
Kondominium Beverly.
Mahessa tengah disibukkan dengan berbagai urusan bisnisnya termasuk untuk acara tahunan E.T besok.
"Farell, sudah sejauh mana persiapan untuk besok?" Tanya Mahessa menuang winenya.
"Sudah 90% tuan, tempat dan segala hal mengenai acara tahunan sudah 100%. Hanya saja, mengenai RG? Tuan ingin sampai tingkat berapa? Kali ini kita masih bertahan diangka 30%." Farell menjelaskan.
Mahessa terdiam, kemudian di manautkan kedua tangannya diatas meja.
"Sejujurnya aku tidak berniat mengambil alih atau mengakusisi RG. Mereka tidak pernah bermasalah denganku sejauh ini. Proyek property Laguna juga baru di phase 3 untuk mengembalikan modal besar kita kemungkinan besar hanya membuang waktu."
"Hanya saja demi membuat Adira sibuk dan tidak memperhatikan Luna seminggu kedepan. Aku rela harus kehilangan jutaan dollarku. Ini sepadan dengan apa yang akan aku dapatkan."
Mahessa menyeringai kemudian memerintahkan kembali Farell.
"Farell pastikan manipulasi laporan keuangan mereka bertahan hingga hari pernikahanku. Berapapun tim IT inginkan berikanlah. Bahkan janjikan mereka bonus tambahan jika hasilnya memuaskan."
"Berdasarkan info tambahan team IT khusus masalah RG mereka bilang sepertinya Tuan Adira melakukan pelacakan khusus. Kami hampir ketahuan." Tutur Farell hati-hati jika menyinggung tuannya maka habis sudah riwayatnya.
"Aku rasa kalian mengerti harus seperti apa bukan? Aku ingin semuanya bersih. Aku sudah membayar mahal untuk pekerjaan ini. RG memiliki sistem keamanan yang mumpuni hampir setara dengan kita. Apalagi Adira juga merupakan seorang ahli pemograman cepat atau lambat kita akan ketahuan."
"Bertahan hanya hingga hari pernikahan setelah itu kalian bersihkan jejak kita jangan sampai tersisa sedikitpun." Mahessa menekankan setiap perkataannya.
"Baik tuan. Saya baru mendapat kabar dari Fero dia baru sampai dengan ayah nona Luna. Apa yang anda akan lakukan?" Tanya Farell kemudian.
"Aku belum siap bertemu dengannya. Berikan dia tempat terbaik di hotel milik kita. Jika dia bertanya sampaikan saja perihal anaknya. Aku akan membahasnya bersama Luna besok."
"Sesuai perjanjian dia akan menghubungiku. Siapkan gaun terindah untuknya. Dia akan menginap disini tidak perlu disiapkan hotel."
"Baik tuan saya undur diri." Farell mengangguk seraya pamit keluar ruangan.
Mahessa kembali membuka ponselnya. Dia memperhatikan jelas wallpaper yang dia pasang di ponselnya. Foto Luna yang dia ambil secara diam-diam di Marina.
"Luna, tiga hari lagi kamu akan menjadi nyonya Mahessa Adyatama."
Mahessa menyenderkan tubuhnya dikursi kebesarannya. Matanya terpejam, kembali terlintas dipikirannya bagaimana mereka berhubungan gelap selama ini. Mahessa bahkan sering memutar rekaman CCTV rumahnya saat dia melenguh membuat darahnya semakin panas.
"Luna, belum pernah aku merasakan kebahagiaan yang kamu hadirkan sejauh ini."
Sejurus kemudian ponselnya berdering. Dia menyambar ponselnya namun raut wajahnya memperlihatkan kekesalan.
"Halo..."
"Honey, sudah beberapa bulan ini kamu mengabaikanku. Aku ingin bertemu.." Ucap seorang wanita disebrang sana yang tak ayal adalah Alena tunangan Mahessa saat ini.
"Ok. Kebetulan ada yang ingin aku bicarakan juga denganmu." Jawab Mahessa dingin.
"Benarkah? Oh I'm so happy honey... Kamu jemput aku di rumah ya." Pinta Alena manja.
"Kita bertemu di La Pétite setengah jam lagi aku akan berada disana.." Ujar Mahessa kemudian menutup sambungan telpon sepihak.
Tuut
"Farell siapkan aku mobil, dan booking tempat di La Pétite." Titah Mahessa.
"Baik tuan."
__ADS_1
Mahessa menyambar jasnya dan bergegas keluar ruang kerjanya menuju tempat yang telah dijanjikan.
Hanya berselang 10 menit lamanya Mahessa telah sampai di sebuah Resto. Para pelayan yang sudah sangat hafal dengan Mahessa segera mengarahkannya ke tempat yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
"Silahkan tuan..."
"Aku menunggu seseorang, hidangkan makanan dan sampanye seperti biasa." Titah Mahessa.
"Baik tuan, saya permisi dulu."
Tidak lama kemudian Alena tengah hadir didepannya.
"Sorry honey I'm late." Alena segera duduk di depan Mahessa. Dia tersenyum manja.
"It's okay. Kamu mau makan apa?" Tanya Mahessa.
