Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 106 : Salah Tingkah.


__ADS_3

Akhirnya satu jam sudah Luna mempersiapkan dirinya semenawan mungkin di hadapan keluarga besar kekasihnya.


Sejujurnya perasaannya di penuhi kegelisahan yang terus menyelimuti hatinya sedari mengetahui bahwa keluarga kekasihnya ada di kota ini.


Luna menata debaran jantungnya yang terus berpacu dengan cepatnya tidak bisa ia kontrol sampai tubuhnya bergetar hebat.


"Sayang?!"


Adira menghampiri kekasihnya yang sedari tadi masih menatap dirinya di cermin meja riasnya. Adira sendiri memberi waktu lebih atau memang sudah sangat tahu wanitanya akan butuh waktu berjam-jam untuk merias dirinya.


"Kamu sangat cantik sayang..." Puji kekasihnya menatap Luna penuh kasih sayang yang terpancar dari kedua netra beningnya.


"Benarkah?!"


Luna melengkungkan senyumnya tersipu dengan pujian kekasihnya.


"Mas..."


"Iya sayang..."


"Kita berangkat sekarang yuk, sebelum keburu malam!"


"Mereka mengundang kita di acara makan malam."


Luna menggenggam erat ujung dressnya menunjukan betapa gugupnya dia. Entah mengapa, dia seperti kembali ke masa lalu saat dirinya di perkenalkan pertama kalinya oleh mantan kekasihnya pada keluarga besar mereka. Disana dia justru di tolak mentah-mentah. Bahkan di perlakukan buruk dan di hina di depan banyak tamu undangan.


Adira mendekati kekasihnya mengetahui kegelisahan Luna. Adira bersimpuh menggenggam kedua jemari tangan Luna dan menciumnya.


"Apa kamu gugup?!"


"Ten tu saja."


"Ini pertama kalinya..."


Luna menundukan wajahnya sendu.


"Sayaaang..."


Adira mengusap rambut Luna dan mendorongnya ke belakang telinganya.


"Keluarga ku tidak akan memakan mu..."


"Palingan sama kayak aku langsung jatuh dalam pesona mu!"


Luna mengulum senyumnya dengan wajah yang memerah.


"Mas gombel!!"


Adira tidak tahan tidak mencumbu bibir segar merekah di hadapannya. Luna menutup matanya, dia berharap setelah ini kegelisahan hatinya sirna.


"Sejujurnya aku tahu mereka sangat baik dan menerima ku terlebih mama Adira."


"Tapi kali ini situasinya berbeda!!"


"Terlebih aku sudah mengkhianati putra kebanggaan mereka."


Walau tidak segugup seperti sebelumnya, Luna terus mengatupkan bibirnya erat. Mobil Adira telah terparkir di salah satu Villa megah dan mewah yang baru Luna ketahui milik kakak tetua Adira yaitu Arnetha Renald.


"Aaah!"


Luna melepas tautan prianya yang dia rasa mulai tersulutkan hasratnya.


"Kamu sungguh sangat menggoda sayang!!"


"Mas ini!!!"


"Liptint ku abis sudaaah!!"


Adira terkekeh, dia segera mengajak turun kekasihnya. Dia sendiri sudah tidak sabar mengenalkan calon istrinya pada keluarganya bahkan inginnya pada seluruh dunia!!


"Selamat malam tuan muda..."


Sapa ramah asisten rumah menyambut Adira dan Luna. Luna tersenyum ramah. Adira menggenggam tangan Luna erat, dia tidak akan pernah melepaskan tangan Luna.


"Tuan besar dan yang lainnya sudah di area halaman belakang tuan."


"Oke, terima kasih."


Keduanya bergegas menuju dimana keberadaan keluarga Adira.


"Mah, pah..." Sapa Adira.


Seluruh keluarga besar memperhatikan kedatangan Adira


"OOOMM!!" Pekik Kevin keponakan satu-satunya Adira.

__ADS_1


"Keviinn!!"


Adira merentangkan tangan dan bocah imut lima tahun itu menghambur memeluk unclenya.


"Siapa ini om?!"


"Pacal om ya?!"


"Hai..."


"Namanya Kevin ya?!"


"Hai onty!"


"Yups, nama aku Kevin!!"


Luna melebarkan senyumnya.


"Datang juga di degil kita!!" Ketus Arnetha membuat jantung Luna mendadak berdetak dengan cepatnya.


"Arneth!!" Hardik nyonya Julia.


"Sayaaang, selamat datang."


"Maaf sambutannya kurang mengenakan."


"Mbak mu itu emang bawaannya jutek kayak gitu."


"Tapi sebenernya penyayang bener!"


Nyonya Julia menghampiri dua sejoli dengan ramah.


"Kenalin mama Adira."


"Luna tante..."


Luna mencium punggung tangan Ibu Adira, disusul prianya.


"Ma..."


"Ayook sayang langsung aja, bentar lagi kita makan malam sama-sama ya."


Nyonya Julia merangkul Luna lembut membuat perasaan Luna membuncah seketika. Luna akui selama dia menikah dengan Adira mama Julia lah yang mengajari banyak hal pada Luna tentang hidup berumah tangga. Termasuk mengajarinya memasak semua makanan kesukaan Adira dan menceritakan banyak hal tentang Adira semasa kecil membuat Luna terkekeh jika mengingatnya.


