
"Luna.... Papa tidak bersamanya... Papa dijebak..." Perkataan Wira membuat Luna membulatkan matanya.
Hati Wira menjerit jika harus kembali mengulang pernyataan ini. Semua kebohongan yang dia gunakan untuk mencuci otak Luna 15 tahun yang lalu. Namun Wira adalah seorang aktor profesional dia mengucapkan kalimat tanpa cela.
"Untuk apa dia menjebak papa?" Tanya Luna dingin.
"Papa juga kurang tau pasti. Hanya saja siapa sih yang tidak iri dengan kehidupan keluarga kita?" Wira menyombongkan diri.
"Ha.. ha.. ha..." Luna tertawa yang dipaksakan.
"Hmm... Seandainya papa tidak mendengar pamanmu mungkin saat ini kita masih menjadi keluarga yang harmonis. Kamu tidak perlu sejauh ini dengan kami. Papa ga pernah setuju kamu pergi ke kota B saat mamamu bilang pada papa." Lirih Wira.
"Apa hubungannya paman dengan papa..." Luna mulai tertarik dengan apa yang akan dibahas oleh papanya semacam perasaan dejavu.
"Kamu kan tahu papa itu bekerja sebagai montir di bengkel. Suatu hari pamanmu datang dia menyanjung cara kerja papa... Dan memprovokasi untuk memiliki bengkel sendiri."
"................" Luna mencoba mengingat seluruh keluarga besar dari pihak papanya dan mamanya. Namun nihil!
"Awalnya papa tidak menggubrisnya... Namun perkataannya yang mengatakan bahwa pasti keluarga papa akan bangga jika ayahnya memiliki bengkel sendiri memiliki usaha sendiri tanpa perlu dibawah naungan usaha orang lain. Mungkin saja penghasilan papa akan lebih di atas mama..."
"Naasnya papa percaya semua itu... Memang hari apes itu tidak pernah diperlihatkan dikalender. Papa menyetujui usul pamanmu dengan membeli salah satu bengkel di ujung distrik S. Menurutnya prospek wilayah itu kedepan akan ramai pengunjung."
"Tentu saja dengan keuangan papa saat itu tidak mungkin bisa membelinya. Akhirnya papa meminta ijin mama agar sertifikat rumah dan tanah papa agunkan di bank untuk membeli bengkel itu."
"Mamamu tidak setuju dia tidak pernah setuju papa berkembang! Dia seolah merendahkan kemampuan papa. Padahal papa sedang mengusahakan yang terbaik untuk keluarga kita."
"Itulah awal perang dunia ketiga keluarga kita..."
Wira tertunduk, dia mengusap sudut matanya yang berembun. Dia masih merasa bersalah dengan kejadian itu. Kejadian ini yang dibuat-buat olehnya. Kejadian aslinya adalah yang mengubah hidup Luna.
"Iya papa bodoh..." Ujar Luna memprovokasi.
"Haha.. Ayo lah Luna! Gengsi seorang pria yang telah menjadi suami dan ayah itu lebih tinggi dari saat dia masih remaja."
"Papa sudah sangat malu setiap kumpul keluarga mereka hanya akan membanggakan mama yang status pekerjaan bahkan pendapatan lebih tinggi dari papa. Mereka selalu bandingkan terus menerus. Lama-lama papa juga jengah!" Rutuk Wira.
Luna terdiam, sejujurnya dia seperti sudah akan mengira kemana arah perbincangan ini. Sudut matanya juga berembun. Bukan karena penuturan papanya. Bukan karena simpati atau empati pada kisah papanya. Dia hanya sedang merasa ingin dirangkul kembali olehnya. Saat ini keadaan Luna tak ubahnya apa yang tengah terjadi pada papanya dulu. Dia butuh dikuatkan saat ini. Dia membutuhkan Adira namun kekasih hatinya sedang tidak bersamanya.
"Maafkan papa Luna... Masa remajamu penuh dengan luka..." Lirih Wira.
Kini air mata tengah membasahi pipi Luna. Dia segera menyekanya.
"Lalu?" Ujar Luna mencoba menjadi pendengar yang baik.
