Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 06 : Terjerat


__ADS_3

Dua puluh menit keduanya telah selesai dengan makan siang mereka. Luna mulai merasa kembali mual, dia gelisah saat ini. Menatap pria di hadapannya.


"Bagaimana hidupku kedepan? Apa aku akan tetap memilih bersamamu?"


"Aku menikah dengannya karena aku hamil..."


"Jika aku menggugurkannya saat ini apa semua akan mengubah segalanya?"


Luna menghembuskan nafas kasarnya, betapa bodohnya dahulu dengan mudahnya memberikan semuanya pada pria di depannya. Percaya akan dirinya, yakin akan cinta keduanya. Nyatanya bertahan di usia 8 tahun pernikahan mereka Adira menceraikannya setelah Luna meminta kembali bekerja.


"Mengapa aku dulu mencintaimu? Apa yang membuat aku bertahan selama itu?"


"Kamu tidak pernah mengerti diriku Adira... Kamu tidak berusaha ingin mengerti dan memahami apalagi menghargai diriku!"


Luna mengusap perlahan sudut matanya. Dia beranjak membuat Adira menghentikan aktifitasnya dan menatapnya.


"Mau kemana yang?"


"Mau pipis..."


"Perasaan dari tadi kamu pipis terus deh yang!"


"Deg!"


Memang benar selama mereka memutari gerai elektronik di lantai bawah Luna beberapa kali meminta ijin ke toilet. Dia juga tidak mengerti mengapa dia merasa ingin terus buang air kecil. Dia juga sangat lelah!


"Kebanyakan minum kali yang..." Ujarnya mencari alasan.


"Ga pake lama ya..." Ujarnya kemudian.


Luna bergegas menuju toilet dalam Kedai. Beruntung kedai ini memiliki kamar mandi di dalam. Dia tidak membayangkan jika harus mencari toilet dalam mall kembali. Keuntungan lainnya toiletnya sepi dia langsung memuntahkan kembali makan siangnya. Dia benar-benar merasa mual. Pusing dan lelah setelahnya.


"Sialan kenapa aku di hidupkan saat aku tengah hamil!!"


"Aku tahu aku tidak tahu diri!!"


"Namun seperti ini dosaku jauh lebih besar berkali-kali lipat."


Luna kembali terisak, dia masih mengeluarkan isi perutnya. Setelah kosong Luna berjongkok lelah. Lelah dengan semuanya, setelah mencoba mengingat kembali energinya seperti terkuras sangat banyak!


Dia segera membersihkan dirinya, dia khawatir Adira akan mencurigainya terlalu lama.


"Mengapa lama sekali?!" Adira menatap jam di layar ponselnya.


Semenjak kejadian Luna muntah di pagi hari itu hati Adira tidak tenang. Dia selalu merasa yakin bahwa Luna hamil.


"Entah mengapa aku benar-benar seperti dejavu dengan kejadian ini..."

__ADS_1


"Apa dulu aku bermimpi seperti ini?!"


"Aku memang mencintai Luna, ingin menikahinya... Namun dengan jalan dia hamil duluan?"


"Apa mungkin papa akan merestui kami yang sudah seperti ini?"


Adira beranjak menuju kamar mandi. Dia mendengar seseorang seperti sedang muntah.


"Luna..." Gumamnya lirih semakin gelisah.


"Aku harus memaksanya memeriksa ke dokter!!"


Luna membuka pintu kamar mandi di terkejut dengan keberadaan kekasihnya tepat di hadapannya.


"Mas..." Lirihnya terkejut.


"Sayang... Kamu muntah lagi?"


"Kita ke dokter ya yang..."


"Ih mas apaan sih... Tadi tuh agak jijik di dalam aku jadi mual..." Luna terus berbohong.


"Mas mau pake toiletnya?"


Adira menggeleng perlahan.


"Ayo bayar dulu kita pulang sekarang ya, aku cape banget..."


"Ada yang mau kamu beli lagi ga yang?" Tanya Adira memastikan sebelum mereka benar-benar keluar dari mall.


"Gak ada mas..." Luna memeluk erat tubuh Adira.


Adira memegang tangan Luna, berbalik badan dan mencium sekilas bibir Luna. Luna yang di perlakukan seperti itu tertegun.


"Mas..." Lirihnya.


"Iya sayaang..." Jawabnya lembut.


Luna melengkungkan senyumnya, Adira terlihat tersipu dia menggenggam jemari Luna dan menciumnya.


"Mengapa sikapnya berubah membuat aku bimbang tuhan!"


Sepanjang perjalanan pulang, dia merasa kembali merasakan apa itu namanya pacaran. Dengan berkendaraan roda dua mereka sedekat itu. Bercanda sepanjang jalan, bahkan Adira menggelitik lutut Luna.


"Di setiap luka selalu terselip bahagia..." Gumamnya lirih mengeratkan pelukannya pada kekasihnya yang kini tengah mengusap lembut tangannya.


* * * * *

__ADS_1


Sudah terlihat kawasan tempat tinggal Luna. Luna mendapatkannya berdasarkan informasi dari pihak personalia yang merekrutnya. Dia tinggal di salah satu kawasan besar terkenal di kota B dengan berbagai fasilitas yang tergolong lengkap. Lokasi ini memang terkenal dengan hunian para pekerja di kota B. Tetapi bukan juga kawasan dormitori khusus rusun para pekerja.