"Apapun yang kamu pesan." Alena menjawab sumringah.
Alena tidak menyangka Mahessa akan mengajaknya dinner saat ini. Setelah hampir dua bulan Mahessa sulit ditemui. Jika Mahessa menerimanya karena perjodohan kedua orang tua mereka maka tidak dengan Alena. Sejujurnya Alena sudah lebih dulu jatuh cinta pada Mahessa. Dia adalah kakak tingkat Alena selama di Universitas.
Selama itu Alena sudah terpikat oleh pesona Mahessa. Namun untuk mendekatinya sangat sulit. Mahessa merupakan lelaki yang dingin terhadap seorang wanita. Bahkan rumor mengatakan Mahessa tidak pernah berpacaran selama hidupnya. Berbagai cara untuk mengambil perhatiannya namun selalu gagal. Beruntung Alena merupakan anak semata wayang dari keluarga Alister pelopor perusahaan konstruksi di Negara S. Ayahnya yang merupakan teman baik dari ayah Mahessa menjadi peluang yang besar baginya untuk mendekati Mahessa.
Mahessa adalah cinta pertamanya. Alena juga tidak pernah pacaran dengan siapapun. Karena yang dia inginkan hanya menjadi wanita dari seorang Mahessa. Dengan buru-buru Alena meminta kepada ayahnya agar menjodohkannya dengan Mahessa.
Alasan yang masuk akal adalah kerja sama bisnis. Tentu saja Alister menyetujuinya. Mahessa merupakan bibit unggul dan dalam waktu yang singkat dia merupakan pengusaha termuda yang sudah menduduki tingkat ketiga di negaranya. Tanpa persetujuan dari Mahessa maka pertunangan itu berlangsung. Bagi keluarga Adyatama Alena juga merupakan calon istri yang mumpuni terlebih dari keluarga kenamaan dan salah satu teman baik Adyatama. Walau secara umum bagi Adyatama tidak ada syarat khusus agar menjadi menantu mereka. Selama Mahessa menginginkannya itu sudah cukup.
Semenjak Mahessa mengambil alih perusahaan Adyatama sudah lama pensiun dari dunia bisnis. Kekayaannya yang terus mengalir berasal dari kerja keras Mahessa. Mereka juga sering berkeliling dunia menikmati kebahagian sebagai pasangan suami istri.
Kedua orang tua Mahessa selalu menjadi rule mode Mahessa dalam berumah tangga kelak. Adyatama mencintai dan sangat setia dengan istrinya Sesilia. Namun akhir-akhir ini tekanan dari Alister membuat Adyatama sedikit mengotot padanya agar segera melangsungkan pernikahan. Dilihat dari usia Mahessa yang sudah cukup dan Sesilia juga sangat ingin segera menimang cucu. Dia merasa sangat kesepian dirumah. Anak semata wayangnya telah tumbuh dewasa dan sangat jarang dirumah. Maka dalam dua bulan ini dia selalu ditekankan untuk segera melangsungkan pernikahan.
"Nak, kamu sudah memasuki kepala tiga namun belum juga meminang seorang wanita. Alena cukup baik untukmu. Bukankah kalian telah bersama selama satu tahun terakhir ini?" Tanya Adyatama saat Mahessa berkunjung kekediaman besar.
"Sayaaang. Cinta itu terkadang tumbuh seiring waktu. Kamu baru saja menjalani satu tahun. Mungkin kamu terlalu sibuk makanya tidak bisa liat ketulusan Alena..." Terang Sesilia kali ini meyakinkan Mahessa.
Mahessa hanya terdiam, kemudian tanpa dia sadari dia mengucapkan sebuah kalimat.
"Aku akan menikahi seseorang yang aku inginkan dan yang aku cintai tentunya."
"Bersabarlah.... Bukankah kalian lebih baik kembali menikmati masa tua kalian dengan berkeliling dunia. Aku disini yang akan menjamin semua finansial kalian." Imbuhnya ketus
Kemudian hanya hembusan kasar dan gelengan kepala dari kedua orang tuanya.
"Mami sudah sangat ingin menggendong cucuu sayaaang... Kamu tega sama mamiii... Mami disini kesepian... Kamu anakku satu-satunya selalu lupa mengunjungi mami... Kamu... Huhuhu." Ujar Sesilia seraya pura-pura menangis.
"Mulai lagi dramanya....." Rutuk Mahessa.
* * * * *
Saat ini makanan dan minuman tengah dihidang diatas meja. Mahessa masih bersikap dingin seperti biasanya. Berbeda jika yang didepannya adalah Luna. Dia akan berpikir keras memiliki topik pembicaraan.
"Honey besok kan acara tahunan E.T ya... Apa kamu tidak berencana mengumumkan pernikahan kita." Tanya Alena.
Mahessa menghentikan aktifitasnya. Kemudian mengambil gelas yang telah berisi sampanye dia menggoyangkannya, menenggaknya dan menatap Alena lekat. Alena menjadi salah tingkah dengan sikap Mahessa barusan menatapnya.
