Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 38 : Falling in Love


__ADS_3

Terdengar ketukan pintu di depan, Mahessa pikir itu pasti Farell. Ingin rasanya dia memiliki teman berbagi cerita. Namun Farell adalah spesies pria yang tidak pernah memiliki pacar sama sepertinya.


"Apa yang bisa diharapkan dari berbincang dengan seseorang yang buta akan cinta? Mungkin arti cinta itu sendiri dia tidak paham." Mahessa menertawakannya yang belum jelas kebenarannya.


"Masuk..."


"Maaf tuan mengganggu malam anda.." Sapa Farell.


"Ada apa?" Mahessa langsung mengetahui bahwa ada yang tidak beres.


"Maaf tuan."


"Saya mendapat kabar dari HK."


"System disana error. Indeks saham kita menurun drastis..." Farell berujar hati-hati.


"APAAA?!!" Mahessa menggebrak meja terkejut atas penuturan Farell.


BRAAAK!


"Siapkan semuanya kita berangkat kesana sekarang!!" Mahessa segera menyambar jasnya serta ponsel dan bersiap menuju keluar.


"Tentu tuan... Jet anda telah siap." Ujar Farell mempersilahkan tuannya keluar ruangan kemudian mengikutinya.


Didalam pesawat Mahessa terus memperhatikan layar ponselnya yang saat ini telah berganti wallpaper. Biasa hanya potret abstrak yang dia gunakan. Namun kali ini dia mengubahnya menjadi sosok wanita yang periang dan cantik yang sudah menghantuinya selama beberapa hari ini.


"Lunaa... See you soon sayang..." Tanpa terasa Mahessa mencium ponselku.


Merasakan sangat rindu dengan harum tubuhnya, bibir lembutnya bahkan hisapan liarnya. Seketika mata Mahessa membulat!


"Ada apa tuan?" Farell bertanya seperti khawatir dengan tindakan tuannya barusan.


"Kerja aja yang bener ga usah kepo!!" Ujar Mahessa malu.


"Hah? Haiisshh" Mahessa melihat Farell menatap kebingungan beserta rutukan.


"Apa yang sedang kamu lakukan sayang.." Mahessa menatap keluar jendela.


Pov Mahessa End.


* * * * *


Akhir pekan ini Luna berniat untuk merapikan tempat tinggalnya di Central Park. Dia juga berencana pindah dari tempat kekasihnya ini.


"Mas..."


"Ya sayang..."


"Ya tuhan, emang sih sarapan dengan senyuman ga ngenyangin. Tapi sepagi ini dikasih senyuman semanis ini aku langsung kenyang gaes!!" Sungut Luna dalam hati melihat tatapan menggoda kekasihnya.


"Aku pengen pindah kosan."


"Cari kemana ya kira-kira?"


"Kenapa kamu ga suka tinggal sama aku ya?" Jawabnya ketus.


"Aku suka."


"Tapi kan kita belum halal!"


"Jika orang tahu kita serumah apa ga dipanggil kumpul kebo?"


Luna menjawab dengan rasional dan kenyataannya.


"Baiklah, aku belikan unit baru disini juga gimana?"


Luna terbelalak, dia juga membuka mulutnya lebar.


"Maksudnya gimana mas?"


"Ya biar kamu dekat denganku, aku juga lebih tenang."


"Takut kamu ada masalah, kalo deket disini aku bisa langsung bantu."


Luna terdiam, dia menyalah artikan semua tanggapan konyol Adira bahwa kekasihnya ingin mengontrol dirinya.


"Mas ngaco deh ah..."


"Berapa duid coba kalo tinggal disini?"


"Aku bakalan kekantor kelurahan kalo gitu!!"


"Lah ngapain..."


"Buat surat keterangan tidak mampu!!"

__ADS_1


"BUAHAHAHAHHA!!"


Tawa Adira pecah dengan pernyataan konyol calon istrinya itu.


"Aku yang beliin loh yang..." Ujarnya menyeka sudut matanya yang berair.


