Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 34 : I got Problem!


__ADS_3

"Apa yang sudah kau lakukan Naluna!!!"


Luna merutuki dirinya setelah berada di rumah, dia masih terduduk di balik pintu dengan mendekap kedua kakinya. merasa sangat berdosa perbuatannya jelas telah menyimpang, dia mengkhianati Adira saat ini. Di saat tengah menangis ponselnya berdering.


"Mahessa... Ada apa lagi dia ini?!"


"Tunggu sepertinya aku melupakan sesuatu..."


"Ah koperku!!!"


Tanpa menjawab panggilan Mahessa Luna kembali bergegas menuju pelataran depan apartement.


Mahessa menurunkan kaca jendelanya perlahan. "Hai cutiepie..."


"Kamu bilang tidak ingin bertemu namun sekarang kamu sudah tidak sabar duluan menemuiku lagi." Dia terkekeh tampan sekali sampai-sampai membuat Luna terpesona dengan tampilan pria di depannya kali ini.


"Aku heran apa benar pria setampan ini jomblo?"


Mahessa keluar mobil membuka bagasinya dan membawakan koper Luna.


"Terima kasih sayang..." Goda Luna tak pernah kapok.


Mahessa menggenggam tangan Luna tersenyum dan merona atas sikapnya. Luna ikut tersipu dengan tidak tahu malu dia mengecup pipi pria di depannya sekilas kemudian berlari menjauh.


* * * * *


Terdengar bunyi bel dari luar. Luna segera menghambur menemui kekasih hatinya.


"Sayaaang..."


Adira menghambur memeluk kekasihnya. Dia butuh asupan energi saat ini. Luna merasa dejavu, dia teringat kembali setiap kali suaminya pulang bekerja itu adalah moment yang dia tunggu setelah seharian dia tidak ada kegiatan di rumah selain bermain dan menyiapkan kebutuhan anak-anak dan suaminya itu.


"Mandi dulu gih, aku dah siapkan aer panas di dalam."


"Terima kasih sayang." Adira mengecup pipi Luna mesra.


Sama halnya dengan Adira, dia tengah berbahagia kali ini. Di waktu paling lelahnya dia bertemu kekasihnya yang menjadi penyemangat baru baginya.


"Wangi apa nih?" Adira menepi di meja makan.


"Wah, mewwaah sekali.. Kamu masak apa beli sayang?"  Tanyanya.


Luna merangkul lengan Adira "Aku masak khusus buat kamu..."


"Sayaaang..." Wajahnya turun mendekati wajah Luna dan mencium bibirnya.


"Tapi, aku jauh lebih ingin memakanmu sayaaaang" dia berbisik di telinga Luna membuat tubuh Luna meremang.


"Aaah Mas, pergi mandi sanaaa!"


"Abis tu kita makan. Aku lapeeeer.. Nungguin mas dari tadi."


"Bukannya makan duluan aja. Seneng bener nyiksa diri!"


"Kamu ga ada kabar gimana mau tahu pulang jam berapa." Dengus Luna kesal.


"Aku ga ada kabar tuh kamu dong inisiatif telpon!"


"Ponselmu itu gunanya apa? Aku terus yang disuruh hubungi!" Adira berlalu menuju kamar mandi.


Luna terpaku secepat itu perubahan sikap Adira, dia kembali teringat saat pertengkaran hebat itu terjadi.


"Sepertinya dia tengah lelah..."


"Gimana enak?" Luna selalu ingin tahu responnya terlebih seharusnya saat ini yang pertama Adira menyantap masakan buatan Luna.


"ENAK BANGEET!!"


"NGEET!!"


"Ayam gorengnya mirip banget sama masakan mama di rumah."


Adira menyantap makanan dengan lahap bahkan sampai nambah Luna semakin besar kepala.


"Tentu saja sama, ini kan resep mama yang di berikannya dulu setelah kami menikah. Dia memberitahuku apa saja yang kamu sukai dan apa yang kamu paling ga suka."


"Aku sudah hafal Mas! Aku yakin setelah ini kamu akan semakin mencintaiku."


Luna tersenyum melihat kekasihnya begitu lahap menyantap makanan yang dia sediakan. Kembali lagi Luna teringat ke masa lalu. Adira selalu mengajarkan Luna apa itu bersyukur. Suaminya selalu tidak pernah pilih-pilih, apapun yang Luna masak dia akan menyantapnya hingga tak bersisa. Dia paling suka dengan ayam goreng lengkuas. Jika Luna telah memasak menu itu tidak ada satupun yang boleh memakannya lebih dari dia.


