Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 32 : Bermain Api


__ADS_3

Luna terbangun dari tidur lelapnya, dia beringsut membalikan badannya menatap pria yang semalaman memeluknya memberikan rasa nyaman seperti yang biasa mereka lakukan selama 8 tahun pernikahan mereka.


Luna mengecup pipi prianya mesra "Pagi sayang, bangun yuk..."


"Hmm..." Dia hanya membalikan badan dan kembali tertidur.


Luna tersenyum kebiasaan seperti ini sudah dia ketahui juga, dia memasang kembali alarm yang akan membangunkannya 5 menit kemudian.


Wanita itu segera beranjak dari kamar dan menunu toilet menggosok gigi dan mencuci mukanya. Dia kembali menuju dapur dan mencoba menyiapkan sarapan pagi yang akan dia masak.


Di kosannya memang tidak tersedia dapur. Dia biasa membeli di luar. "Semoga keahlian memasak ku masih aku kuasai."


Semenjak menikah dia belajar dari ibu mertuanya. Sejujurnya keluarga mereka sangat baik, entah mengapa dulu atau saat ini mereka begitu menentang hubungannya.


Adira dan anak-anaknya menyukai masakannya. Walau ada Nanny tapi urusan memasak jadi urusannya. Beserta anak-anaknya tidak pernah Adira membiarkan mereka di urus orang lain.


Itulah mengapa walau tidak bekerja dia masih selalu merasa lelah dan bosan. Apalagi semenjak menjadi istrinya Adira begitu prosesif. Luna tidak di ijinkan kemanapun bahkan Me Time sekalipun Adira tidak mengizinkan. Mereka selalu bertengkar karena masalah sepele ini. Adira terlalu mengekang Luna.


"Sayang masaak apa?" Adira telah terbangun merangkulkan tangannya di pinggang Luna dan wajahnya dia benamkan di bahu Luna menciumnya lekat.


"Nasi goreng."


"Semoga sesuai selera mas!"


"Semua masakanmu aku suka!"


"Belum juga nyoba..." Luna mendorong tubuh Adira.


"Mandi dulu ya, shalatnya jangan lupa!"


"Luna..."


Luna tengah mempersiapkan dua piring nasi goreng di meja, kemudian berbalik pada kekasihnya yang tengah mengekor di belakangnya dengan masih menautkan rangkulannya kembali.


"Iya sayang..." Ujar Luna.


"Kapan kita menikah?!"


"May!"


"Seriously?" Adira mendadak semangat dan menggoyang bahu Luna.


"Yaaa.. May be yes may be no!" Canda Luna dengan menjulurkan lidahnya.


Adira menghentakan kakinya tidak suka. Luna terbahak dengan sikap kekanak-kanakan lelakinya. Luna mendorong tubuh Adira hingga depan kamar mandi.


Luna merapikan kembali dapur yang tengah dia gunakan dan menyiapkan keperluan suaminya. Dia benar-benar melakukan apa yang sudah menjadi kebiasannya. Setelah Adira keluar kamar mandi Luna bergegas melakukan gilirannya.


"Lah kirain udah mandi!" Ucap Adira heran.


Bagi Luna motonya adalah "Mandi setelah semua pekerjaan domestik rumah tangga selesai. Dengan begitu saat bersama pasangan kita sudah bersih dan wangi."


Luna sendiri paling tidak suka saat dirinya bau dapur atau keringat suaminya mendekatinya. "Kita saja tisak suka dengan baunya apalagi orang lain."


Menyenangkan suaminya adalah keahlian Luna.


"Enak mas?"


"ENAK BANGET!!"


Luna mengulumkan senyumnya, salah satu kebiasaannya adalah ebrtanya pada sejuta umat yang memakan masakannya sebagai motivasi dan bentuk apresiasi atas usahanya.


"Makasi sayang..."


"Aku tidak tahu kamu pandai masak!"


"Cuma gini doang..." Tukas Luna merendah untuk meroket.