"GA MAU!!"


"Haiissh!!"


"Mau cek ke Aston?"


"Aku punya kenalan siapa tau dia punya kamar yang di sewa."


"Aston Mansion?"


"Yup.."


Mata Luna berbinar dia menginginkannya, mengangguk berulang kali tanda setuju. Adira mengacak rambut Luna lembut dan mencium bibirnya mesra.


Keduanya telah sampai di pelataran Mansion, sebelumnya Adira menghubungi seseorang dan tidak lama kemudian dia mengajak kekasihnya menuju tkp secepatnya.


"Luna..."


"Bagas.."


Tanpa Luna ketahui bahwa yang mengatas namakan pemilik mansion yang akan dia tempati adalah Bagas. Pria itu kini tengah memperlihatkan beberapa type apartemen yang mungkin di inginkan Luna. Dengan keuangan Luna saat ini tentu saja dia menyewa harga yang paling murah namun tempatnya jauh lebih baik dari kosan sebelumnya.


Adira merangkul tubuh Luna dari belakang, keduanya tengah berada di balkon tempat yang akan di sewa Luna


"Maass..." Luna merasa risih dengan tindakan Adira yang di luar ekspektasinya.


"Mas Dira sejak kapan jadi se over ini?" Batin Luna kesal.


"Mau disini yang?" Tanya Adira tidak mempedulikan kerisihan Luna.


Luna mengangguk pertanda setuju kemudian, Adira menjauh dan melakukan transaksi dengan Bagas. Luna mengedarkan pandangannya. Dia tidak menyangka akan semudah ini dia mendapatkan apa yang dia impikan selama ini.


"Semua sudah deal.. Ini kuncinya Nona."


Bagas memberikan Luna kunci apartemen, beruntungnya lagi apartemen ini siap huni. Bahkan Bagas mengatakan bahwa semua sudah di bersihkan dan di ganti baru.


"Mau kemana lagi nyonya?"


Luna merasa lain di kehidupannya saat ini, walau sejujurnya tidak begitu terkejut tapi ini adalah sebelum mereka menikah. Dulu dia tahu suaminya begitu peduli dan mencintainya tentu saja setelah mereka menikah dan di karuniai seorang anak.


"Terima kasih mas.."


"Nanti tiap bulan aku bayar ke mas gitu ya?"


"Kamu ga usah mikirin itu okay..."


"Mass.."


"Iya..."


"Jadi mau kemana?"


"Ke China Town sebelah Plaza Hill yuk..."


"Ngapain?"


"Mau buka toko online..."


Luna berujar antusias, seperti di dalam misi kehidupannya kembali dia akan mengejar mandiri secara financial. Maka online shop adalah langkah yang tepat di tahun ini.


"Siap nyonya..." Adira menghidupkan mesin mobil dan melaju meninggalkan Aston.


* * * * *


Luna dan Adira telah kembali ke apartemen mereka. Keduanya telah memutari seluruh kawasan China Town yang memang khusus di gunakan para pebisnis pemula untuk melakukan jasa dropship mereka. Luna sudah mengantongi beberapa kontak PIC yang akan menjadi suppliernya.


Saat tengah fokus pada ponselnya Luna menyadari bahwa prianya telah terlelap di sofa panjang. Luna mendekati wajahnya dan membelainya mesra "Kamu sangat tampan mas, bagaimana aku tidak tergoda dan terus berpikir nista sama kamu mas?"


Luna mengecup bibir kekasihnya mesra, kemudian meninggalkannya dan melakukan ritual berendamnya.


"Nalunaaaaaa...." Pekik Adira di dalam kamar mandi.


"HAHAHA"


Luna mengunci dirinya di kamar dan tengah terbahak saat ini. Dia mengerjai kekasihnya dengan memberikan Kissmark yang cukup besar di lehernya. Adira sendiri seseorang yang tidak menyukai yang namanya tanda cinta terekspose. Menurutnya semua itu memalukan.


