Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 53 : Identitas


__ADS_3

Pov Adira.


Keluarganya terus mendesak proses pengangkatan Adira menjadi CEO Renald Group. Namun ia sendiri belum menemukan waktu yang tepat. Tiap kali dia ingin membahas ini dengan Luna, selalu ada perasaan tidak bisa menjelaskan dan kekhawatiran yang berlebihan.


"Bagaimana jika dia merasa tersinggung. Bahwa aku menyembunyikan identitasku karena ingin melihat ketulusan hatinya mencintaiku."


Setelah kejadian Luna menghilang dan menggugurkan kandungannya pria itu semakin takut kehilangannya.


"Aku baru saja memulai hubungan kami lagi. Aku belum siap jika kami harus bertengkar hanya karena hal ini."


"Aku selalu merasa Luna belum sepenuhnya mencintaiku. Buktinya dia dengan tega menggugurkan buah hati kami. Sudah sejauh ini aku tidak bisa kembali aku benar-benar tidak sanggup jika harus melepaskannya."


Hal yang paling konyol dari hubungan mereka adalah tanpa kejelasa asul usul mereka sama sekali.


Minggu ini kakak Adira yaitu Arnetha menyuruhnya pergi ke ibu kota semua data dan rapat pemegang saham akan dilaksanakan disana. Sekaligus pembukaan berdirinya mansion baru di wilayah kota baru. Adira terus berpikir, bagaimana caranya pergi ke luar kota tanpa perlu dicurigai oleh Luna?


Beruntung EPS merupakan perusahaan yang selalu memberikan pelatihan khusus bagi setiap karyawannya. Ada salah satu pelatihan yang akan diselenggarakan di ibu kota dengan jangka waktu seminggu lamanya. Tuhan tengah membantu Adira. Tanpa memberitahu Luna terlebih dahulu ia telah mengajukan pelatihan dan akan berangkat dua hari lagi. Adira terkejut kekasihnya mengetahuinya dari Bram.


"Luna memang sangat dekat dengan teman satu kosanku. Termasuk Bram! Aku tidak menyangka mereka pernah memiliki suatu hubungan, aku sungguh cemburu namun dibanding dia aku sangat beruntung karena saat ini akulah yang memiliki Luna."


Sebelum pergi Adira meminta tinggal berdua bersama Luna, mengisi daya cintanya. "Aku tidak bisa membayangkan seminggu tanpa menyentuhnya. Aku ingat pertama kali dia bilang tidak ingin lagi melakukan hubungan badan. Namun jika aku meminta dia tidak pernah menolak. Dia sungguh menggemaskan tak kuasa untuk segera mempersuntingnya."


"Sudah puluhan kali aku meminta segera menikah dia terus menolak. Berbagai macam alasannya, dia ingin bebas berkarier, belum siap menjadi seorang ibu dan lain sebagainya. Sungguh mencurigakan!"


Adira memang tipe lelaki yang inginnya istriny dirumah saja. Tanpa perlu bekerja, hanya perlu mengurus dia sebagai suaminya, anak-anak dan rumah mereka nantinya. Beban mencari nafkah biarlah suami yang tanggung tak perlu dia yang susah payah mengabaikan waktu yang seharusnya dia gunakan untuk keluarga kecilnya kelak. Seperti ibunya, dia selalu ada untuk kedua anaknya. Selalu memberi pendidikan dan kasih sayang yang lebih.


"Mama juga seseorang yang berpendidikan tinggi namun setelah menikah dengan papa dia meninggalkan semuanya dan hanya menjadi ibu rumah tangga. Dia selalu memberikan dukungan bagi usaha papa dan selalu ada untuk anak-anaknya."


"Bukti nyata keberhasilan didikan yang luar biasa darinya adalah kakak perempuanku bisa menerimaku menjadi ahli waris utama keluarga besar Renald. Satu-satunya penerus yang akan diakui menjadi CEO setelah papa pensiun."


