
Terlihat Mahessa tengah menunggu di ruang tengah. Menyadari derap langkah dari lantai atas dia berbalik badan dan sejurus kemudian terpaku dengan penampilan Luna. Kedua netranya bahkan berusaha untuk tidak berkedip.
"Dia adalah nyonya Mahessa yang selama ini aku dambakan. Sangat sempurna!" Gumamnya
Seperti bukan yang pertama kali bagi Luna berpenampilan dan bersikap elegan seperti saat ini. Dia akhirnya mengingat kembali, saat bersama mantannya dan diperkenalkan dengan keluarga besar dia sudah melalui proses seperti ini.
Dengan anggun dia berjalan melewati anak tangga disusul Sandra dan Farell dibelakangnya. Mahessa mendekatinya perlahan menyambutnya dengan mengulurkan tangan. Luna terkejut dengan penampilan menawan Mahessa yang mengenakan Tuxedo rapi berwarna senada dengan gaun yang tengah dipakainya. Tak menampik apa yang tengah dia lihat. Luna tersipu malu. Semua mata tertuju pada pasangan palsu tersebut. Bisikan samar terdengar oleh Luna.
"Ini kali pertama tuan membawa wanita."
"Kudengar nona Luna adalah wanita tuan muda."
"Kasian nona Alena."
"Tapi dibanding nona Alena nona Luna jauh diatasnya."
"Bener sekali melihat tuan Mahessa sampai dibuat kagum seperti itu ini kali pertama terjadi..."
"Bener banget!! dia tersenyum lagi..."
"Dari awal aku berada disini tidak pernah sekalipun melihat tuan tersenyum yang ada istana ini seperti kuburan."
"Jika kalian masih ingin bekerja disini pelankan suara kalian dan bersikap yang sopan." Titah Farell.
"M-ma-maaf tuan saya tidak berani..."
"Maafkan kelancangan kami..."
Kedua pelayan tersebut menunduk malu dan takut atas ancaman tangan kanan tuan muda. Luna hanya tersenyum datar mendengarnya, Luna menyambut uluran tangan Mahessa dia menampilkan senyum menawannya. Hati Mahessa semakin tertawan oleh sikap Luna.
"Kamu sangat cantik cutie..."
"Tidak ada yang setara dengan kecantikanmu."
"Pikiran kotorku saat ini bahkan ingin mencumbumu saat ini juga."
Mahessa berbisik perlahan di telinga Luna, wangi menggoda Luna sungguh membuat Mahessa ingin mengungkung wanitanya sepanjang waktu bersama dengannya. Luna yang mendengarnya seperti menerima sengatan arus pendek listrik yang mengejutkan dan membuat tubuhnya meremang.
"Aku di bayar mahal untuk ini."
"Aku tidak ingin berhutang apapun lagi."
"Kelak aku berharap kita tidak pernah memiliki hubungan lagi."
Kata pedas Luna terontar begitu lirih di depan wajah Mahessa, membuat pria itu sedikit kecawa bahkan menyulutkan amarahnya. Luna menyeringai dia kembali melakukan hal mencolok lainnya dengan membelai pipi pria tampan di hadapannya.
"Terima kasih sayang..."
Mahessa menarik tubuh Luna dalam dekapannya, antara emosi dan berhasrat semua melebur dalam benak Mahessa atas perkataan Luna sebelumnya. Melihat situasi ini Farell segera mengingatkan tuannya agar tidak terlambat.
"Maaf tuan mobil sudah siap." Potong Farell.
Sandra melihat pemandangan ini sedikit kurang nyaman. Entah mengapa Sandra lebih mendukung Luna bersama Adira. Walau gaya pacaran mereka sudah melewati batas. Namun dengan Mahessa dia tidak tenang sepertinya akan hidup seperti dalam sangkar. Mereka menuju lobby rumahnya yang sudah seperti hotel.
