
"Ayo lah pah..." Luna beranjak dari tempat duduknya.
Berdiam diri disini membuat Luna semakin sesak. Semua yang telah terjadi di hidupnya dia akan coba menikmatinya.
"Kita kemana?" Tanya Wira penasaran seraya bangkit mengikuti Luna keluar.
"Bersenang-senang menghabiskan uang. Merubah penampilan papa yang......" Luna menampilkan ekspresi tidak suka.
"Tunggu sini Luna...." Wira beranjak pergi ke tempat dimana kembang gula dipajang.
Luna memperhatikan papanya dia tersenyum menyeringai. Kemudian mendekatinya.
"Lunaaaa.... papa ga punya dollar huhuhu..." Wira memberi tampang memalukan.
Penjualnya tampak kebingungan.
"Hadeh..."
"Sorry for advance, here keep the changes..." Tutur Luna kepada penjual.
"Ok miss... Thank you..."
"Papa kan tau ini di Negara tetangga malah sok-sokan pake mau beliin kembang gula."
Wira cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mereka akhirnya membeli kembang gula dua buah. Satu untuk Luna dan satu untuk papanya. Mereka berdua memakannya sepanjang jalan.
"Maaf Luna.. Semua kepalsuan ini tidak datang tanpa sebab!" Wira yakin jika Liliana tahu tindakannya kali ini mungkin sepulang dari sini dia akan melayangkan surat gugatan perceraian.
"Kita kemana lagi?"
"Salon... Papa tampak menyedihkan..."
Wira cemberut "Apa yang salah dengan penampilan papa?"
Luna berhenti dan menyeringai memberitahukan ayahnya. "Hanya kurang SWAG tapi sopan layaknya G-Dragon rupa papa mirip dengannya tapi papa versi old!" Luna terkekeh.
Betapa tergila-gilanya Luna dengan GD dia fandom Bigbang atau sering dibilang VIP. Mungkin sebenernya dia menyukai GD karena rupanya mirip papanya.
"HAH? papa mo dibikin kayak naga?" Jawab Wira menganga.
Luna kembali terkekeh. "Sepertinya sudah sangat lama aku tidak merasakan hubungan yang harmonis antara ayah dan anak."
Mereka memasuki salah satu Barber shop tak jauh dari hotel.
"Hallo... Can I help u miss and sir?" Tanya pegawai.
"Yes.. Help me to make over my daddy as GD Bigbang... Here I show you the photo." Jawab Luna seraya memperlihatkan wallpaper GD yang Luna sukai.
"HAHAHA You're adorable girls!!"
"It's easy, believe us we'll make it happen..." Ujar pemangkas terkekeh.
"Ok.. Don't worry about price, as long satisfied I'll pay you.." Ujar Luna kemudian.
"Pah, aku tinggal sebentar Luna ada perlu..."
"Mau kemana? Kalo mereka nanya-nanya gimana?" Jawab Wira panik.
"Ya jawab aja Yes apa No gitu..." Ujar Luna datar.
Wira mendengus kesal sedangkan Luna tersenyum seraya pergi dari barbershop menuju suatu tempat.
Setelah kepergian anaknya Wira segera merogoh saku celananya dan menghubungi seseorang.
"Bobby.. Kemarilah."
"Baik tuan."
Selang 5 menit Bobby sudah berada di Barber Shop.
"Apa yang kamu dapat?!"
"Perjanjian kontrak pra nikah nona muda telah di terbitkan oleh tuan Mahessa. Semua menguntungkan nona muda."
"Hanya saja 1 syarat yang paling berat adalah tentang Adira.."
"Luna ini memang seperti yang dikatakan Liliana. Sangat mudah jatuh cinta!!"
"Apa isi perjanjiannya.."
"Jika Mahessa menyentuh Adira maka dia akan harakiri!"
BRAAAAAK!!!
Pemangkas yang berada disitu terkejut. Sebelumnya semua area telah dibersihkan. Wira tidak ingin ada orang lain selain dia dan semua pegawai barber shop ini telah dia suap menutup mulut mereka.
__ADS_1
"SELIDIKI KELUARGA RENALD!! TERLEBIH ADIRA! Berani sekali dia membuat anakku menggadaikan hidupnya demi dia!" Emosi Wira memuncak.
