Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 102 : Keputusan Final


__ADS_3

Pagi harinya Luna terbangun dirinya merasa sangat lelah.


"Setiap hari aku merasa seperti di timpa batu besar rasanya!!" Rutuk Luna.


"Morning cutie..." Mahessa mencium pipi Luna lembut.


"Morning..."


"I'm hungry..."


"Mandilah terlebih dahulu."


"Farell akan mengantarkan sarapan kita..." Mahessa masih berkutat dengan laptopnya di sebelah Luna berbaring.


Luna beranjak dari ranjang yang sudah berantakan seperti terkena badai. Dia sengaja menanggalkan selimutnya berjalan tanpa sehelai benang di hadapan Mahessa yang kini tengah dalam mode freeze.


"Istriku memiliki bentuk tubuh yang perfect dengan rasa yang sulit di ungkapkan dengan kata." Mahessa mendengus kesal. Wanita sempurna itu belum sepenuhnya dia miliki.


Saat ini keduanya tengah melakukan sarapan di balkon depan bungalow mereka. Luna mengawali percakapannya.


"Mahessa..."


"Hmm?!"


"Sudah saatnya kita kembali menjalani kehidupan kita seperti sebelumnya."


"Seminggu ini aku sudah melakukan tugasku dengan baik bukan?!"


"Kini giliran aku meminta mu melakukan tugas mu sesuai perjanjian kita!"


Deg!


Mahessa menghentikan aktifitas sarapannya. Dia menatap wanitanya lekat.


"Apa karena Adira akan segera pulang?" Tanya Mahessa ketus.


"Tentu saja."


"Aku harus menyelesaikan semua masalah pribadi ku ini."


"Satu lagi sesuai janjimu, Lunarian aku ingin dalam waktu singkat aku sudah bisa jalankan."


Mahessa menelan salivanya kering, dia tidak menyangka sekejap saja kebahagiaannya akan memudar.


"Baik cutie..." Jawab Mahessa lirih dan tidak bersemangat.


Luna tersenyum mendekat ke arah Mahessa.


"Kita keliling disini sebentar yuk." Ucap Luna berbisik di telinga Mahessa.


Saat akan mencium istrinya pintu depan di ketuk dengan keras.


"Masuk." Ujar Luna kembali duduk di tempatnya dan menyesap cappuccino miliknya.


"Maaf tuan mengganggu anda dan nona..."


"Sudah tau mengganggu masih berani menunjukan wajahmu?!" Mahessa menjadikan Farell pelampiasan kekesalannya.


"Sayaaaang..." Luna menggoda Mahessa.


"Baiklah ada apa?!"


"Sungguh, hanya nona Luna yang bisa mengubah keputusan tuan muda. Apa mungkin jika nona minta tuan menyerahkan segalanya apa dia akan menurutinya juga?!"


"Ah cinta ini buta!!" Batin Farell.


"Ada masalah dengan kantor cabang HK tuan."


"Para hacker itu kembali menyerang system dan saat ini kantor cabang Dongha telah mereka kuasai sepenuhnya."


"APAAAAAA!!!"


"KENAPA BARU KAMU BILANG SEKARANG!!" Bola mata Mahessa seperti akan keluar Luna yang melihatnya langsung tiba-tiba merasa ketakutan.


Trauma dimana dirinya di ancam Mahessa sebelumnya kembali meliputi pikirannya.


"Oh Sayaang!!"


"Maaf aku tengah emosi..." Mahessa yang menyadari keterkejutan istrinya merasa menyesal.


"It's okay..."


"Pergilah..."


"Farell siapkan semuanya kita berangkat dua jam lagi!!"


"Baik tuan..."


Farell segera meninggkan ruangan mereka. Mahessa segera menghampiri istri kesayangannya.


"Apa aku menakutimu sayang?"


"Aku minta maaf..." Ucap Mahessa sendu.


Luna hanya mengulumkan senyumnya kemudian Mahessa dengan cepat mencium bibir Luna.


"Sepertinya raja beruang akan meminta kembali jatahnya!!!" Rutuk Luna dalam hati.


Mahessa keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada menghampiri istrinya yang tengah tertidur lelah.


"Aku pergi dulu ya sayang."

__ADS_1


"Kamu masih ingin disini atau aku antar kamu pulang cutie?!" Ujar Mahessa mengusap lembut rambut Luna yang lengket oleh peluhnya.


Luna merangkulkan tangannya kembali di pinggang Mahessa.


"Aku bisa sendiri sayang."


"Hati-hati disana ya."


"Jangan pernah melewatkan waktu makan okay."


