Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 110 : Solidaritas


__ADS_3

"Mobil siapa ini yang?!"


Luna masuk dalam mobil dan langsung menciumi punggung tangan kekasihnya bahkan Luna mencium bibir kekasihnya tanpa dimintai oleh prianya.


"Punya papa."


"Aku baru anter mereka pulang ke Villa langsung jemput sayaang!"


"Owh..."


Tok... Tok... Tok...


Adira menatap ke jendela miliknya. Dia menurunkannya.


"Bang sombong amat ga mau ngomong sesuatu kek ama kita-kita!"


Rio masih tidak terima dengan pengacuhan Adira, seolah mereka tidak pernah menjalin pertemanan. Adira sendiri bukan sengaja, dia merasa tidak enak saja dengan mereka.


"Sorry bro!!"


Adira menepuk bahu Rio.


"Luna udah bilang kan tar minggu depan kongkow!"


"Iya tau..."


"Masa lewat nyonya sih..."


"Kan abang punya no hape kami!"


"Aku ga suka orang ngasih rumor buruk ke abang yang tiba-tiba pergi tanpa konfirmasi apapun."


Luna dan Adira terdiam, dia tidak menyangka bahwa Rio memiliki solidaritas yang tinggi.


"Maaf, yang kalian lihat ga selamanya jalan hidup gue semulus jalan bebas hambatan!"


Adira menatap sendu Rio "Gue janji abis masalah gue kelar kita bisa sering ketemuan!"


Rio sangat tahu sifat Adira, jadi saat rumor buruk temannya itu merebak hatinya sedikit kurang nyaman. Rio dan rekan dekat Adira tahu dengan jelas sifat Adira seperti apa. Walau cuek dan dingin. Adira sendiri sangat setia kawan. Sudah tidak terhitung bantuan Adira bagi mereka yang satu tempat tinggal dulu di Central. Terutama masalah finansial. Adira sendiri tidak pernah perhitungan atau banyak tanya selagi dia bisa membantu. Alasan itu lah Adira memang sangat di segani di kantor atau di luar kantor. Sifat apa adanya yang tidak pernah melebih-lebihkan juga salah satu poin plus dari seorang Adira.


Semenjak kepindahan Adira tiba-tiba tanpa adanya konfirmasi lebih lanjut membuat seluruh penghuni berpikir bahwa Adira marah karena rumor Bram yang di gosipkan menyukai Luna. Bram sendiri telah mengkonfirmasi pada teman yang lainnya walau dia benar menyukai Luna tapi dia tentu tidak sampai hati merusak hubungan Adira dan Luna. Sama halnya Rio dan Daniel yang sama-sama mengagumi dan menyukai Luna. Sangat wajar bagi mereka, Luna memang menjadi primadona kantor mereka.


"Ok lah bang..."


"Abang harusnya tahu, kita udah anggap abang tetua di rumah."


"Jangan berpikir kita ga peduli sama abang!"


"Abang ga sendiri!!"


"Kalau abang punya masalah, selama kita bisa bantu kita bakalan coba bantu bang!"


"Sama halnya kek abang yang suka bantu kami kalo kami ada masalah!!"


Adira tersenyum bangga pada temannya. Dia membuka pintu dan bersiap merangkul sahabatnya. Luna melengkungkan senyumnya.


"Ketemuan ga ajak-ajak ya!!!"


Kali ini suara yang jauh lebih nyaring dan annoying khas Daniel.


"Ya gimana nyonya masih kerja di EPS, gue pasti masih sering mondar-mandir sini."


"Lah udah bilang nyonya berarti?!"


Daniel menatap dan menunjuk Adira dan Luna yang tengah menunggu di kursi depan.


"Sorry banget-banget bukannya gue ga mau ketemu kalian lagi."

__ADS_1


"Tapi gue emang lagi trouble banget."


"Ini aja jemput nyonya abis itu langsung cabut."


"Keluarga besar gue disini selama seminggu."


"So akhir pekan nanti gue traktir lu pada ya!"


"Ah yang bener bang?!"


Rio dan Daniel kaget bukan pasal traktiran melainkan mendengar keluarga besar. Mode kepo mereka semakin menggebu.


"Lancar-lancar ya bang!!"


"Inget undang kita-kita bang!!"


"Walau mungkin udah beda kelas..."


"Apa sih Niel!!!"


Kemudian mereka pamit dan pulang menuju tempat masing-masing.


"Rumor bang Dira CEO emang bener ya?!"


"Kemaren Audi sekarang Range Rover!"


"Gue nabung ampe kiamat juga belum tentu bisa ke beli!!!"


Daniel dan Rio berakhir adu jotos kemudian merasa lega akhirnya beban selama ini yang mereka pendam sedikit terobati.


"Sayang bener di Bram pake absen segala!!"