Adira di ketahui memiliki mysophobia saat dia tidak suka ke tempat-tempat jorok. Bahkan dia hampir tidak mau makan daging sapi karena melihat kandang sapi yang jorok dan bau.


Luna berinisiatif membungkukan badannya di hadapan keluarga Adira membuat semuanya terkejut termasuk Adira.


"Pantas saja anak ku tergila-gila dengan wanita ini."


"Walau seorang bangsawan dia justru bersikap sangat ramah dan merendah."


Tuan surya melengkungkan senyumnya menyambut sapaan Luna.


"Pantas aja si degil ini bucin sama kamu Luna!"


"Arneth!!"


"Ih mama, aku kan cuma bilang gitu doang!!"


"Nama gue dira woy!"


"Degil... Degil aja!!"


Adira menarik tubuh Luna dan menarik kursi untuknya. Kevin telah lebih dulu duduk kembali di samping kedua orang tuanya.


"Hai Luna, saya Damar suami Arnetha atau kakak Adira."


"Salam kenal kak!"


Tuan Surya berdiri membuat semuanya menatap bingung.


"Selamat datang di keluarga besar Renald Naluna..."


Deg!!


Tanpa dia sadari Luna sudah menitikan air mata harunya. Semua menatapnya kebingungan.


"Kamu tidak apa-apa nak?!" Tanya tuan Surya.


"Oh maaf kelancangan saya."


"Saya hanya terharu atas sambutannya."


Semuanya terkekeh dengan penuturan polos Luna. Adira tersenyum bahagia sekali akhirnya dia bisa berkesempatan mengenalkan Luna pada keluarganya.

__ADS_1


"Kamu pasti takut sama tampang sangar papa mu ini kan Luna?!"


"Dia mah muka aja sangar hati hello kitty!" Canda Nyonya Julia membuat suasana kembali ramai dengan suara tawa dari semuanya.


"Apa yang aku lewatkan?!"


"Aku memiliki mertua yang peduli dan menerima ku apa adanya."


"Tapi aku sangat ngotot ingin berpisah dari Adira hanya karena dia tidak mengijinkan ku kembali bekerja?!"


"Sungguh keterlaluan kamu Naluna!!"


"Hanya karena satu kesalahan Adira, kamu melupakan seribu kebaikannya!!"


Luna benar-benar menyesal saat ini. Padahal selama 8 tahun kebersamaannya dahulu mereka hanya bertengkar karena ulah Luna yang selalu melewati batasan. Adira sendiri sudah mencoba menjadi suami terbaik versinya sendiri.


"Maafkan aku mas..."


"Semoga kamu memaafkan ku dan masih mau menerima ku kembali!!!"


Mereka makan malam dengan khidmat di selingi candaan dan pembahasan random yang menyenangkan bagi Luna. Satu yang dia sadari Adira memang tidak banyak berbicara dia hanya pandai menyimak.


"Aih sapa suruh pabrikan laki gue ini cuma punya 500 kosakata dalam hidupnya!!"


Luna mengejek Adira dalam hatinya. Dia sudah tidak sabar mencumbu prianya sebagai rasa terima kasihnya atas kejutan luar biasa hari ini untuknya.


Membawakan sebuah keluarga besar yang hangat yang menerimanya tanpa syarat. Luna sendiri bingung, mengapa dulu Adira mengatakan bahwa keluarga mereka tidak menyetujui hadir dirinya menjadi kekasih putra mereka?


"Apa mereka tengah berpura-pura saat ini?!"


"Tidak!!"


"Aku sudah tahu pasti sifat mereka."


"Delapan tahun waktu yang cukup meyakinkan aku bagaimana mereka menyayangi ku seperti anaknya sendiri."


"Kalian tidur disini ya..."


"Eh.."


Luna tersadar dari lamunannya oleh pertanyaan nyonya Julia.


"Luna besok bekerja ma..."


"Dari sini ke Eps lumayan jauh!"


"Owhh gitu..."


"Padahal mama masih mau ngobrol banyak sama calon mantu!!"


"Pantas aja Adira bucin sama kamu!"


"Kamu cantik banget!!"


"Ramah lagi!!"


Pujian nyonya Julia tidak pernah terputus membuat Luna semakin besar kepala. Wajahnya menunduk memerah tersipu malu.


"Tante bisa aja..."


"Saya ya gini-gini aja tante."


"Aslinya sih urakan!!"


Luna memberanikan diri mengungkapkan jati dirinya sendiri.


"Wajar lah itu namanya juga anak muda!!"


"Kalian masih muda, masih penuh dengan jiwa petualang mencari jati diri kalian masing-masing."


"Jika sudah berkeluarga baru kalian memikul sebuah tanggung jawab serta komitmen yang menjadi acuan kalian dalam menjalani biduk rumah tangga kelak."


Luna terdiam dengan penuturan bijak nyonya Julia. Ia merasa rindu memeluk ibu mertuanya itu. Biasa jika Luna lelah dan ingin mengadukan kelakuan anaknya dia akan sangat manja pada mertuanya itu.


"Boleh kah saya panggil tante mama?!"


Pertanyaan spontan Luna membuat semuanya menatapnya saat ini.


"Baru mama mau bilang loh!"


"Jangan panggil mama dengan panggilan tante!"


"Terlalu muda buat usia mama!!"


Semuanya tertawa mendengarnya, Luna sungguh merasa sangat bahagia saat ini.

__ADS_1


* * * * * * * * * *


__ADS_2