
Setelah selesai dengan menyantap makan malam yang dirasa sangat canggung, Luna mengutarakan apa yang jadi ganjalan di pikirannya.
"Excuse me, Mr. Ong..."
"Yeah..."
Mr. Ong berbalik dengan senyuman mematikannya. Luna dan Sandra seketika mimisan.
"Oh tuhan memalukannya kami..."
"Ketahuan banget kami menggilai para pria dewasa yang memabukan seperti doi!!"
Luna merutuki kenistaan pikirannya saat ini.
"Emm.. What's the problem with HiTech?"
(Ada masalah apa dengan HiTech)
"Oh... That's it!!"
"HT just have any issues from our management..."
"Yeah it's complicated..."
(Oh... Itu dia!)
(HT cuma punya masalah dari manajemen kami.)
(Ya itu rumit.)
Terdengar kekehan renyah dari pria yang sangat menyilaukan mata dua gadis di depannya. Pria itu tengah menenggak air minumnya mereka berdua mendadak ikut haus melihatnya.
"Negative rumors spread to all employees."
"They think they will be retired!"
"HT being acquired by competitors."
(Rumor negatif menyebar ke semua karyawan.)
(Mereka pikir mereka akan pensiun!)
(HT telah diakuisisi oleh pesaing.)
"Who can do that? HT is a big company, isn't it?"
(Siapa yang bisa melakukan itu? HT adalah perusahaan besar, bukan?)
Sandra ikut penasaran kami menjadi kang gosip saat ini.
"He's a professional businessman."
"The best one is He's young and powerful!"
(Dia seorang pengusaha profesional.)
(Yang terbaik adalah Dia muda dan kuat!)
"CEO of E.T or Eternal Trade."
"One of the largest companies in our country."
(CEO E.T atau Eternal Trade.)
(Salah satu perusahaan terbesar di negara kami)
Luna dan Sanda membulat, hanya mengiyakan agar cepat selesai. Luna sendiri ingin segera mengakhirinya.
"Otakku mulai out of capacity!!" Rutuk Luna dalam hati.
"Oh ya Mr. Ong, How old are you?" Tanya Luna kemudian ke intinya.
"Why you want know?" Kekeh Mr. Ong.
"Just shared with us."
"You also looks like a younger." Goda Luna kemudian membuat Mr. Ong tersipu.
"Dih najis cewek gombal!!" Rutuk Sandra lirih.
"I turned 35th" Jawabnya malu.
"Gotcha! I WIN!" Lirih Sandra kembali mengejek.
Luna memperlihatkan ekspresi bodo amat.
"The last one Mr. Ong." Sandra kembali berulah.
Luna mulai tidak enak perasaan.
"Do you like Naluna Maharani?" Tanya Sandra menggila.
Terlihat dengan jelas perubahan raut wajah Mr. Ong yang tersipu dan salah tingkah.
"Hentikan omong kosongmu Sandra.. Sebelum aku menggugurkan taruhan kita!" Ancam Luna emosinya meledak.
"I'm sorry princess..." Goda Sandra
"Luna, can we talk only two of us?" Tanya Mr. Ong serius kali ini.
Luna terdiam, dia hanya menampilkan senyum manis yang terpaksa.
"Oh I see... So I left first. Thank you so much Mr. Ong to add me on your invitation..."
"I'm glad to see you." Sandra segera beranjak dari tempat duduknya.
"Lu mo kemana? Kita dateng bareng pulang bareng lah!!"
Luna menarik lengan temannya.
"Lu ga denger dia pengen ngomong serius ama lu? Gue tunggu diluar doang bocah!!" Sungut Sandra kesal.
"Oh..." Luna bernafas lega pasalnya dia juga sejujurnya waspada dengan permintaan Mr. Ong yang tidak terduga ini.
Setelah Sandra keluar mereka hanya berdua. Luna bingung detak jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya.
"So Mr. Ong what do you want to talking with me?" Luna sudah sangat lelah untuk menterjemahkan bahasanya. Berharap berikutnya dia tidak roaming sehingga tidak salah mengartikan.
"As Sandra said..."
"I like you Luna...." Mr. Ong beranjak dari tempat duduknya. Menghampiri botol sampanye dan menuangnya.
"Do you want?" Mr. Ong menawarinya minum.
"Yes please..." Luna seperti dejavu dengan moment seperti ini namun kapan? Dengan siapa? Luna tidak ingat.
Mr. Ong terkejut mungkin tidak menyangka Luna akan menerima tawaran minum bersama. Namun dia segera menuangkannya dan mendekat memberikannya pada Luna segera.
Luna menyambutnya dengan senyuman terbaikku. "Siapa sih yang ga mau dideketin Lee Min Ho?"
