Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 74 : Keputusan Akhir


__ADS_3

Setelah kepergian Bagas, Adira kembali menghubungi Luna berharap kekasih hatinya bisa menjawab panggilannya walau sudah hampir tengah malam.


"Akhirnya Luna menjawab panggilanku..."


"Tapi mengapa suaranya terdengar seperti tengah menagis pilu!"


Adira semakin mengkhawatirkan wanitanya. Dia gelisah beranjak dan mencoba berpikir apa yang harus dia lakukan saat ini!


"Shiiiiit!!"


"Kenapa tiba-tiba terputus?!"


"Terakhir aku mendengar Luna menjerit!!"


Adira menjambak rambutnya putus asa. Bagas menghampirinya dengan pesanan makan malam Adira yang sudah sangat larut malam.


"Bagas!"


"Cek keberadaan Luna..."


"SEKARANG!!"


Bagas sontak terkejut dengan kekhawatiran tuannya yang begitu besar.


"Baik tuan..."


"Ini makan malam anda..."


Adira mengacuhkannya dia bergegas mengaktifkan laptopnya. Mengaktifkan satelit dan melacak keberadaan Luna lewat ponselnya. Tidak butuh waktu lama mereka mendapatkan lokasi Luna yang telah disabotase seseorang.


"Ritz Carlton?" Gumam Adira.


"Kenapa dia memilih di area yang jauh dari pusat perbelanjaan?!"


"Mungkin nona sedang melakukan traveling tuan."


"Tuan tidak perlu begitu mengkhawatirkannya."


"Lagi pula nona pergi bersama temannya bukan?"


Bagas menyela bermaksud menenangkan tuan mudanya. Tapi bagi Adira perasaannya lain, rasa sesak sakit sama saat pertama kali Luna mengatakan putus hubungan dengannya.


"Mungkin ponsel nona kehabisan daya tuan."


"Menurut pengalaman lebih baik kita berpikir positif agar hal positiflah yang akan terjadi." Saran Bagas kemudian.


"Terima kasih!"


"Aku akan menghubunginya lagi esok."


Adira merasakan tubuhnya kembali drop, dia merebahkan dirinya di sofa.


"Tuan makan malamnya..."


"Anda belum ada makan seharian ini."


Bagas masih terus membujuk tuannya agar bisa menjaga kesehatannya. Pasalnya Adira baru saja melalui penyembuhan setelah dua hari kemarin dia drop.


Mata Adira terpejam dan meracau lirih "Lunaaaa...."


"Kasihan sekali tuan muda."


"Pasti sangat berat..."


"Dia begitu mencintai nona Luna."


"Namun sejauh ini keluarga besar selalu menentangnya."


"Jika keluarga besar tahu mereka sudah serumah akankan dipermudah atau justru mempersulit?" Gumam Bagas.


"Aiih siapalah aku mengurusi percintaan bos sendiri." Ujar Bagas kemudian berlalu meninggalkan tuannya.


* * * * *


"Oh..."


"Kepalaku sangat pusing...."


"Dimana aku?"


Luna memegang kepalanya dia berusaha bangkit, dia melihat dirinya telah berganti pakaian. Matanya melotot kemudian menjerit dengan sangat keras.


"Lunaaaa..." Pekik Sandra.


Luna terdiam dia menoleh. "SANDRAAAA....HUHUHU"


Luna menangis dalam dekapan Sandra.


"Sabar sayang..."


"Apa yang telah terjadi?"


"Aku diberitahu Farell kamu pingsan."


"Aku disuruh menemanimu disini..."


Sandra mengusap punggung Luna yang menangis pilu.


"Mahessa membohongiku...Dia Bajingan... Brengsek!"


"Dia memanipulasi semuanya."


"Dia mendaftarkan pernikahan di catatan sipil disini."


"Aku telah menjadi istrinya San!!"


"Aku menyesal!"


Luna kembali menangis pilu, Sandra menutup mulutnya dan ikut menangis memeluk sahabat tercintanya. Sudah sekitar 10 menit mereka menangis namun dibuyarkan oleh suara ketukan pintu.


"Selamat pagi nona... Saya pelayan mengantarkan sarapan anda." Ujar seseorang dibalik pintu.


"Aku ambil kedepan dulu ya say.." Ujar Sandra melonggarkan pelukan dan bergegas membuka pintu kamar.


"Silahkan...." Ujar Sandra.


Pelayan wanita itu masuk membawa dua trolly berisi sarapan dan makanan penutup serta buah-buahan dan minuman beraneka ragam membuat Sandra terkejut melihatnya.


"Jauh lebih mewah dari service hotel berbintang..." Gumam Sandra.

__ADS_1


Kemudian pelayan pamit undur diri setelah selesai mengantarkan hidangannya.


"Kamu mau sarapan apa aku ambilkan?" Tanya Sandra pada Luna.


Dia menggeleng tanpa sepatah kata.


