Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 65 : Hilang Kendali


__ADS_3

"Sebulan sungguh waktu yang lama!" Rutuk Adira saat ini ingin segera melangsungkan pernikahannya dengan Luna saat melihat photo mereka dengan gaun pernikahan.


Saat ini Adira tidak pernah malu menunjukan kemesraan mereka dimana pun mereka berada.


Wanita pertama yang selalu ingin dia gandeng kemanapun mereka pergi adalah Luna. Dengan parasnya yang semakin cantik akhir-akhir ini, Adira sengaja ingin memperlihatkan pada seluruh alam semesta bahwa dia miliknya.


Awal menjalin hubungan Adira tidak menyukai mengekspose hubungan mereka, alasan utamanya menjaga perasaan Rio. Terkadang terlintas raut kecewa di wajah Luna tiap kali selalu Adira tolak untuk bergandengan tangan. Namun ajaibnya dia tidak pernah mengeluh atau mempermasalahkan.


Bahkan Luna selalu tidak pernah membahas tentang masa lalu mereka. Sebulan setelah mereka resmi pacaran Luna mengomel karena dia dilabrak oleh Sherly dari divisi finance. Adira hanya menanggapi biasa, dan menjelaskan yang sejujurnya. Tidak ada yang sepadan dengan Luna di EPS. Dulu Sherly mengejarnya hanya karena dijodohkan oleh teman-teman sialannya.


"Mereka menyuruhku mengantarnya pulang setelah karaoke bersama namun siapa sangka dia malah menganggap itu sebuah pendekatan."


Setelah kejadian itu Sherly selalu berusaha menempel dengannya. Bahkan Adira salut sampai terdengar rumor dia berpacaran dengannya.


"Aku bahkan tidak pernah menyatakan cinta padanya ngobrol saja tidak!"


"Lebih ajaibnya lagi dia berani melabrak Luna mengatas namakan pacarku."


"Cukup berani juga Sherly melakukan ini. Padahal dia tidak ada apa-apanya dibanding Luna bahkan seujung kukunya pun tidak."


Adira mengambil frame foto dan bergegas menuju mobil. Setelah menyimpan foto di mobil, ponselnya berdering.


"Kak Arneth?" Adira refleks menekan tombol reject. Luna tengah mendatanginya.


Setelah memasuki mobil Luna meminta makan disalah satu resto tepi Danau. Sejujurnya ini kali pertama diribya kemana saja bersama pacarnya, bahkan menggandengnya mesra.


Dulu dengan mantannya saja dia selalu mengacuhkan mereka. Paling ya ke tempat makan biasa seperti angkringan yang akhir-akhir ini sering diprotes oleh Luna.


Karena dulu papa membekukan semua keuangannya. Makanya dia hanya bisa mengandalkan pemberian dari kak Arneth atau mamanya, terakhir Adira tentu saja mengandalkan gaji di EPS.


Menghamburkan uang untuk pasangan yang belum tentu naik ke pelaminan dia rasa sedikit mubajir. Kecuali Luna tentu saja!


Adira menggandeng tangan Luna mesra, kekasihnya tampak sumringah. Sekarang kemanapun dia ingin pergi Adira akan selalu berusaha mmewujudkannya


Luna menyenderkan kepalanya di tubuh Adira. Adira mencium pucuk kepalanya lembut.


"Jangan goda aku please...." Rutuk Adira dalam hati.


Luna membicarakan tentang keinginannya kembali berjualan jastip kesebrang. Adira terdiam sejenak, "Di tengah kekalutan pekerjaan ku, dia ingin pergi berlibur?"


Ternyata dia akan pergi hanya dengan Sandra saja.


"Aku sudah menduganya. Dia akan pergi hang out dengan temannya. Eh tapi..."


Adira berpikir ini akan membuatnya menjadi leluasa mengerjakan pekerjaannya.


"Hanya dua hari minggu dia sudah pulang. Sudah cukup untuk aku menyelesaikan semua deadline RG."


Adira memberinya ijin kekasihnya terlihat bahagia.


"Cih harus sesenang itu?" Batin Adira kini merasa tidak nyaman.


Ditengah makan siang mereka ponselnya terus berdering. Kak Arneth terus menerornya. Adira melihat Luna menjadi tidak nyaman atau mungkin curiga. Namun terakhir panggilan dari papa!


Adira meminta ijin pada Luna menjawab panggilan dan menjauh sedikit dari tempatnya.


"Halo pah..."


"Ada apa papa tiba-tiba telpon?" Tanya Adira cemas.


"Ada apa? Arnetha telpon kamu berkali-kali kamu abaikan. Apa yang tengah kamu lakukan? Apa kamu masih bekerja di kantormu itu Hah?" Nada suara tuan Surya terdengar kesal.


"Aku resign minggu depan." Jawab Adira datar.


"HARI INI! PAPA MINTA KAMU BERHENTI HARI INI DAN BESOK KAMU PULANG KE KOTA K!" Bentak Papanya.

__ADS_1


"PAH! tidak perlu mendesak dan mengaturku! Sudah beruntung aku mau melakukan semua yang kalian inginkan!" Hardik Adira tak ingin kalah sengit.