"Luna, Sandra akan satu mobil dengan Farell dengan sekertarisku juga." Ujar Mahessa dingin.
"Selamat malam tuan dan nyonya." Sapa Angela.
"Selamat malam..." Jawab Sandra dan Luna serempak.
"Perkenalkan saya Angela sekertaris tuan Mahessa." Angela menjulurkan tangannya.
"Luna..." Menjabat tangannya seraya tersenyum.
"Sandra... Teman Luna..."
"Silahkan nona..." Farell membukakan limousin khusus untuk acara ini.
"Terima kasih..." Luna menghampiri dan memasuki mobil di susul Mahessa kemudian Farell menutupnya. Kini Farell dan lainnya menuju mobil dibelakangnya.
Setelah pintu di tutup Mahessa segera menarik tubuh Luna dalam dekapannya dan menyesap bibir Luna lembut. Luna mendorongnya perlahan.
"Kamu sungguh menggoda cutie... Aku tidak tahan!" Ujar lelaki tampan itu lirih.
"Kendalikan dirimu Mahessa."
"Ingat ini hanya pura-pura!"
Mahessa kembali merasa tersulut emosi oleh sikap Luna yang lain di belakang lain juga di depan.
"Kamu harus menjaga sikapmu disana sayaang." Mahessa membelai lembut pipi Luna membuat wanita itu menelan salivanya.
"Acara apa nanti yang akan kita datangi?" Tanya Luna mengalihkan pembicaraan.
"Apakah aku harus melakukan tindakan khusus?" Luna kembali memastikan.
"Tidak perlu."
"Kamu hanya perlu menjadi seorang Naluna."
"Nanti disana akan ada pengamanan ketat khusus mengawal kamu saat aku persentasi."
"Menjadi kekasihku tentu akan menarik banyak perhatian."
"Aku ingin memberi keamanan untukmu."
Mahessa menjelaskan dengan sangat dekat, Luna menatapnya sekilas kemudian memalingkan wajah keluar.
"Apa lokasinya jauh?" Tanya Luna lagi.
"Tidak begitu."
"Lokasinya di Resort Pulau N."
"Apa kita menyebrang?"
"Tidak.. Ada jembatan penghubung menuju kesana."
"Aku tidak pernah mendengar di Negara S ada pulau tersendiri." Selidik Luna.
"Tentu saja."
"Itu pulau buatan yang aku kembangkan.'
"Hanya orang tertentu yang bisa masuk."
"Owh..."
"Kamu ternyata sungguh kaya..."
Mahessa terkekeh. "Apa kamu tidak menyukai pria kaya?"
Luna terdiam, mungkin pertanyaannya menjebak.
"Aku sudah punya calon suami, aku tidak membutuhkan yang lainnya lagi." Jawab Luna tegas.
Sejurus kemudian hati Mahessa terasa panas. Dia mengepal tangannya kuat tidak ingin meneruskan percakapannya yang akan merusak mood dan hari baiknya ini.
"Kamu salah Luna beberapa jam lagi kamu resmi menjadi istriku..."
__ADS_1
"Mau atau tidak."
"Suka atau tidak."
"Pada akhirnya kamu tidak bisa memilih."
Mahessa menaikan sudut bibirnya masih menatap kecantikan kekasihnya dengan terus bermonolog dalam pikirannya.
* * * * *
Dua puluh menit terlewati kini mereka tengah berada di tempat yang telah ditentukan. Sebuah pulau dengan berbagai macam gedung mengitarinya. Mereka kini tengah berada disalah satu tempat itu. Bangunan ini seperti Convention Hall. Luna turun disambut uluran tangan Mahessa. Luna terkejut karena ternyata ada beberapa wartawan atau pers yang tengah memotret kedatangan mereka. Mereka disambut oleh beberapa pelayan dan bodyguard yang menunjukan jalan kedalam gedung. Di ikuti rombongan Farell dibelakang Luna mendekap erat di lengan Mahessa seraya menunduk. Berharap wajahnya tidak terekspose.
