Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 31 : Terluka tapi tak Berdarah!


__ADS_3

Adira telah kembali dengan membelikan makan makan semua pesanan Luna. Luna menyambutnya di depan dengan senyuman. Adira sungguh merasa bahwa mereka telah menjadi sepasang suami istri yang belum melakukan ijab qabul saja.


Luna tengah menata makan malamnya di meja makan, area mini barnya menghadap ke kaca besar menampilkan pemandangan indah seluruh kota B. Hidup dengan Adira yang memiliki sifat cuek terkadang dia tidak tahu apa itu keromantisan. Pria itu juga jarang sekali mengajak Luna makan di luar. Dia lebih menyukai masakan Luna yang dulu belajar dari ibunya.


"Hey!"


"Malah bengong..." Sungut Adira kesal.


"Aaa..." Adira mencoba menyuapi kekasihnya. Luna menunduk malu, ini seperti kali pertama mereka mendeklarasikan hubungannya.


Luna menerima suapan Adira, giliran Luna menyuapi prianya.


"Luna..."


"Kita sudah seperti suami istri saat ini..."


"Hanya butuh aku ikrarkan ijab qabulku semua ini halal untuk kita sayang!"


Luna menaruh sumpitnya, dia mendadak kembali hilang selera makannya.


"Huh!" Adira seolah tahu kemana arah pembicaraan mereka saat ini.


"Makanlah..."


"Aku hanya tidak ingin terus melakukan dosa Luna..."


"Aku tidak ingin memaksa karena menghargai keputusanmu."


"Tapi kamu bisa lihat situasi kita saat ini."


"Kala begitu mas tinggal jangan lagi sentuh aku!"


"Apa mas tidak bisa menahan hasrat mas?"


Keduanya kembali terlibat pertikaian.


"Aku sudah sangat menahannya Luna..." Lirihnya.


"Kita coba ya..." Luna menggenggam tangan Adira.


Adira menyambutnya dengan erat, tak lama Luna merapikan sisa makanan yang tidak termakan agar bisa dia panasi esok hari. Saat tengah mencuci piring kotor Adira memeluk Luna dari belakang. Hal ini juga sudah biasa bagi Luna.


"Tubuh mu harum sekali Luna, aku ingin terus menciumnya."


Luna hanya menyeringai dan menggelengkan kepalanya.


"Mas tidur dimana?"


Luna bertanya pasal tempat tidur mereka saat ini waktu telah menunjukan pukul 9 malam.


"Bareng kamu lah dimana lagi?!"


"Maaaaas, aku kan..."


Belum juga Luna menyelesaikan ucapannya prianya sudah merebahkan dirinya di tempat tidur yang berukuran king itu.


"Lagian kita cuma tidur sayaang. Apa sih yang kamu pikirin?"


"Jangan-jangan kamu berharap......." Matanya mengerling dengan mimik menggoda.


Luna melempar bantal tepat kearah wajahnya dia menangkap dengan tepat.


"Hahaha, sini sayang..." Dia menepuk tempat tidur agar Luna segera kesisinya.


Luna beranjak mendekatinya keduanya kembali berpelukan.


"Selamat tidur Lunaku..." Lirihnya.


* * * * *


Pov Adira.


Bunyi panggilan masuk membuyarkan konsentrasi Adira yang sedari tadi hanya ada Luna dikepalanya.


"Halo pah..." Jawabnya enggan.


"Kamu bilang mau jemput wanitamu sampai detik ini belum juga nampak batang hidung kalian!"


"Kamu jemput ke arab?" Sungut papanya kesal.


"........." Adira mencengkram kemudinya, dia sendiri tidak tahu dimana keberadaan Luna sekarang.


"Apa dia tidak menganggap serius? Dia tidak ingin bertemu dengan kami?" Rutuknya lagi.


"Bukan seperti itu pah!" Hardik Adira membela Luna.


"Lantas?"


"Jika memang serius harusnya saat ini kita tengah berkumpul memulai makan malam kita. Dimana kalian?" Tuan Surya mulai kesal.


"Aku lupa hari ini Luna tengah lembur!"


"HAHAHAHA"


"Seleramu payah Adira!"


"PULANG SEKARANG!"


Setelah membentak anak bungsunya tuan Surya menutup sambungan sepihak.


"SIALAN!!"


Brug!


Adira membanting kemudinya dan tidak punya pilihan untuk menemui keluarga besarnya di Villa Paradise.