Sosok pria di hadapan Luna adalah pria paling sabar yang pernah Luna temui semasa hidupnya yang bisa dia ingat. Adira tidak pernah menuntut Luna macam-macam, tidak pernah berbicara kasar jika memang tidak dalam keadaan lelahnya dan Luna membuat perkara.


Adira paling pandai mengontrol emosi sejujurnya jika tidak Luna pancing. Adira pandai mengendalikan tangannya untuk tidak melakukan kekerasan fisik pada istrinya. Semarah apapun dia, dia paling lebih suka melampiaskannya pada benda mati.


Tapi hari naas itu untuk pertama kalinya Luna mendapatkan tamparan keras dari pria yang sudah menemaninya hidup bersama 8 tahun lamanya. Masih segar di ingatan Luna bagaimana pria itu bersyukur Luna telah melahirkan anaknya. Dengan tangis harunya dia berterima kasih pada istrinya karena sudah mau berjuang melahirkan generasinya.


"Sayang..."


Adira membuyarkan kembali lamunan Luna membuat Luna tersadar dan sedikit menyeka pelupuk matanya.


"Kenapa kamu menangis sayang?"


Adira memegang jemari Luna khawatir.


"Terima kasih mas..."


Luna sering lupa untuk berterima kasih atas perjuangan suaminya selama ini untuk dirinya.


Adira beranjak dari tempatnya bersimpuh di bawah kursi yang Luna duduki.


"Aku yang semestinya selalu berterima kasih padamu sayang!" Adira mencium kedua tangannya.


Moment ini jarang Luna dapatkan bersama Adira. Dia sungguh bersyukur bisa juga merasakannya dengan suaminya di kehidupannya saat ini.


Adira telah terlelap di samping Luna, dia terlihat sangat lelah. Luna terus memainkan jarinya di wajah tampan prianya.


Tring!


Sebuah notifikasi pesan masuk di ponsel Luna menghentikan Luna. Dia beralik dan mengambil ponselnya di atas nakas. Matanya membulat saat tahu siapa yang menghubunginya. Dengan tangan bergetar dan hati yang gelisah Luna membuka pesan dari penolongnya.


[What're u doing cutiepie... I miss u badly!]


Deg!


"Ok Luna kamu bermain api dengan menyembunyikan lelaki lain di kontak telponmu!" Gumam Luna lirh menatap Adira yang tengah mendengkur halus.


[I'm sleeping with my.....]


Luna sengaja membuat Mahessa menilai dirinya buruk. Namun tidak di sangka pria itu justru tengah menghubunginya saat ini.


"Mahessa bodoh!!" Rutuk Luna dalam hati.


Dia bergegas keluar kamar dengan hati-hati tanpa bersuara menuju kamar mandi.


"Kenapa kamu menelponku!" Sungut Luna setelah menjawab panggilannya langsung.


"Aku ingin tahu apa kamu benar menjawab panggilanku atau tidak." Sedikit dingin kata yang Mahessa lontarkan.


"Kau belum tidur?" Tanya Luna menyambut panggilan Mahessa.


"Aku merindukan mu sayang..."


"Tetiba aku lebih memilih tidur di sofa rumah sakit disampingmu dibanding di tempat tidur tanpa dirimu." Ujarnya gombal.


"Hahaha tidur gih aku harus kembali ke kamar nanti dia curiga aku pergi terlalu lama..." Ujar Luna kemudian.


Luna sangat cemas untuk pertama kalinya dia bermain api dengan pasangannya. Selama ini dia berkomitmen untuk menjaga kesetian pada pasangannya.


"Good night my cutiepie..."


"I love you..." Ujarnya mesra.


"Hahaha kamu lucu..."


"Kita baru bertemu beberapa hari udah bilang cinta?"


"Apa jangan-jangan kamu titisan buaya?"


Luna memperpanjang sambungannya, dia lupa bahwa dirinya harusnya berhenti dan kembali ke kamar. Namun saat mendengar ucapan cinta dari Mahessa terdengar begitu tulus dan menyentuh hatinya.


"Aku seperti akrab dengan rasa ini..."


"Tapi di masa yang lalu pun aku tidak pernah bertemu dengannya."


"Cinta bisa datang kapan saja bahkan disaat kita tidak menginginkannya."

