
Pov Mahessa
Minggu ini ada rapat umum pemegang saham yang berlokasikan di Negara sebelah tepatnya di Kota B. Tempat yang ditunjuk adalah Harbour Bay. Kawasan yang menjadi icon kota B itu terdiri dari 2 bangunan inti berupa Hotel dan Apartemen serta Sea Resort Restaurant yang terpisah. Kawasan Harbour Bay sendiri dibawah naungan Seacorp yang sebentar lagi akan pria itu akusisi untuk menjadi bagian dari E.T.
Namanya adalah Mahessa Adyatama, dia merupakan CEO E.T atau Eternal Trade merupakan perusahaan dagang terbesar ketiga di Negara S. Membutuhkan ekstra kerja keras untuk bisa mengalahkan Emperor. Mulanya E.T hanya bergerak dibidang property namun perlahan pria itu kembangkan menjadi sebesar sekarang dengan terus mengakusisi berbagai sektor usaha diberbagai lini seperti teknologi dan kesehatan.
"Farell, kamu cek ulang laporan kerja sama dan laporan perusahaan Seacorp!" Mahessa memberi titah pada asisten kepercayaannya.
"Aku tidak ingin ada kesalahan kamu sendiri sudah sangat paham bukan?"
"Baik tuan. Apa ada yang anda butuhkan lagi?" Tanya Farell yang merupakan asisten khusus dan
kepercayaan tuan Mahessa memastikan kembali.
"Minta tolong bibi bersihkan rumah hari ini aku tinggal disana."
Mahessa Adyatama, yang merupakan anak tunggal dari pasangan Adyatama dan Sesillia yang berkebangsaan di Negara S. Setelah menyelesaikan study Magisternya, dia mengembangkan E.T menjadi sebesar sekarang.
Sektor utama dibidang property sudah dia kembangkan di berbagai wilayah di berbagai belahan negara bagian. Di Negara S sendiri hampir 50% merupakan kawasan cakupan E.T termasuk pengembangan lahan pulau N. Pulau buatan di pesisir selatan Negara S yang rencananya akan aku buat menjadi Little Uni Emirat.
Di Negara sebelah ini aku juga memiliki beberapa property tidak hanya di Kota B hampir 40% E.T ada dalam
daftar perusahan pengembang terpercaya. Di Kota B sendiri aku mengembangkan kawasan Central Paragon Hill dan Resort Valley Park. Ditambah dengan akusisi terbaru yang merupakan icon kota B yaitu Harbour Bay Hill.
"Oh iya tuan... Para tetua kembali menginginkan anda untuk segera melangsungkan pernikahan demi kelancaran
proses merger bersama Alphalister." Farell memberitahukan apa yang dipesankan oleh tuan besar Adyatama.
"Hmmm.." Mahessa malas menanggapinya.
"Apa perlu saya.." Farell mencoba membantu namun tuannya segera menghardiknya.
"KELUAR!"
"Urusan pribadi saya tidak perlu para tetua itu ikut campur!" Sungutnya penuh emosi dengan menunjuk
satu tangan menyuruh Farell keluar dari ruangan kerjanya.
"Baik tuan. Saya undur diri." Jantung Farell hampir terlepas dari tempatnya.
"Hmmm tunggu Farell... Siapkan mobil pribadi! Saya ingin mencari angin segar." Titahnya kemudian.
"Baik saya akan mengatur supir untuk anda." Jawab Farell.
"Tidak perlu saya pergi sendiri!"
"Baik tuan."
Farell segera meninggalkan ruangan. Mahessa menghembuskan nafas kasar. Dia juga memijit pelipis untuk sekedar menghilangkan penat yang mendera. "Aku sedang berusaha mati-matian melakukan akusisi
pengembangan perusahaan! Tapi apa yang aku dapatkan? Dipikiran pak tua itu hanya pernikahan!"
"Apa mereka sangat tidak punya pekerjaan lain selain mengurusi kehidupan pribadiku!"
Tiba-tiba ponselnya berdering. Tertera nama seseorang yang sangat ingin dia hindari sebulan ini.
__ADS_1
"Alena?"
