
Adira masih berada di rumah sakit, malam kemarin dirinya pingsan terjatuh dari tangga. Setelah Adira masuk rumah sakit kondisi orang tuanya justru berangsur baik. Bahkan papanya atau Tuan Surya telah di pindahkan ke rawat inap biasa.
"Apa yang sedang kamu lamunkan?" Tegur Arneth melihat adik kesayangannya tidak berdaya.
"Aku ingin segera pulang dari sini."
"Makanya cepat pulih."
"Mama akhirnya tahu kamu masuk rumah sakit dan kakak bilang kamu kecapean mengurusi RG."
"Kau tau, RG sekarang pulih 100%!!"
"Bahkan nilai saham kita naik setelah terpuruk 2 hari kemarin."
"Orang yang memanipulasi laporan keuangan dinyatakan hacker yang iseng saja. Mereka tidak benar-benar mencuri uang perusahaan."
"Kau tau ini artinya apa?"
Adira terdiam atas penuturan kakaknya. Dia sendiri tengah menyangka semua ini berhubungan dengan kekasihnya. Setelah sambungan telponnya berhenti Luna meminta pengunduran pernikahannya.
"Apa kamu masih belum tahu siapa Naluna Maharani?" Tanya Arneth kembali memastikan.
"Aku hanya tahu dia calon istriku."
"Aku sangat mencintainya!"
"Aku juga sangat takut kehilangannya!!"
"Huh!"
Kakaknya membuang nafas kasar.
"Aku menyuruh Bagas menelusuri kembali."
"Namun hasilnya tetap nihil."
"Orang biasa mana yang datanya harus ditutupi sedemikian rupa!!"
"Bahkan RG terguncang setelah kamu terang-terangan ingin cepat menikahi Luna bukan?!"
"Apa kamu mempunyai rival dalam percintaan kalian?!"
Adira mendadak sesak, dia baru menyadari hubungan dia dan Luna hanya seputaran ranjang semata!
Dia tidak mengetahui lebih jelas mengenai istrinya. Tidak seperti Luna yang sepertinya sudah mengenal dirinya dengan baik.
"Hubungan aku dan Luna memang sedikit rumit..."
"Aku merasa Luna memang tidak mencintaiku dari awal kami menjalin hubungan."
"Aku yang memaksakannya selalu di sampingku!!"
"APAA?!!" Arnetha terkejut. Wanita itu tahu pasti adiknya orang yang seperti apa. Sampai harus memaksakan kehendak seperti itu.
"Jadi siapa yang Luna sukai?"
"Apa dia juga sebenarnya tidak ingin menikah denganmu?"
"Aku pernah bertemu dengan mama Luna."
"Dari gaya berpakaian, attitude dan lain sebagainya. Sepertinya memang bukan keluarga biasa."
"Aku selalu membohongi diriku sendiri. Selama Luna berstatus pacarku dan asal Luna mengakui itu. Aku akan berkesempatan mendapatkan hatinya."
"Tapi aku salah, sampai saat ini aku benar-benar tidak bisa memahami perasaan Luna."
"Aku tidak tahu apa yang di inginkan Luna."
"Aku telah jahat dengannya."
"Aku memaksakan segalanya!!"
"Mama Luna bilang dia telah bertunangan dengan seseorang dan Luna mengalami amnesia partial dia lupa akan pertunangannya!!"
Arnetha syok mendengar penuturan adiknya.
"You're so stupid dumb!!!" Umpat Arneth emosi.
"Aku mencintainya kak!!!"
"Terlebih...." Adira bingung apa dia beritahu kakaknya pasal kehamilan Luna.
"Terlebih apa?"
"Aku pernah menghamilinya dan dia telah menggugurkannya...."
PLAAAAAK!!!
"KAU SUNGGUH MENGECEWAKAN ADIRA RENALD!!"
Arnetha keluar dengan emosi yang memuncak setelah sebelumnya menampar keras pipi adik kesayangannya.
"Aaaarrgghhh!!"
"Aku benar-benar sudah gila!!!"
"Kamu membuatku gila Luna!!"
* * * * *
"Pah, berikan aku orang untuk menjemput temanku yang tadi pagi..."
"Okay..."
"Bobby akan melakukannya untukmu..."
"Sepertinya aku sangat mengenal uncle Bobby?"
"Tentu saja, dia asisten dan teman papa sedari dulu."
"Dari sebelum papa menikah hingga sekarang."