"Baik tuan..."
"Sebagai informasi tambahan dari kantor pusat XK. RG sedang dalam masa krisis.. Semua ulah tuan Mahessa.."
"Apa mereka akan mengalami kebangkrutan?" Wira khawatir.
"Tidak ini hanya sabotase sistem saja. Sepertinya agar tuan muda Adira sibuk tidak memperhatikan nona muda."
Wira menyeringai "Anakku mengguncang tiga keluarga kenamaan sungguh menakjubkan!!"
"Bocah pecicilan... Luna apa yang harus papa katakan pada mamamu nanti!!"
"Haiiisssshh!!!" Wira terlihat frustasi.
"Bersihkan semuanya.. Pastikan Liliana tidak mengetahuinya!"
"Baik tuan.. Saya undur diri..."
Semua kembali tenang sampai akhirnya Luna kembali ke tempat ayahnya yang tengah di make over dia mendekati ayahnya dan memberikannya beberapa set pakaian yang akan dikenakannya saat ini juga. Luna meminta ijin pada pihak salon agar papanya mengganti pakaiannya dan beberapa saat kemudian.
"WOW! FANTASTIC BABY!!!!" Pekik Luna kegirangan.
Rambut Wira dipotong tipis rapih dikedua sisi namun atasnya dibiarkan hanya dirapihkan sedikit. Satu set kemeja polo serta outer sweater dan celana kain berikut sepatu kulit berharap tampilan papanya mirip GD. Tak lupa dia kini tengah memberikan tindik imitasi di telinga papanya yang akan selalu menuruti setiap kemauan gadisnya. Lengkap sudah Luna menambahkan kacamata hitam yang cocok dengan bentuk wajah papanya.
"Ga bisa hang out bareng GD asli kawe nya pun jadi. HAHAHAHA" Luna mulai terlihat menggila.
Seluruh pegawai barbershop terkekeh melihat tingkah laku keduanya. Papanya menirukan gerakan ganster yang merapikan rambutnya dengan sisir dari samping. Mereka keluar dengan suka cita.
"Kemana lagi kita princess?"
"Disneyland, karokean, makan kemudian shopping dan nanti kita bisa tambahkan lagi...." Ucap Luna bergegas.
Wira tersenyum haru. "Terima kasih tuhan aku di ijinkan bersama putriku kembali... Bahkan bisa melihatnya tersenyum suatu kebahagian tak terkira. Di setiap musibah selalu ada hikmahnya." Batin Wira.
Kini Luna memasuki area Disneyland dia membeli tiket setelahnya seperti biasa membeli property untuk dikenakan olehnya dan papanya. Wira dibelikan topi buaya dan Luna topi Daisy. Mereka mampir di stand makanan. Luna memesan hot dog dan papanya Burger.
"Enaknya muter lagu Zutter GD sambil joget nih... Papa sebagai GD dan gue abang T.O.P jalan songong kek kang tagih utang... Makan hotdog sama burger sambil jalan.. Ya tuhan saking stressnya gue sampe se halu ini!!!" Rutuk Luna dalam hati.
Mereka menikmati waktu bersama yang Luna namai Daddy Girl Out kini mereka tengah berada disalah satu tempat karaoke yang tak jauh dari sana.
Luna menaruh lagu Bigbang di playlist menyuruh ayahnya menyanyi sesuai teks dan ekspresi mengikuti di MV.
"Ya tuhaaan lagu apa ini!!! Bahasa mana inii!!" Rutuk papanya.
"Papa berisik cepat nyanyi..." Pekik Luna tak tahu diri.
"WOW FANTASTIC BABY...DANCE UHUUUU I WANNA DAN DAN DAN DAN DANCE... FANTASTIC BABY..." Luna menyanyi dengan menari mengikuti kemudian menunjuk papanya untuk lirik berikutnya.
"BOOM SHAKALAKA... BOOM SHAKALAKA....UUU...UUU" Wira tak mau kalah crazy dengan anaknya.