__ADS_1


Setiap perkataan Mahessa kali ini terdengar benar-benar seperti sangat ahli dalam urusan percintaan. Nyatanya Mahessa sendiri baru kali ini merasakan namanya jatuh cinta. Sayangnya dia jatuh cinta pada wanita yang sudah mencintai pria lain.


"BA to the COT... BACOT!"


"HAHA"


Luna kembali dengan perkataan kasarnya, dia ingin terlihat apa adanya di depan Mahessa. Berbeda jika dia bersama Adira. Dia akan berusaha menjadi pribadi yang baik di depan kekasihnya.


"HAHAHA"


"Entah mengapa aku begitu menyukai apa adanya kamu."


"Kamu adalah satu diantara seribu wanita yang berbeda."


"Aku semakin terjatuh dalam pesonamu sayang..."


DEG!


Tidak di pungkiri, Mahessa pandai bermain kata. Adira sendiri belum tentu selihai pria itu.


* * * * *


"Pagi sayang..."


Adira segera memeluk dan memberi ciuman pagi pada wanita yang sudah membuatnya sebucin ini.


"Pagi..."


"Aku terlambat bangun!" Luna menyadari saat ini mereka telah kesiangan.


"Kenapa memangnya?" Tanyanya masih sibuk merangkul erat dan menciumi bahu wanitanya.


"Aku sangat merindukanmu sayang." Adira berada di atas tubuh Luna saat ini.


Luna tersenyum nakal, Adira refleks menggerakan tubuhnya. Gerakan yang sangat di hapal oleh wanitanya. Luna berekspresi seperti tengah berhubungan badan dengan prianya.


"Sayaaang..."


Suara berat menahan hasratnya berbisik di telinga Luna.


"Kamu mau kan bantu aku..."


Luna mengatupkan bibirnya, dia tidak ingin lagi melakukannya. Namun semua sentuhan sensualitas dari prianya menghilangkan akal sehatnya.


"Dikamar mandi ya sayang..." Jawab Luna dengan menggenggam senjata milik prianya yang sudah sangat siap bertempur.


30 menit kemudian...


"Kamu kok pake baju buat ke kantor?"


"Emang cutinya udah 5 hari?"


Adira menghampiri Luna yang tengah merias diri.


"Iya, kemarin Sandra menyuruhku segera masuk."


"Ada sedikit masalah di kantor."


"Aku tidak enak menyusahkannya."


Luna selesai memoles dirinya kembali merapihkan pakaian dan tampilannya. Adira menatapnya takjub, bagaimana mungkin dia tidak tergila-gila dengan wanita luar biasa di hadapannya itu.


Mereka telah sampai di kantor setelah sebelumnya Adira mengajak Luna sarapan di tempat bubur ayam kesukaan Luna. Semua mata tertuju pada mereka yang baru pertama ini Luna dan Adira bergandengan. Saat di area loker Adira dengan sengaja mengusap lembut rambut Luna dan menarik mengecup sekilas pucuk kepalanya. Luna sampai mengalami mode Freeze.


"Akhirnya masuk juga kau!" Sungut Sandra yang sudah sibuk dengan pekerjaannya.


Luna tersenyum kecut dia menaruh satu kaleng kopi instan yang sebelumnya di beli di area grocery kantor.


"Nyogok sedari dini!" Ejeknya.


"Jadi?"


"Aku ngapain?"


"I don't have any idea..."


Luna mengangkat kedua tangannya frustasi.


"Siapkan mentalmu kita akan meeting sebentar lagi.


"HUH!"


Luna memeriksa beberapa email masuk dan berbagai rentetan teror produksi sudah menyambutnya.


"Please kepintaran come to me now!!" gumam Luna lirih.


"Loh Luna.. Kamu sudah masuk? Bukannya hari senin baru masuk? Tanya bu Lidya heran.


"Eh iya saya memajukan jadwal kepulangan.."


"Orang tuaku sudah baik-baik saja." Jawab Luna berbohong.


"Oh baguslah kalo gitu."


"Ayo Luna dan Sandra keruang meeting sekalian." Bu Lidya segera menyudahi dan menyuruh mereka menuju ruang meeting.


"Aku siapkan datanya dulu kamu duluan." Ujar Luna pada Sandra.


"Luna, apa kamu sudah memiliki solusi atas permasalahan ini?" Pak Agus selaku Manager Produksi mengawali investigasi.


