
Sandra dan Luna berpisah di pelataran Mall, rumah orang tua Sandra berbeda jalur dengan tempat Luna tinggal. Luna menatap punggung sahabatnya hingga menghilang di balik bis yang di tumpanginya. Sepertinya Luna mulai mengingat dulu ia sempat sering mengunjungi rumah Sandra, namun semenjak berpacaran dengan Adira dia sangat jarang bahkan tidak pernah lagi kesana. Karena waktunya dia habiskan bermanja-manja dengan pacarnya.
Bis yang Luna tumpangi telah sampai halte, dia memasukinya dengan perasaan gundah. Setelah sampai di depan rumah tempat tinggalnya terlihat sosok pria yang sangat dia kenal. Luna mengembangkan senyumnya dan segera beranjak dengan antusias.
"Mas Dira? Sedang apa dia didepan gerbang kos ku? Perasaan dia ga ngabarin aku sebelumnya dia mau datang apa kagak..."
"Sayaaang, ko ga bilang mau kesini? Sudah lama nunggu?" Luna menyambutnya dengan suka cita, karena Luna menyadari jangan pernah membuat mood prianya berantakan.
"Baru datang juga, aku belum makan!!" Jawabnya ketus.
"Lah, kalau dia lapar kenapa cari aku bukannya tinggal beli makan?" Batin Luna.
"Ko belum makan jam segini?" Tanya Luna sok perhatian.
"Aku mau sama kamu! Ayo cepet naik dah lapar!" Sungutnya kasar.
Beginilah Adira kalau sudah semaunya, selain omongannya yang menjadi kasar, dia juga tidak akan mendengarkan pendapat kekasihnya lebih dulu dia akan mendominasi semuanya! "Dulu gue ko bisa bertahan sama dia. Mantan gue walo punya sifat emosian mana pernah ngajak makan sebrutal ini.."
* * * * *
Satu porsi nasi goreng dan satu porsi mie goreng dengan dua gelas es jeruk sudah terhidang di meja. Adira yang merasa sudah sangat lapar mereka hanya makan malam di pujasera depan tempat tinggal Luna.
"Emang temen-temen mas ga ada ya?" Luna mulai membuka percakapan mereka duduk dengan saling berhadapan.
"Ini malam minggu lah Luna!" Jawabnya masih terasa sangat kesal.
"Lah terus?" Selain ingatan wanita itu yang belum sepenuhnya kembali ia juga menjadi lebih lemot.
"Makanlah dulu!" Bentaknya kasar.
"Tuhkan, normalnya emang dia ga ada lembutnya sama sekali. Beda banget kalo dikamar terus abis enak-enak kesal rasanya!!" Rutuk Luna dalam hati.
Kemudian Luna tersadar "Astaga aku baru menyadari bahwa ini malam minggu, malam dengan para pacar masing-masing!"
Seingat Luna, Adira selalu merenggangkan hubungan. Jadi dia sangat jarang mengunjunginya hanya karena sedang menutupi status pacaran mereka.
"Kenapa sekarang terkesan ingin selalu menghabiskan waktu bersama?"
"Maaf mas aku lupa." Luna menjawab dengan cengengesan dan menggaruk pelipis yang tidak gatal.
Luna benar-benar tidak bisa fokus sekarang. Terlihat Adira hanya mendengus kesal. Luna terkekeh dengan perilakunya. Setelah menghabiskan waktu dua puluh menit makan malam bersama mereka sudah kembali ke tempat tinggal Luna. Luna melirik jam tangan pemberian Adira yang telah menunjukan pukul setengah sepuluh malam.
"Aku masuk dulu ya mas." Luna langsung pamitan namun ternyata Adira menolak.
"Kamu begitu ingin berpisah dengan aku? Baru ketemu 30 menit dah mau ditinggal lagi aja." Sungutnya lagi dengan bersila tangan menatap Luna dingin.
"Sejak kapan mas Dira semanja ini? Dulu ketahuan sangat manja karena kami sudah menikah sekarang harusnya dia masih bersikap acuh dan dingin bukan?" Heran sekali dengan sikapnya yang ikut berubah setelah Luna menjelajah waktu.