Luna menengguk gelas winenya. Dia tersenyum melihat tingkah papanya. Sekali lagi dia dikejutkan dengan apa yang terjadi di hidupnya kini. Dia menyeka sudut matanya yang berembun. Papanya tidak mengetahui Luna diam-diam memesan wine yang dulu sering dia pesan dikala hang out bersama temannya semasa kuliah. Tentu saja mantannya yang mengajarinya. Saat ini dirinya sedang dalama perasaan putus asa.
"Lunaa.. Ada sepedah... Ayo papa bonceng..." Pekik Wira.
"Aku sudah besar papa tidak akan mampu menarikku..."
"Eeeiitss... Papa ini sangat kuat you know!! Ayok..."
Sepanjang perjalanan Luna merangkul papanya. Dia mencoba kembali mengingat bagaimana dulu dia belajar bersepedah dengan papanya bahkan papanya lah yang mengajarinya menghidupkan mobil di usianya yang masih kecil.
* * * * *
"Lunaaaaa.... Selamat ulang tahun sayaaaang..." Pekik Wira saat Luna tengah pulang dari sekolah.
"Papa tidak lupaaaa?" Luna menghambur dipelukan papanya.
"Eeeittss mana mungkin lupa.. Ini hari kelahiran putri kesayangan papa... Ayok papa ajak jalan-jalan..." Ajak papanya kemudian.
"Tapi tadi pagi papa sudah tidak di rumah dan tidak membangunkanku..." Luna cemberut.
"Haha maafkan papa sayang... Papa bangun lebih awal demi bisa pulang awal juga.. Papa ijin bekerja setengah hari demi merayakan ulang tahunmu sekarang..." Wira meyakinkan putrinya.
"Mama ga ikut?" Tanya Luna pada mamanya.
Mamanya mendekat dan mengacak rambutnya. "Papa bersikeras hari ini hanya kalian berdua saja.. Dia bilang mau ngedate sama kamu." Mama tersenyum kemudian memeluk Luna.
"Happy birthday sayangnya mama.. Sudah hampir mau jadi gadis cantik... Doa terbaik untukmu sayang..." Ujar Liliana lembut.
"Ayoooo sayang nanti keburu malam kasian mama dirumah sendiri..."
"Aku ganti baju dulu!" Luna menghambur melempar tas punggungnya kesegala arah dan baju seragam sekolahnya.
"I'M READYYY YEAAAAH... BYE BYE MAMAAA..." Pekik Luna setelah menaiki mobil mereka.
__ADS_1
"Hati-hati sayang..." Jawab Liliana.
Setelah melaju beberapa meter Luna bertanya pada papanya.
"Kita kemana pah?"
"Ke kota S..." Jawab papanya mantap.
"Ohh ya?"
"Kamu bilang kamu mau sepeda kan? Mari kita membeli sepeda!!" Jawab Wira semangat.
"Benarkaaah? Benarkaaaah? Aaaaahhh aku senaaaang..." Pekik Luna kegirangan.
Sepanjang perjalanan mereka bernyanyi bersama dan berjoget mengikuti lagu yang diputar di dalam mobil. Mereka tiba di kota S dan di salah satu area pusat perbelanjaan ternama. Wira memarkirkan mobilnya sengaja jauh dari lokasi toko yang akan mereka kunjungi. Setelah berjalan sekitar beberapa ratus meter Luna mengeluh cape.
"Papa ini masih jauh tau!!!" Rutuk Luna.
"Jangan kebanyakan ngeluh sesekali menikmatinya ini kan namanya jalan-jalan." Ujar Wira dengan kekehan.
"Aku menyesal... Huhuhu" Rengek Luna.
Setibanya di toko sepeda Luna melupakan rasa capenya kemudian menghambur kesana kemari memilih sepeda yang dia inginkan.
"Luna sepertinya kita beli yang hitam itu ya.. Bagus ada keranjangnya juga..." Ujar Wira menyarankan.
"Tapi aku mau warna pink itu... Yang hitam terlalu besar untuk aku gunakan sekarang!" Hardik Luna.
"Ini namanya asas manfaat dimana kita membeli barang yang bisa digunakan dalam jangka panjang... Warna pink itu kamu SMP sudah tidak bisa digunakan!" Wira kembali meyakinkan.
"Bilang aja uang papa ga cukup.." Sindir Luna.
"Hahahaha ketahuan ya..." Wira menggaruk kepalanya.