"Aku sudah bilang!"
"Aku tidak ingin terekspos!!"
"Kenapa kamu ingkar?"
Luna berbisik pada Mahessa.
"Berita ini tidak akan keluar."
"Selama aku tidak mengijinkannya maka untuk membungkam mereka itu tidak sulit."
Perkataan Mahessa membuat hati Luna semakin tertekan, "Orang seperti apa Mahessa ini?"
Mereka telah melewati kerumunan pers dan memasuki lobby gedung dengan beralaskan red carpet. Dia seperti artis hollywood yang tengah menghadiri Gala Premiere. Mahessa berhenti sejanak dan menyuruh Farell mendekat dan membisikan sesuatu.
"Lakukan apa yang harus kamu lakukan."
"Aku tidak ingin ada kesalahan sekecil debu sekalipun!!"
"Baik Tuan."
"Satu lagi..."
"Luna tidak ingin terekspose pastikan wajahnya tidak tersorot oleh kamera pers."
"Bagi yang menyebarkan identitas Luna maka dia berhadapan dengan kematian."
Farell terpaku sejenak, hanya karena Luna tuannya sungguh berubah 180 derajat. Jika dulu hanya bermain dengan gertakan maka saat ini tuannya tidak main-main. Hanya karena seorang wanita, bahkan tuannya sudah menghabiskan puluhan Milyar demi menggucang RG agar tidak memperhatikan keberadaan Luna tiga hari kedepan. Setelah diketahui CEO RG telah berpindah di tangan Adira yaitu kekasih Luna. Bahkan sekarang harus berurusan dengan menghabisi nyawa seseorang. Luna bisa dikatakan pengaruh yang sangat besar bagi Mahessa.
"Jika tuan terus seperti ini maka cepat atau lambat semua rivalnya mengetahui titik kelemahannya dengan sangat jelas." Batin Farell dan segera melaksanakan tugas pentingnya.
Semua mata tertuju pada Luna dan Mahessa, banyaknya bisikan yang terdengar dari samar hingga jelas terdengar di telinga Luna.
"Siapa itu yang disamping Tuan Mahessa?"
"Bukankah tunangannya bermarga Alister ya?"
"Alena Alister...'
"Tapi sepertinya bukan dia!"
"Benar!"
"Alena selalunya terlihat mencolok dan glamor."
"Wanita ini lebih lembut darinya."
Disisi lain Alena telah hadir bersama keluarganya dan memperhatikan kedatangan mereka. Dia sangat kecewa bahkan saking marahnya dia menggenggam erat gaun yang tengah dia pakai.
"Siapa gadis itu?" Batin Alena.
"Apakah dia wanita yang Mahessa maksud tempo hari?"
Disisi lainnya, tentu saja kedua orang tua Mahessa yang terkejut dengan kedatangan Mahessa dengan wanita lain yang bukan tunangannya.
"Siapa gadis itu?"
"Bukankah seharusnya dia datang dengan Alena?"
"Aku lihat Alena datang sendiri." Tanya Adyatama kepada istrinya.
"Aku tidak tahu..."
"Bocah ini ternyata menyimpan rahasia selama ini!!"
"Tapi di banding Alena aku lebih menyukai gadis ini tidak tahu mengapa?"
"Dia sangat serasi dengan Mahessa."
"Bahkan terlihat mencintainya..."
Sesillia mengulumkan senyumnya, melihat perubahan raut wajah putranya yang begitu lembut menatap wanita pasangannya saat ini.
"Apa kamu tidak melihat?"
"Wajah Mahessa terpancar kebahagiaan?"
"Sudah sangat lama aku tidak melihat ekspresinya seperti ini."
"Benar!"
"Apakah ini yang dia bilang akan mencari pasangannya sendiri yang dia cintai?"
"Lalu bagaimana dengan Alena?"