Dia ingin menjadi pendengar yang baik untuk papanya saat ini. Dia telah membuang waktu dengan ayahnya selama 10 tahun kini mungkin dia bisa memperbaiki hubungannya dengan ayahnya. Dia mengingat di kehidupan dulu papanya meninggal karena serangan jantung sebulan setelah papa mertua meninggal.
Dia ingat bagaimana dia menyesal karena selama hidupnya Luna tidak pernah berbakti terhadap ayahnya. Dia selalu berpikir semua yang dia lakukan tentu saja akibat keburukan ayahnya dulu. Namun saat ini, semua terlihat berubah. Seluruh kehidupan Luna dikehidupan keduanya berubah 180 derajat.
"Aku yakin Tuhan selalu memiliki rencana baik dari setiap musibah.... Aku yakin Tuhan tidak pernah membebani hambaNya dengan beban yang melampaui batas kemampuan hambaNya." Luna kembali meyakinkan dirinya.
"Papa terlanjur terhasut. Papa diam-diam menggadaikan rumah dan tanah. Setelah itu pamanmu bilang semua pembayaran melewatinya. Papa tidak pernah berpikir negatif karena dia adalah keluarga. Nyatanya uang yang papa berikan dibawa kabur..."
Mata Luna membulat dan menutup mulutnya tak percaya.
"Bukan cuma itu, papa tidak bisa kembali bekerja ditempat lama papa. Karena orangnya merasa tersinggung dengan niatan papa membuka bengkel seperti dirinya."
"Papa sedang di posisi terjatuh tapi mamamu sibuk memaki papa dia tidak mencoba menenangkan papa terlebih dahulu..."
"Jika aku menjadi mama sudah pasti akan melakukan hal yang sama." Ketus Luna.
"Kamu salah Luna!! Pelajaran pertama untukmu saat tengah berumah tangga kelak. Jika pasanganmu sedang frustasi maka dampingi dia... Support dia... Berikan hal yang baik agar semangatnya kembali. Bukan sibuk menyalahkan yang pada akhirnya menjadi lebih tertekan dan mencari pelampiasan!!" Ujar Wira menggurui.
Luna terdiam, dia kembali mengingat kehidupannya dulu.
"Kamu sudah bisa menerka kan? Papa akhirnya malas dirumah. Mamamu mengoceh bagaikan nyanyian. Dari mulai mata terbangun hingga terpejam mamamu terus merutuki papa!!"
"I feel you.... Aku pernah dimasa itu..." Rutuk Luna.
Merasa senasip jika mamanya tengah mengomelinya bahkan hanya karena kesalahan kecil mamanya akan mengomel dari subuh hingga subuh lagi. Luna mengacungi kedua jempol untuk kemampuan mamanya dalam hal ini.
__ADS_1
"Hahaha" Mereka berdua terbahak mengingat bagaimana jika mereka tengah diomeli nyonya dirumah.
"Papa tidak tahu bagaimana awalnya papa bisa cerita ditempat ibu temanmu itu. Dan tiba-tiba papa digerebek dirumahnya tengah tidur berdua. Papa sama sekali tidak bisa mengingatnya. Setahu papa, papa sedang melakukan jadwal siskamling tapi tiba-tiba terbangun tengah diadili."
"Lalu sisanya seperti yang kamu ketahui."
Luna kembali merasakan nyeri didadanya. Cinta pertamanya melakukan pengkhianatan dibelakang keluarganya.
"Apa mama tahu kebenaran papa?" Tanya Luna.
"Iya... Mama, Renata, dan Kalina tahu apa yang sebenarnya terjadi... Papa bersumpah atas nama Tuhan. Papa tidak melakukan apapun terhadap wanita itu..."
"Kenapa cuma aku yang tidak dilibatkan?"
"Kamu tidak ingat?" Tanya papanya heran.
"Hah?" Luna lebih terkejut lagi.
"Kamu dirawat dirumah sakit selama seminggu karena depresi." Jawab Wira lirih kembali mengusap pelupuk matanya.
Deg!
"Apa aku hilang ingatan?" Batin Luna.
"Setelah itu, mama memberi kesaksian bahwa mama percaya papa tidak melakukan apapun dan memaafkan papa. Kami bersikeras untuk tetap serumah. Para tetua tidak percaya mereka ingin papa menikah dengan wanita itu demi menjaga nama baik."
