Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 117 : Sweetness


__ADS_3

Semua orang kini tengah menikmati makan siang mereka dengan di selingi beberapa obrolan ringan yang menghidupkan suasana.


"Bang, ko ga bilang dari awal abang itu CEO?!"


"Jadi selama ini abang jadi intel apa gimana?!"


Rio yang memang lebih berani dan ceplas ceplos merasa gatal untuk segera mencari tahu kenyataan di balik teman tajirnya.


"Aku baru jadi CEO satu bulan yang lalu."


"Jadi ya apa yang harus aku ceritakan?!"


Semuanya terdiam, memang sangat sulit membuat kulkas hidup itu bercerita banyak. Luna terkekeh dengan respon temannya yang dia yakin kecewa dengan jawaban ala kadarnya Adira.


"Nama perusahan abang apa?!" Tanya Daniel masih penasaran.


"Buat apa?!"


Geram rasanya semua yang mendengar namun pria yang menjawab tanpa dosa itu wajahnya datar saja.


"Renald Group atau RG sama kayak nama keluarga besar mas Dira." Luna membantu menjawab dan memberikan air segar bagi kehausan informasi temannya.


"Owh!"


"Kek pernah liat dimana ya?!"


Daniel berekspresi seolah berpikir.


"Sebelah EPS cuy!" Bram menimpali datar.


"Ah iya!!"


"Jadi selama ini kantor abang emang disini?!" Daniel masih memburu Adira.


"Tidak, kantor itu hanya kantor cabang."


"Openingnya senin besok."


"Lah terus pusatnya dimana?!"


"Di kota K lah bego gitu aja nanya!!" Sungut Sandra.


"Bang*ke!"


"Jadi abang sengaja buka cabang buat deket ama Luna?!"


"Bisa apa lagi?!" Adira masih bersikap datar menyuap makanannya.


"EH BUSYEEEET!!"


"Non, di kasih apa bang Dira ampe segitunya!!!"


"Di kasih cintaaaaa!!!" Luna langsung menempel pada tubuh kekasihnya dengan manja dan di buat-buat untuk memanasi temannya.


Adira tersenyum lebar dengan tingkah kekasihnya. Dia tahu Luna hanya sedang bertingkah.


"Dih tadi pas kita yang ngomong muka kek tembok. Giliran biniknya yang ngomong langsung terbit senyumnya!"


"Bubar lah coeg!!"


"Bagi mereka dunia milik berdua..."


"Kita hanya nyamuk tiada artinya."


Semua tertawa dengan pernyataan Rio yang memang semaunya dia. Bagi Luna dan Adira, justru pertemanan ini yang mereka cari. Tanpa cari muka atau depan lain belakang lain.


"Sabaar ya zheyeeng!!" Ujar Luna mengejek. Adira sendiri ikut memanasi dengan mencium kepala Luna yang di sambut dengan wajah masam kesemuanya.


"Bang take me out please!!"


"Ada loker ga?"


"Ya kali kalo ama temen cuannya lebih mantep!"


"Atau orang bilangnya rumput tetangga jauh lebih hijau!!"

__ADS_1


Daniel mengutarakan keinginannya.


"Hm... Kamu mau jadi apa?!"


"Manager gitu bang?!"


"HOEEEK!!"


Sandra dan Hapsari muntah berjamaah. Adira melayangkan senyumnya semuanya mendadak terkesima si kulkas mau senyum hanya karena Daniel.


"Kau tahu, aku bekerja di EPS selama ini karena tidak mau menjadi CEO instan."


"Bagi perusahaan monarki seperti perusahaan keluarga ku, maka presidir akan di tunjuk oleh founder atau kesepakatan dewan direksi atas kepemilikan saham terbesar."


"Walau menjadi Direktur itu sangat menjanjikan dari segi apapun."


"Tapi ingat, tugas dan tanggung jawab dia juga amat lah besar."


"Terlebih perusahaan keluarga ku bergerak di bidang produksi, kontruksi dan pariwisata bahkan sekarang kakak tetuaku mulai menggeluti bidang perbankan."


"Jujur itu bukan gaya ku terlebih itu sangat menyita waktu berharga ku!"


"Aku juga lebih suka menuruti kemauan diri sendiri, di situlah letak sebuah kepuasan kita bisa dapati."


"Tapi balik lagi, tidak ada yang instan di dunia ini."


"Termasuk aku, aku yang tidak mempunyai basic ilmu bisnis hanya bisa menelan mentah-mentah ajaran yang harus aku kuasai dalam satu bulan."


"Apa kamu masih mau minta keringanan jalur belakang?!"


"Sedangkan ada jutaan orang yang untuk mendapat posisi itu dia telah menumpahkan darah, keringat dan semua pemikirannya?!"


Daniel menelan salivanya atas ceramah Adira.


"Mampus kan lo!!" Ejek Rio.


Luna memperhatikan Adira seksama, betapa dia tengah jatuh cinta pada kekasihnya lagi dan lagi. Dia tidak menyangka di balik sikap acuh Adira namun dalam segi mengambil keputusan seperti barusan cukup bijaksana bagi Luna.


"Tapi kan Dir, jaman sekarang tuh sulit tanpa orang dalam!" Hapsari masih mempermasalahkan idealisme Adira.


"Aku tahu, sudah bukan rahasia umum di beberapa perusahaan seperti itu."


"Tapi aku tidak akan mentolerirnya jika itu terjadi di perusahaan ku!"


"Contohnya adalah Maya!"


Semua kini menatap Maya nyalang termasuk Luna.