Luna menenggaknya hingga tandas. "Luna be careful! You'll drunk like that.." Mr. Ong duduk disebelahnya dekat.
"Dou you have boyfriend?" Tanyanya kemudian.
"Of course..." Jawab Luna mantap.
"I already guessed it..." Dia tersenyum manis sekali.
"Sial aku mulai sedikit mabuk... Luna bodoh udah payah dalam hal minum sok-sokan lagi!!" Rutuk Luna dalam hati.
"As my promise to you. I'll give you something."
"What's that?" Luna menopang kepalanya dengan satu tangan di meja memperhatikan Mr. Ong yang sekarang tersipu kearahnya.
Dia mengeluarkan kotak persegi berwarna merah. "Apa dia mau ngelamar aku pake seperangkat perhiasan?" Luna mulai ngaco.
Mr. Ong membukanya terlihat jelas gelang cantik dengan model rantai kecil ada aksesoris kecil berbentuk bunga diujungnya.
__ADS_1
"May I?" Dia meminta ijin memegang tangan Luna. Luna tersipu mengijinkan. Dengan malu Mr. Ong memakaikan gelangnya dipergelangan tangan Luna. Luna memperhatikan detai gelang cantik berwarna silver itu.
"I like it Mr. Ong thank you so much."
"But I'm so sorry can't accept your feeling." Luna menjawab lirih didepannya.
Mr. Ong tersenyum. "It's okay Luna... I'm being rude with you.."
"So, please don't be different with me after this all."
"Sure..." Luna berusaha keras untuk tetap terjaga.
Mr. Ong mendekat kearahnya setelah Luna melihat tingkahnya sedikit berbeda. Luna bangkit dari tempat duduknya berusaha menghindar. Wajahnya semakin mendekat Luna menelan salivanya.
Namun dia berhenti tidak lagi mendekat. Tiba-tiba tubuh Luna ambruk kearahnya.
"Ups sorry.." Luna memegang bahunya.
"Are you okay? You already drunk!!" Pekik Mr. Ong.
"I'm okay.." Luna terkekeh menatap wajahnya sekarang. Jarak mereka hanya beberapa centi saja tanpa diduga Mr. Ong mengecup bibir Luna dan melum*tnya.
Tangannya memegang pipi Luna dan mengusapnya lembut. "I'm really tempted by you." Bisiknya lirih di hadapan Luna kembali mencium bibirnya dengan lembut namun menuntut.
Mr. Ong terus bermain didalamnya. Dia sangat ahli berbeda dengan kedua pria sebelumnya yang selalunya aku yang berinisiatif.
"Your lips so sweet honey..." Dia melepaskan tautannya.
Luna masih dalam mode Freeze, selain karena mulai mabuk, dia juga tidak menyangka bahwa salah satu vendornya melakukan aksi nekat seperti itu. Saat tubuh Mr. Ong kembali mendekati wajahnya Luna mendorongnya.
"I must go back.. Sandra waiting for me..." Luna benar-benar merasa dirinya murahan saat ini.
"I'm sorry Luna.."
"Thanks for your gift."
Luna tidak banyak berkata, dia jelas menyesalinya. Berlalu meninggalkan Mr. Ong yang maasih terpaku pada sosok dirinya. Dia telah keluar restaurant, namun tanpa sengaja dia melihat seseorang yang baru-baru ini dikenalnya.
"Mahessa..." Lirihnya.
"Kenapa woy?!" Sandra mengejutkan Luna.
"Ih... Kaget nyet!!" Rutuk Luna sarkas.
"Lu ngapain aja di dalem?" Sandra mulai kepo namun dia mengendus tubuh Luna.
"LU MABOK NYING!!" Sungut Sandra emosi.
"Lu ga di apa-apain kan sama lee min ho?" Tanya Sandra kini khawatir.
"Kagak... Gue cuma di kasih gelang abis itu nolak secara halus pernyataan cintanya."
"Gue kira dulu lu CUPU eh taunya SUHU!"
"Daebak anjaay!"
"Play girls sejati!!"
"Bang*sat!!" Luna memaki balik cacian temannya kemudian merangkul erat lengan Sandra kepalanya berasa berputar.
"Luna!"
Tiba-tiba terdengar suara seseorang dari arah belakang. Mereka berdua spontan menoleh kearah asal suara.
"Bener kan yang gue liat!" Batin Luna.
"Hem... Nambah lagi nih satu... Beban banget idup gue deket elu!!" Rutuk Sandra.
"Hai Mahessa..." Sapa Sandra.
"Hai San, gimana kabarnya?"
"Loh kamu kenapa Luna? Masih sakit?"
"Kenapa pada disini malem gini?!"