Keduanya masih terlibat perbincangan serius mengenai putra mereka satu-satunya pewaris Adyatama. Nyonya Sesillia mengangkat kedua bahunya.
"Aku pikir bocah ini sudah tau solusinya." Jawabnya kemudian.
Mahessa memegang tangan Luna yang tengah merangkul lengannya kemudian tersenyum. Luna membalas senyumannya mereka saling bertatapan. Terlihat pemandangan kedua pasangan yang seperti tengah berbahagia. Semua mata yang melihat terkejut. Pasalnya Mahessa yang terkenal dingin kepada wanita kini tengah bermesraan dengan wanita yang tidak tahu berasal dari mana dan statusnya apa. Mahessa menuju meja VVIP terdepan. Dia melewati keberadaan keluarga Alister dan keluarganya tanpa sepatah kata.
"Aku sungguh tertekan."
"Aku pikir hanya acara penjamuan biasa nyatanya..."
"Aku tertipu.."
"Kamu sungguh polos Naluna yang bodoh!!"
Luna merutuki dirinya sendiri dalam hatinya, berharap tidak ada rencana jahat Mahessa setelah ini. Mahessa mempersilahkan Luna dengan menarik kursi untuknya.
"Ya tuhan!"
"Kau lihat itu pah?"
"Anak kita bisa juga bertingkah manis seperti itu..."
"Sepertinya aku otw jadi ommaaaa..."
Sesillia terlalu bersemangat memperlihatkan tingkah putranya, dia mengguncang tubuh suaminya. Tuan Adyatama hanya menatap biasa. Banyak hal yang dia tarik kesimpulan di kepalanya.
"Terima kasih..." Lirih Luna.
Luna duduk dengan anggun, kemudian berbisik pada Mahessa untuk mengijinkan sahabatnya menemaninya. Akhirnya satu meja VVIP mereka berisi tiga orang wanita.
"Mari kita sambut yang terhormat Mr. Mahessa Adyatama selaku CEO Eternal Trade!"
__ADS_1
"Tempat dan waktu kami persilahkan."
Sang pembawa acara tengah mempersilahkan Mahessa sebagai presidir untuk memberikan kata sambutan dalam acara tahunan perusahaannya. Luna baru menyadari bahwa dia tengah menghadiri Gala Dinner perusahaan milik Mahessa.
"Aku pergi sebentar ya..." Pamit Mahessa berbisik di telinga Luna dengan tatapan kelembutan.
Riuh satu ruang aula karena tindakan Mahessa yang tidak pernah dia tunjukan sebelumnya.
"Aaaaa..."
"Kamu liat bocah sialan itu sedari tadi menunjukan tingkah mesranya!!"
"Aku sudah tidak sabar!"
"Aku sangat lega aku pikir anak kita mengalami gangguan seksual!"
"Aku pikir dia homo huhuhu..."
Tuan Adyatama terus menghembuskan nafas kasar dengan tingkah antusias istrinya.Adyatama kembali berpikir pasalnya sebelumnya dia telah mengancam Mahessa. Mengenai saham kepemilikan E.T Mahessa hanya mengantongi 30% saja sedangkan 40% masih dimiliki oleh Adyatama. Agar rencana pernikahan berjalan cepat dia menawarkan menukar seluruh sahamnya dengan syarat dia harus sudah menikah secara resmi.
"Seharusnya saat itu penekanan pernikahan adalah dengan nona Alister."
"Mengingat aku mendesaknya karena desakan Alister juga."
"Siapa sangka dia malah membawa wanita lain."
Tuan Adyatama sedikit tidak nyaman dengan kondisi mereka saat ini.
Mahessa beranjak dari tempat duduknya menuju panggung. Dengan gagah dan berwibawa setiap langkahnya membuat Luna terpukau.
"Ssst..." Bisik Sandra membuyarkan fantasi Luna.
"Apa?" Jawab Luna lirih.