"Tentu saja papa menolak! Namun setelahnya banyaknya surat kaleng yang dikirim kerumah mengatakan bahwa kita akan hidup sengsara dan tidak akan nyaman. Papa semakin frustasi. Papa tidak sanggup melihat keluarga papa harus menanggung semua ulah papa. Maka papa memilih untuk pergi."
"Papa menikah secara agama dengan wanita itu namun seminggu kemudian papa mengajukan talak. Tapi papa tidak bisa kembali bersama mama, mereka akan tahu dan mungkin saja bisa membahayakan kalian."
Kini Wira terisak. Dia sungguh menyesali perbuatannya untuk kedua kalinya dia mencuci otak Luna. "Maafkan aku Liliana.. Aku kembali mengulang kesalahanku.. Ini yang terbaik buat Luna. Jika dia mengetahui status keluarga kita yang sebenarnya aku khawatir dia akan drop dan kembali mengulang kehidupannya."
"Jika ada hari dimana tuhan mengumpulkan hambanya dan mengabulkan sebuah permohonan. Aku ingin 15 tahun yang lalu tidak pernah terjadi jika tidak memungkinkan maka aku ingin memohon agar sisa hidupku aku berikan untuk putri tersayangku Luna."
"Sudahlah pah..." Luna berinisiatif mendekati papanya dan menepuk punggungnya menenangkan.
Dia tidak sanggup mengungkapkan apa yang ada dipikirannya. Semuanya menyesakkan dadanya. Membuat mulutnya juga kelu untuk berucap. Wira segera merangkul putri kesayangannya. "Jangan menangis ssayaaang... Papa tidak pernah ingin melihat kamu menangis..."
Rangkulan papanya sukses membuat tangisnya pecah seketika. Dia tidak peduli dengan reaksi sekitar. Hatinya sudah sangat rapuh... Dia sudah tidak mampu menahannya.
"Huuuuuuaaaaaaaaa........"
"Lunaaaa.... Huaaaaa.... Kamu nangis papa nangis juga... Huaaaa" Wira sama terisaknya dengan Luna.
"Ih apa sih papa... Bikin malu aja!!" Rutuk Luna.
Papanya cengengesan. "Kamu mau kembang gula? Papa akan carikan... Papa ingat kamu paling suka kembang gula... Setiap kamu menangis papa akan membelikannya dengan balon sekali..." Ujar Wira mencoba menghibur.
"Aku sudah besar!" Rutuk Luna.
"Oh tiydak bagi papa kamu masih Little girl papa... Kesayangan papa" Wira memegang kedua pipi Luna. Mengelus pucuk rambutnya. Bukannya haru Luna kembali terisak.
"Ahaaa... Lihat didepan ada kembang gula!! Papa bawakan untukmu..." Pekik Wira.
Luna melirik kearah papanya memekik. "Sejak kapan ada penjual kembang gula depan hotel?" Batinnya.
Luna menarik tangan papanya. "Emang papa punya uang?" Tanya Luna.
Di ingatan Luna papanya adalah seorang pengangguran.
"Tentu saja!!" Pekik papanya konyol.
Luna tersenyum namun pelupuk matanya berembun.
"Simpanlah." Luna mengambil dompetnya dan memberikan salah satu ATM yang berisi pendapatannya dari EPS.
Luna menyerahkan kartu ATM miliknya.
"Apa ini?" Tanya Wira heran.
__ADS_1
"ATM ku... Disini berisi uang gajiku di EPS. Papa bisa menggunakannya. Nanti tiap bulan aku akan mengisinya untuk papa gunakan." Terang Luna.
Wira menyerahkan kembali. "Tidak perlu Luna, papa sudah bekerja papa tinggal sendiri semua pendapatan papa cukup untuk kebutuhan papa."
"Tidak perlu berbohong... Papa kurus begini papa sakit kan? Kak Renata memberitahuku papa sering merasa sakit dibagian jantung kan?"
"Alah biasa penyakit sudah tua... Ga perlu dengerin kakakmu yang selalu berlebihan itu..."
"Gunakan uang ini untuk berobat ke rumah sakit ternama. Jika papa masih ingin melihatku memberikanmu cucu."
