
"ANDIN!!"
Luna dan Sandra berteriak berbarengan mengetahui siapa wanita di belakang mereka. Andin terlihat pucat, dia sungguh tengah ketakutan. Selain itu dia heran apa yang tengah Luna dan Sandra lakukan bersamaan dengan dirinya di tempat ini.
"Apa kamu mengenalnya Luna?" Tanya Wira mendekat dengan gadis itu.
"Lepaskan dia pah!" Lirih Luna.
"APA? Papa?!" Batin Andin terkejut kini dia semakin takut.
"Tuan, satu lagi penyebar rumor nona muda."
Bruukk!
"SHERLY?!" Pekik Sandra.
Luna memperhatikan mereka. Sudah tidak heran gosip lama dia juga tersebar karena dua orang ini. "Aku yakin Andin sangat dendam denganku."
"Aku tidak menyangka dia sangat mencintai Bram."
"Hanya karena Bram jauh lebih menyukaiku."
"Apa-apan ini!!!"
"Lepaskan!!"
"Luna apa yang tengah kamu lakukan cewek murahan!!"
Sherly yang lebih berani di banding dengan Andin mengumpat setelah dia melihat sosok Luna di hadapannya.
PLAAAAAAK!
Sebuah tamparan keras Bobby layangkan untuk Sherly. Wanita itu ketakutan luar biasa. Wira dengan cepat mengapit kedua pipi Sherly dan menatapnya dingin.
"Berani kamu menghina putri kesayanganku."
"Kau cari mati!!"
"PAPAAA!!"
Luna mencegah apa yang mungkin bisa ayahnya lakukan. Wira melepaskan cengkramannya dan mendorong tubuh Sherly kuat.
Bruuk!
"Papa?" Lirih Sherly terkejut, tubuhnya bergetar hebat.
"Kamu terlalu baik Luna!!!"
"Jika di biarkan akan semakin ngelunjak dan semakin tidak tahu aturan!!"
"Bobby aku ingin datanya!!"
"Baik tuan kami butuh waktu 5 menit mengexport datanya."
"Maafkan aku Luna..."
"Tolong lepaskan aku..."
"Aku tidak sengaja!!"
"Semua ini karenaa...
"Karena..."
Andin segera berlutut dan memegang kaki Luna memohon ampun. Dia terisak merasa menyesal sudah melakukan hal ini. Anak buah Wira melepas paksa cengkraman Andin.
"Aaahh..." Pekik Andin
"BERANI KAMU MENYENTUH NONA MUDA KAMI!!"
"Andin..."
Luna merentangkan tangan pada bodyguardnya dan bersimpuh menatap tajam wanita yang tengah tersungkur itu. Dengan tatapan dinginnya Luna menyelidik Luna menekan wanita didepannya.
"Aku tahu kamu kecewa atas pengkhianatan Bram padamu."
"Bram sudah meminta maaf atas namu mu minggu lalu karena menghancurkan reputasiku sebelumnya."
"Aku bahkan dengan sukarela memaafkan mu tidak melakukan perhitungan."
"Kali ini kamu sudah keterlaluan!!" Luna mengapit wajah Andin sejenak kemudian membuangnya kasar.
"Bram?!"
"Lelaki mana lagi ini Luna!!" Wira kian frustasi semakin yakin Luna mahir menyihir para pria.
Bahkan kedua kakaknya tidak pernah seekstream Luna dalam hal berhubungan dengan lawan jenis.
Bobby menundukan wajahnya menahan tawanya melihat ekspresi tuan Wira atas kelakuan putrinya.
"Yang ini tuan..."
Bobby menampilkan gambar hologram yang dia pancarkan dari proyektor di jam tangannya. Luna dan ketiga temannya menganga atas kecanggihan yang membuat mereka terlihat norak.
"Sepertinya aku pernah melihat dimana?" Gumam Wira menyelidik berpikir.
"Bandara HSN dua bulan yang lalu tuan." Jawab Bobby segera.
"Oh iya!"
"Kamu memeluk lelaki ini setelah berpamitan dengan Diaz bukan Luna?!" Ujar Wira datar menatap Luna yang kini terpaku sedang merestrat otaknya.
"Dia teman yang kamu bilang tinggal satu wilayah di kota T dengan mba Rena?!"