* * * * *


Hanya berselang dua puluh menit  Adira sudah berada di villa kakaknya. Setelah mengucap salam dia diarahkan langsung menuju ruang makan, mereka hanya menunggu kedatangannya dengan Luna untuk makan malam bersama.


"Mana wanita kesayanganmu itu?" Ejek Arnetha.


"Arneth!" Hardik nyonya Julia atau ibu Adira.


"Duduklah..." Papa berucap dingin.


Adira mengikuti perintah berjalan dingin memilih bersebelahan dengan ibunya. Kemudian dengan sigap para pelayan kembali menghidangkan semua sajian makan malam mereka.


"Kita kesampingkan masalah wanitamu itu."


"Papa ingin membahas sesuatu yang penting." Tuan Surya memulai pembahasan sebelum kita semua menikmati hidangan.


"Pah, Dira baru saja sampai."


"Kita makan malam dulu ya sudah lewat waktunya." Ujar ibunya bijak.


"Ck..." Adira menyunggingkan bibirnya ke atas, dia seolah tahu apa yang akan di bahas oleh pria paruh baya itu.


Setelah makan malam selesai semua kembali di rapikan oleh para pelayan.


"Adira Renald, usiamu sudah tidak muda lagi bukan?" Papanya mengawali percakapan.


Adira masih diam, pikirannya sungguh melayang-layang bercabang kemana-mana.


"Tidak ada lagi pembahasan yang lebih penting untuk orang tua ini selain pengalihan jabatan perusahaan. Papa


menginginkan aku meneruskan bisnis keluarga namun aku tidak setuju. Aku ingin memilih jalanku sendiri dengan kemampuan sendiri."


"Sudah waktunya kamu kembali ke kota K."


"Papa sudah bersabar denganmu cukup lama."


"Kamu adalah putraku satu-satunya. Ahli waris Renald Group berikutnya."


Semua hening seketika, Adira masih tidak bergeming dengan semuanya.


"Saat ini masih belum bisa!"


"ADIRA!" Pekik papa.


"Pah..." Nyonya Julia berusaha menenangkan.


"Papa sudah mulai menua Dira."


"Papa harap papa masih bisa mengajarimu bagaimana perusahaan ini berjalan. Besar harapan papa bahwa kamulah yang nantinya akan membuat RG berada dipuncak kejayaannya terus berkembang dan menambah anak perusahaan seperti yang sudah dijalankan Arnetha." Papa mulai melunak.


"Papa kan sudah ada kak Arnetha yang sangat berkompeten dalam hal ini."


"Belum lagi keterlibatan mas Damar bukankah itu sudah cukup?"


"Lalu kamu mau jadi apa?" Arnetha ikut bersuara saat ini.


"Jadi staff biasa di EPS yang gajinya hanya mampu membeli baju atau sepatumu itu?"


"Apa kamu yakin bisa membahagiakan wanitamu dengan segitu?"


Arnetha mencoba dengan memakai kekasih Adira sebagai umpan. Adira terlihat membulatkan matanya dan merasa bahwa kakaknya itu mengetahui kelemahannya.


Tuan Surya menyeringai. "Papa membenci menggunakan cara ini..."

__ADS_1


"Pulanglah..."


"Menjadi CEO Renald Group dan aku akan merestui hubunganmu dengan Naluna Maharani."


Respon Adira saat ini sudah menjelaskan segalanya, matanya berkaca-kaca. Dia mendapatkan restu di saat wanitanya entah dimana tengah keguguran karena ulah bejadnya.


"Kau sungguh sangat mencintainya?" Selidik Arnetha menampilkan mimik wajah tidak percaya apa yang telah dia lihat.


"Aku tidak menyangka semudah ini aku tahu kelemahanmu..." Tukasnya kemudian.


Tuan Surya menghela nafas berat dia tidak menyangka anaknya benar-benar sedang jatuh cinta.


"Bagaimana Adira? Apa kamu menerimanya?" Tanya papanya lagi kembali memaksa.


"Aku pikirkan nanti... Aku akan membahas dengan Luna apa dia mau ikut denganku ke kota K." Jawab Adira asal


mengulur waktu.


"APA?!"


"Demi dia kamu menjadi tidak punya pendirian!"


"PAPA HANYA AKAN MEMBERI WAKTU 5 BULAN INI. JIKA KAMU BELUM BISA MEMUTUSKAN MAKA JANGAN SALAHKAN PAPA BERSIKAP KASAR PADAMU ADIRA RENALD!!" Maki papa lantang dengan menunjuk wajah Adira penuh emosi, kemudian dia memegang dadanya dan kembali ambruk.