"Kenapa ga minta tambahan uang sama mama..." Rutuk Luna masih cemberut.
"Eii jangan dong ini memang niat papa membelikanmu sepedah dari hasil kerja keras papa!" Dengan semangat membara Wira kembali meyakinkan.
"Huhuhu... Ya sudahlah..." Luna pasrah.
Wira segera membayar sepedanya di kasir.
"Cepat Luna naik papa bonceng..."
Dengan masih cemberut Luna menaiki sepedahnya.
"Papa sengaja memarkirkan jauh agar kita bisa keliling kota dulu dengan sepeda ini... Sebelumnya kita bisa mampir ke mekdi beli makan dan es krim monas yang selalu kamu sukai... Gimana?"
Saat ini Luna sedang merentangkan kedua tangannya menghirup udara segar dan menikmati semilir angin yang menerpanya.
"Asiiik mau pah... Makasi papa..." Pekik Luna.
"Setelah ini kita mampir tempat kak Lina?" Tanya Luna.
"Tidak sempat... Lagian ini hari biasa mbakmu pasti sedang bekerja sayang... Akhir pekan kita akan berkunjung..." Jawab Wira lembut dan Luna mengangguk.
Dia menikmati jalan berdua bersama papanya. Mereka akan singgah di tempat-tempat tertentu menikmati waktu bersama ayah dan anak bahkan walau hanya sekedar menggambil foto. Empat jam lebih mereka bersenang-senang. Kemudian segera pulang sebelum nyonya rumah mengomel karena kemalaman setelah sebelumnya membeli pesanannya terlebih dahulu. Kini mereka tengah berada di rumah. Luna tertidur saking lelahnya. Wira tersenyum seraya menggendongnya.
"Lah udah tidur lagi tumben..." Jawab Liliana.
"Iya kecapean dia... Siapin air ma, papa akan membasuh kakinya..."
"Iya pah..."
Kemudian Wira menggendong Luna menuju kamar mandi terlebih dahulu untuk mencuci kaki Luna. Sudah menjadi kebiasaan Wira jika anaknya tidur dimana saja di rumah dia akan menggendong dan mencuci kaki sebelumnya. Luna sangat menyukai hal ini dia selalu berpura-pura tertidur agar papanya mencuci kakinya. Wira meletakkan Luna di kasurnya.
"Tidur nyenyak putri kesayangannya papa... Maafkan papa belum bisa membelikan yang kamu mau... Sehat terus sayang... Panjang umur dan bahagia selalu.." Ujar Wira seraya mengecup kening Luna kemudian bangkit mematikan lampu dan menutup pintu.
Setelah pintu tertutup Luna terbangun. Dia pura-pura tidur barusan.
"Makasi ya pah... Luna senang sekali... You're the best daddy ever!!!" Kemudian Luna melanjutkan tidurnya.
* * * * *
"Selama ini aku membohongi diriku sendiri. Bukan karena aku kurang kasih sayang atau masa kecil kurang bahagia. Tetapi aku tengah merindukan kebahagian kami dahulu sebelum negara api menyerang...." Luna kembali meneteskan air matanya.
"Aku selalu mengingatnya dan aku merindukannya...."
"Di kehidupanku dulu Tuhan memberikan Adira agar aku kembali merasakan kasih sayang seorang ayah... Bahkan sesungguhnya Adira adalah suami idaman bagi sebagian orang hanya saja aku terlalu egois...."
"Di kehidupanku saat ini Tuhan kembali memberikan kasih sayang papa yang tengah aku rindukan selama ini... Aku ingat bagaimana aku menangisi dan menyesali sepeninggalan papa aku tidak pernah berkomunikasi lagi dengannya. Padahal aku adalah satu-satunya anaknya yang dia manjakan sepanjang hidupnya..."
"Saat ini yang jadi masalahku adalah aku tidak siap jika harus kehilangan Adira... Entah alasan logis yang mana aku mempertahankannya walau dulu saat berdoa meminta dihidupkan kembali dari awal aku menginginkan berpisah dengannya."
Luna menyeka buliran bening yang terus turun dari tempatnya. Dia tidak ingin papanya mengetahui anaknya kini tengah depresi.
__ADS_1
* * * * * * * * * *