Mahessa mengangkat sambungan telpon dengan malas.
"Honeey, kenapa lama sekali angkat telponnya!" Terdengar pekikan manja yang dibuat-buat di sebrang
sana.
"Aku muak mendengarnya!"
"Alena, aku tengah sibuk saat ini. Ada apa? Katakan dengan jelas dan segera!" Jawabnya dingin.
"Honey, apa kamu tidak merindukanku? Sebulan ini kamu selalu tidak ada waktu untukku. Seharusnya saat
ini kita membahas pernikahan kita kan babe?" Ujar Alena sendu dibalik telponnya.
"Maaf Alena aku tidak ada waktu!" Segera dia menutup sambungan sepihak.
Pria itu menghempaskan kepalanya di kursi kebesaran.
"Aku tidak peduli reaksi dari Alena saat ini. Persetan dengan Alphalister! Tanpa hubungan kerja sama ini pun E.T akan mampu membungkamnya suatu saat nanti!"
"Muak rasanya!" Dia melonggarkan ikatan dasinya.
"Aku membutuhkan seseorang untuk menghibur. Mungkin para wanita panggilan itu akan membuatku tergoda dan
melupakan semua kepenatan!" Dia bergegas keluar ruangan yang membuat kepalanya rasanya seperti akan meledak.
Alena Alister merupakan putri sekaligus pewaris tunggal keluarga Alister. Mahessa terpaksa menerima perjodohan
Ibunya selalu mengatakan "Cobalah dulu sayaang.. Cinta itu dipupuk, dari terpaksa bisa jadi malah
terbiasa. Dari yang tidak suka lama-lama malah jatuh cinta..."
Namun setelah menjalin hubungan satu tahun lamanya dia tidak juga menemukan ketertarikan padanya. "Entah apa yang salah. Sejujurnya Alena juga bukan tipe yang menggelayut manja sepanjang waktu. Terkadang dia juga pemalu dan tidak begitu menuntutku macam-macam. Seperti sebulan ini aku tidak menghubunginya dia hanya akan menelponku sekali setelah aku jelaskan dia akan mengerti."
Sampai suatu hari Mahessa menemukan Alena tidak sengaja tengah berjalan berdua dengan rivalnya Leo Saputra dia menjadi curiga. Mahessa mulai menyewa seorang informan untuk terus mengawasi keduanya. Mereka kedapatan sering keluar masuk bar. Bahkan terakhir kali sebelum Mahessa memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengannya Alena kembali memesan hotel bersama Leo. "Apa yang akan mereka lakukan di kamar hotel berdua? Main kartu?" Setelah itu Dia sudah tidak ingin lagi menanggapinya.
"Aku tidak mungkin menikah dengan wanita bekas!"
"Terlebih bekas rivalku!!"
Petugas valet parking membukakan pintu mobil. Secepatnya Mahessa keluar dari kawasan Hotel Harbour Bay. Tak sengaja melihat pemandangan yang tak biasa. Seorang wanita yang masih muda diturunkan paksa dari sebuah mobil.
"Apa itu wanita panggilan? Mungkin aku bisa membookingnya."
Entah mengapa Mahessa merasa tertarik dengan wanita itu. Pelan dia menjalankan mobil dan melipir disebelah tempat dia terjatuh. Messa melihat wanita sudah berusaha bangkit, Penampilannya sangat berantakan matanya tengah sembab dia yakin dia telah menangis cukup lama.
Mahessa menurunkan kaca jendela mencoba mengajaknya berkomunikasi. Dia merasa kasihan, dia sedang menangis, wajahnya pucat pasi. Kali pertama Mahessa melakukan transaksi dengan seorang wanita. Namun bukannya bertransaksi dia justru iba menawarinya bantuan.
Dengan sikap penolakan wanita itu pada Mahessa justru semakin membuat dirinya ingin semakin dekat dengannya. Mahessa memiliki ide yang luar biasa tidak masuk akal.
"Aku bisa mengakusisi puluhan perusahaan dengan mudah. Bagaimana dengan menggoda seorang wanita? Aku yakin bagi para wanita biasa penampilan dan mobil mewahku sudah menjadi nilai plus."