Di Central Park area depan terisi dengan deretan pertokoan memanjang seperti mini market, restoran, apotek 24 jam, coffee shop, laundry, angkringan kebanggaan Adira, warnet bahkan ada juga beberapa perbankan membuka kantor cabangnya.


Luna berada di blok depan tepat di belakang pertokoan, yang berisi rumah tipe besar dan mewah. Dia mendapatkan tempat terkenal dengan kenyamanannya. Bangunan dengan 4 tingkat itu Luna berada di lantai 2. Dia bersyukur mendapatkan kamar sewa disana, yang sudah seperti apartemen baginya. Dia bebas memasukan siapa saja ke dalam kamar dan memiliki kamar mandi di dalam. Kawasan itu di jaga oleh asisten pemilik rumah. Sedangkan pemiliknya sendiri tidak tinggal bersama mereka. Sungguh menjunjung kebebasan dan privasi yang tinggi.


Jika saja dia berada satu tempat sewa dengan temannya Hapsari bisa di pastikan dia masih gadis sampai saat ini. Karena pria dilarang masuk kedalam kamar.


Adira tidak langsung menuju tempat tinggal Luna, dia berbelok menuju pertokoan tepatnya di sebuah apotek 24 jam. Perasaan Luna menjadi tidak nyaman.


"Mas ko kesini?"


"Mas mau beli obat?"


Luna segera melayangkan pertanyaan penasarannya.


"Iya sayang, tunggu bentar ya aku ga lama kok!" Adira mengusap lembut pipi Luna.


"Mas... Mau beli obat apa?"


Adira hanya tersenyum segera bergegas menuju apotek. Ingin rasanya Luna mengikutinya namun kedua kakinya seolah tidak bertenaga bahkan saat ini dia sulit gerakan seluruh tubuhnya.


Luna mengatupkan bibirnya erat, dia sangat gelisah. Benar saja tanpa membuang waktu yang lama Adira telah kembali dan bergegas melajukan motornya kembali.


"Mas beli apa sih ko ga ada bilang-bilang ya?!!!" Luna sedikit menunjukan kekesalannya.


Adira hanya menunjukan senyumannya di kaca sepion motornya.


"Idih di senyumin terus diabetes aku lama-lama!!!" Rutuk Luna dalam hati.


Keduanya telah berada di rumah Luna. Luna segera merebahkan dirinya di ranjang ternyaman miliknya. Semua perabotan rumahnya di isi oleh ibunya saat berkunjung setelah dia pulang lebaran bulan kemarin.


"Sayang bersihin dulu badannya. Cuci tangan kakinya kan kotor!!"


Luna mengomel tanpa suara mengejek kekasihnya. Adira sungguh menjadi petugas kesehatan dan kebersihan dirinya. Terkadang Luna risih dengan mysophobia Adira jika sudah kumat. Dia begitu mementingkan kesehatan entah itu kebersihan kamar bahkan sepulang dari luar wajib hukumnya mencuci tangan dan kaki kita. Bahkan dia selalu menyuruh Luna mengganti pakaiannya dari luar.


Luna telah selesai dengan mandi sorenya. Awalnya hanya ingin mencuci tangan biasa namun nyatanya dia sangat gerah dan bau.


"Lah tidur duluan!!" Dia melihat kekasihnya tengah membuka bajunya hanya menyisakan boxer dan kaos polosnya tertidur di ranjang miliknya.


Mereka memang selalu melakukan hal hina itu dirumah Luna. Dulu awal mula Adira unboxing Luna saat mereka terpaksa menyewa hotel karena terjebak hujan lebat. Keduanya sudah basah dan kedinginan, jika dia menerobos dalam jarak pandang yang minim sangat membahayakan mereka.


Mungkin sudah jalannya mereka memang berniat hal nista setelah beberapa kali Adira melakukan cuddling dan sempat tidak bisa menahan hasratnya hanya karena tidak tega tidak dia lakukan. Tapi sialnya di bulan ke 5 dia benar-benar tidak bisa lagi menahan untuk tidak menjadikan Luna menjadi miliknya seutuhnya.


Sejak saat itu Adira kecanduan untuk terus menikmati Luna setiap kali mereka hanya berdua. Luna adalah candunya. Dia berjanji akan menikahi kekasihnya. Dia memang benar-benar sudah jatuh dalam pesona Luna. Hanya saja takdir berkata lain, jalan mereka tidak mudah.


Luna mengenakan lingerie tipis seperti biasa, dia merebahkan dirinya di samping prianya. Selama 8 tahun Adira adalah bantal guling ternyaman untuk Luna melepaskan penatnya. Dia merasa ironis dengan hidupnya, dia sudah menjalani 8 tahun namun dia di hidupkan kembali di saat mereka baru 8 bulan menjalani hubungan dan sekarang benih cinta mereka telah tumbuh.

__ADS_1


"Mas, Nena sudah hadir bersama kita saat ini..." Gumamnya lirih melingkarkan pelukannya di badan kekasihnya.


* * * * * * * * * *


__ADS_2