"ADIRA!"


"Jangan lupa janjimu. Kamu masih ingin melihat Luna baik-baik saja? Maka patuhi apa yang sudah papa aturkan untukmu. Kali ini papa tidak ingin ada penolakan!" Tegas Tuan Surya.


"Papa tidak tahu dimana salahnya. Selama lima belas tahun papa membangun bisnis ini tidak pernah mengalami defisit sampai menyentuh angka sepuluh persen!" Imbuhnya kemudian melunak.


"Adira, apa yang tengah kamu lakukan. Luna sudah menjadi pengaruh buruk buatmu bukan?" Tanyanya kemudian.


"Pah! Ini semua tidak ada sangkut pautnya dengan Luna. Harusnya papa bersyukur aku mau terjun dibisnis ini karena LUNA! JANGAN MENGGUNAKANNYA UNTUK MENGANCAMKU PAH!" Bentak Adira.


Dia menutup sambungan telpon yang membuatnya sungguh emosi saat ini. Kemudian masuk sambungan dari kak Arneth.


"Aku berhenti dari RG! SILAHKAN AMBIL KEMBALI POSISI CEO RG AKU TIDAK BUTUH!!"


"ADIRA!!!" Bentaknya tak kalah sengit.


"Apa kamu sungguh tidak tahu malu? Kamu sudah menggunakan uang lebih dari dua ratusan juta minggu ini bahkan aku melacak pengeluaranmu kemarin menghabiskan dana seratus tujuh puluh juta dalam sehari untuk apa? Untuk LUNA BUKAN?!!" Ketusnya.


"Aku hanya meminta kamu membantuku! Tidak perlu terprovokasi oleh papa. Papa sudah cukup pusing dengan pergerakan nilai saham selama lima jam ini. Semua drop sampai minus dua persen!!"


"Nilainya diatas uang yang telah kamu keluarkan selama minggu ini!! Apa kamu tega seperti ini ADIRA RENALD!" Bentaknya lagi kemudian.


Adira terdiam, jika dibanding papa dia lebih menghormati kakak semata wayangnya ini. Dia yang selama dua minggu ini dengan sabar mengajari Adira semua hal tentang bisnis mereka.


"Maafkan aku kak." Lirih Adira menyesal perlakuan kasarnya.


"Sekarang mau tidak mau segera submit berkas pengunduran dirimu dari EPS. Maka satu masalah telah selesai. Jangan harap papa diam saja. Dia akan lebih membahayakan dari yang kita kira. Apa kamu mau Luna dalam bahaya?" Dengan nada tenang kak Arneth menjelaskan.


"Satu lagi, aku tidak tau maksud dari pembeli nilai saham ini. Dia membeli secara sporadis dan dalam jumlah banyak di Laguna. Yang paling mencurigakan dia tidak memberi informasi data kepemilikan."


"Tugasmu kali ini, lacak akun yang membeli sejumlah saham yang sudah menembus 30% ini."


"Ingat jangan gegabah. Aku sudah menanamkan aplikasi pencarian terbaru di laptopmu oleh Bagas tadi. Semua dalam tingkat security terbaru."


"Baik kak..." Lirihnya.


"Tenanglah, sejauh ini papa hanya menggertakmu. Luna akan baik-baik saja. Ingat kamu tidak bisa egois dalam situasi ini. Aku tidak pernah menyalahkanmu atas penggunaan uangmu. Tapi hargailah sesuatu yang sudah kamu mulai. Aku selalu mendukungmu Adira."


"Di dunia ini tidak ada yang instan emangnya indomie! Maka dari itu mulai sekarang bekerja keraslah."


"Jika kamu menyerah di dua minggu ini aku yakin sampai kapanpun kamu tidak akan berhasil menjadi orang sukses!"


"Terima kasih kak, aku akan berusaha lebih keras lagi. Aku akan mendengarkanmu. Satu hal saja yang aku ingin pastikan dan kamu harus tepati."


"Degil dasar... Dikasih pelet apa kamu sama dia sampe senurut itu?!"


Adira tersenyum seraya menghentikan sambungan telpon.


"Aku sudah lama menelpon berharap Luna tidak cemberut." Adira membutuhkannya menenangkan dirinya sekarang. Adira bergegas mendatanginya. Mengajaknya kembali kerumah namun dia bertanya tentang siapa yang menelpon Adira kembali mengelak dia sungguh tidak bisa berfikir saat ini untungnya wanitanya mengerti.


Setibanya di mansion Adira dia menggenggam tangan Luna kuat Adira sungguh tidak enak perasaan. "Aku ingin membanting sesuatu!"


Adira langsung menyambar kertas kerja dan laptopnya setelah sebelumnya dia membersihkan diri dengan menyiram kepalanya dengan air dingin menenggelamkan diri ditengah kekacauan yang terjadi hari ini.


Adira menjalankan sesuai intruksi yang diberikan kak Arneth. Dia bahkan sampai tidak mengindahkan hadirnya Luna. Luna mendatanginya dengan segelas minuman herbal yang dia buat.


