
Pagi hari ini Luna kembali menyiapkan sarapan untuk raja beruang liar yang masih terlelap di kamarnya. Sebelumnya Farell telah mempersiapkan bahan makanan sore kemarin jadi saat ini dirinya bisa memasak kembali sarapannya. Setelah membersihkan diri Luna kembali membangunkan Mahessa.
"Mahessa.. Sudah siang... Apa kamu tidak pergi bekerja?" Ujar Luna menggoyang bahu suaminya itu.
"Ehmmm..." Mahessa menggeliat dan merentangkan tangannya. Dadanya yang memiliki bulu halus sungguh memperlihatkan pemandangan indah dari seorang cowok maskulin.
"Aku sudah membuatkanmu sarapan. Semalam kamu melewati makan malam kan? Harus bisa jaga kesehatan kamu tuh!!"
Mahessa tersenyum bahagia, sepagi ini dirinya di omeli oleh wanita paling dia cintai di dunia ini.
"Iya nyonya..."
"Mandi sana kamu bau!!" Ejek Luna beranjak dari kasurnya.
Keduanya tengah kembali sarapan, selama Mahessa membersihkan diri Farell telah datang memberikannya paper bag pada Luna yang sama berisikan satu set pakaian formal suaminya itu.
"Saya sungguh bahagia nona..." Ujar Farell sebelum dia pamit pulang.
"Oh ya?"
"Apa kamu menang lotre?" Ujar Luna asal.
"Hahaha..."
"Tidak, tapi tuan Mahessa terlihat sangat bahagia semenjak dia bersama dengan anda apalagi setelah pernikahan kalian."
"Dia juga jadi jarang sekali mengomeli atau memarahi kami karyawannya. Ini sungguh keberkahan bagi kami..."
Luna tersenyum dia justru merasa bersalah.
"Apa aku akan mendapat karmaku karena mempermainkan dua hati manusia saat ini?!" Batin Luna.
"Apa tadi Farell kemari?!" Tanya Mahessa sekeluarnya dia dari kamar mandi.
"Iya."
"Dia memberikan satu set pakaianmu..."
"Kapan kamu pindah ke Paragon sayang?"
'Atau mau membeli rumah di wilayah lain?"
Luna membantu suaminya memakaikan pakaian kerjanya. Hatinya mendadak sesak. Sekelebat memory kejadian yang telah lalu terlintas kembali. Seharusnya saat ini dia tengah memakaikan pakaian kerja untuk kekasihnya Adira.
"Walaupun mas Dira banyak sekali kekurangannya tapi dia lelaki yang tidak banyak menuntut."
"Bahkan aku ingat saat aku sangat lelah apalagi perutku semakin membesar aku bangun kesiangan, dan aku dapati dia tidak ada di sampingku."
"Ternyata dia telah pergi bekerja tanpa aku layani seperti biasanya."
"Bukannya marah dia malah meminta maaf pergi tanpa ijin karena takut membangunkanku yang tengah tertidur lelap."
Luna segera menghapus bulir bening di pelupuk matanya tanpa sepengetahuan Mahessa.
"Aku masih harus memastikan hubunganku dengan Adira..." Lirih Luna.
Mahessa terdiam dia sama gelisahnya. Dia akan menepati janjinya untuk tidak mengusik Adira dan keluarganya. Bahkan dia harus rela jika istrinya menginginkan tinggal bersama pacarnya itu.
"Apa kamu sangat mencintainya?!" Tanya Mahessa kemudian.
"Entahlah..."
'Bagaimana jika kita sarapan dulu yuk..." Ajak Luna kemudian menggelayut manja di lengan suaminya.
Mahessa menghabiskan sarapannya dengan sangat cepat. Luna terkekeh melihat tingkahnya.
"Kamu sangat lapar?"
"Makanya ga usah sok-sokan bilang cuma mau makan aku doang!!" Ejek Luna di hadapan Mahessa yang tengah menenggak secangkir kopi hitamnya.
__ADS_1
"Sejujurnya aku terbiasa dengan jadwal makanku yang berantakan..."
"Lain kali buang pikiran jelek kayak gitu."
"Kamu tidak bisa menyayangi tubuhmu sendiri bagaimana bisa kamu menyayangi diriku juga?!" Luna menggoda lelakinya.
Mahessa terdiam dia tidak menyangka istrinya akan berujar demikian.
"Tapi jika dibandingkan dengan diriku. Tentu saja kamu adalah prioritas utamaku. Kamu lah yang harus aku jaga terlebih dulu."
Deg!!
Luna berniat menggoda Mahessa dengan filosofi yang dulu Adira lakukan padanya. Namun saat ini dia justru tengah terkejut pasalnya Mahessa bisa mematahkan kalimat sindiran itu.
"Aaahh..." Luna merasa kepalanya nyeri setelah mendengar perkataan Mahessa.
Deg!!
Sekelebat ingatannya kembali menampakan dirinya, ucapan seseorang yang dia kenal sepertinya sama tengah mengucapkan kalimat persis seperti yang di ucapkan Mahessa.
"Kamu baik-baik aja sayaang?" Mahessa beranjak dari kursinya mendekati istrinya yang tengah memegang kepalanya.
"I'm okay..." Luna mengulumkan senyum manis di hadapan suaminya.
"Luna..."