"Dia tuh stress sebenernya."


"Ga mau ngaku aja!!"


* * * * *


"Mas..."


"Iya sayang..."


"Ko masih belum selesai?!"


"Udah jam 11 loh!!"


"Tadi janjinya ampe jam 10 aja ngerjain kerjaannya!!!"


Luna merengek, dia buru-buru mendatangi prianya yang sedari datang di mansion PA dia bergegas melakukan pekerjaannya. Sebelumnya mereka makan malam bersama di Laguna bersama keluarga besar Adira.


Luna sungguh sangat bahagia, merasakan kembali kehangatan sebuah keluarga besar. Dia bahkan seperti memang masih berstatus istri seperti dulu saat telah menikah. Luna dan Adira semakin berani memperlihatkan kemesraan mereka berdua.


Sampai tiba pukul 9 malam mereka pamit. Luna di bawa Adira ke mansion PA karena ada beberapa pekerjaan yang harus di selesaikan Adira cepat.


"Ssshh..."


"Aarghh!!"


Luna sengaja melenguh dengan suara yang nyaring terdengar dengan satu tujuan. Membangkitkan gairah prianya tentu saja.


Adira melepaskan kimono yang menutupi dress mini dan transparan Luna yang berwarna maroon.


"Sayaang seneng banget sekarang godain aku!!"


"Abis kan janjinya cuma sampe jam 10 malam mas kerjain kerjaannya."


"Besok kan masih bisa!!" Protes Luna, jemari lentiknya tidak diam dia melepaskan kancing-kancing piyama kekasihnya.

__ADS_1


"Kamu tahu kan sekarang rasanya."


"Saat aku sangat ingin berduaan dengan mu, kamu memilih lembut bersama teman-temanmu itu sayang!!"


Adira menyesap kuat leher kekasihnya.


"Jadi ceritanya mas balas dendam yaaa!!!"


Mulut Luna telah di kunci oleh prianya. Hanya beberapa detik Adira kembali melepaskan Luna. Dia mengusap lembut bibir kekasihnya yang telah basah.


"Bentar lagi ya, aku tanda tangan satu berkas ini lagi aja ya!"


"Abis itu aku janji, apapun yang nyonya Adira inginkan aku akan berusaha kabulkan!!"


Bisikan Adira tepat di depan wajah Luna dengan ekspresi wajah yang sangat menggoda bagi Luna.


"Jadi, mas lebih tertarik dengan berkas itu ya di banding aku!!"


Luna menarik atasan piyama Adira, tubuh polos bagian depan prianya yang mulai membentuk cetakan roti sobek beraneka rasa membuat Luna semakin tidak ingin kehilangan kesempatan menggigitnya!


"Apa disini ada yang berisi rasa favoritku, keju?!" Luna meraba seluruh permukaan otot perut kekasihnya yang memberikan sensasi panas terbakar di dalam diri prianya.


"Sure!"


"Disini malah ada keju melted!"


Adira menuntun tangan Luna menuju adik kebanggaan dirinya.


"Mesuuuum!!!" Luna tersipu malu saat candaan prianya membuat gairahnya semakin memuncak.


"Maas..."


"Kita belum pernah lakuin di ruangan ini kan?!"


"Bagaimana jika kita mencobanya?!" Luna semakin membuat prianya merem dan melek dengan gerakan tangan wanitanya yang memanjakan miliknya.


"Kamu sungguh semakin hari semakin liar sayaaang!!"


"Ooughh!" Adira melenguh, dia merutuku dirinya hanya karena sentuhan sedikit saja dari wanitanya gairahnya akan dengan sangat cepatnya menunjukan dirinya.


"Mas ga suka ya aku semakin liar?!"


Luna mendekatkan dirinya di dada bidang prianya mendongak dan menggigit dagu lancip prianya.


"Jangan nyesel ya kalo ini bakalan sakit!!"


"Ga akan!!" Luna semakin menggoda prianya.


Adira semakin menyeringai dan gelap mata dia segera menuntaskan apa yang sudah di mulai kekasihnya. Ditengah pergumulan panas mereka Luna dan Adira masih terus melakukan deep talk mereka.


Ya!! Beginilah mereka. Hubungan badan bisa membuat mereka berbincang dengan nyaman dan lepas tanpa beban. Sangat kontras jika saat mereka tidak melakukannya.


"Aku sangat mencintaimu sayang!!"


"Adira Renald ku!!"


"Kamu hanya boleh menjadi milik ku seorang!!"


Di tengah rintihan suara dirinya dan decitan suara pergumulan mereka. Luna melayangkan ultimatumnya.


"Tenang saja sayang!!"


"Aku cuma bisa menyentuh satu wanita!!"


"Cuma Naluna seorang!!"


* * * * * * * * * *

__ADS_1


__ADS_2