Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 08 : Testpack


__ADS_3

Hampir setengah jam Luna menunggu Adira, kemudian ketukan pintu terdengar menandakan prianya telah sampai. Luna membuka pintu dengan senyuman manisnya, Adira menatapnya tidak percaya. Betapa dia menggilai wanitanya itu saat ini. Apapun yang di inginkan Luna dia akan mencoba memenuhi semuanya.


"Apa mungkin aku jatuh cinta karena telah merasakan tubuhnya?"


"Tidak!"


"Aku jatuh hati saat pertama kali melihatnya di bawa oleh Rio ke kosan. Tidak ada yang lebih cantik dari wanitaku... Tidak ada juga yang mampu membuat adik junior ku gelisah jika bukan Naluna Maharani."


"Dasar rubah betina mesumku!!"


Adira terus menatap Luna yang tengah makan dengan lahapnya. Kemudian kecurigaannya kembali mencuat. Sudah tidak bisa di sembunyikan bagaimana Luna sangat memperhatikan penampilan dan kecantikannya. Mungkin salah satu daya tarik Luna, walaupun tidak pernah menonjolkan make up tebal namun semuanya pas dan enak di pandang mata. Terlebih parfume Luna yang match dengan aroma alami tubuhnya. Membuat Adira sangat betah menciuminya dan berpikir nista.


"Kok makan kamu banyakan sekarang ya..." Tanya Adira mengoda Luna.


"Apa?" Luna seolah di berikan pertanyaan Kok gendutan?! Rasanya terluka tapi tak berblood!


Adira tertawa lirih dia telah menyelesaikan makan malamnya. Membantu Luna merapikan peralatan bekas makan dan kembali duduk di tepi ranjang merogoh saku jaket mengambil ponsel bersiap push rank!


Luna telah keluar dari kamar mandi dan memilih menuju ranjang mengambil remote tv dan berbaring.


"Hey!!"


"Mulai lagi nih petugas kesehatan!!" Rutuk Luna lirih.


"Habis makan mana boleh tidur yang!"


"Iya bawel..."


Adira menghampiri Luna dan duduk di belakang tubuh Luna. Dia mencium pucuk kepala Luna sesekali memainkan tali dres tipis Luna.


"Mas ko tumben ga pulang cepet ga maen PS sama Rio CS kah?" Tanya Luna.


"Enggak aku mending sama kamu seharian!!"


"Idih... Disini juga dia maen hape mulu!!"


"SEBAL!!" Sungut Luna kecewa.


"Emang kamu bisa aku sentuh sayang?" Goda Adira kembali memainkan ponselnya.


Luna terpaku menyadari ternyata perkataan Adira selalu menusuk relung jiwanya.


"Jadi selama ini hubungan kami di dasarkan hubungan badan..."


"Tapi memang benar, dulu aku ingat saat pertama kali melakukan hubungan badan yang kesekian kami bahkan bisa mengobrol dan bercanda disaat tengah akan klim*ks."


"Miris sekali kehidupan percintaanku..."


Normalnya Adira memang tidak akan mengajaknya berkomunikasi banyak, bahkan terkesan tidak akan sepemikiran dengannya.


Luna bangkit dari duduknya dan beranjak menuju kamar mandi. Luna sedikit mengusap lembut perutnya.

__ADS_1


"Sayang kamu baik sekali tidak membuat ibu mual saat ini."


"Tapi perasaan ibu sedang tidak nyaman..." Luna kembali terisak di kamar mandinya.


Entah mengapa dia menjadi sangat sangat sensitif saat ini. Kemudian ketukan pintu kamar mandi membuyarkan semuanya. Luna berpura-pura tengah menyelesaikan buang air kecilnya.


"Sayang kamu muntah lagi ya??"


"Enggak ko mas, aku abis pipis..."


"Ko mas mikir gitu sih..."


Luna tidak menyangka sesibuk apapun prianya dengan ponselnya entah mengapa dia merasa bahwa di waktu bersamaan prianya itu bisa mengetahui apa yang di alami kekasihnya seperti saat ini.


"Sayang..." Adira mendekati Luna dan merogoh saku jaketnya yang dia gantung di hook sebelah Luna.


Deg!


Entah mengapa perasaan Luna tidak enak. Debaran jantungnya tidak menentu. Dia ingat siang tadi Adira mampir ke apotek dan...


"Apa itu mas?"


"Ini testpack sayang..."


"APAAA?!"


Sejujurnya Luna sudah tahu, sudah sangat sering dia gunakan saat dia telah menikah sekalipun karena Adira melarang Luna memakai kontrasepsi bahkan si mesum di depannya sangat senang jika Luna hamil. Jarak usia anak keduanya saja hanya terpaut 2 tahun saja. Bahkan tanpa Luna ketahui sebelumnya saat mereka bertengkar di hari naas itu Luna tengah kembali mengandung benih cinta mereka yang ketiga.