"PAPAA.." Pekik Nyonya Julia.


Semua menghambur mendekati tetua Renald, kecuali Adira yang tengah terpaku tidak percaya.


"Untuk kedua kalinya aku membuat papaku sendiri mengalami serangan mendadak seperti ini."


"Papa istirahat dulu, jangan memaksakan semuanya saat ini juga."


"Berikan Adira waktu seperti yang dia bilang."


"Jika sudah waktunya mama percaya Adira akan kembali kesisi kita memajukan perusahan keluarga kita."


Nyonya Julia menyuruh Arnetha membawa papanya beristirahat di kamar. Semua pelayan sigap mempersiapkan segala keperluan tuan besarnya.


"Mama ingin bicara denganmu Dira."


Nyonya Julia duduk kembali di samping putra kesayangannya, dia mengusap lembut kepala anaknya. Dia menyadari bahwa putranya sedang dalam kondisi tidak baik.


"Apa kamu baik-baik saja?"


"Mama perhatikan kamu sepertinya ada masalah?"


"Aku hanya lelah..." Ujarnya berbohong.


"Kamu sangat tahu papa mu bukan."


Nyonya Julia beranjak dan menghampiri nakas sebelah meja makan mereka.


"Ini dari papamu..." Beliau meberikannya satu tas tebal khusus untuk dokumen.


"Apa ini mah?" Adira mengambilnya dan mencoba mengeluarkan isinya.


"Sebenarnya papamu sangat memperhatikanmu sayang.."


"Dia begitu khawatir setiap kali ingat bagaimana kamu tidak menginginkan semua ini."


"Dia bekerja keras dari bawah sampai sebesar ini tujuannya hanya untuk membahagiakan keluarganya."


"Membahagiakan kalian anak-anaknya."


"Kembalilah jika sudah waktunya kamu harus kembali."


"Kesehatan papamu semakin menurun. Esok kami akan pergi ke negara S."


"Papa sudah mencairkan kembali semua kartumu."


"Gunakanlah untuk keperluan pribadimu."


"Kau tahu kakakmu selalu mengeluh setiap kali kepulangannya dari sini."


Nyonya Julia kembali mengacak rambut putranya, mentransfer sejumlah energi positif untuk putranya.


"Terima kasih mah... Ini sertifikat apa?"


"Ini hak kepemilikan apartemen di Park Avenue."


"Papa membelinya bulan kemarin. Namun baru sekarang dia kasih untuk kamu pakai."


"Tidak perlu repot mah. Aku senang tinggal ditempat sekarang. Selain banyak teman aku juga lebih dekat


dengan Luna." Adira tersipu menjelaskan.


"Hahaha anakku sedang jatuh cinta?"


"Tidak mungkin dia libur di waktu weekend?"


Adira merasa dia benar-benar tidak bisa membohongi ibunya.


"Mama sungguh penasaran wanita seperti apa yang sudah membuatmu tergila-gila seperti ini?"


"Selain cantik dia paling tau caranya membuat aku nyaman berada di dekatnya..." Mendadak Adira bersemangat


menceritakan pasal Luna.


"Oh ya?" Tanya mama menggoda.


"Maaf ma, aku belum bisa membawanya bertemu denganmu." Adira kembali dirundung pilu.


"Kamu bertengkar dengannya?"


Adira mengangguk lemah, dia hanya bisa menggerakan tubuhnya tidak mungkin menceritakan semuanya.


"Aku menyakitinya mah..."


"Aku berharap dia akan memaafkanku..." Lirihnya kembali menyesali semua perbuatannya selama ini.


"Hari ini aku kehilangan anakku..."


"Aku juga mengusir calon istriku. Betapa brengseknya aku!"


"Aku membenci diriku saat ini."


Nyonya Julia menghapus bulir bening di pelupuk mata putranya "Apa yang kamu perbuat?" Tanyanya khawatir.


"Aku membohonginya aku belum memberitahukannya pasal identitasku ma."


"Aku takut dia tersinggung."


"Kamu tidak perlu khawatir."


"Jika dia benar mencintaimu dia akan selalu memaafkanmu."


"Ajaklah dia dinner romantis."


"Kamu jelaskan semuanya baik-baik, beri dia alasan yang sejujurnya. Mama yakin dia akan paham." Ibunya memberikan solusi dengan bijak.


Adira merasa sungguh beruntung memiliki ibu yang mengerti akan masalah anak-anaknya. Suatu saat nanti dia berharap Luna bisa seperti ibunya.