"Gue baek Mahessa. Bocah degil ini mabok entah dicekoki apa tadi!!" Jawab Sandra masih kesal.
Mahessa menatap Luna tajam "Hmmm... San, aku aja yang antar dia pulang."
"Ehmm ga perlu kami di jemput sama fasilitas kantor." Sandra menolak halus.
"San, gue ga kayak Adira."
"Aku pastikan dia baik-baik saja sampe rumahnya." Mahessa berkata serius yang membuat Sandra terkejut atas pernyataan Mahessa barusan.
"Gue bisa yakin lu ga apa-apain dia."
"Tapi bocah ini yang gue khawatirin bertingkah mesum!!"
Mahessa terbahak dengan kalimat Sandra, dan memang benar adanya.
Luna tidak banyak berkata, kepalanya di rasa berat. Sandra telah melambai ke arah Luna mereka kini berpisah di lobby depan Sea Resort. Mahessa memapah Luna menuju mobilnya. Saat mendudukan Luna, Luna yang sedikit kehilangan kesadarannya menarik dasi Mahessa dan mengecup bibirnya.
"DASAR RUBAH!!"
Mahessa memakaikan seat belt pada Luna dan beranjak menuju kemudinya.
Setelah berlalu ponsel Luna berdering, Luna menatap layar kemudian dia terbangun dengan serius.
"MAMPUS GUE!!"
"Minta hp mu dong buat nelpon!!" Todong Luna pada Mahessa.
Tanpa kata Mahessa menyodorkan ponselnya, Luna segera menghubungi nomor Sandra yang sudah dia hafal di luar kepala.
"Sis! Gue beliin lu eypun 4 pless asal bilang gue sekarang di rumah lu sama Adira!!"
"Berat banget dosa gue sekarang! Kesel aing..." Rutuk Sandra.
"Pliiiissss.... Besok kita ngopi, shopping terserah bodo amat elu mo meras gue kek apa gue ikhlas lillahitaala!!
"SETAN!!"
"Lu balik lah ke rumah bilang ga sengaja ke minum wine!"
"Elu keseringan mesum otak lu tumpul nyet!!"
Rentetan kata sarkas Sandra lontarkan tidak menggoyahkan Naluna.
"BACOT!!"
"Abis itu gue di gantung di pohon pisang!"
"Ogah gua..."
"Please atuh lah sekali ini lagi... Please..."
"eypun empat pless loh!!"
"Enak bener hidup lu nyari aman terus!!"
"IYA PUAS LO!!" Maki Sandra menyetujuinya.
"I LOVE YOU WITH ALL MY HEARTS!!" Puji Luna pada teman rasa saudara itu.
"NAJIS!!"
Tut!
Sedari awal Mahessa mendengar percakapan Luna dia sudah menahan tawanya. Baginya Luna adalah satu-satunya wanita yang berkata kasar tidak sealim wajahnya.
"Luna you're...."
"Aku ga punya kata-kata lagi untuk mengungkapkan betapa hebatnya dirimu!! HAHA.."
"Bacot!" Rutuk Luna merebahkan tubuhnya.
__ADS_1
"Kita kemana sekarang cutiepie?"
"Aku telah mengitari Harbour 2 kali."
Luna terdiam sejenak, dia tidak bisa berpikir jernih saat ini. Jika tidak pulang ke apartemen Adira emang dia bisa pulang kemana lagi. Tidak mungkin kembali ke kosannya.
"Ke PA aja deh.." Ujarnya lirih.
"Katanya takut di gantung di pohon pisang?!" Mahessa terbahak.
"Stop it!"
"Baiklah cutiepie..." Mahessa melajukan mobil Porsche merah menggodanya menuju keluar kawasan.
"Kamu mau kemana?" Luna menahan lengan Mahessa yang akan turun.
Dia memberhentikan mobilnya depan sebuah mini market. Mahessa tersenyum kemudian mendekat kearah Luna.
"Membuatmu tersadar dan kembali memiliki hutang budi denganku membebaskanmu dari jeratan gantungan pohon pisang." Mahessa kembali terbahak dan kaluar mobilnya. Luna menutup wajahnya malu.
Tidak berapa lama Mahessa kembali dengan bungkusan plastik berisi air mineral dan susu beruang. "Minumlah perlahan dan habiskan...." Titah Mahessa lembut.
Luna menurutinya terlihat dia tersenyum manis dan kembali melajukan mobilnya memasuki pelataran PA.
"What are you doing with Mr. Ong?" Tanyanya kemudian setelah memarkirkan mobilnya.
"You know?"
"Tidak sengaja melihatmu keluar bersamaan. Setelah itu kamu mabuk?!" Mahessa terlihat emosi.