Secara senioritas seharusnya kakaknya lah yang akan menjadi CEO, namun bagi papanya tabu seorang wanita bergerak didepan!


"Aku harap Luna bisa seperti mama."


* * * * *


Ddddrrrttt... Ddddrrrttt... Ddddrrrttt...


Dering ponsel Adira membuyarkan segala lamunannya.


"Halo kak,,"


"Kapan kamu berangkat? Semua tiket sudah disiapkan. Bagas akan mengatur semuanya." Ujarnya disebrang sana serius.


"Tidak perlu kebetulan perusahaan tempatku bekerja juga menyuruhku pelatihan disana. Nanti aku akan melakukan tugasku setelah melaksanakan pelatihan." Jawab Adira datar.


"Huh, baiklah. Sebaiknya kamu tinggal di mansion kakak. Disana akan lebih memudahkan kamu mengerjakan semuanya." Titahnya kemudian.


"Aku usahakan. Aku perlu Bagas untuk menggantikanku menginap di tempat yang di tunjuk EPS."


"Kamu kan tinggal resign aja sih! Ribet amat!" Rutuknya kesal.


"Belum bisa, aku harus menunggu waktu yang tepat."


"Luna? Apa semua karena dia?" Sungutnya kembali menyala setiap kali membahas Luna.


".........." Adira terdiam.

__ADS_1


"Bukankah harusnya dia akan senang jika dia tahu pacarnya adalah seorang CEO?"


"Luna tidak seperti yang kakak pikirkan. Aku janji aku akan mengusahakannya. Selama kalian tepati juga janji untuk merestui aku menikah dengannya dalam waktu dekat ini."


"Cih degil!!"


Selama ini Adira terus bertindak sendiri. Ia tidak ingin diatur dan dikekang oleh aturan papanya yang terkadang sedikit tidak masuk akal. Namun, demi bisa mendapat restu mereka akhirnya Adira menyetujui menjadi bagian dari Renald Group.


"Siapa yang mau dengan tugas yang menyulitkan sepanjang hari?"


"Aku hanya ingin bekerja dengan passionku sendiri."


Adira sempat ingin membuat perusahaan sendiri mengembangkan system atau IT Consultant dan game centre.  Namun lagi-lagi tuan Surya mempersulit keuangannya.


"Mas, mau dibawain apa?" Tanya Luna manja.


Suaranya selalu bisa membuyarkan segala kegelisahan Adira.


Adira menggotongnya kembali ke kamar. Kembali mengisi daya cintanya, semakin lama bukannya bosan ia malah semakin tergila-gila dengannya.


"Aku justru semakin takluk dengannya! "


Selama di luar kota komunikasi keduanya menjadi berkurang seiring beban pekerjaannya menjadi bertambah. Adira sangat yakin Luna tidak akan pernah melakukan hal diluar batasan dibelakang ya, dia pikir Luna orangnya setia. Karena dia pun demikian tidak ada satu wanita pun yang bisa menggoda Adira selain Luna seorang.


"Hanya saja godaan terbesarnya seperti yang sudah-sudah adalah hang out dengan teman-teman hingga lupa waktu. Aku kurang suka!"


Jika sudah berkumpul dengan temannya Adira yang ada di kawasan yang sama saja akan tetap diacuhkan apalagi jika berjauhan. Dulu ia selalu bertengkar karena masalah ini. Dia sepertinya lebih memilih temannya dibanding dengan kekasihnya!


* * * * *


"Kak..." Adora menghampiri kakaknya yang tengah sibuk dengan laptopnya.


"Sepertinya Luna mirip sekali dengan kakakku. Di hidupnya hanya ada bekerja!"


"Apa?" Jawabnya dengan masih menatap layar laptopnya.


"Temani aku berbelanja." Adira berdiri di depannya.


"Apa? Kamu mau belanja apa? Demi apa kamu minta ditemenin biasa ogah-ogahan!" Kini Arnetha menatap Adira keherenan.