"Mohon maaf sebelumnya, saya tidak menyangka akan terjadi hal demikian."


"Saya akan mencoba menghubungi pihak HiTech kembali." Luna menjawab sebisanya.


"Tapi..."


"Ijin saya mengatakan bahwa kita tidak bisa hanya berharap dari Hitech saja."


"Saya harap bagian perencanaan dan produksi bisa mengubah plan produksi kita selama masa krisis sekarang ini."


"Mendahulukan produksi dengan ketersedian barang yang ada, guna menghindari stopnya produksi karena barang dari HiTech belum juga datang."


"Semoga solusi sementara ini bisa membantu." Luna melirik Hapsari yang dirasanya akan segera melahapnya hidup-hidup.


"Baiklah Luna, semoga dengan cara seperti ini bisa berjalan normal kembali."


"Tapi target pasar kita tidak bisa menunggu."


"Saya ingin jawaban dari pihak HiTech paling lama besok siang."


"Kamu e-mail semua bagian terkait."


"Nyatakan Wanprestasi pada pihak HiTech agar menjadi bahan pertimbangan CSR kedepan." Terang Pak Agus tanpa bertele-tele dan meeting bubar.


Setelah kembali dan berada di ruang kerja tiba-tiba Hapsari mendatangi Luna dengan raut muka masamnya.


"LUNA!" Teriakan Hapsari membuat Luna terlonjak kaget.


"Iya?" Luna memberikan senyuman terbaiknya.


"Bisa-bisanya masalah datang disaat Lu ga ada!!"


"Lu ga ada Mr. Ong juga mendadak ga ada!"


"Mana susah banget ngehubungi pihak HiTech!!"


Rentetan kekesalan Hapsari di tujukan pada Luna dengan mengetuk jidatnya.


"Benarkah?"


"Seingatku Mr. Ong selalu ada saat aku menghubunginya. Disaat vendor lain menyerahkan semua tugasnya kepada bawahannya."


"Mr. Ong yang jabatannya sebagai Mgr Pemasaran malah menghandle sendiri urusan pengiriman barang denganku."


Semua menatap tajam kearah Luna. Dirinya sungguh seperti tengah di telanjangi.


"Benar!"


"Mr. Ong mendadak tidak bisa di hubungi kemarin."


"Sandra, saya, bahkan Bu Ajeng sekalipun tidak ada yang bisa menghubungi pihak HiTech." Tiba-tiba dari arah belakang Bu Lidya menimpali.


"Saya curiga..."


"Apa mungkin HiTech sedang dalam masalah internal?" Selidik Luna karena seingatnya dia tidak pernah dikecewakan oleh Mr. Ong. Mengenai keterlambatan pengiriman memang sering terjadi karena kurangnya sumber daya mereka dalam mengolah produk yang dihasilkan.

__ADS_1


"Kami tidak tau."


"Opsi terakhir GM kita akan bertemu dengan CEO mereka untuk menindak lanjuti."


"Tapi semua itu juga percuma kita tetap stop produksi. Maka dari itu saranmu sebenarnya sudah kita canangkan kemarin malam kan San?"


Sandra mengangguk pelan.


"Semoga kali ini bisa lebih mengulur waktu sambil berdoa semoga pihak HiTech bisa dihubungi saat ini juga." Ujar bu Lidya kembali ke posisinya.


"Hapsari kamu change sesuai yang di simulasikan Sandra semalam."


"Coba cara itu dulu!"


"Luna kamu hubungi kembali pihak HiTech."


"Syukur-syukur Mr. Ong yang langsung handle mengingat dia mgr langsung bisa mengarahkan bawahannya."


Semua mengangguk tanda paham dengan semua intruksi. Tanpa basa-basi Luna segera menghubungi Mr. Ong.


"Haloo.." Suara dari sebrang sana.


"Wow.. Fantastis baby!"


"Apa aku sudah menyelamatkan galaksi bima sakti?!"


Luna tidak percaya bahwa satu kali dia menghubungi saat itu juga tersambung!


"Halo Mr. Ong Luna speaking."


"Yeah... It's you..." Dia terkekeh.


"Shouldn't you know what will I'm talking about?"


(Bukankah seharusnya kamu tahu apa yang akan aku bicarakan?)


Sejujurnya Luna tidak begitu mahir dalam penggunaan bahasa asing, namun selama ini sejauh rekannya mengerti dia juga mengerti maka tidak menjadi persoalan.