"Aku tidak tahu kalau dia kenal dengan Sandra. Dimana Sandra adalah sahabat baik istriku."


"Aku menerimanya bekerja murni karena nilai dia tertinggi dari sekian orang."


"Jika dalam masa percobaan dia tidak masuk dalam kualifikasi. Aku tetap tidak akan memperpanjang kontraknya!"


"Aji gileee!!" Seru Sandra.


Luna melengkungkan senyumnya dengan kedua mata yang tengah berembun.


"Kamu kenapa sayang?!" Lirih Adira khawatir.


"Nothing..."


"Aku hanya sedang jatuh cinta pada pria di samping ku untuk kesekian juta kalinya!!!"


Adira menunduk dengan wajah merahnya.


"Panaass... Panaaasss!!" Pekik Rio dan Daniel yang kini bergaya seperti orang kepanasanan. Bram sendiri menjadi lebih pendiam dari biasanya.


"Tumben lu diem-diem bae Bram?!"


"Takut ketahuan mendem rasa ya?!"


"Emang ya punya temen lucnut itu sulit!!" Rutuk Bram mengacungkan jari tengah pada Rio.


Maya tidak percaya sedari tadi dia diam saja, selain bahasa yang sungguh membuka wawasannya terlebih dia sedang terpesona dengan Adira sejujurnya. Tanpa sepengetahuan yang lain Hapsari selalu memperhatikan Maya yang selalu mencuri pandang ke arah Adira.

__ADS_1


"Ga masalah, siapa saja boleh sayang ama Luna!"


"Asal bukan mencoba miliki dia dengan segala cara!"


"Jika Luna bilang cuma aku maka hanya ada aku!"


Adira menatap tajam Bram semua orang kini mulai sepakat mengheningkan cipta termasuk Luna. Tanpa mereka sadari juga keluarga besar mencuri dengar percakapan para anak muda yang sedikit menyakiti telinga apalagi di bagian kata kasar.


"Bukan begitu Luna?!" Adira menatap tajam Luna saat ini, Luna terpaku sejenak.


"Tentu saja..." Luna mengusap pipi Adira lembut dan prianya menyambut dengan menciumi telapak tangan wanitanya.


"Lu berdua nih ga pernah tobat ngasih liat ke publik gimana tingkah hot kalian ni!!" Rutuk Sandra.


"Syiriik!!" Ejek Luna.


"Bukan gitu non, inget budaya kita ga bisa mukul rata semua orang mau nerima apa yang kita lakuin."


"Gue cuma bilang, jangan sampe nyebar rumor negatif lagi." Hapsari menimpali Sandra.


"Siapa yang berani merumorkan buruk tentang Luna kedepannya dia tidak akan hidup tenang!!" Ujar Adira penuh penekanan.


"Mass... Aku tidak masalah mereka menggosipkan aku seperti apa."


"Setidaknya aku percaya, sahabat ku tahu pasti aku orang seperti apa dan mas seperti apa."


"Satu yang aku yakini, dari salah satu nasihat yang terukir jelas di ingatan ku..."


"Jangan jelaskan dirimu pada siapapun... Karena orang yang menyukai kita tidak butuh itu, terlebih yang membenciku tidak akan mempercayai itu!"


Adira tersenyum "Tumben pinter!"


"Apa?!"


"Jadi selama ini mas pikir aku bodoh?!"


"Haseeek baku hantam!!"


"Ini baru gue demen!!!"


"Inget dulu... Kalian berantem bang Dira mecahin kaca kosan cuma pake kaleng cola!!"


"Hahaha!!!"


Riuh Rio dan kawanannya mengolok tindakan agresif Adira. Luna membulatkan matanya, sejujurnya dia tidak ingat ada masa seperti yang disebutkan barusan. Adira tidak menanggapinya dia memanggil pelayan menghidangkan kudapan kesukaan Luna. Pelayan mengerti dan membawakannya langsung pada tuannya saat ini.


"Aku tidak peduli kamu pintar atau bodoh... Selama kamu menjadi diri sendiri dan nyaman aku tidak masalah..."


"Aku menyukaimu bukan karena dua hal itu!"


"Aku menyukai mu murni karena hati ku yang memilih mu!"


Adira bersiap menyuapi Luna dengan cheesecake kesukaannya dengan senyum terbaiknya. Luna yang sedikit emosional sudah menjatuhkan air matanya.


"Aku baru tahu aslinya mulut mas itu sungguh manis ya!"


"Aku pikir aku akan menikahi kulkas dua pintu!"


"But it's okay... Aku sungguh mencintai kulkas dua pintu ku yang begini adanya!!"


"Mencintai ku tanpa syarat serta menerima ku apa adanya. Terlebih aku suka mas tidak menuntut diri ku untuk menyenangkan keinginan mu!"


"Thank you and I love you..."


"Love you too..."


Luna membuka mulutnya dengan terisak.


"Kamu sudah berjanji tidak akan menangis lagi bukan?!" Bisik Adira.


"Ini tangis bahagia ku..."


"Walau tangis bahagia entah mengapa sungguh mengiris hati ku Luna..." Adira mengusap lembut wajah cantik kekasihnya.


Semua orang berasumsi yang bukan-bukan pada hubungan keduanya. Mereka merasa terharu dan iba sekaligus. Terbersit rasa iri di masing-masing orang yang melihat kemesraan keduanya.

__ADS_1


"Lunaa, sungguh aku berharap dan ikut mendoakan akan kebahagiaan mu!" Batin Sandra.


* * * * * * * * * *


__ADS_2