"Alena, aku mengajakmu bertemu disini untuk membahas sesuatu yang penting mengenai hubungan kita." Mahessa mendekatkan wajahnya dengan wajah Alena semakin membuat Alena tersipu dan memerah.
"Sure..." Jawab Alena salah tingkah.
__ADS_1
"Langsung aja aku tidak akan bertele-tele. Aku akan membatalkan pertunangan kita. Jadi tidak mungkin kita mengadakan pesta pernikahan." Jelas Mahessa dingin. Kembali ke posisi semula dan kembali menenggak minumannya.
Bagai disambar petir disiang bolong. Apa yang Mahessa ungkapkan menyakiti perasaan Alena.
"Kenapa? Apa yang salah?" Lirihnya
Alena terdiam, dia berusaha menahan air mata yang tiba-tiba muncul setelah Mahessa mengungkapkan keinginannya. Alena tengah kecewa saat ini.
"Yang salah? Bukankah kamu tau pasti hubungan kita ada karena perjodohan bukan? Ini bukan keinginanku..." Jawab Mahessa ketus.
"Satu hal lagi aku tidak pernah bisa mencintaimu." Imbuhnya dingin.
Perkataan terakhir yang Mahessa ucapkan membuat air mata Alena lolos terjatuh tak bisa lagi dia tahan. Setahun dia berusaha menjadi apa yang Mahessa inginkan namun pada akhirnya kekecewaan yang dia dapatkan.
"Aku mencintaimu Mahessa." Lirihnya kemudian.
"Tapi aku tidak. Aku mencintai orang lain.." Jawab Mahessa meyakinkan Alena.
Alena terkejut dengan penuturan Mahessa. "Dia tengah mencintai orang lain? Siapa? Aku tidak pernah melihat dia bersama wanita lain selama ini. Bahkan informan yang aku sewa untuk mengawasinya tidak pernah memberitahukan hal ini." Batin Alena berkecamuk hebat.
Alena tidak terima dengan keputusan Mahessa. Dia harus menyewa lagi beberapa informan untuk memastikan kebenarannya.
"Siapa itu? Sudah berapa lama kamu berhubungan dengannya? Apa kamu mengkhianatiku selama ini?" Cerca Alena tak terima.
Mahessa tertawa sinis. "Mengkhianatimu? Bukankah sebaliknya? Kamu yang berpura-pura suci di depanku pada akhirnya melakukan hal hina di belakangku."
Mahessa melemparkan beberapa foto milik Alena yang tengah menunjukan dia keluar bersama seorang pria dari sebuah hotel.
"APA?!" Pekik Alena tidak percaya apa yang tengah dia lihat.
"Aku tegaskan padamu, AKU MAHESSA ADYATAMA TIDAK PERNAH INGIN MEMILIKI SEORANG WANITA MURAHAN!!" Ungkap Mahessa dingin penuh penekanan.
Alena menangis tergugu kali ini. "LEO SAPUTRA INI ULAHMU!!!" Batinnya menjerit.
"Sudahlah hapus air matamu dan berhenti menangis seperti itu. Aku tidak ingin orang lain beranggapan buruk tentangku. Jaga sikapmu Alena!" Titah Mahessa kemudian, dia selalu memperlakukan Alena dengan tak berbelas kasih.
"Mulai saat ini kamu bukan lagi tunanganku. Lupakan semuanya. Sebagai gantinya aku akan memberikanmu saham SoHo_Blossom yang sangat kamu inginkan itu."
Mahessa berujar dengan bersiap meninggalkan Alena. Saat ini Alena tidak bisa berkata-kata dia tidak bisa membela dirinya dihadapan Mahessa yang dipenuhi aura dingin yang bisa membunuh siapapun.
Setelah kepergian Mahessa Alena menyambar ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Lakukan sesuatu untukku! Aku akan membayar uang mukanya sekarang dan pelunasannya kemudian setelah semua kamu selesaikan." Ujarnya penuh amarah.
"Leo?"
Alena segera menghubungi salah satu rival Mahessa Leo Saputra. Salah satu petinggi dari Huateng Group. Kala itu Leo mendekati Alena yang selalu berada di Bar setiap kali bermasalah dengan Mahessa. Ternyata semua itu dimanfaatkan olehnya!
Namun alena tidak jadi menghubunginya. Dia terlalu emosi dan membanting ponselnya hingga berserak.
"Nona.... Apa anda baik-baik saja?" Pekik salah satu pramusaji restoran.
Di kediaman Beverly Mahessa tengah membersihkan diri.
"Aku sungguh sangat aneh dengan tubuhku. Jika di dekat Luna seberapa lamapun bahkan seharian aku bahkan tidak ingin menghapus baunya namun baru dua puluh menit aku berada dengan Alena aku sudah merasa mual!!" Mahessa tengah menurunkan segala emosi. Dia menghisap cerutunya dan menenggak wine yang sudah disiapkan sebelumnya.
"Luna... Aku sudah tidak sabar bertemu denganmu besok. Aku pastikan hanya kamu wanita yang bisa aku sentuh!" Gumam Mahessa mengulum senyumannya.
__ADS_1
* * * * * * * * * *