"Dulu kamu sering di awasi oleh Bobby sampai akhirnya dia menyerah karena kamu selalu mengoda memelas uncle untuk membohongi papa... Hahaha!!"
Luna terkekeh dengan jawaban papanya. "Sepertinya aku memang hilang ingatan..." Batin Luna.
"Bobby, jemput teman Luna di EPS."
"Baik tuan..."
"Aku akan menghubungi Sandra. Ini sudah pukul 5 sudah waktunya pulang.."
Luna segera menghubungi nomor ponsel Sandra.
"Halo nyonya..." Sapa seseorang dengan sangat di buat ramah.
"Nanti yang jemput laki-laki ya..." Ujar Luna pada intinya.
"Oh ya? Who?"
"Ehmmm ada lah! Kamu hanya perlu naik mobilnya dan pergi ke Laguna. Aku di Laguna..."
"Baiklah..."
Luna menghentikan sambungan telponnya. Dia menghirup udara dan menghembuskannya kasar.
"Aku berhutang banyak pada Sandra pah."
"Dia teman terbaiku."
"Seluruh rahasia hidupku ada padanya..."
"Oh ya?"
__ADS_1
"Memang rahasia apa?!"
"Papa akan berterima kasih padanya..."
"Iya..." Luna menatap kosong kedepan.
"Keluarganya juga sangat ramah dan baik sekali padaku."
"Menganggap aku bagian dari keluarganya."
"Oh ya pah..."
"Apa papa bisa memberikanku informasi tentang seseorang?"
"Biasanya kan orang kaya selalu punya informan dimana-mana!!"
"Hahaha."
"Kamu mau cari tahu tentang siapa?"
"Adira Renald."
"Hah?!"
"Aku tidak pernah bisa berkomunikasi dengan baik dengannya."
"Dalam hidupnya dia hanya memiliki kosakata 500 kata per hari sulit sekali membuat dia berbicara panjang dan menjelaskan kebenarannya."
"Papa mengerti..." Wira terkekeh dengan penuturan Luna yang seperti tengah menahan kesal.
"Adira merupakan anak kedua atau bungsu dari dua bersaudara. Kedua orang tuanya Surya Dinata Renald dan Julia Halim tinggal di kota K. Salah satu keluarga terkaya disana namun memang mereka memiliki prinsip yang sama dengan keluarga kita."
"Merahasiakan identitas dan kekayaan mereka. Ya mungkin tujuannya akan sama yaitu demi melindungi keluarganya..."
"Bagi pebisnis kelemahan utama mereka adalah orang terdekat."
"Bagi yang telah berkeluarga tentu saja keluarganya adalah kelemahan. Mereka akan melakukan segala cara demi melindungi keluarganya."
Wira menatap serius putrinya yang kini menatap bersila tangan di depan papanya.
"Papa sudah mencari tahu sebelumnya ya?" Dengus Luna.
"Off course!"
"Mereka duluan yang selalu mencari identitasmu..."
"Tapi papa tidak pernah memberinya akses di bank centre data."
"Bank centre data?" Luna kini merasa tidak asing dengan istilah ini.
"Apa kamu pernah mendengar sebelumnya?" Pancing Wira.
"Hemm... Tapi dimana dengan siapa aku lupa..." Ujar Luna polos.
"Adira mencari tahu tentangmu sebulan yang lalu."
"Mungkin karena ingin serius denganmu."
Sejujurnya Luna sudah mengetahui pasal kekayaan Adira dan keluarganya. Hal yang ingin dia ketahui adalah memastikannya untuk mendapat informasi yang berguna untuk menekan Adira sehingga pembatalan pernikahannya tidak di curigai oleh kekasihnya.
"Aku tahu itu, aku hanya sedih karena sampai saat ini dia masih menutupi semuanya."
"Mengapa dia sangat takut aku mengetahui bahwa dia CEO RG?!"
"Bukannya terlihat kaya di depan pasangannya jadi nilai plus ya?!"
Luna menumpahkan kekesalannya.
"Papa yakin semua ada alasannya dan kamu harus tanyakan langsung dengannya bukan?" Wira menasehati anak bungsunya.
"Semakin kamu berterus terang dan menghindari masalah ini akan semakin bagus."
"Papa semakin ingin bertemu dengan Adira. Papa ingin mengenal sejauh mana calon suami real anakku nanti. Secara ada tiga lelaki yang mengantri di belakang putri cantik ku!!"