"Iya..." Luna menjawab datar penuh kebingungan.
"Tapi aku tidak ingat yang ayah bilang di bandara pamit dengan Diaz?"
"Aku bertemu dengannya?"
"Lantas kenapa aku harus merangkul Bram?!"
Luna menatap ayahnya menyelidik mencari tahu. Di kehidupannya saat ini bahkan saat lalu dia telah habis kan. Dia tidak pernah ingat bahwa dia bertemu lagi dengan mantannya tahun ini.
"Kamu kehilangan ingatan mu Luna..."
Tuan Wira merendahkan suaranya, dia merubah raut wajahnya seketika berubah sendu. Luna akhirnya mengerti, wajar jika dia tidak ingat.
"Apa kamu lupa juga bahwa mama pernah menemui mu bulan lalu?"
"Kalian bahkan bertengkar karena sehari setelah kalian disini kamu kebali melupakan segalanya!"
__ADS_1
Luna terdiam tanpa kata, kepalanya terasa di tusuk ribuan jarum dalam waktu bersamaan seperti sebelum-sebelumnya. Setiap kali dia menyuruh otaknya bekerja keras mengingat kejadian bulan lalu. Hanya kejadian bulan lalu. Tidak dengan masa lalu yang masih dia bisa usahakan tanpa menyakiti kepalanya.
Tuan Wira tidak tahan untuk tidak menitikan air matanya, dia juga memegang dadanya erat. Sesak menjalar hingga esofagusnya. Dia tidak bisa lagi menyembunyikan kenyataan pada Luna. Jika istrinya masih bisa bertahan untuk tidak mengungkapkan kebenarannya maka Wira sungguh ingin segera menyelesaikannya. Dia bahkan telah siap jika akan berperang dengan Wijaya saat ini.
Semua pernyataan berat ayahnya membuat Luna semakin sesak nafas, pandangannya kabur dan pingsan setelahnya.
"NALUNAAAA!!" Pekik Wira.
"Maafkan papa sayang!!!"
Wira mengangkat tubuh putrinya sebelum menggendongnya keluar dari area resto, tuan Wira memberi titah pada asistennya.
"Bobby!"
"Lakukan kedua wanita ini seperti biasa..."
"Buat mereka di keluarkan oleh EPS tanpa pesangon sama sekali."
"Buat mereka di black list di beberapa perusahan besar selama satu tahun!!"
"Sebarkan rumor jelek untuk mereka dan bilang mereka adalah wanita hina!!"
"Jangan pernah lagi menampakan diri kalian di hadapan putri ku!!"
"Jika kalian berani menyentuh batas kesabaran ku maka kalian akan memohon untuk mati di banding hidup!"
DEG!!
Kedua teman Luna membulatkan mata mereka, tenggorokan keduanya tercekat atas apa yang akan menimpa mereka nantinya.
"Sandra..."
"Bobby antarkan dia pulang."
"Sesuai janjiku kami akan memberikan kompensasi yang pantas."
"Terima kasih selalu ada untuk putri ku!"
"Mohon bantuannya kelak aku mengandalkan mu!!"
"Terima kasih om..."
"Tapi sungguh aku tidak meminta balasan ini."
"Aku benar-benar menganggap Luna seperti saudara ku."
"Lalu bagaimana keadaannya?"
"Luna akan seperti ini sepanjang hidupnya selama belum melakukan terapi dan pengobatan."
"Setelah ini dia mungkin akan kembali melupakan apa yang telah terjadi hari ini."
"Rumor jelek ini besok akan menghilang dari EPS jangan pernah membahasnya kembali di depan Luna."
"Baik om." Sandra mengusap pelupuk matanya.
Sandra sendiri masih trauma setelah kejadian di pulau N bersama Mahessa saat itu Luna histeris dan pingsan. Wira berlalu membawa putrinya kembali ke apartemennya di ikuti beberapa bodyguard yang menyertai mereka. Sisanya di peruntukan untuk teman-teman Luna.
"Jika aku menjadi kalian aku tentu tidak akan seberani kalian dalam membuat rumor buruk ini!"
"Terima lah konsekuensi atas perbuatan hina kalian!!"
"Bagi keluarga Luna menghilangkan keluarga kalian hanya sekejap saja."