"Istriku paket lengkap banget!!"


"Cantik, pinter, jago masak, apalagi kalo udah di...." Adira menggantung kalimatnya. Luna mengernyit keningnya tidak tahu kelanjutannya.


"Ran-jang!!"


"MAAASS!!" Luna malu sendiri mendengarnya.


Adira terkekeh, dia menyelesaikan menyesap kopi hitamnya.


"Seingatku aku tidak pernah memberi tahu Luna rasa kopi yang aku sukai!"


"Mengapa dia sangat tahu kopi ini benar-benar sesuai seleraku."


Adira menatap Luna yang tengah menuju kitchen sink. "Sayang kopi ini gulanya berapa sendok?" Tanya Adira.


"Eh... Satu sendok kan mas?!"


"Ga enak ya?!" Luna merasa dia sudah sesuai dengan takaran biasanya.


"Deg!"


"Dari mana kamu tahu takaran ini sayang?"


"Eh itu... Bukannya mas pernah bilang dulu!"


"Benarkah?"


"Mas bukannya harus berangkat sekarang ya... Nanti telat loh."


Luna mengalihkan pembicaraan dia sudah tisak tahu harus menjelaskan seperti apa.


"Ya udah, kamu beneran ga papa aku tinggal?!"


Adira menaruh gelas kopi miliknya dan kembali merangkul calon istrinya.


"Iya mas..."


Luna membalikan badannya, Adira mendorong wajah Luna keduanya bertautan mesra.


"Hati-hati di rumah ya."


Adira kembali menyesap bibir kesukaannya.


"Aku sungguh tidak ingin pergi!"


"Ya udah mas cuti lagi!" Luna merangkulkan tangannya di bahu prianya.


"Sepertinya ga bisa!" Adira memainkan hidungnya dengan hidung Luna.

__ADS_1


"Oh iya mama telpon kemarin, kamu telpon balik ya."


"Makasi mas..."


"Aku yang makasi Luna."


"Kamu masih memberikan ku kesempatan."


Luna kembali memeluk erat prianya.


Setelah kepergian prianya Luna bergegas menyambar ponselnya. Memeriksa pesan dan panggan masuk.


"Halo ma..."


"Lunaa!!"


"Ingat juga kamu telpon mama!!"


Ibunya tengah bernada kesal saat ini.


"Luna minta maaf ma..." lirih Luna sendu.


"Kamu kenapa sayang?"


"Apa perlu amma temani lagi?"


"Tidaak ma!!"


"Aku baik-baik saja hanya lelah..."


Luna segera mengalihkan kekhawatiran ibunya.


"Apa yang terjadi denganmu..."


"Tidak biasa hari libur kamu tidak menghubungi mama."


"Mama telpon kamu malah telpon kamu mati!!"


Luna terdiam baiknya dia bicara apa pada ibunya.


"Aku sedang sibuk dengan pekerjaan saja ma, aku banyak lembur demi bongkahan berlian!"


"Ck!"


"Kamu tidak perlu kerja disana kamu sudah bisa membeli berlian."


Luna membuka mulutnya lebar.


"Bagaimana hubungan mu dengan Adira."


"Baik ma, dia melamarku..." Luna memainkan cincin pemberian Adira.


"Alah... Melamar itu bawa keluarganya ngehadap keluarga besar kita. Kalo cuma sekedar ngasih cincin Diaz juga dah ngasih kamu cincin pertunanganmu dulu kan sampe sekarang kalian belum menikah juga?"


Ejekan ibunya seketika mengingatkan kembali, Luna pada mantan terindah sekaligus mantan yang paling menyakitinya. Sangat wajar jika ibunya terus membandingkan Adira dan Diaz.


Diaz adalah menantu idaman ibunya dan bahkan seluruh keluarganya.


"Luna, cepat selesaikan urusan pekerjaanmu dan pulang kembali."


"Apa kamu lupa janjimu dengan Diaz bahwa kalian akan melangsungkan pernikahan."