"Untuk apa pernikahan siri?" Wira berubah menatap tajam ke arah Luna mencurigai tingkah putrinya.
"Mampus gua!!" Rutuk Luna dalam hati. Tidak mungkin dia beritahu bahwa mereka sering berhubungan badan dan ingin melabeli halal dengan pernikahan siri.
Di saat sedang tersudut, Luna terselamatkan oleh kedatangan Sandra.
"Tuan, nona ketiga..." Sapa Bobby menundukan wajahnya.
"Terima kasih uncle!!" Luna tersenyum ke arah Bobby kemudian berdiri merangkul Sandra.
Sandra yang tengah tercengang menjadi lebih pendiam saat ini.
"I miss you babe!!" Ujar Luna sangat senang mengetahui temannya baik-baik saja.
"BTW dia siapa?"
"Jangan bilang..." Sandra mendelik ke arah Luna memperlihatkan ke suudzonan.
"San, kenalin ini papa aku..." Luna mengenalkan papanya.
Wira segera berdiri kemudian dia juga mengangkat tangannya mengisyaratkan untuk para anak buahnya mengikuti apa yang akan dia lakukan. Luna juga sedikit syok karena yang dia tahu hanya ada uncle Bobby ternyata ada yang lainnya.
"Sandra, perkenalkan saya papa Luna." Wira menjulurkan tangan.
Sandra mendadak speechless dia juga sungguh gelisah pasalnya semua dalam keadaan tidak normal. Luna senang melihat ekspresi frustasi sahabatnya itu.
"Saya pribadi sangat berterima kasih padamu dan kelaurga karena telah dengan sepenuh hati menolong dan menjaga putri saya selama dia disini." Wira membungkuk di ikuti oleh semua bawahannya.
Sandra semakin menganga membuat Luna kini terbahak.
"Papa menggelikan sepenuh hati kayak kecap bango!!"
"HAHA..."
Wira tersenyum lega, dia kembali menyuruh anak buahnya kembali posisinya.
"Yuk duduk..."
"Kamu belum makan kan?" Luna mengisyaratkan pada pramusaji.
"Demi apa Luna!!!" Lirih Sandra masih terlihat syok.
"Maaf saya membuat kamu kaget ya?" Raut wajah Wira sedikit khawatir.
"Luna anak bungsu saya..."
"Dia merantau kesini memang ada alasannya. Kami tidak bisa melarangnya..."
"Dia bahkan ingin dirinya tidak terlalu terekspos. Namun masalahnya dengan Mahessa sudah di luar batas."
Sandra mendengar dengan seksama.
"Terima kasih selama ini telah menjadi sahabat untuk Luna berbagi. Disini dia tidak memiliki sanak saudara. Dia sungguh anak degil!!"
Sandra terkekeh. "Dengan senang hati om.. Kebetulan saya anak tunggal, bersama Luna saya seperti memiliki saudara."
"Bagian degil.. Luna memang sangat pecicilan om.. Makanya dia memiliki masalah dengan Mahessa.. Padahal saya sudah memperingatinya.."
Luna mengacungkan jari tengahnya di sambut gelak tawa seluruhnya.
"Oh iya Bobby berikan hadiah untuk keluarga Sandra.."
"Baik tuan..."
"Busyeet!!"
"Luna lu real princess salah server ya?!"
"Pantas saja lelaki yang kamu gaet semuanya sultan!!"
__ADS_1
"Lu satu aliran darah..."
Luna terbahak hingga mengeluarkan air mata. Wira menatap gadisnya sendu.
"Luna memiliki gangguan ingatan yang serius. Sehingga dia melupakan sebagian memory kehidupannya." Ujar Wira kemudian membuat keduanya berhenti dengan gelak tawa mereka berganti menatap orang tua ini dengan serius.
"Luna.. Mama menyuruh papa membawamu pulang bulan depan."
"Selesaikan kontrak dengan EPS kembali ke rumah dan melakukan berbagai terapi demi kesembuhan mu sayang..."
"Pah, kita sudah sepakat sebelumnya bukan?"
"I'm okay..."
"Dan aku akan menjaga diriku dengan baik!"
Wira menundukan kembali kepalanya.
"Kamu sungguh tega membuat papa di omeli mama kamu 7 hari 7 malam..."
Luna kembali terbahak. "Dengar ya pah jangan sampai mama tahu pasal Mahessa!!"
"Ataau..." Luna sedikit mengancam dengan gerakan memotong kepalanya.