Keduanya terus saja menangis tanpa bisa berkata apapun. Sandra kembali mendekati Andin dan bersimpuh menatap tajam wanita itu.
"Andin, kamu sungguh menjijikan."
"Bukan kah Bram juga pelampiasan mu?!"
"Mengapa kamu merasa begitu di rugikan?"
"Diantara anak-anak IT siapa yang tidak menyukai Luna?!"
"Tidak ada!"
"Semua menyukai Luna, mereka berebut mendapat perhatian Luna."
"Sayangnya Adira yang menang dari Empat Serangkai itu."
"Kamu juga Sherly, nyali mu sangat tinggi!!"
Sandra beralih menatap Sherly yang sama menyedihkannya saat ini.
"Adira menyukaimu?"
"Dalam mimpi mu!!"
"Dia bahkan tidak mungkin menyukai wanita ja*lang yang senang berselisih dengan orang-orang!"
"Apalagi Adira adalah seorang CEO!"
"Kalian berdua sungguh bernasib sial!!"
"Aku turut berduka cita!!"
Setelah puas mengeluarkan kekesalan Sandra, dia menghampiri asisten papa Luna. Bobby yang mendengar apa yang di bicarakan Sandra melengkungkan senyumnya senang. Keduanya keluar kawasan restoran setelah Bobby menginstruksikan anak buahnya untuk melakukan apa pada keduanya.
Bobby membukakan pintu mobil Maybach milik tuannya. Sedari awal dia di jemput oleh orang Luna hatinya berdegup kencang tidak karuan. Kali pertama dia menumpangi mobil berkelas seperti ini, bahkan tadi dia melihat Royal Royce sungguh tidak pernah dia pikirkan sebelumnya sahabatnya seorang sultan.
"Saya sungguh syok ternyata Luna seorang sultan."
Sandra mengawali percakapan, dia ingin mengenal lebih jauh lagi tentang sahabatnya. Berharap asisten papa Luna mau memberikannya informasi mendetail.
"Nona muda bangsawan murni Negara S."
Sandra menganga. "Tapi, dia kok mengisyaratkan dirinya kaum missqueen!"
"Maaf om, bukan nya apa-apa."
"Saya mengenal Luna dari awal dia masuk kantor."
"Tapi hingga detik ini Luna tidak pernah memberitahukan pasal identitas keluarganya."
"Setiap ditanya selalu menjawab keluarganya keluarga biasa nothing special!"
Bobby melengkungkan senyumnya sangat tampan di mata Sandra. Walau sudah terlihat berumur tapi asisten tuan Wira ini sungguh rupawan. Sandra saja sampai tergoda dengan rupanya yang seperti sosok sugar daddy.
"Nona ketiga memang tidak mengetahui silsilah keluarga aslinya sedari kecil."
"Hah?!"
__ADS_1
"Saya ikut keluarga Kusuma dan Tan sudah dari 40 tahun yang lalu saat saya berusia 15 tahun."
"Saya ceritakan sedikit tentang keluarga besar mereka."
"Tuan Wira Kusuma adalah anak kedua dari lima bersaudara keluarga Kusuma Atmadja, yaitu pemilik lahan pulau L atau dataran L yang di bagi menjadi beberapa wilayah."
"Salah satunya Distrik S pastinya kamu tahu Luna akan mengatakan dia berasal dari sini bukan?!"
Sandra mengangguk antusias.
"Distrik S bagian dari kota S ini sepenuhnya milik tuan Wira."
"Terjadi perselisihan di antara ahli waris Kusuma sampai akhirnya Kota S dan Kota L sudah beralih kepemilikan sepenuhnya milik tuan Wira."
"Insiden ini lah yang membuat nona Luna jadi sasaran para penjahat untuk membalaskan dendam mereka pada tuan Wira."
"Tuan Wira juga mengantongi beberapa wilayah dataran di Aussie."
"Sedangkan nyonya besar..."
"Siapa yang tidak tahu Liliana Tan, anak kedua dari bangsawan Bo Ang Tan pemilik 50% dataran Negara S."
"Mereka mempunyai hak khusus kenegaraan disana, bahkan kekuatan militer Negara S di dukung kuat oleh Emperor."
"Perusahaan nomor satu Negara S."