"San, ponselku mana?"


"Oh iya tas kecilku mana?"


"Oh itu sepertinya disebelah tempat tidurmu..."


Luna melirik kesebelah dan benar saja. Dia mengambil benda pipih itu kemudian mengecek ponselnya. Puluhan panggilan tak terjawab dari Adira dan bahkan ada nama mamanya juga tertera disitu. Mereka pasti menerima sinyal kurang baik dari keadaan Luna saat ini.


"Mas..." Kemudian air matanya mengalir kembali.


"A-aku harus bagaimana Sandra..." Lirihnya masih dengan isakan.


Sandra menghampirinya dengan membawa cheese cake kesukaan Luna dan hot lemon tea.


"Aku suapin?" Tanya Sandra.


Luna menggeleng menolak.


"Kamu harus punya tenaga agar bisa berpikiran jernih dan memutuskan segalanya. Jika kamu seperti ini juga tidak akan menyelesaikan masalah." Ketus Sandra.


Luna terdiam. "Sandra benar. Aku harus pikirkan jalan keluar terbaik."


"Aku harus melawannya... Satu-satunya cara adalah dengan mengikuti kemauannya agar mas Dira dan keluarganya selamat..." Batin Luna.


Luna bangkit dari tempat tidurnya mengisi daya ponselnya dan berlalu menuju kamar mandi.


"Kasihan sekali Luna..."


"Aku sudah mencoba memperingatinya tapi semua sudah terlambat."


"Berharap dia tidak semakin bodoh mengambil keputusan." Gumam Sandra dengan menyuap beberapa sarapan pagi.


Luna tengah berendam menjernihkan pikirannya, masih terngiang perkataan kasar dan ancaman Mahessa dipikirannya.


"Aku tidak menyangka..."


"Kau sekejam ini Mahessa."


"Aku menyesal mempercayaimu..."


"Tunggu... Dia bilang ini hanya pernikahan kontrak?"


Luna berpikir tidak ada salahnya selama bukan pernikahan betulan dia akan mengajukan beberapa persyaratan dalam perjanjian pra pernikahan.


"Aku sudah tidak ada jalan keluar selain mengikuti keinginannya. Dia juga bilang aku akan mendapatkan keuntungan dan mencapai segala mimpiku akan kesuksesan..."


"T-tidaaak... Apa aku akan berani mengkhianati mas Dira?"


Entah mengapa perasaannya seperti biasa saat dia kembali di hidupkan saat itu. "Aku meminta di hidupkan untuk memilih kembali kehidupan pernikahanku bukan dengan Adira. Apa ini jawaban doaku?"


"Ya tuhan... Aku tidak ingin menikah!"


"Kenapa masih juga terjebak dengan pernikahan yang tidak aku inginkan!!" Luna kembali menangisi kebodohannya.


"Aku harus bertemu Mahessa!"


"Aku tidak boleh melibatkan Sandra saat ini terlalu bahaya...."


"Aku harus lakukan sesuatu sebelum Mahessa menyakiti Mas Dira dan keluarganya lagi.."


Luna segera mengakhiri sesi berendamnya kemudian bergegas menghampiri Sandra.


"San..."


Luna menghampiri Sandra dan menggenggam erat tangannya. Sandra mulai merasakan firasat buruk.


"Iya..."


"Lu ga akan ngomong yang enggak-enggak kan?"


"Gue mau selesein masalah pribadi gue ini."


"Gue mau minta tolong. Boleh?"


"Gue bisa bantu apa?"


"Ini kunci apartemen gue."


"Gue minta tolong urusi olshop gue."


"Ini atm aku kasih ke kamu."


"Pake uangnya buat urusan dengan ekspedisi dan yang dibutuhin lainnya."


"Pinnya tanggal lahir gue."


"Terus lo ambil berapapun yang lo mau selama masih ada kalo kurang gue nanti transfer sisanya..."


"Atm siapa ini?" Sandra mendelik dia tahu dengan jelas bank apa saja yang Luna pakai.


"Ini ATM yang diberikan mas Dira untuk aku."


"Saldonya ada sekitar 190 jutaan."


"Kamu bisa pake buat segala urusan olshop gue."


"Kalau perlu suruh orang bantu dan membayar mereka biar bisa kirim ke ekspedisi tanpa membebani lu!"


"Please bantuin gue..."


Luna menatap Sandra memohon, sedangkan Sandra terkejut seraya membuka mulutnya lebar dengan penuturan Luna pasal saldo di ATM yang dia berikan.


"Kenapa lu?" Luna terkekeh.


"Sejujurnya aku udah tahu pasal status mas Dira."


"Aku hanya sedang menunggu dia mengkonfirmasinya sendiri."


"Tapi dia selalu saja menutupinya..."


"Dia adalah CEO Renald Group."


"Perusahaan sawit terbesar di kota K!"