Kini Wira kembali terisak. "Lunaaa.... Seharusnya papa lah yang memberikanmu uang... Papa tidak ingin menyusahkanmu..."
"Aku sudah besar lagian aku otw kaya raya... Jadi tidak perlu merasa sungkan."
Wira berhenti dan tertegun. "Kejang di otaknya sungguh membuat putriku melupakan siapa dirinya dan bagaimana kehidupan keluarga besarnya."
Wira mencoba mengorek informasi lainnya mengenai Luna mengenai kedua pria yang selama ini mencari informasi pribali Luna sampai meminta XK yang menerbitkannya.
"Kamu hebat ya bisa ketemu pria kaya raya yang tampan gitu... Anak papa memang bibit unggul!!" Wira mengacungi dua jempol seraya tersenyum.
"Aku sekarang tahu dari mana sifat nistaku diturunkan!!!" Rutuk Luna.
"Apa kamu yakin tidak menyukainya? Dia tampan gitu... Ya masih kalah tampan sama papa sih... Buktinya mama mu masih setia tidak pernah menerima lamaran pria lain."
"Hoek!" Luna berekspresi muntah.
"Aku tidak sengaja bertemu dengannya. Aku tidak tertarik dengannya. Sejujurnya aku sudah punya tunangan sendiri seharusnya kami menikah bulan depan." Luna menghembuskan nafas kasar.
"APAA?" Wira tidak percaya dengan penuturan anaknya yang semakin ngawur!
"Apa yang dia maksud Diaz?!" Batin Wira.
"Kenapa bisa seperti ini? Pasti karena dia tidak sekaya pria ini ya?" Goda Wira.
Jika dibanding Mahessa Kekayaan keluarga Wijaya tentu masih dibawahnya.
"Asal papa tahu Adira Renald juga adalah seorang CEO Renald Group. Hampir setara dengan Mahessa. Lagian aku tidak perduli dengan siapa yang lebih kaya bagiku aku mencintai Adira dan dia juga sangat mencintaiku sudah cukup." Ujar Luna.
Wira menganga dengan penuturan anaknya. "ASTAGA!! PUTRIKU PLAY GIRL!!"
"Pantas saja keluarga Renald memindai Luna. Pewarisnya memadu kasih dengan anakku. Apa jadinya jika ingatan Luna kembali saat dia bertemu Diaz. Kedua lelaki ini sangat menyedihkan. Dijadikan pelampiasan oleh putriku yang cemerlang dalam hal menggaet pria!!"
"Mana papa mau lihat seperti apa rupa pacar baru putriku."
"Pacar baru?" Luna terkejut dengan penuturan papanya.
"Bukankah pacarmu Diaz? Baru bulan kemarin kamu mengenalkannya pada papa." Wira memancing reaksi Luna sekaligus ingin mengetahui sejauh mana ingatannya terhapus.
DEG!
"Apa aku benar pernah menganalkan Diaz dengan papa?!" Luna terpaku dengan pertanyaan papanya.
"Apa sih pah.. Bisa kita tidak membahasnya" Raut wajah Luna menjadi sendu.
Wira juga semakin merasa bersalah dengan kedua sejoli ini. "Semua karena aku hidup Luna tersiksa seperti ini." Wira kembali meneteskan air matanya.
"Apa yang harus papa lakukan Luna?"
"Hah? Maksud papa?"
"Papa tidak ikhlas menikahkan kamu dengan Mahessa walau dia sangat kaya dan tampan..."
"Aku tidak tahu... Mahessa lebih kejam dari tampangnya. Papa lakukan saja sesuai rencana sejauh ini aku harap semua berjalan sebagaimana semestinya."
Jika dibilang apa ini putus asa. Mungkin.... Namun seperti pepatah mengatakan "Ada harga yang pantas untuk apa yang ingin kita capai... Saat ini aku hanya terpikir dengan bisnisku sendiri. Bantuan Mahessa tentu saja menjadi tangga menuju puncak teratas karierku..."
"Sejujurnya papa bisa menggulingkannya Luna. Hanya saja... Papa juga membutuhkan bantuannya melindungimu dari Wijaya." Batin Wira.
* * * * * * * * * *
__ADS_1