"Bahkan kekaisaran tidak akan bisa menyentuh Emperor, jika tidak maka mereka mencabut dukungan militer mereka."
Sandra makin membuka lebar mulutnya hingga kering rasanya.
"EDAN SIH!!!"
"Hahaha!"
Bobby menertawakan respon kocak Sandra, Sandra bahkan sempat terengah mendengar penuturan pria paruh baya di depannya.
"Adira dan Mahessa kalian sungguh bagai remahan biskuit khong guan!!"
"HAHAHA!!" Bobby semakin terbahak dengan kepolosan sahabat nona mudanya.
"Simpan baik-baik informasi ini."
"Luna sendiri belum tahu sepenuhnya..."
DEG!!!
Sandra merasa tertekan saat ini, Bobby membuat situasinya menjadi serius.
"Tuan Wira demi menjaga keselamatan keluarganya dia menyembunyikan segalanya."
"Nyonya Tan selain keluar dari kebangsawanan dia juga pindah agama mengikuti tuan Wira."
"Semua memiliki konflik tersendiri."
"Jika bukan co-founder Emperor atau kaki tangan tuan Bo tentu saja tuan Wira tidak mungkin bisa menjadi menantu putri kebangsawanan Tan."
"Nona itu tiga bersaudara, tetapi berdasarkan kesepakatan garis keturunan Tan, mereka hanya mengakui dua anak saja yaitu kedua kakak Luna menjadi pewaris sah keluarga Tan."
"Sedangkan Nona ketiga yaitu Luna, dia tidak memiliki nama atau gelar bangsawan Tan tetapi sesuai kesepakatan seluruh aset Kusuma akan jatuh ditangannya."
"Karena hal ini maka sasaran musuh tuan Wira adalah nona ketiga jika di banding kedua kakaknya yang memang sudah memiliki security tersendiri dari keluarga Tan pihak manapun tidak akan berani menyentuh kedua kakak Luna."
"Nona ketiga sudah dua kali mengalami penculikan, dua kali mengalami kecelakaan dan koma."
"Hidupnya bahkan di pertaruhkan saat ini."
"Satu tujuannya yaitu menyiksa tuan Wira."
"Menjatuhkannya dengan menghancurkan putrinya."
"Sungguh harga yang pantas untuk menahan sebuah mahkota di kepalanya."
Setelah membuka mulut lebar kali ini Sandra menutup mulut dengan kedua tangannya dan tengah berkaca.
Bobby menceritakan panjang lebar hingga keduanya telah berada di depan pekarangan rumah Sandra.
"Sandra..."
Bobby menatap Sandra lekat membuat gadis itu salah tingkah.
"Banyak hal terjadi di hidup nona muda beberapa bulan kebelakang."
"Bisakah kamu membantu kami?!"
"Huh!" Debar jantung Sandra tidak karuan saat Bobby berucap dia sungguh tengah berfantasi liar.
"Apa yang bisa saya bantu?"
"Saya hanya orang biasa."
"Anda luar biasa tentu saja bisa mendampingi nona Luna dan sabar terhadap tingkahnya itu suatu keajaiban."
"Hahaha!"
Sandra terpaku dengan jawaban konyol Bobby.
"Ehhm!" Bobby kembali serius setelah tadi puas terbahak.
"Luna di prediksi hanya bisa bertahan beberapa bulan saja hingga awal tahun depan."
"Cedera di kepalanya yang di akibatkan dari kecelakaan tahun lalu masih belum sepenuhnya di sembuhkan."
"Jangan beritahukan siapapun termasuk tuan WIRA!!"
Bobby menatap tajam Sandra mengintimidasi dan mengancamnya.
"Intruksi ini datang dari nyonya Tan!"
"Jadilah asisten pribadi nona Luna."
"Bujuk dia untuk melalukan therapi dan pengobatan."
"Aku secara langsung akan menginstuksikan apa saja yang harus kamu lakukan."
"Nomor ponselmu sudah aku simpan."
"Jadi jangan coba-coba menghindar!!"
GLEK!!!
Bobby tersenyum datar, dia turun dan bersiap menemui keluarga Sandra dan melakukan apa yang tuannya instruksikan sebelumnya. Sandra masih menata debaran jantungnya, dia mendadak menjadi pendiam kali ini.
__ADS_1
* * * * * * * * * *