Adira memeluk ibunya "Terima kasih ma, sampaikan terima kasihku juga buat papa."


"Aku pamit dulu ma aku harus bertemu dengan Luna."


"Dan memberitahunya..."


"Baiklah, kamu hati-hati ya."


"Kamu ingat harus selalu menghubungi kami jika kamu ada masalah. Sampaikan salam mama untuknya."


Adira mengangguk dan bergegas kembali mencari keberadaan kekasihnya.


* * * * *


Adira terus mencoba menghubungi Luna, disaat itu Luna menjawabnya dan mengatakan dia berada di salah satu rumah sakit yang tidak ingin dia sebutkan. Adira menepikan mobilnya dia menumpahkan semua air mata penyesalan, kekecewaan dan semua emosi bercampur menjadi satu.


"Aku tidak menyangka dalam hidupku akan ada hari dimana aku terluka tapi tak berdarah."


"Terlebih lagi aku yang membuat kekasihku membunuh bayi kami!"


Setelah merasa tenang Adira kembali memacu kendaraanya. Kemungkinan terbaik adalah dia akan di larikan ke klinik kecil di daerah seputar Harbour Bay. Adira memasuki kawasan klinik namun tidak ada pasien atas nama Luna ataupun Naluna.


"Dia tidak mungkin berada di rumah sakit besar."


"Semua orang akan tahu kondisinya jika dia kesana."


"Luna... Kamu dimana sayaaang?"


Adira kembali membanting kemudinya, dia sungguh lelah saat ini. Adira kembali menuju tempat kosannya sebelumnya mampir ke tempat kosan Luna. Terlihat gelap kamar yang di tempati Luna. Adira akhirnya memutuskan beristirahat sejenak di parkir sedikit menjauh dari rumah sewanya.


"Loh bang... Aku kira tadi siapa yang bawa mobil Audi ini!!" Pekik Bram terlihat syok.


Adira tersenyum kecut akhirnya ketahuan juga. Tanpa menjawab pertanyaan Bram Adira beranjak lebih dulu menuju kamarnya. Dia merebahkan dirinya di atas ranjang, mengambil segelas air putih kemudian dengan emosi membantingnya hingga berserak.


PRAANG!


"Luna... Kembali lah sayang."

__ADS_1


Saat tengah frustasi dia bangkit mengingat nama seseorang."


"Ah SANDRA!!"


"Persetan semuanya! Aku akan dianggap gila oleh Sandra aku sungguh tidak peduli!!"


Seluruh penghuni kosan Adira berhambur keluar setelah mendengar suara bantingan pintu dan kini bunyi pecahan


kaca.


"Cuy..."


"Gue ko merinding disko!" Ujar Daniel menatap Rio.


"Dua hari ga pulang kerumah tiba pulang kek kesurupan." Timpal Rio.


"Lu tau ga. Bang Dira bawa Audi cuy!!"


"Bukan motor yamaha lagi!" Bram yang telah selesai membersihkan diri mendekat.


"YANG BENER LU?" Rio menekan katanya namun ketiganya dalam posisi berbisik.


"Noh sebrang sana!" Bram mengarahkan kepala Rio keluar jendela yang tanpa tirai itu.


"Eh buset.. Kan bener gue bilang pas awal bang Dira tuh kaya bro!"


"BTW ada yang mau nanya ke atas ga?" Daniel mengembalikan topik permasalahan utama.


"Sorry gue masih sayang nyawa gue."


"Biasa aja dah pake aura mistis apalagi lagi emosi gini!" Ujar Rio.


"Telpon Luna aja gimana?"


"Cuma dia pawang bang Dira." Ujar Bram memberi solusi.


"Eh onta lu pikir bang Dira kek gitu kalo bukan ribut ama Luna ama siapa? Satpam security?!" Sungut Rio kemudian.


"Lu lupa Bram abis pulang lebaran mereka ribut kaca depan bang Dira pecahin noh!" Daniel menambahkan.


"Luna nih kek bom waktu buat bang Dira. Kita yang kena serpihannya." Ujar Rio mengusap kasar wajahnya.


Akhirnya ketiganya sepakat membiarkannya begitu saja.


Pagi harinya Adira terlambat bangun, dia menatap jam di nakas telah menunjukan pukul 8 pagi. Dia memang berniat untuk tidak masuk kerja. Dia baru tertidur pukul 3 dini hari tadi. Dia menyambar ponselnya dan mengetik sesuatu di aplikasi messanger miliknya.