"Jangan coba-coba menjamah wanita lain selain aku!!"


"Kamu tenang saja sayang tubuh dan hati aku hanya milik nyonya Mahessa!!"


"I'm yours..."


Luna terharu dengan penuturan suaminya itu di bangun dari tidurnya dan kembali menyesap bibir seksi suaminya.


"Berjanji lah untuk tidak melakukan sesuatu di luar batasan!"


"Bukankah kamu tau dengan jelas jawabanku?!" Luna menaruh jari telunjuknya di bibir prianya.


"I love you Luna..."


"Thank you sayaaang..."


"Aku ingin mendengar kamu mengatakannya juga."


"Walau itu sebuah kebohongan..." Hati Mahessa terasa di remas saat mengucapkan kata tersebut.


"I love you my husband..." Luna mencium bibir Mahessa untuk kesekian kalinya.


Mahessa meninggalkan Luna sendiri dia segera meninggalkan kota B menuju negara HK menggunakan jet pribadinya. Luna sendiri begegas membersihkan diri dan merapihkan semua perlengkapan yang akan dia bawa.


"Selamat siang nona..."


"Ini kunci mobil anda."


"Tuan muda juga menitipkan ini..."


"Thank you..."


Luna menerima satu kotak cheesecake kesukaannya beserta satu kuntum bunga mawar merah. Luna menciumnya dengan mengulumkan senyumnya.


"Sayang sekali mungkin kita tidak di takdirkan saling memiliki." Luna bergegas menuju mobilnya dan beranjak menuju mansionnya.


Setelah berada di mansion Luna memesan jasa binatu untuk membersihkan mansionnya. Dia mengganti semua pernah pernik yang dia pakai bersama Mahessa.


"Bau parfume dan tubuh raja beruang itu menempel dimana-mana!!" Dengus Luna.


"But I miss him..."


Sama halnya saat dia selalu menempel dengan Adira, saat dia tidak ada Luna sungguh merindukannya. Namun sekarang bahkan dia sudah tidak menghubunginya beberapa hari.


"Siapa yang datang siang bolong gini?!"


Luna bergegas menuju pintu depan. Betapa terkejutnya dirinya saat orang yang mengunjunginya adalah mantan suami di kehidupan terdahulunya yang tak lain kekasihnya saat ini Adira Renald.


Dengan membawa satu buket bunga mawar mekar Adira tersenyum kearah Luna yang terpaku.


"Mas Dira...." Lirih Luna.


Pria itu kini tengah merasa kecewa. Pasalnya ekspektasi dirinya saat ini berbeda dengan kenyataannya. Dia pikir wanitanya akan menyambutnya dengan suka cita seperti sebelumnya.


Wanitanya justru tengah terkejut dengan kedatangannya yang memang tidak dia beritahukan sebelumnya.


"Kamu tidak senang ya aku pulan?!" Ujar Adira perih.


Luna menitikan air matanya membuat lelakinya tambah terkejut. Luna segera menghambur kepelukan mantan suaminya itu.


"Maaas......" Luna membenamkan wajahnya di pelukan lelakinya. Adira yang tengah sangat merindukan sosok wanita itu semakin mengeratkan pelukannya. Dia merasa mungkin saat ini dia akan kembali kehilangan wanitanya seperti tempo dulu.


"Kamu sepertinya tidak suka dengan kejutanku." Lirih Adira mengejek dirinya.


Jika bukan karena frustasi merindukan Luna dia tidak mungkin buru-buru kembali ke kota B.


"MAS JAHAT!!"


Luna memukul dada bidang prianya bertubi-tubi!


"Lah kok malah marah?!" Adira mencubit hidung Luna.


Luna melepaskan pukulannya menatap kekasihnya dan kembali memeluknya erat.


Adira membiarkan kekasihnya melakukan apapun yang dia inginkan.


"Aku pikir mas tidak akan pulang kembali!!" Ujar Luna sendu.


Adira melonggarkan pelukannya, menatap tajam kekasihnya.


"Aku tidak mungkin berjauhan dengan mu dalam waktu yang lama sayang!"


Luna melengkungkan senyumnya menarik buket bunga yang Adira pegang dan menciumnya dengan suka cita.


Adira merangkul tubuh Luna dari belakang saat Luna tengah memasukan bunga hidupnya dalam vas bunga yang telah dia isi air. Adira benar-benar merindukan calon istrinya itu.


"Aku merindukanmu sayang..." Lirih Adira sendu.


"Aku juga mas..." Luna memegang pelukan erat tangan kekasihnya.


