Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 81 : Identitas Asli


__ADS_3

Kini keduanya tengah berada kembali di hotel Ritz Carlton. Luna mengajak papanya kembali menunggu di area café. Luna merogoh sling bagnya mengambil ponsel dan menghubungi Mahessa.


"Mahessa, aku sudah di hotel..."


"Maaf aku tadi ada rapat dadakan. Aku segera menuju kesana."


"It's okay... Aku dan papa di area café seperti tadi pagi."


"Ok... Tunggu sebentar ya..."


* * * * *


Sebelumnya di kantor E.T.


Mahessa memimpin rapat yang tiba-tiba diadakan karena ternyata RG tengah mengambil sebagian saham mereka kembali.


"Aku tidak menyangka secepat ini Adira bisa menstabilkan kembali harga saham..." Ujar Mahessa.


"Jadi kelanjutannya bagaimana tuan..." Tanya Farell.


"Tidak perlu... Biarkan saja... Besok aku telah menikah dengan Luna.. Setelah semua selesai pastikan semua laporan fiktif itu menghilang." Titah Mahessa.


"Yang menjadi keberuntunganku adalah masuknya tetua Surya ke RS. Mau tidak mau Adira akan tinggal lama di kota K..." Mahessa menyeringai dan tertawa kecil.


"Apa ini ulah anak buahmu Farell?" Selidik Mahessa.


"Tuan Surya memang memiliki riwayat jantung."


"Karena dalam satu dekade ini RG tidak pernah mengalami kemunduran seperti ini tentu saja ini kejutan yang besar." Jelas Farell.


"Ditambah mereka baru saja mengangkat ahli warisnya menjadi CEO menjadi pukulan yang keras... Anak kesayangan mereka penyebab kekacauan RG..." Imbuh Farell kemudian.


Mahessa hanya menyeringai.


"Oh iya tuan mengenai perintah anda mengidentifikasi tuan Wira..." Farell berhenti sejenak.


"Iya?" Mahessa sedikit gelisah pasalnya saat tadi bertemu aura mertuanya berbeda dari setiap orang yang dia temui.


"Access Denied!" Jawab Farell hati-hati


DEG!!


Mahessa tertegun apa semuanya seperti yang dia pikirkan? Mereka adalah keluarga rahasia. Pantas saja dia merasa tertekan berada di samping mertuanya.


"Mengapa di file Luna mengatakan dia adalah montir?" Mahessa merasa frustasi.


"Fero mengatakan sebelum mereka akhirnya bisa menemui tuan Wira di alamat yang tercantum diberkas tanpa sengaja dia melihat tuan wira dengan beberapa orang berseragam melaju dari arah berlawanan kemudian orangnya berpencar."


"Fero berinisiatif mencari tahu dari arah kedatangan mera di titik awal. Betapa mengejutkannya tuan..."


Farell menyerahkan berkas foto yang diserahkan Fero sepupu Farell kepada dirinya. Mahessa mengusap kasar wajahnya.


"Kediaman mereka di Distrik S terbagi menjadi dua, dengan empat titik rumah kecil yang menjadi security access. Rumah yang kami temui adalah Access security yang dijadikan rumah biasa. Itu mencakup di seluruh wilayah Distrik S."


Mahessa terdiam, apa keputusan menjebak Luna ini menguntungkannya atau sebaliknya.


* * * * *

__ADS_1


"Sudah lama?"


Luna melirik kearah asal suara.


"Sesungguhnya Mahessa makhluk yang tampan dan berkharisma... Hanya cewek bodoh yang melewatkannya begitu saja..." Batin Luna menatap Mahessa lekat.


Mahessa yang ditatap Luna seperti itu mendadak salah tingkah. Mahessa mendekat kini tengah duduk diantara Luna dan papanya.


"Bagaimana om, apa Luna mengajak anda berkeliling?" Mahessa mencoba berbasa-basi dengan hati-hati.


"Tentu saja... Mahessa, apa kita bisa berbincang berdua?" Ajak Wira serius.


"Boleh om, namun sebelumnya bagaimana jika kita kembali ke kediaman saya di Beverly. Luna harus melakukan fitting dress malam ini." Wajah Mahessa lebih pucat dari biasanya.


"Luna mami aku ingin menemuimu..." Mahessa menatap Luna.


"Apa? Bisa kah kita melewatkan ini..." Jawab Luna asal.


"Dia akan menjadi ibumu juga kan?" Lirih Mahessa.


Luna hanya membuang nafas kasar. Wira menatap putrinya lekat


"Luna... Apa yang harus papa lakukan sayang.. Mengapa kamu sungguh sangat gegabah dengan keputusan ini!!"


Sekitar 20 menit mereka tiba dikediaman Mahessa. Disana telah disambut oleh Sesillia.


"Sayaaaang..."


Sesillia merangkul putra kesayangannya.


"Ini menantu mama yang cantik.. Mama panggil kamu apa sayang?"


"Kenapa panggil tante! panggil mommy juga!!!"


"Baik mam..." Luna tersipu.


Sejujurnya mama Adira juga sangat baik, welcome dengannya bahkan mengajarinya memasak dan melakukan banyak hal. Sifatnya yang lemah lembut dan kalem berbanding terbalik dengan mama Mahessa yang blak-blakan dan periang.