Dalam hidupnya tidak pernah berurusan dengan wanita. Berpacaran saja tidak apalagi membayar wanita panggilan. Alena yang jelas tunangannya saja dalam satu tahun kami pendekatan bisa dihitung jari. Dia keluar bersamanya hanya untuk acara jamuan makan.
__ADS_1
Wanita itu masih terlihat berpikir menerima bantuannya. Mahessa tidak pernah merasa seantusias saat ini dalam mengejar lawan jenis. Kemudian wanita itu menerimanya.
"See? Siapa yang bisa melewatkan pesona seorang Mahessa?" Ujarnya begitu percaya diri.
Setelah melaju beberapa meter terlihat pandangannya hanya menatap kosong kedepan dan tiba-tiba refleks menatap kebelakang. Sepertinya Mahessa tahu alasannya. Dia juga memperhatikan mobil yang melewati
dari arah berlawanan seperti tidak asing.
"Mungkinkah dia kembali menjemput gadis ini? Ternyata hubungan mereka tidak sederhana sepertinya."
"Aku pikir dia sepertinya bukan wanita panggilan."
Tidak ada yang banyak wanita itu lontarkan, dia juga justru terburu-buru keluar mobil Mahessa.
"Apa dia tidak tertarik berlama-lama denganku? Bukankah wanita akan tergoda dengan para lelaki eksekutif sepertiku? Muda dan mapan. Tapi dia pedulipun tidak!" Baru kali ini Mahessa merasakan kecewa.
Setelah mengetahui bahwa namanya Luna, mungkin Mahessa bisa mencari tahu pasal wanita itu nantinya.
"Apa dia masih menangis? Hal apa yang membuatnya seperti itu?"
Bukannya kembali Mahessa justru asik terus memperhatikan wanita yang baru dia temui beberapa menit kebelakang.
"Aku lupa meminta nomor ponselnya! Mungkin aku akan bisa bertemu dengannya lagi dikemudian hari jika
aku ada urusan disini." Mahessa tersenyum nakal.
"Mahessa kamu sungguh kurang kerjaan."
Namun akhirnya dia tersadar apa yang dia pikirkan sungguh berlebihan. Dia kembali menghidupkan mobilnya dan bersiap beranjak dari pelataran parkir resto. Namun matanya terbelalak bergegas mematikan mesin mobil dan keluar, lari menuju dia yang akan terjatuh.
Wanita itu terlihat terkejut.
"Untunglah aku masih sempat menopang badannya agar tidak terjerembab!"
Dengan posisi seperti di kebanyakan drama serial tv swasta dalam hitungan detik aku memperhatikan tubuhnya. Mahessa merasakan jantungnya berdebar dengan kencangnya.
"Aku tidak mual?!"
Suatu pencapaian luar biasa adalah Mahessa yang memiliki gangguan mysophobia itu mau memeluk tubuh Luna. Kemudian tak disangka dia dikejutkan dengan hal lainnya. Dia melihat ada cairan merah yang keluar dari pangkal pahanya yang kebetulan dia hanya mengenakan terusan diatas lutut.
"Darah! Kamu terluka!" Pekik Mahessa.
Tanpa basa basi Mahessa membopongnya ke dalam mobilnya. Bergegas mencari lokasi rumah sakit terdekat via GPS. Beruntung tidak begitu jauh ada sebuah rumah sakit.
"Kamu bertahan Luna, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit." Mahessa memacukan mobilnya bermodalkan GPS
dia melihat kearahnya.
"Astaga dia sudah kehilangan kesadaran!!"
Ini pertama kalinya seorang Mahessa panik dengan orang yang baru ia kenal selama lima belas menit. Dia syok dengan semua ini. Tanpa dia sadari satu tangannya telah menggenggan tangan Luna erat.
"Rekor barumu Mahessa! Dia adalah wanita pertama yang mau aku sentuh."
"Apa aku perlu bantuan Farell? Aku tidak punya pengalaman mengurus hal semacam ini!!"
__ADS_1
* * * * * * * * * *