"Mas curiga aku hamil?" Tanya Luna tidak percaya.


"Kamu selalu bertingkah aneh beberapa hari ini... Ditambah kamu muntah, pipis terus dan kamu belum dapat menstruasi mu kan sayang?!"


"Harusnya tanggal ini aku tidak bisa menjamahmu kan sayang?!"


Luna mengatupkan bibirnya erat, dirinya sungguh takut jika Adira mengetahui kebenarannya mereka akan menjalani kembali kehidupan yang sudah dia jalani sebelumnya.


"Aku tidak menyangka mas Dira bisa mengetahui detail diriku. Bahkan menstruasi ku juga."


"Sebenarnya apa yang aku lewatkan di masa ini saat itu?"


"Adira tidak seperti yang aku pikirkan. Buktinya Adira benar-benar mencintai dan peduli padaku saat ini!!"


Luna menatap kalender di nakas, dia berpikir mungkin kekasihnya tahu karena dia selalu menyilang dengan spidol warna menandai masa menstruasi nya.


"Mas, aku emang sering ganti jadwal menstruasi itu normal ko mas..."


"Sssttt..." Adira menaruh jari telunjuknya di bibir indah Luna.


"Pake ya sayang, kita bakalan tahu hasilnya besok pagi."


"Besok aku anterin kamu kerja ya sayang..."

__ADS_1


"Luna, kamu ga usah mikir macam-macam... Kalau kamu hamil aku akan tanggung jawab... Aku akan menikahi mu secepatnya."


DEG!!!


Apa yang dia khawatirkan akhirnya terjadi juga, dia tidak menyangka juga dengan cepat Adira menyadari perubahan dirinya.


"Baiklah..." Jawab Luna sendu. Adira menyerahkan kotak kecil di tangan Luna dan memeluknya erat.


"Aku mencintaimu sayang... Aku minta maaf menjeratmu sampai seperti ini. Aku berjanji aku akan bertanggung jawab jadi jangan pernah berpikir yang bukan-bukan okay?" Adira melonggarkan pelukannya.


Luna mengangguk perlahan dia memaksakan senyumannya seolah tidak terjadi perang dingin dalam dirinya. Mereka kembali bertautan mesra.


"Aahh.. Aku sungguh ingin sayaaang.." Bisik Adira di telinga Luna.


Saat ini Luna tengah berada dalam pangkuannya, dia sengaja menggoda prianya dengan terus menggerakan tubuhnya maju dan mundur.


"STOP IT!!" Rutuk Adira menggigit bukit indah Luna yang setiap kali di rumahnya dia tidak akan memakai kacamata pengamannya.


"AARRGHH!" Luna menjerit namun dia segera menutup mulutnya agar suara itu tidak terdengar keluar. Adira memasukan jemarinya ke dalam inti Luna.


"Sayaaang jangaan.." Protes Luna.


Namun tubuh Luna merespon lain dari pikiran dan hatinya yang menolak tapi tubuhnya terus mengisyaratkan menginginkannya.


"Sebentar ya sayaang sedikit aja!! Satu kali masuk aja abis itu aku keluarin..." Bujuknya tidak masuk akal.


"Bullshit!!" Umpat Luna di tengah hasratnya yang mulai memuncak.


Luna segera bangkit melepaskan permainan jari kekasihnya. Wajah sayu yang menggoda membuat Adira kembali merasakan adiknya meronta meminta haknya.


"Huh!!"


"Aku pulang ya sayang..." Ujarnya mencoba benar-benar tidak melakukan dengan kekasihnya.


"Terima kasih." ujar Luna kembali memeluk kekasihnya.


"Setelah aku tahu dia hamil aku akan melakukannya sepanjang hari dan memasukannya di dalam!!" Adira tengah berpikir kotor saat ini.


Dia sangat yakin bahwa kekasihnya benar-benar hamil.


"Aku ingat, saat kita di laguna minggu lalu dia bilang tengah dalam masa suburnya. Aku telat mencabutnya saking enaknya!"


"Aku yakin benihku tumbuh dalam rahim mu sayang..."


Bukannya menyesal Adira justru tengah melengkungkan senyumnya bahagia. Dia benar-benar akan menikahi Luna dalam waktu dekat ini. Adira mengusap lembut perut Luna yang dia rasa memang membuncit tidak serata saat minggu lalu dia menjamah wanitanya. Luna menepis gerakan tangan Adira yang dirasa janggal.


"Mas..."


"Aku benar-benar tidak ingin pulang... Kenapa rasanya aku sudah pernah hidup lama denganmu dan tidak ingin berpisah darimu!"


Luna membulatkan matanya, dia menutup mulutnya perlahan.

__ADS_1


"Tidak mungkin..." Gumamnya lirih.


* * * * * * * * * *


__ADS_2