat bercerita disibukan dengan chatnya."


"Halo mas..."


"Udah sampe?"


"Sudah sayangkuu..."


"Aku rinduuu..."


Luna tersipu mendengar ucapan kekasihnya yang begitu terdengar manja.


"Ya udah sayang langsung istirahat ya..."


"Aku sibuk packing dulu ya."


"Bilang aja mau curhat-curhatan ama Sandra."


Luna tertawa kebohongannya terbongkar. "Sayaaaaang mas..."


"Mmuuaaachh."


Adira tersipu di sebrang sana "Jangan sampai larut ya..."


"Sayang..." Lirih Adira seperti ingin berkata sesuatu namun dia hentikan.


"Iya mas.. Apa ada masalah?" Tanya Luna penasaran.


"Aku hanya ingin kamu tahu."


"Aku sangat mencintaimu Luna..."


"Aku tidak ingin kehilanganmu."


Adira merasakan firasat aneh yang menyerangnya, dia begitu takut. Luna terdiam dengan ucapan yang tiba-tiba sendu dari prianya. Dia sangat hafal dengan sifat Adira, saat paling sendu dari Adira saat itulah jati dirinya.


"Luna.. I love you..."


"Love you too mas.."


Padahal Luna ingin sedikit mengoceh lebih lama namun entah mengapa semua tercekat begitu saja. Mereka sama-sama kesulitan mengungkapkan isi hati mereka. Akhirnya mereka memutuskan sambungan telpon. Ada rasa yang berbeda menyelusup dalam dada Luna "Perasaan macam apa ini?!"

__ADS_1


* * * * * * * * * *


__ADS_2