Adira menggedor pintu kamar dengan brutalnya, sepertinya pria itu tengah kesal. Pasalnya dia akan membawa tanda itu kemana pun hingga tanda itu memudar. Naluna sendiri bodo amat jika orang berpikir dirinya yang melakukannya.


"Naluna Maharani!!!"

__ADS_1


"Buka sayang liat gimana aku beresin kamu sekarang juga!!!"


"Ogah!!"


"Suruh siapa tidur pules bener kek kebo!!"


"Hahaha!"


Luna tidak mengijinkan prianya memasuki kamar, Luna masih menertawakan Adira dengan kerasnya sampai dia mengusap air matanya yang keluar.


Tidak terdengar lagi suara ketukan pintu dari luar, Luna menatap pintu apa Adira sudah menyerah atau belum.


"Sayang aku sudah lapar, kita keluar yuk!!" Ajaknya kemudian.


Luna terdiam sejenak, "Apa dia betulan atau akal-akalan saja?"


Luna membuka perlahan pintu kamar dan....


"Maaas!!"


Adira mengungkung tubuh Luna, "Bagus ya sayang... Kamu mencoba kembali batas kesabaranku!"


Mata nyalang Adira tengah menelanjangi Luna saat ini, wanita itu cengengesan kemudian keduanya kembali melabuhkan cinta mereka yang selalu menggebu di setiap harinya.


"Aku mencintaimu Naluna..."


"Arrghh!!"


Keduanya telah mencapai puncaknya bersamaan, Luna terlelap di dalam dekapan Adira.


* * * * *


"Naluna!" Sapa Hapsari mendekati Luna.


"Kenapa?" Luna menatap Hapsari saat ini.


"Thanks ya, akhirnya produksi gue aman sentosa..." Terang Hapsari dengan wajah berseri.


"Heran aku ama makhluk satu ini. Dia hanya akan membahas pekerjaan bahkan bahagia dengan pekerjaannya. Kenapa? Karena dia jomblo!"


"Malem ni gue ikut ditempatmu ya?" Rengek Hapsari.


Deg!


"Tapi rencana gue mau pindahan hari ini..." Jawab Luna gugup.


Seharian kemarin Luna dan Adira melupakan pasal berbenah di kosannya. Keduanya menghabiskan waktu bersama dengan cuddling sepanjang hari.


"APA?!"


"Ko lu tiba-tiba pindah? Kenapa non?"


"Sore ini bantuin aku ya..." Luna berbisik pada Hapsari, mereka tengah di perhatikan atasan mereka. Hapsari hanya mengacungkan kedua jempolnya.


Tring!


[Pulang jam brp yang? Aku tunggu di loker.]


Luna yang berniat pulang dengan Hapsari buru-buru menjawab pesannya.


[Aku pulang bareng Hapsari ya hari ini. Tadi dia minta nginep dikosan jadi aku bilang bantuin aja pindahan...]


Ting


[Owh ya udah... Mau aku bantuin apa?]


[Ehmm... Apa ya? Mobil angkut barang sepertinya.]


Ting


[Oh iya aku lupa... Nanti aku aja ya yang jemput. Bilang aja kalo udah tinggal ke Aston.]


[Ok. Makasi sayaaang... Bayarannya aku udah kasih 2 hari berturut-turut kemaren!]


Ting


[I love you my wife...]


Debaran jantung Luna berpacu dengan cepatnya, dia merasa kata wife di tujukan untuknya saat dia benar-benar telah menjadi istrinya dulu.


"Aku seperti dejavu..."


Dalam hubungan Luna dan Adira dia merasa akan ada waktu dia ingin sekali berpisah dengannya entah karena apa aku selalu merasa kami tidak cocok. Untuk jutaan kalinya Luna selalu ingin berpisah, namun di lain waktu sama seperti saat ini prianya akan selalu membuat dia kembali merasa jatuh cinta lagi berulang kali dengannya!


* * * * * * * * * *

__ADS_1


__ADS_2