"Haha kamu cemburu?" Luna senang menggoda Mahessa.
Mahessa mendekati wajah Luna, mengambil kesempatan mencium kembali bibir yang memiliki daya magnetis bagi Mahessa untuk selalu menyentuhnya.
"Apa yang kamu lakukan dengannya?" Tanyanya lagi penuh penekanan.
"You know him?" Tanya Luna dengan bermain kembali.
"Not really... Jauhi dia!" Ancamnya.
"Why?" Tanya Luna penasaran.
"Apa bersaing dengan hanya Adira saja belum cukup?!" Jelasnya polos.
"Hahahaha aku suka kamu Mahessa."
Jawaban spontan Luna membuat hati Mahessa kembali menghangat. Mereka kembali bertautan bahkan saat ini Mahessa sangat berani menyentuh bagian tubuh lain dari wanita yang sudah mencuri hatinya.
"Aarhh..."
Luna mendorong tubuh Mahessa mengakhiri permainan mereka yang jika di teruskan akan sangat berbahaya. Mahessa sendiri sudah sangat di ujung tanduk, adik juniornya telah muncul kepermukaan dan ingin juga di puaskan!
"Apa masih terasa sampanye di mulutku?" Tanya Luna kemudian.
"Tidak begitu.." Jawabnya menggenggam tangan Luna dan menciumnya.
"Kau sungguh berani Naluna..." Ujarnya seraya menyenderkan badannya di kursi dan menutup matanya.
"Berani apa? Mabok?" Tanya Luna bingung.
"Berani mencuri cinta dariku...." Lirihnya.
Deg!
"Kamu cowok gombal!" Luna mengedarkan pandangannya keluar.
"Aku baru bisa menggombal padamu saat ini."
Luna mengulumkan senyumnya, Mahessa menarik kembali tubuh Luna.
"Tinggalkan lah pacarmu, ijinkan aku yang akan menjagamu selanjutnya."
"Aku berjanji aku akan memperlakukanmu lebih baik darinya."
Sorot mata Mahessa mengisyaratkan ketulusan hatinya, Luna semakin tidak enak padanya.
"Aku tidak pantas Mahessa."
"Aku menerimamu apa adanya!" Mahessa mencengkram erat lengan Luna
"Kamu sudah di tiduri olehnya, sudah pernah hamil olehnya, sudah aborsi karenanya AKU TIDAK PEDULI!!"
"Aku mencintaimu seperti apa dirimu saat ini."
"Aku akan menerimamu dengan sepenuh hati."
Luna menitikan air matanya, "Tapi hatiku masih memilih dia..."
Luna menarik paksa lengannya dan membuka pintu berlari menjauh.
Bruk!
Mahessa membanting kemudinya, untuk pertama kalinya dia jatuh cinta dan patah hati di waktu bersamaan.
* * * * *
Luna sedang berdiri mematung di pintu apartemen Adira, dia tengah mengatur debar jantungnya. Dia tengah mengontrol semuanya. Dia menekan tombol bel, tak perlu menunggu lama Adira telah membukakannya untuk Luna.
"Akhirnya kamu tau jalan pulang!!" Rutuk Adira kesal.
Luna tertawa lirih segera menghambur memeluk kekasihnya. Ingin rasanya dia menangis saat ini. Adira memeluk erat wanitanya mengecup keningnya. Namun dia seperti menghirup bau lain di tubuh Luna.
"Sejak kapan Luna mengganti parfume nya?"
"Ayo masuk..."
Adira menepis kecurigaannya, dia menarik wanitanya dan menggendongnya. Luna sungguh terharu, dia kini menangis.
"Lah... Kok kamu malah nangis?"
Dia menangis dan tertawa bersamaan "Aku tidak tahu mas bisa semanis ini menyambutku."
Adira terkekeh dengan jawaban Luna, dia kembali memeluk kekasihnya.
"Mandi gih..."
"Kamu belum pulih betul..."
"Cepat istirahat."
"KELAYAPAN AJA KERJANYA!!"
Adira mencubit pipi Luna lembut, Luna tersentuh.
Luna membenamkan diri di dalam bak mandi sebelumnya dia membawa iPodnya menyalakan musik player.
If you're not the one then why does my soul feel glad today?
If you're not the one then why does my hand fit yours this way?
If you are not mine then why does your heart return my call?
If you are not mine would I have the strength to stand at all?
I'll never know what the future brings
But I know you're here with me now
We'll make it through
And I hope you are the one I share my life with
I don't want to run away but I can't take it, I don't understand
If I'm not made for you then why does my heart tell me that I am?
Is there any way that I can stay in your arms?
__ADS_1
* * * * * * * * * *