__ADS_1


Sandra makin membuka mulutnya lebar dengan pengakuan sahabatnya. Dalam pikiran Sandra kedua pria Luna memang bukan kaleng-kaleng.


"Please bantuin gue yaaa..."


"Lu pake duid ini sepuasnya gue ikhlas!!!"


"Lu ga usah perhitungan sama gue."


"Gue ikhlas Luna."


"Paling ya buat ngopi aja bareng lu ama Sari!!"


Luna terharu, dia sungguh beruntung memiliki sahabat benar-benar sahabat. Selalu ada di kala suka dan duka hidupnya.


"Apa yang akan kamu lakukan pada Mahessa?"


"Lalu dengan Adira?"


Luna terdiam, dia berpikir keras.


"Aku tidak punya pilihan, aku akan memanfaatkan Mahessa untuk kepentinganku."


"Selama dia tidak menyentuh Adira dan keluarganya aku akan ikut dalam permainannya."


"Sedangkan Adira, aku hanya tidak bisa menikah dengannya saat ini tentu saja."


"Aku dan Mahessa hanya melakukan pernikahan kontrak."


"Tentu saja ada batas waktu!"


"Begitu kerasnya kehidupanmu..."


"Sabar ya sayaaaang."


Luna mengangguk lemah "Nanti aku akan menyuruh Mahessa memberikan orangnya mengantarmu ke Bay Front.. Tolong mintakan aku cuti seminggu ya."


"Hah?"


"Seminggu?"


"Kenapa lama sekali? Apa Adira tidak curiga..."


"Dia sedang di kota K!"


"Ayahnya masuk ICU gara-gara aku..."


"APA?" Sandra terkejut kembali.


"Sungguh mengerikan percintaan kalangan papan atas ini." Gumamnya.


"Tapi kamu hebat ya Luna."


"Kamu berada di lingkaran para cowok kelas atas..."


"Rasanya seperti drama korea seorang CEO ketemu cewek biasa dan jatuh cinta." Sandra mencoba menghibur Luna.


"Tapi... Aku justru curiga dengan statusmu juga babe!" Selidik Sandra.


"Haha, aku cewek bego biasa ini apa yang harus dicurigai?" Luna mengalihkan rasa sesaknya.


"Tidak."


"Jika benar dia cewek biasa saja aku mungkin tidak akan di peringatkan oleh mamanya bulan kemarin saat dia kemari. Memohon menjaga Luna anak kesayangan mereka." Batin Sandra.


"Lagian orang biasa mana yang gaya hidupnya seurakan Luna!"


"Merk baju, sepatu dan tasnya bukan kaleng-kaleng!!"


"Aku justru inginnya mas Dira hanya orang biasa saja."


"Aku ingin hidupku normal..." Perkataan Luna membuyarkan pikiran Sandra tentangnya.


"Bacot lu!"


"Kemaren lu terima penawaran Mahessa karena cowokmu biasa saja."


"Atau memang kamu senang menjadi serakah!" Sungut Sandra.


Luna terdiam dengan penuturan sahabatnya, dia merasa tersindir. Jika dipikirkan kembali Luna dan Mahessa memang seperti tengah menjalani hubungan gelap sedari awal. Ini murni kebodohannya membiarkan Mahessa masuk dalam garis takdirnya!


"Ups... Duh mulut gue kadang ga kontrol banget!!" Sandra menutup mulutnya merasa bersalah atas sikap ceplas ceplosnya.


"Kamu memang benar."


"Gue emang ga tau diri!!!" Ejek Luna membenarkan.


"Lunaaaa.... Bukan gitu maksud gue.."


"It's Okay... I know you..." Luna tersenyum kearah Sandra.


Kini mereka berpelukan sebelum akhirnya saling melepaskan.


"Alasan apa aku cuti atau apapun aku minta tolong kamu ya San."


"Jangan terlalu sungkan dengan uang itu."


"Aku sungguh sangat merepotkanmu"


"Terlebih aku memang belum menggunakan uang Adira sepersen pun, dia akan curiga dengan semuanya."


"Apa kamu akan baik-baik saja?"


Tanya Sandra memastikan dia masih khawatir apa yang akan dia katakan pada mama Luna setelah ini?


Luna mengangguk tersenyum yang dipaksakan "Terima kasih Sandra... Aku tanpa dirimu bagaikan butiran serbuk rinso sekali kucek!"


"BASI NYET!"


"Ga ada perumpamaan lain apa!!" Gerutu Sandra.


"Lu udah gue anggap sodara Lun." Sandra kembali merangkul sahabatnya sendu.


"Terima kasih, semoga tuhan membalas semua kebaikanmu San..." Lirih Luna tulus.


"Aku bersiap sebentar."


"Aku harus menghadapi semua kenyataan ini dengan cantik..." Ujar Luna bersiap merias diri.


Sandra yang mendengarnya terpaku tidak percaya.

__ADS_1


* * * * * * * * * *


__ADS_2