"Perasaan ga asing kan perusahaan dia?" Tanya Sandra.
"Eh iya ya..."
"E.T. Pernah dengar dimana ya?" Selidik Luna.
Kemudian mereka menyadarinya, keduanya terbelalak saling tatap.
"Mr. Ong!" Seru mereka serentak.
"Aku semakin tidak enak perasaan..." Lirih Luna menggenggam erat gaunnya.
"Selamat malam semuanya."
"Terima kasih telah bersedia hadir dalam acara tahunan E.T."
"Perusahaan kebanggaan kita semua."
"Saya berterima kasih karena kinerja kalianlah E.T bisa berkembang dan maju hingga saat ini."
"Kita bahkan telah berada di posisi kedua teratas setelah sebelumnya hanya bertahan di peringkat ketiga."
"Saya ucapkan selamat datang kepada Seacorp dan Hitech yang mulai saat ini menjadi bagian dari keluarga E.T."
"Saya pastikan semua merger ini tidak akan pernah mengecewakan kalian."
"Hari ini nikmatilah semua kerja keras kalian."
"Dengan ini saya akan membagikan kalian semua bonus dalam hitungan 5 detik dari sekarang."
"WOW!"
"Mari kita hitung sama-sama...."
Pembawa acara kembali mengambil alih dan membuat semua orang yang berada di aula menghitung mundur.
"SATU..."
"DUA..."
"TIGA..."
"EMPAT..."
"LIMA!"
Tring... Tring... Tring... Tring... Tring...
Semua ponsel berdering menampilkan notifikasi dengan masuknya sejumlah uang yang dijanjikan Mahessa sebagai bonus kinerja tahunan. Seketika ruang menjadi sangat riuh. Mereka bersorak bahagia Mahessa tersenyum puas. Hanya Luna dan Sandra yang terkejut dengan kinerja perusahaan ini.
"Seandainya kita.... Huhuhu" Bisik Sandra.
Luna hanya mengulum senyuman hatinya masih berdebar untuk alasan apa dia tidak tau. Sepertinya gejala kecemasan berlebihannya mulai menampakan diri dia sungguh sangat gelisah kali ini.
"Attention please...." Mahessa kembali dengan orasinya.
"Tidak hanya itu, saya pribadi memiliki kabar lainnya, tapi sebelumnya saya meminta maaf jika kabar ini akan mengejutkan kalian semua."
"Langsung saja!"
"Mulai saat ini Alena Alister bukan lagi tunangan saya."
"Sudah sebulan yang lalu kami berpisah."
"Alasannya apa saya rasa Alena jauh lebih tahu pasti."
"Apa perlu saya yang tunjukan atau tidak tentu saya menunggu konfirmasinya."
"Ini semua untuk menghargainya sebagai wanita."
Mahessa menatap Alena yang sekarang sudah terpaku tak bisa berkata-kata. Riuh kembali memecahkan keheningan ruangan. Banyak yang berbisik tentang penyataan Mahessa ini. Tetua Alister berdiri dan akan menghampiri Mahessa namun tertahan oleh beberapa bodyguard yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
"Papaaaaa..." pekik Alena.
"Mahessa kenapa bisa begini!"
"Seharusnya kamu tidak bisa memutuskan sepihak dengan seenaknya!"
Tetua Alister yang tak lain ayah dari Alena merasa terhina dengan keputusan sepihak Mahessa.
"Mahessa!"
"Semua itu kesalahpahaman kita belum membicarakan lebih lanjut tentang kebenaran rumor yang mungkin dibuat untuk menjatuhkanku!!"
:Aku dijebak!!!" Pekik Alena membela diri.
"Demi menjaga air muka keluarga besar kita."
Bukankah lebih baik kita bahas nanti."
Mahessa menjentikan tangannya, dan Farell mengerti.
"Selanjutnya..."
* * * * * * * * * *
__ADS_1