"Sayang hari ini aneh deh biasa juga kan langsung pulang? Udah malem juga." Protes Luna.
__ADS_1
"............." Adira malah terdiam dan kembali menatap Luna dengan tatapan yang sulit di artikan
Adira seperti sedang berfikir keras, namun kemudian dia menggenggam kedua tangan Luna dan dikecupnya mesra.
"Luna, aku sayang kamu." Adira mengucapkannya lirih dengan tatapan sendu.
"Tiba-tiba bersikap seperti ini pasti ada udang di balik bakwan!" Batin Luna.
"Aku juga sangat sayang kamu mas." Luna menghambur memeluk kekasihnya.
Mereka melupakan mereka masih berada di pelataran rumah. Adira membalas memeluk dan mengecup kening Luna.
"Mas ga sedang berfikir untuk tinggalin aku kan?" Goda Luna.
Sejujurnya Luna sudah sangat lelah, setelah mencoba mengingat apa saja yang terjadi energinya seperti terserap habis. Terlebih dia juga hari ini baru pulang bekerja dan telah menyelesaikan pekerjaan yang notabenenya pekerjaannya 8 tahun yang lalu. Bukan hal mudah menyelesaikan dalam waktu singkat. Wanita itu bahkan merasa kepalanya akan mengeluarkan isinya.
"Aku minta maaf Luna." Adira memegang salah satu pipi Luna.
"Maksud mas apa?" Luna mengerutkan keningnya.
"Kita duduk di depan sana yuk yang." Adira mengajak kekasihnya meneruskan pembicaraan di depan rumah yang memang disediakan semacam taman dan gajebo untuk duduk.
Luna menyetujuinya dan segera beranjak dengan berpegangan tangan. "Tumben sih ga minta masuk kamar... Sudah pasti ada sesuatu..."
"Naluna..."
"Aku minta maaf.. Aku tidak pernah berfikir untuk meninggalkanmu. Tapi...." Dia menggantung kalimatnya.
"Luna, aku serius dengan hubungan kita. Tidak pernah terpikir aku menjalin hubungan denganmu untuk bermain-main. Aku menyayangimu... Terlebih kita sudah melakukan hubungan suami istri yang tidak seharusnya kita lakukan. Tapi...."
Lagi-lagi dia menggantung kalimatnya, Luna menelan salivanya dia menatap wajah kekasihnya yang terlihat tertekan. Luna sepertinya mulai merasa dejavu. Sudah tau kemana arah pembicaraan ini, Luna berusaha menanggapi datar. Dia tidak boleh terlihat sedih Dia harus terlihat kuat!
"Ini baru permulaan Luna, kedepannya kamu akan terbiasa!" Luna meyakinkan diri sendiri saat ini.
Namun tetap saja rasa tidak nyaman di hatinya menguar, sakit rasanya!
Tiba-tiba Luna teringat kembali slideshow potongan memorynya berputar di kepalanya. Dulu saat Adira menjelaskan alasan dia memutuskan hubungan, Luna terisak pilu. Bagaimana tidak, dia dalam keadaan hamil karena ulahnya, dan dengan tanpa berpikir panjang Adira mencampakannya begitu saja tanpa ingin bertanggung jawab. Karena hal ini satu butir air mata lolos terjatuh begitu saja, Luna segera hapus dan kembali berusaha tenang.
"Kalau kamu berasal dari Distrik S." Mas Dira berkata lirih hampir tak terdengar.
"Luna, dengarkan dulu penjelasanku. Keluarga besarku entah gimana kurang menyukai orang dari distrik S, bukan tanpa alasan sih. Mereka berfikir kalau gadis dari sana mempunyai pengaruh yang buruk." Mas Dira menjelaskan dengan hati-hati agar Luna tidak tersinggung.
Luna menunduk, menelan salivanya dan mencoba bernafas dengan benar. Dia kembali menyimak penjelasan kekasihnya yang sangat menyakiti perasaannya saat ini.