"MA! Aku dan dia sudah putus..."


"Tolong mama terima kenyataan ini. Saat ini aku berpacaran dengan Adira dan kami berencana menuju tahap serius."


"NALUNA!"


"MA! Aku kembali bekerja dulu..."


Luna segera menghentikan sambungan telponnya.


****


Luna tengah menonton saluran tv tiba-tiba ponselnya berdering. Dia menatap layarnya lama, dia tidak mengenali nomornya.


"Halo... " Sapa Luna halus.


"Halo cutiepie..."


Tiba-tiba detak jantung Luna seolah berhenti mendadak, kemudian berpacu dengan cepatnya. Luna tahu suara husky di balik si penelpon.


"Emm.. Siapa ya?"


"Aku pikir hanya aku yang bisa memanggilmu seperti ini." Terdengar nada kecewa disana.


"Hanya sekedar menguji." Goda Luna.


"Apa aku mengganggumu saat ini?" Tanyanya lembut.


"Enggak sih..."


"Kebetulan aku juga lagi bosan."


"Bagaimana kalau aku temani makan siang?!"


Luna terpaku atas ajakan berani Mahessa, lebih berani lagi jika dia mengiyakannya sekarang.


"Haloo cutie..."


"Maaf aku tidak bisa..." Tolak Luna halus.


"Kenapa?" Mahessa kembali terdengar kecewa.


"Sepertinya kita tidak perlu lagi bertemu."


"Aku juga berada di tempat pacarku sekarang."


Tidak ada jawaban kembali, Luna juga tidak bersuara.


"Kenapa harus serumah dengannya?" Tanyanya dingin.


"Karena dia pacarku." Luna tak kalah dingin menjawabnya.


"Kamu bisa menjawab telponku apa dia tidak ada disitu?!"


Luna kesal saat Mahessa tau bahwa Adira tidak disana.

__ADS_1


"Mahessa, aku mohon... Aku tidak ingin mengkhianati pacarku."


"Luna aku hanya mengajakmu makan."


"Da*mn!" Luna merasa malu atas kenarsisannya yang berpikir Mahessa tengah mengejarnya.


"Baiklah, sekali ini saja ya."


"Aku jemput dimana?" Ujarnya terdengar riang.


"Aku berada di Park Avenue, tapi kamu tunggu di Grocery depan apartemen okay?!"


"Okay cutie... Aku jemput sekarang."


"Tapi ini masih pujuk 10"


"Kita bisa jalan katanya kamu bosan."


Luna tidak meneruskannya lagi. Dia bergegas mengganti pakaiannya dengan pakaian yang di bawa seadanya kemarin. Memoles wajahnya dengan riasan natural dan menyemprotkan parfum CK andalannya.


Luna meraih ponselnya dan meminta ijin kelaur pada kekasihnya.


[Sayang, aku ijin ke grocery bawah ya sekalian beli makan siang...]


Tring!


[Ok. Hati-hati sayang. Aku lupa diatas meja sebelah tempat tidur ada atm yang bisa kamu gunakan. Pinnya tanggal lahir kamu ya.]


"HAH? DEMI APA?" Luna syok membaca pesannya.


[Mas kesambet apa?]


Ponsel Luna berdering "Halo mas..."


"Pake aja ya sayang. Aku benar-benar menyiapkannya untukmu." Bujuknya.


"Maass... Kamu tidak perlu seperti itu. Tapi kalo mas maksa aku sih ga nolak. Hehe" Luna menjawab dengan tidak tahu malu.


"Hahaha ok sayang jangan kecapean ya. Aku sibuk dulu..."


Luna kembali menaruh ponsel di sling bag miliknya dan bergegas keluar.


Luna telah berada di depan mini market, dia berbalik badan saat seseorang memanggilnya.


"Hai cutiepie..." Sapanya lembut.


"Kamu cepet banget sampenya." Saat akan membuka pintu Mahessa telah melakukannya untuk Luna.


"Thank you.." Luna tersenyum kearahnya.