"Mas mau aku masakin apa??! Belum makan siang kan?" Tanya Luna membalik badan dan menyesap bibirnya.

__ADS_1


"Memakanmu boleh?" Jawaban polos Adira membuat jantung Luna seolah copot dari tempatnya.


"MAMPUS NALUNA!!"


"KISSMARK YANG DI BUAT MAHESSA AKAN TERBONGKAR!!" Luna segera berpikir cara apa untuk menghindarinya.


"Mas!!"


"Mas baru saja datang udah mesum aja!!"


"Akulihat mas sangat pucat."


"Makan dulu ya sayang?!"


Luna mengelak dengan perasaan canggung. Adira menyadari tingkah laku Luna yang sedikit berbeda dari biasanya.


"Iya..." Adira melepaskan pelukannya.


"Aku mau ikut mandi boleh?"


"Boleh."


"Aku nanti bawakan handuk mas..."


Adira menjauh dari Luna. Ada perasaan kurang nyaman menjalar di hati Luna saat ini. Kehadiran Mahessa mengubah perasaannya.


"Sekarang aku sangat canggung bersamanya."


"Dia juga sepertinya merasakan kekhawatiranku barusan!!"


"Apa yang harus aku lakukan selanjutnya?!" Tubuh Luna merosot di lantai dia tidak tahan untuk tidak terisak.


Di dalam kamar mandi Adira merasakan hal yang sama. "Luna telah berubah."


"Tidak seperti terakhir kali aku bersamanya..."


"Apa mungkin benar dia telah kembali dengan tunangannya?!"


"Apa aku siap berpisah dengan dia sekarang?!" Adira membenamkan dirinya dalam bathtub penat rasanya.


* * * * *


Luna tengah memasak masakan kesukaan Adira. Mereka makan dalam keheningan. Suasana canggung menyelimuti mereka seolah baru mengenal satu sama lain. Luna merasakan makanan yang dia makan terasa sangat kering. Sulit sekali untuk menelannya. Adira menyimpan dan membersihkan piring kotor miliknya tanpa suara. Dia menjadi bingung atas sikap Luna dia tidak tahu harus memulai dari mana.


"Mas biar aku saja." Luna mengambil alih semuanya.


"Ga papa Luna."


"Kamu pasti cape udah siapin semuanya."


Adira melengkungkan senyumnya.


Deg!!


Luna semakin merasa tidak nyaman saat Adira menyebutkan namanya bukan panggilan sayang seperti biasa.


"Kalau begitu aku pulang dulu ya Luna."


"Sepertinya kamu tidak menginginkan aku disini."


Setelah selesai merapihkan peralatan makannya Adira berencana pamit. Hati Adira bergejolak antara marah dan kecewa namun dia tahan dan sembunyikan dari pasangannya. Kebiasaan Adira yang selalu menghindari masalah membuat Luna geram sendiri.


"MAS!!" Luna menarik tangan Adira.


"Beri aku satu alasan Luna?" Adira menatap tajam kekasihnya yang kini telah berkaca-kaca.


"Kenapa mas menyembunyikan identitas mas?!"


"Kenapa mas tiba-tiba resign tanpa bilang padaku terlebih dahulu?!!"


"Mengapa aku harus mengetahui semuanya dari orang lain mas!!"


"Apalagi yang mas sembunyiin dari aku?!"


"Apa yang bisa di harapkan dari hubungan yang tidak pernah terbuka ini?!!"


Adira terdiam mendengar rentetan kekecewaan Luna. Luna tengah mengutarakan kekesalannya. Dia juga telah terisak menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Adira menghampiri Luna dan memeluknya.


"Aku minta maaf Luna."


"Tidak pernah ada niatan aku membohongimu..."


"Aku memiliki alasan khusus."


Adira menuntun Luna menuju sofa. Keduanya telah duduk menatap satu sama lain. Adira mengusap lembut kedua pelupuk mata Luna yang basah.


"Aku minta maaf Luna."


"Aku sungguh tidak bermaksud."


"Jika memang aku terus menyembunyikannya mungkin saat ini aku tidak juga memperlihatkan semua ini padamu bukan?!"


"Aku hanya tidak tahu harus memulai dari mana."


"Aku takut kamu tersinggung dan meninggalkan ku karena hal itu!"


"Semua pembahasan ini hanya akan mengarah pada dua hal."


"Hubungan aku dan dia terus lanjut atau berakhir sampai disini."

__ADS_1


Luna merasakan perih saat ini, dia telah mengecewakan kekasihnya. Jika di banding dengan kesalahan Adira. Kesalahannya jauh tidak termaafkan.


* * * * * * * * * *


__ADS_2