"Aku ingin membawamu menemui seorang ahli. Siapa tahu dia bisa mengetahui penyakitmu dan menyembuhkannya..." Mahessa memberanikan diri mengajak Luna untuk memeriksakan kondisinya.
"Apa aku sakit?"
"Aku itu baik-baik saja Mahessa hanya saja aku sepertinya punya vertigo kali ya..." Ujar Luna menampik permintaan Mahessa.
Luna sendiri sudah merasa cape dengan kondisi badannya yang setelah kejadian berat minggu lalu dirinya selalu pingsan berkali-kali bahkan dia frustasi saat mengetahui dirinya selalu melupakan apa yang telah terjadi sebelumnya.
Mahessa terpaku dengan jawaban Luna. Dia menelan salivanya hatinya terasa sakit melihat kondisi istrinya.
"Baiklah... Tapi ingat jangan pernah memaksakan tubuhmu untuk tetap kuat. Jika memang lelah kamu harus istirahat."
"STOP!"
"Kamu mulai keenakan dengan selalu melanggar aturan perjanjian kita Mahessa." Luna kini tersulut emosi dengan penuturan Mahessa yang kembali ingin mengatur hidupnya.
"NO ONE!"
"ABSOLUTELY NO ONE!!"
"Tidak ada satu pun yang berhak mengatur hidup ku!!!"
"Aku ingin melakukannya sendiri!!"
"Aku ingin menikmati hidupku sendiri!!"
Luna meluapkan kekesalannya saat ini membuat Mahessa tercengang dengan protesan Luna yang di rasanya sedikit memiliki tekanan yang sama seperti ayahnya.
"I'm sorry cutie..."
Tentu saja kamu berhak melakukan apapun yang ingin kamu lakukan."
"Aku akan selalu mendukungmu sayang..."
"Jangan marah lagi ya..." Mahessa membujuk Luna dengan mengusap lembut kedua jemari tangan Luna kemudian mengecupnya.
Luna masih menatap nyalang pria di depannya.
"Siapa dia beraninya mulai menyetir kehidupan ku!!"
"Susah payah aku meminta di hidupkan kembali di masa lalu. Jika harus kembali berhenti bekerja untuk apa aku susah payah bertengkar dengan Adira sepanjang waktu."
"Bahkan dia sampai menceraikan ku!"
__ADS_1
"Jika bukan karena aku keras kepala ingin kembali bekerja."
"Adira sendiri sangat menjamin keuangan ku!"
"Tapi ini bukan tujuan aku meminta di hidupka kembali untuk kedua kalinya tahun ini!!"
Luna terus bermonolog dalam hatinya, bersumpah serapah memaki suaminya yang sudah tidak tahu batasan.
"Terima kasih telah menghargai ku dan membiarkan aku memilih keputusan untuk hidupku sendiri."
Luna beranjak merapikan sisa sarapan pagi mereka.
"Kapan kamu masuk kerja lagi?!" Tanya Mahessa mengalihkan pembicaraan.
"Sepertinya minggu depan."
"Saat ini aku tidak memiliki mood yang bagus untuk bekerja."
"Kecuali pekerjaan yang butuh aku hadir disana dalam waktu dekat ini..."
"Baiklah..."
"Apa kamu tahu kapan Adira kembali ke kota ini?"
"Apa kamu sedang senggang? Bukannya pergi kerja malah menggosip disini!!" Rutuk Luna kesal.
"HAHAHA"
"Aku bos di tempatku sendiri."
"Biasanya sih suka hati aku berangkat jam berapapun."
"Aku tidak perlu melakukan absensi."
"Sombooong teruuuss!!"
Mahessa terbahak dia menarik tangan Luna dan mendudukan wanita itu di pangkuannya.
"Kamu baterai kehidupanku Luna..." Bisiknya di telinga.
"Jangan terlalu sering menggodaku!!!"
"Aku tidak akan sanggup bermain jika aku sudah jatuh cinta kepadamu..."
"Aku menantikan saat itu!!!"
Mahessa kembali menyesap bibir Luna dan bermain lidah dengan liar di dalam sana.
"Aku ingin kembali sayang..." Mahessa kembali tersulutkan hasratnya.
"Boleh..."
Entah apa yang ada di pikiran Luna saat ini. Awalnya dia sangat tidak menyukai cara kerja Mahessa yang menipunya. Namun saat ini dia sama candunya bermain dengan Mahessa.
"Aku mohon lepaskanlah Adira!!"
"Aku sampai memohon seperti ini padamu sayang..." Bisik Mahessa setelah mencapai puncaknya.
"Buatlah aku terus ingin di sampingmu maka aku akan melepaskan Adira..."
Wajah Mahessa seperti tengah bersinar.
"Baiklah aku akan berusaha keras mengejarmu dan membuatmu jatuh cinta padaku."
"Tapi aku ingin kamu berjanji untuk tidak melakukan hal di luar batasan dengan dia..."
"Who you?!!" Luna tidak pernah ragu sedikitpun untuk urusan kebebasannya saat ini.
Mahessa mendengus kesal kemudian kembali menghentakan miliknya di dalam inti istrinya yang kini tengah menjerit keras.
__ADS_1
"Mahessa, aku sungguh takut jika aku benar kini tengah jatuh cinta padamu..." Rintih Luna dalam hatinya merasa bahwa dia mulai menyukai suaminya itu.
* * * * * * * * * *