[Niel, buatin AL di system ya.]


Ting


[Tadi mau dibangunin tapi takut malah ganggu!]


[Gue emang niat ga masuk]


Ting


[Abang lagi ama Luna ya? Di system dia AL ampe 5hr kedepan. Pulang kampung lagi katanya.]


DEG!


"Kenapa dia berbohong sejauh ini?" Adira kembali dirundung pilu.


[Iya gue anterin dia.]


Ting


[Wah serius bang? Mau tunangan ya bang?]


"HAH? HAHAHA"


"Gue selalu ga habis pikir ama jalan pikiran Daniel."


[Iya]


"Dia cukup ngehibur kondisi gue saat ini."


Adira beranjak membersihkan dirinya, dia berniat kembali mencari Luna di beberapa Klinik dan RS di kota B ini.


"Kak..."


"APA!"


"Bukannya pulang malah kelayapan!!"


"Papa mama sudah berangkat?"


"Kami sudah di pelabuhan kamu ga anterin kami hah?!"


"Aku kerja kak..."


Adira mengepalkan tangannya dia berbohong pada kakaknya.


"Terus ada apa?"


"Aku mau pindah ke PA."


"Aku minta orang untuk merapihkan barangku disini."


"Dih degil! Aku pikir kamu bakalan jaim sampe seminggu gitu"


"Tahunya belum ada 24 jam dah minta pindah. Kenapa ga sekalian ke Villa Paradise aja?" Ejek Arneth.


" Aku tunggu mereka 15 menit sampai di Central Park!" Titah Adira tak tahu diri.


"Cih... Ga malu apa udah nyuruh minta cepet lagi!!


"Tunggu saja nanti Bagas kesana."


"Dah gue dah mo bertolak." Arnetha segera menutup sambungan.


"Huh.." Dengusnya kesal.


Benar saja tanpa menunggu lama orang suruhan kakaknya sudah datang.


"Pagi tuan..." Bagas yang sudah Adira kenal telah berada di depan rumah.


"Pagi, maaf aku merepotkan."


"Bantu aku merapihkan barang-barang. Aku ingin semua selesai sebelum jam 5." Titah Adira kemudian menunjukan kamarnya.


Bagas mengangguk kemudian dia bersama dua pelayan lainnya mulai merapihkan kamarnya yang berantakan. Adira juga tidak peduli jika Bagas mencurigai sesuatu.


"Bagas kamu langsung pindahkan ke PA ya!"


"Malam ini aku disana. Sekarang aku keluar duluan ada urusan. Ini kunci rumah jangan lupa kamu kunci sebelum meninggalkan rumah ini."


Adira kembali memberi perintah setelah itu pegi mencari Luna kembali. Adira kembali menghubungi sahabat Luna.


"Sandra!"


"Pasti dia yang apply form cuti Luna."


"Adira!"


"Tidak cukupkah kamu mengganggu ku sepanjang waktu!"


"Kamu yang punya urusan dengan Luna kenapa kamu libatkan aku?"


"Sungguh aku tidak tahu dimana keberadaan Luna. Aku juga sama tidak bisa menghubunginya!"


Rentetan penjelasan Sandra membuat Adira kembali frustasi. Ponsel Adira berdering, dia segera menyambarnya kembali berharap itu Luna tetapi.....


"Mama Luna?"


"Halo ma..." Jawab Adira terbata.


"Maaf nak Dira, tante tidak bisa menghubungi Luna."


"Perasaan tante kurang enak. Apa dia baik-baik saja?"


Deg!


"Luna tidak pulang kampung!"


"Aku benar dia masih disini namun aku tidak bisa menemukannya."


"Oh itu Luna baik-baik saja tante hanya saja di kantor sedang sibuk mungkin dia kecapean tidak sempat menghubungi tante."


"Kebetulan dia juga sekarang di tugaskan ke Negara S jadi bisa jadi ponselnya tidak bisa menerima panggilan. Nanti saya beritahu Luna ya tan."


"Tante gimana kabarnya?" Adira segera mengalihkan pembicaraan.


Dadanya sesak, dia tengah mengecewakan keluarga besar Luna. Luna yang di jaga baik-baik oleh keluarganya saat ini tengah terluka olehnya.


"Tuhan!"


"Kau boleh menghukumku tapi kembalikan Luna dalam keadaan baik-baik saja!!"


Pov Adira End.

__ADS_1


* * * * * * * * * *


__ADS_2