"Baik ratu..." Papanya menghela nafas berat dengan kelakuan putri bungsunya.
"Wah aku tidak menyangka Luna sebenarnya juga sultan yang sedang mendalami peran kaum missqueen."
Sandra terus menatap Luna dan bermonolog dalam pikirannya.
"Wajar saja sih!"
"Pakaian dia saja tidak ada merk abal-abal sedari awal masuk. Sudah jangan di tanya lagi gaya hidupnya yang boros!!" Sandra tersenyum menatap Luna yang tengah bercengkrama dengan ayahnya.
Dia baru pertama kali melihat orang tua Luna dan melihat sisi Luna yang ini.
"Bagaimana pekerjaanku?"
"Apa ada gosip yang aneh?"
"Oh itu..."
"Aku tidak tau apa kamu sudah tau apa belum ya..."
"Adira resign tanpa datang kembali..."
"APAAAAA?!" Luna terkejut sangat terkejut.
"Lagian ngapain juga jadi karyawan kalo dia itu CEO!"
"Kamu juga ngapain kaget sih!!" Ejek Wira.
"Gosipnya lagi kamu dan dia menikah diam-diam kamu juga di gosipkan resign karena kamu hamil duluan!!" Sandra keceplosan.
"APAAAAA!!"
"SIAPA YANG BERANI MENEBAR RUMOR BURUK TENTANG PUTRI KU!!"
"BOBBY!!"
"Baik tuan..."
Luna dan Sandra terkejut dengan reaksi berlebihan Wira.
"Papa mau apa?" Ujar Luna khawatir.
"Memberikan kejutan bagi yang berani merumorkan anak kesayanganku..."
"Ayolah pah itu hanya rumor..."
"Orang akan senang melebih-lebihkan."
"Gosipku memang sudah sangat buruk pah jadi wajar jika mereka beranggapan yang bukan-bukan!!"
"Biarkan saja lah!"
"Justru aku senang semakin mereka membicarakan keburukanku dan aku menampilkan kenyataan yang berbanding terbalik itu akan mempermalukan mereka!!"
"Lepaskan mereka!!"
"Aku paling tidak suka papa ikut campur dalam urusan pribadiku!!"
"Papa hanya ingin tahu siapa orang yang memiliki muka menjatuhkan reputasimu!!"
"Jangan berdebat lagi dengan papa!!"
Sandra gemetar ketakutan saat ini Wira tengah dalam mode raja neraka.
"San... Kamu dapat dari mana rumor ini.." Tanya Luna kemudian.
"Ehmm..."
"Anak IT pastinya..."
"Adira melayangkan surat resign melalui system yang sudah dia kirimkan sebelumnya."
"Per hari senin kemarin dia telah sah meninggakan EPS. Di tambah kamu cuti membuat semua berasumsi yang bukan-bukan."
"Aku mengetahuinya kemarin sore di beritahu oleh Hapsari."
"Pasalnya namamu sudah semakin jelek."
"Bahkan santer terdengar pihak HRD akan menghubungi mu..."
"Aku ingin membahas ini sebelumnya denganmu."
BRAAAAK!!
"PAPA AKAN AKUSISI EPS SAAT INI JUGA!!"
"PAAAAH!!"
"RASIONAL LAH SEDIKIT!!"
Emosi Luna meledak juga, bukan karena tingkah papanya yang di luar batas tapi pada akhirnya gosip itu memang sedikit menjengkelkan. Tapi untuk bertindak hingga menggulingkan EPS dia tidak ingin.
"Permisi tuan.."
"Ini orangnya..." Bobby membawa seseorang yang di percaya pelaku penyebaran rumor negatif tentang Luna.
"BUSYET!!"
"Kilat banget!!" Seru Sandra.
"Tidak ada yang lebih cepat dari Wira Kusuma dalam mendapatkan mangsanya!!"
"Glek!" Luna dan Sandra menelan saliva mereka.
"LEPASKAN AKU!!"
"KALIAN MAU APA!!!"
"TOLOOONG!!"
Bruuuk!
Seorang wanita yang terlihat masih muda di jatuhkan dengan keras di lantai. Membuat Luna dan Sandra berdiri dari kursinya dan menatap ke arah wanita tersebut.
"Kalian mau apa?!" Isak wanita itu.
Luna menyelidik mendekat kemudian tanpa sengaja wanita asing itu menatap balik Luna yang mendekatinya.
"ANDIN!!"
__ADS_1
* * * * * * * * * *