"Saat pertama lagi aku kembali kerumah, aku ditanya perihal pasangan. Menjawab dengan jujur kalo aku berpacaran sama kamu..."
"Selanjutnya mereka bertanya silsilah kamu yang aku ketahui hanya kamu berasal dari Distrik S. Papa terkejut mendengarnya dan langsung memutuskan untuk tidak merestui kita bersama."
Luna mulai menitikan air matanya namun secepatnya dia langsung menghapusnya, sesekali mengalihkan perhatiannya kesekitar. Sekilas Luna melihat bahwa lelaki di depannya juga telah terisak sambil menjelaskan dengan menunduk.
__ADS_1
"Luna, aku mencintaimu sayang... Aku mohon pengertianmu tentang kondisiku."
"Pada awalnya aku menentang papa dan mempertahankan apa yang aku inginkan. Namun papa tiba-tiba mengalami serangan jantung saat itu...."
"Setelah kejadian itu aku tidak bisa berkutik lagi... Maafkan aku..."
"Kamu tau yang, kamu satu-satunya wanitaku yang membuat aku menangis seperti ini. Aku tidak ingin lagi melakukan hal terlarang itu yang. Namun setiap kali bertemu aku selalu ingin melakukan kenistaan denganmu... "
"Kamu membuat aku kecanduan dengan tubuhmu." Adira menunduk malu.
"J-adi, apa yang akan mas lakukan sekarang? Aku sedang tidak bisa berpikir." Luna ingin segera mengakhiri ini. Tubuhnya sudah sangat lelah.
"Jika mas memang tidak ingin mempertahankannya lagi ya sudah kita berpisah."
"Aku sungguh kecewa setelah apa yang kita lakukan selama ini ternyata aku melakukan hal yang sia-sia..." Luna mengejek dirinya sendiri
"L-una aku berjanji aku akan selalu ada disampingmu, hanya saja status kita....." Mas Dira sulit melanjutkan.
"Aku tidak akan menikah sebelum kamu menikah dengan lelaki yang kamu pilih."
Ingin rasanya Luna menampar wajah Adira sekarang. "Setelah dia meniduriku berulang kali bahkan sekarang aku hamil dari benihnya dia begitu tega mencampakanku tidak akan bertanggung jawab atas apa yang dia perbuat!"
"HAHAHAHA..."
"Kamu lucu mas!"
"Siapa yang mau sama cewek yang sudah tidak lagi suci? Dan apakah aku juga akan tebal muka dengan tidak tahu diri!"
"Sudahlah mas, aku sangat lelah hari ini. Semua sudah jelas. Kita berpisah mulai saat ini!!
"Selamat malam mas.."
Tidak sanggup berlama-lama yang membuat dada Luna sesak, Luna bergegas pergi. Namun, tiba-tiba perutnya kram dan terasa sakit sekali. Tanpa aba-aba Luna merasa mual dan bergegas berlari kepinggir bak sampah yang tak jauh dari tempat mereka duduk.
Hoek... Hoek... Hoek...
"LUNA!" Pekik Adira khawatir.
Pria itu segera mendekati kekasihnya yang masih memuntahkan makanannya.
"Kopi mahalku. Aku masih merasakannya ditenggorokanku. Aku rugi banyak!!"
Luna menekan perutnya "Nena, apa kamu merasakan apa yang ibu rasakan nak? Maaf nak... Kita dikecewakan dengan sikap ayahmu sekarang!" Luna merasakan mungkin bayinya bereaksi karna dia sangat emosional sekarang.
"Kamu gapapa sayang? Masih kuat berjalan? Atau aku gendong ke kamar?" Tanyanya panik dan dengan mengusap lembut punggungku Adira terlihat khawatir.
"Dasar buaya bukankah ini ulahmu!" Rutuk Luna dalam hati.
"Aku bisa sendiri mas, terima kasih!" Luna menepis tanganya segera berlalu menuju gerbang dan ia segera menutupnya agar Adira tidak mengikutinya.
__ADS_1
* * * * * * * * * *