"Maaf tuan saya lancang... Perkenalkan saya Sesillia.." Ujar Sesillia mengucapkan perkenalan kepada Wira.


Wira menyambut menjabat tangan Sesillia. "Wira papa Luna..."


"Loh yang lainnya mana Luna?" Tanya Sesillia heran.


"Itu kebetulan mereka sangat sibuk dan ibu saya tengah kurang sehat..." Ujar Luna berbohong disambut tatapan dingin Wira.


"Oh sayang sekali... Lain kali kita adakan penjamuan dengan keluarga besarmu ya...Kalian semua siapkan kamar tamu untuk Tuan Wira..." Titah Sesillia pada setiap pelayan.


"Luna mari ikut mama..." Sesillia menarik lembut lengan Luna.


Luna menurut pasrah.


"Mari om kita keruang tengah..." Ujar Mahessa ramah.


Wira mengikuti Mahessa. Mereka duduk di area tengah kemudian para pelayan menyiapkan semua kudapan diatas meja.


"Diminum om..." Mahessa sedang menyiapkan mentalnya.

__ADS_1


"Terima kasih.."


"Langsung saja ke intinya. Apa maksudmu memilih Luna menjadi alat mendapatkan saham?" Ujar Wira tegas dan dingin.


Mahessa terkejut dengan penuturan mertuanya. "Maafkan saya om, sejujurnya saya mencintai Luna om..." Jawab Mahessa yakin tidak ada keraguan dari setiap ucapannya


Wira terkejut dengan jawaban yakin dari Mahessa.


"Apa kamu menggunakan alasan saham demi memenangkan persaingan dengan Adira?"


"Saya minta maaf, sedikitpun saya tidak pernah menganggap Luna sebagai barang. Namun untuk mendapat hati Luna begitu sulit... Adira juga bukan seorang yang baik untuknya... Saya berjanji saya akan menjaga Luna dengan baik."


"Sejujurnya saya tidak pernah memiliki syarat khusus untuk memilih menantu... Luna bukan yang pertama. Kedua kakaknya sudah lebih dulu menikah dan saya tidak mempermasalahkan pilihan mereka. Selama anak-anakku saling mencintai, dan suaminya akan selalu menjaga putriku itu sudah cukup.."


"Namun Luna membuatku terkejut dengan penuturannya jika ini hanya pernikahan kontrak!!!" Wira mulai tersulut emosi.


"Apa kamu tengah mempermalukan keluargaku?" Sindir Wira tajam.


Mahessa terdiam dia menelan salivanya dia sungguh sangat gelisah. Seumur hidupnya untuk pertama kalinya dia gugup dengan orang lain namun dia mencoba mengendalikan semuanya.


"Om mungkin banyak hal yang Luna ceritakan tentang pernikahan ini. Namun diantara semua penjelasannya yang dia selalu pungkiri adalah saya sangat mencintainya."


"Om bisa memastikan padanya. Saya adalah selingkuhannya saat ini.. Saya menjalani hubungan dengannya sudah sebulan lamanya dan bukan sekedar teman biasa. Bahkan kami sempat bercumbu dan Luna tidak menampiknya!"


BRAAAK!


Wira menggebrak meja membuat Mahessa dan Farell sedikit melonjak.


"Mahessa, tidak ada yang berhasil dengan memaksakan kehendak..." Ujar Wira.


"Tapi om... Apa om tahu apa yang sudah Adira lakukan kepada Luna?"


"Aku hanya sedang membantu om menjaga putri kesayangan om... Dalam kontrak aku tidak akan berhubungan badan dengannya. Semua isi kontrak itu hanya berisi keuntungan bagi Luna."


"Saya hanya menginginkan status pernikahan saja..."


Mahessa tidak percaya jika keahliannya bernegosiasi dengan calon investor saja bisa sangat mudah harusnya bernegosiasi dengan mertuanya tidak begitu sulit.


"Aku peringatkan Mahessa.. Kamu sakiti putriku maka jangan salahkan aku mengambil alih dan meratakan E.T seperti aku menghancurkan Huateng yang tengah kamu bantu!!"


DEG!!


Semua perkataan biasa Wira membuncah hati Mahessa. Siapa Wira Kusuma? Sampai bisa mengguncang Huateng Group yang sudah berdiri dari 20 tahun yang lalu kemudian hancur dua bulan terakhir ini.


"Mahessa... Coba kamu ke kamar atas Luna tengah memakai gaunnya... Kamu coba juga pakaianmu.." Ucapan Sesillia menghentikan obrolan Wira dan Mahessa.


Barusan Mahessa seperti lupa cara bernafas. Beruntung ibunya memutus percakapan mematikan ini.


"Maaf om... Mungkin kita bisa mengobrol panjang lain hari." Mahessa bangkit dari duduknya seraya mendekati ibunya.


Wira masih terdiam. "Aku tidak menyangka nyalinya tidak sebesar Diaz Wijaya... Dia tidak sepenuhnya mencintai Luna dia masih mementingkan bisnisnya."


"Ya mereka baru sebulan sedangkan Diaz 6 tahun lamanya. Haish!"


"Tuan, baju anda berada di kamar. Silahkan melakukan fitting sekalian.." Sesillia menambahkan dengan sopan.


"Terima kasih besan..." Jawab Wira sopan.

__ADS_1


* * * * * * * * * *


__ADS_2