"Aku tidak tahu model dan merk baju bagus untuk Luna." Ujar Adira polos.


"Hah?!" Ejeknya dengan tawa sinisnya.


"Kamu ini udah kena pelet dia ya?!" Dia menatap adik kesayangannya nyalang menutup laptopnya.


"Aku tidak masalah jika dia melet aku juga! Cepatlah aku yang nyetir mumpung kamu disini juga!!" Adira segera berlalu menyambar kunci mobil dan keluar mansion.


"Bocah sialaan!! Belikan aku juga." Ancamnya.


"Yang banyak duit dia kenapa juga meras aku!"


"Kamu lupa tadi sore kamu telah sah menjadi CEO Renald group. Kamu tinggal aktifkan unlimited black cardmu itu!"


"Duidmu lebih banyak dari aku sekarang!"


"Kami yang kerja keras selama ini terus kamu yang dapat."

__ADS_1


"Enak sekali hidupmu degil!!" Umpatnya sepanjang perjalanan menuju parkiran mobil.


"Cerewet! Aku juga tidak pernah meminta menjadi seperti ini!"


"The lesson one you must know!"


"Cewek mana yang tidak mau dimanjakan oleh harta?"


"Bawel!"


"Cih!"


Mereka memasuki kawasan mall terbesar di ibu kota. Untungnya kakaknya mau membantu memilihkan apa yang akan ia berikan untuk Luna. Adira memperlihatkan foto kekasihnya yang paling cantik.


"Pantas saja tergila-gila!"


"Lain kali ajak dia temui kakak di acara jamuan makan bulan depan."


"Aku akan bawa dia untuk menikahinya didepan kalian."


"Apa kamu sudah yakin?"


Adira melirik ke arah kakak bawelnya.


"Ingat, identitasnya disembunyikan seseorang. Dia bukan orang sembarangan! Papa melarangmu menikahinya kamu sudah tau alasannya bukan."


"Satu hal lagi, salah satu 5 keluarga rahasia dibenua kita tinggal di Distrik S. Apakah itu dia? Apa kamu tidak ingin membahasnya dengan pujaan hatimu itu?"


"Dia bisa menjadi racun buatmu! Sekali keluarganya tidak menyetujui habis sudah semua usaha kita dilahapnya!!"


Adira terdiam mendengar penuturan kakaknya. Sesungguhnya dulu saat mengutarakan niatan awal papanya sudah menolaknya setelah mendapat data dari Arnetha yang membocorkan nama Luna kepadanya. Kemudian setelahnya Adira juga di introgasi oleh mama Luna dan diberi peringatan khusus. Namun Adira sudah terlanjur..


"Aku terlanjur jatuh cinta dengannya!!"


Adora mengusap wajah kasar, ia berlalu pura-pura tidak perduli dengan yang dikatakan oleh kakaknya. Kakaknya mendengus kesal merasa di acuhkan.


Adira melintas di tempat jewelry, kemarin sempat berniat membelikan kekasihnya satu set lagi perhiasan. Kebetulan ia melihat model bulan dan bertahtakan berlian.


"Pasti cocok sekali dengannya." Senyum Adira mengembang seraya meminta pelayan untuk membungkusnya.


"Sekalian yang ini ya mba dia juga yang bayar." Tetiba kakak bawelnya menyodorkan satu set perhiasan berliannya.


"APA?! Minta mas Damar sanaa!" Umpat Adira kesal.


"Udah pernah!"


"Yang belum pernah tuh sama adik tersayangku... Mmuuaaach!" Dia berencana mencium pipi Adira.


"Hoek!"


Adora segera menghindar di sambut gelak tawa para pelayan. Mungkin kakaknya benar wanita adalah pemeras isi ATM yang paling efektif.


"Ratusan jutaku bisa ludes dalam empat jam!"


"Luna, aku berharap permulaan baik ini akan berbuah manis dikehidupan kita yang akan datang."


* * * * * * * * * *

__ADS_1


__ADS_2