"Oh Luna you scared me, I'm really sorry for the inconvenience."


(Oh Luna kamu membuatku takut, aku benar-benar minta maaf atas ketidaknyamanan ini.)


"Could you immediately deliver the IC parts that should be imported right now?"


(Bisakah Anda segera mengirimkan suku cadang IC yang seharusnya diimpor sekarang?)


Sekuat tenaga dan pikiran Luna mencari kata yang pas untuk diskusi panjang ini.


"We do the best Luna."


"Two days ago hitech had a internal probelm."


"Hope you can understand it.."


(Kami lakukan yang terbaik Luna.)


(Dua hari yang lalu Hitech mengalami permasalahan internal.)


(Semoga kamu bisa memahaminya.)


"I also apologize Mr. Ong. If Hitech is currently under pressure..."


(Saya juga minta maaf Mr. Ong. Jika Hitech saat ini dalam tekanan.)


"But please help me..."


"Make sure that items crucial will be send today with hand carry if possible."


"Could you?"


(Tapi tolong bantu aku.)


(Pastikan barang-barang penting akan dikirim hari ini dengan membawanya langsung jika memungkinkan.)


(Bisakah anda melakukannya?)


"Today I'll arrange with two shipments."


"This afternoon already ship the first shipment and than the last one is on night on last ferry."


(Hari ini saya akan mengatur dengan dua pengiriman.)


(Sore ini sudah mengirimkan kiriman pertama dan yang terakhir adalah pada malam hari di feri terakhir.)


Mr. Ong menjelaskan dengan sangat baik. Luna sangat suka berhubungan dengannya walau dia seorang manager tapi dia down to earth bagi Luna.


"Thank you so much Mr. Ong."


"I keep your promise. Please don't be disappointed me."


(Terima kasih banyak Mr. Ong.)


(Aku menepati janjimu. Tolong jangan kecewakan aku.)


Luna sedikit menggodanya, dia memang sudah terbiasa dan dia masih mengingatnya dengan baik.


"Haha Luna...  I'm really ashamed of you."


(Haha Luna...  Aku benar-benar malu padamu.)


"I'm currently in city B can we meet as an expression of my apologies?"


"I invite you to a banquet dinner at Harbour Bay."


(Saat ini saya berada di kota B, bisakah kita bertemu sebagai ungkapan permintaan maafku?)


(Saya mengundang Anda ke jamuan makan malam di Harbour Bay.)


"I'm sorry Mr.Ong... I Can't!"


(Maaf Mr. Ong... Saya Tidak Bisa!)


"Why? I really want to get closer with you."


"I have something to share with you."


(Kenapa? Aku sangat ingin lebih dekat denganmu.)


(Aku punya sesuatu untuk dibagikan denganmu.)


Hal yang tidak di ketahui karyawan lainnya Luna selalu memiliki pembahasan random di luar pasal pekerjaannya dengan Mr. Ong.


"Wow.. What's that?"


(Apakah itu?)


Luna berujar antusias dia lupa bahwa dia tenga diperhatikan oleh rekan kerjanya yang lain saat ini.


"Surprise!!"


(Kejutan!)


"So come join with me."


"I only have one day in here.. Please..."


(Jadi, bergabunglah denganku.)


(Aku hanya punya satu hari di sini.. Tolong...)


Luna masih bersikeras dengan keputusannya tidak bisa menerima ajakan dinner dengan patner bisnisnya. Sampai akhirnya dia menutup sambungan telponnya. Setelah menutup saluran telpon terdengat tepuk tangan dari ketiga personil yang tak lain adalah Sandra, Hapsari dan Bu Lidya.


"Impressive Luna! I have a good tittle for you..." Pekik Hapsari.


"Play girl!" Ujar Sandra.


"Dasar wanita penggoda. Semua pria tergoda olehmu!" Ujar Hapsari sarkas kemudian.


"Dih syirik!" Luna membela diri.


"Udah malah ngomong yang enggak-enggak." Hardik Bu Lidya.


"Luna segera info kebagian terkait cc juga para manager ya."


"Kamu kerjakan simulasi terbaru dengan datangnya part ini. Hapsari kerja samanya ya." Titah bu Lidya.

__ADS_1


Semua mengangguk mengerti dan kembali disibukkan dengan pekerjaan masing-masing.


* * * * * * * * * *


__ADS_2