Adira menerimanya menengguknya hingga tandas. Adira tidak bisa fokus bekerja saat ini dan dengan hadirnya Luna dia jadi lebih tidak bisa leluasa bekerja.


"Maafkan aku sayang...." Batin Adira.


Untuk pertama kalinya dia menyetubuhi kekasihnya dengan kasar, Adira butuh pelampiasan emosinya. Harsatnya melihat tubuh indah Luna bercampur emosinya membuat dia tidak seperti dirinya lagi.


"Maass, aaahh mas ada apa? Aku mohon mas ini sakiit... Lepasin aku masss... Aaahhhh..." Ucapnya tersenggal karena hentakan kasar Adira.

__ADS_1


Adira bahkan tidak perduli kali ini Luna menangis ditengah dia akan menuju puncaknya setelah itu dia pingsan.


"Maafkan aku sayaang..."


Adira mengecup keningnya mengusap air matanya. Menidurkannya dengan posisi semestinya, dan meninggalkannya. Adira kembali menuju ruang kerjanya.


"Apa tujuan orang ini? Dia membeli saham bukan untuk dimiliki atau keuntungan semata. Cara kerja tak biasa ini apa targetnya?"


Adira menemukan alamat IP nya diluar negeranya. Namun sejurus kemudian dia berpindah. Cara kerja seperti ini hanya dilakukan oleh profesional. Adira menyampaikan semua penelusurannya kepada kak Arneth.


"Walau aku sudah menjadi CEO tapi keputusan besar ini aku masih serahkan kepada kakak cerewetku!"


Sekilas Adira mendengar suara pintu kamar terbuka. Dia pikir Luna tengah membersihkan diri, namun setelah hampir tiga puluh menit dia tidak mendengar suara pintu kamar mandi terbuka lagi. Biasa Luna akan mencarinya namun kegelisahan menghampirinya. Adira bergegas menuju kamar mandi. Di menemukan kekasihnya hampir tenggelam.


"LUNAA!!" Pekik Adira.


Dia segera mengangkat tubuh kekasihnya dan menyelimutinya dengan handuk.


"Sayaaang... Bangun sayaang... Sayang jangan bikin aku khawatir..." Adira terus menepuk pipinya pelan berulang kali.


Dengan masih gemetar Adira bergegas membawanya ke kamar, menelpon dokter pribadi menyuruhnya segera kembali datang ke mansionnya. Adira mengusap lembut mengeringkan badan Luna. Kemudian memakaikannya piyama tidurnya. Adira menaruh minyak angin di hidungnya namun masih tidak membangunkannya.


Braaaak


"Aaaaarghhh!!!!" Adira memukul tangannya di tembok.


"Maafkan aku sayang. Maafkan aku...." Adira kembali memeluknya seraya menangisi kebodohanklnya.


Hari ini dia yang mencelakainya. Tidak perlu papanya yang melakukannya dia sendiri bisa menjadi bahaya untuk Luna. Kemudian terdengar bunyi bel dari depan. Adira segera menyeka air matanya dan bergegas membukakan pintu.


"Silahkan masuk dok."


"Malam tuan. Apa anda merasa tidak nyaman lagi?" Tanyanya seraya masuk ke dalam.


"Bukan saya tapi istri saya dok."


Dia sedikit mengernyitkan kening. Mungkin terkejut dengan penuturannya yang mengucapkan dia memiliki istri. Pasalnya saat dia sakit kemarin Luna tidak dirumah.


"Kemarin dia berada diluar kota, baru semalam dia pulang."


Adira mengantarnya memasuki kamar mereka.


"Baik saya periksa dulu ya."


Setelah kurang lebih sepuluh menit dia periksa. Dokter mulai menghentikan pemeriksaan fisik.


"Gimana dok? Apa dia akan segera sadar?"


"Saya rasa nyonya kelelahan dan perlu istirahat. Apa nyonya melakukan aktifitas yang berat? Sepertinya tubuh nyonya sedikit lemah." Dokter menjelaskan.


"Itu... Karena saya rindu dengannya saya melakukan hubungan badan yang keterlaluan." Ucap Adira jujur.


Terlihat dokter semakin tercengang kemudian terkekeh.


"Saya tahu kalian masih sangat muda dan sangat wajar melakukan hal demikian. Ini memang tantangan bagi pasutri yang baru menikah. Namun saran saya alangkah baiknya untuk mengetahui apakah pasangan kita nyaman dengan apa yang kita lakukan?"


"Terima kasih dok, apakah saya harus menebus resep obat?" Tanyanya lagi.


"Tidak perlu, nyonya hanya perlu istirahat." Dokter tersenyum seraya meninggalkan kamar.


Setelah kepergian dokter Adira kembali membawa laptop dan berkas RG dia melakukan pekerjaannya disamping Luna.


"Maafkan aku sayang... Aku tidak bermaksud menyakitimu... Emosiku sungguh tak bisa aku kontrol kali ini. Maafkan aku sayang..." Adira mengecup keningnya kemudian kembali larut dalam pekerjaan.


Pov Adira End.

__ADS_1


* * * * * * * * * *


__ADS_2