"With pleasure..." Mahessa tersenyum balik dengan tampannya.


Kali ini dia memakai kemeja lengkap dengan jas single breastednya. "Sungguh menawan sekali bahkan kasir mini market ini tebar pesona dengannya." Batin Luna mengejek.


Luna bergegas ke kasir dan akan membayarnya sendiri. Awalnya Mahessa berencana untuk membayar cemilan yang di beli Luna namun Luna menolak dengan halus membaut pria itu tidak bisa lagi memaksa.


Mereka telah berada di dalam mobil Porsche merah milik Mahessa, setelah sebelumnya menggunakan BMW. Luna sudah tidak asing dengan kemewahan ini.


"Mau kemana?" Tanyanya menyalakan mesin mobil siap melajukan mobilnya meninggalkan pelataran area Park Avenue.


Luna membuka snack kripik kentangnya.


"Kamu mau?" Dia menawarinya dengan menyodorkan satu keripik kearah pria yang tengah fokus menyetir.


Mahessa tersenyum namun saat akan menggigitnya Luna menariknya kembali.


"Tapi boong!" Canda Luna dengan terbahak.


Entah apa yang ada di pikiran Luna saat ini. Menggoda pria lain seperti dia menggoda kekasihnya.


Mahessa terlihat merona, Luna kemudian menyadari tingkahnya dan meminta maaf.


"Nih..." Luna kembali menyodorkan keripik kentangnya.


Dengan cepat Mahessa menggenggam pergelangan tangan Luna dan memakan kripiknya. Luna menjadi salah tingkah saat ini. Lain hal dengan prianya yang tengah puas dengan aksinya barusan.


"Kita kemana nih?!" Tanyanya meminta persetujuan.


"Kemanapun asal bukan Harbour..."


"Kenapa?"


"Aku traumaan orangnya..."


"Oh sorry... So?!"


Mahessa kembali bertanya keinginan si wanita.


"Laguna yuk!"


"Oke


30 menit mereka habiskan di perjalanan dan saat ini mereka telah berada di Laguna Resort. Sebelum keluar Mahessa menghentikan Luna dan wajahnya mendekati wajah wanitanya.


Jemari Mahessa menyentuh sudut bibir Luna yang terdapat remahan kripik.


Luna seolah tersihir tanpa perlawanan dan dorongan untuk menolak sikap Mahessa terhadapnya. Justru membuat Mahessa memberanikan dirinya menyentuh perlahan bibir Luna, Mahessa semakin memiringkan wajahnya dan menyapu bibir lembut Luna.


Luna menutup matanya, gengagaman tangannya semain erat pada ujung dressnya. Mulutnya terbuka saat bibir pria di depannya mencoba menyesapnya. Pikiran nista Luna kembali mencuat, dia menghisap lembut bibir Mahessa, pria itu kini tengah berhasrat, tangannya mengusap area tengkuk leher Luna. Tubuh kekarnya mendorong kembali tubuh wanitanya ke kursi.


Permainan mereka semakin panas. Luna menuntun Mahessa dengan permainan lidahnya didalam rongga mulut prianya.


"Sial!! Naluna sangat ahli membuat hasratku mencuat!!" Mahessa sungguh takut dirinya hilang kendali.


Luna tersadar segera menghentikan aksi liarnya dan mendorong tubuh Mahessa. Keduanya masih dalam jarak yang dekat, deru nafas mereka masih bisa dirasakan satu sama lainnya. Mungkin mereka juga tengah merasakan debaran jantung mereka apakah seirama saat ini.


"Luna..." Dengan suara beratnya Mahessa memegang pipi Luna.


"Kita tidak seharusnya seperti ini!" Lirih Luna merasa berdosa.


"Aku minta maaf..."


Luna berpaling "Aku lapar, bisa kita makan sekarang juga?"


"Ok cutie..."


Mereka berdua keluar dari mobil menuju kedalam resort.

__ADS_1


* * * * * * * * * *


__ADS_2