
Detik-detik matahari terbenam Adira mengajak Luna duduk di area depan pagar pembatas. Mereka duduk berdua, tak banyak yang mereka bicarakan. Luna terus memantau posisi Sandra dan Daniel. Mereka juga menjauh memilih melakukan aktifitas mereka. Mungkin mereka sedang memberi waktu bagi dua sejoli ini yang sedang dimabuk asmara.
Saat mulut Luna ingin berucap, tiba-tiba Adira mencium bibirnya perlahan. Luna terkejut namun ciuman itu semakin liar Adira buat. Dia memainkan lidahnya didalam, menyesap nya perlahan bahkan kini ******* bibirnya. Luna tak kuasa menahan godaan ini.
Luna mendorongnya perlahan dia melihat Adira kecewa.
"M-as, ini ditempat umum loh ki....." Belum selesai kalimat yang akan Luna ucapkan dia kembali menciumnya.
"Hmmmmpp Maaass.." Luna mendorongnya kembali namun tenaga tak cukup kuat melawan kekasihnya yang telah tersulutkan hasratny.
Adira terus bermain dengan lidah di dalamnya namun dia tiba-tiba berhenti dan matanya menatap Luna lekat penuh gairah yang membara. Sekarang mereka sedang mengatur nafas yang terengah dengan debaran jantung yang berpacu dengan cepatnya.
"Jika tidak ingat besok kita masih bekerja aku sudah menggotongmu ke hotel sekarang sayang." Lirih Adira berucap di telinga Luna membuat Luna bergidik.
"D-asar mesum!" Luna menutup tubuh bagian depannya.
"Luna...." Lirihnya di belakang telinga kekasihnya.
"Dia sengaja melakukan ini terus! Dia kembali menciumku lagi apa dia benar-benar tidak peduli dengan kehadiran Sandra dan Daniel! Dasar pria MESUM!!"
Tanpa mereka sadari di sisi lainnya kedua sahabatnya sudah memperhatikan keduanya lama.
"San, baru tau gue bang Dira di depan Luna seekstrem itu?" Ucap Daniel dengan nada serius.
"Eh anak setan tutup mata lu. Belum cukup umurkan lu!"
Bergegas Sandra menuju tempat Luna dan Adiraira yang sedang di mabuk cinta. Sekarang mereka benar-benar mengira bumi ini hanya tinggal mereka berdua!
* * * * *
"Eheeeem.." Suara deheman Sandra membuat mereka tersentak, sontak saling melepaskan.
"Duhai anak manusia, kamu anggap kami ini apa?"
"Cepat kita pulang panas aku lama-lama disini! Ga baik juga buat kalian!" Habis sudah kesabaran SSandr. Dia mengomel seperti dinosaurus.
__ADS_1
Wajah Luna memerah menahan malu. Tapi entah mengapa lelaki di sampingnya itu mukanya datar biasa aja seperti tidak berdosa.
"Hebat sekali!"
* * * * *
Saat ini mereka sudah berada di kota B kembali. Karena esok masih harus bekerja. Nasib buruh coorporate ya begini. Tentu saja saat ini Luna pulang bersama Adira. Adira memarkirkan motornya dan beranjak mendekatiku.
"Aku bisa menebak Mas Dira pasti belum puas dengan aksinya yang terganggu oleh Sandra di Central Island. Aku harus siapkan mental dan fisikku sekarang." Luna meratapi nasip.
"Kenapa bengong yang?" Tanya Adira mendekat.
"Ah enggak." Luna menggelayut manja di lengannya.
"Eh tunggu... Kenapa aku bersikap manja seolah kami telah kembali bersama?" Luna menggigit bibir bawahnya.
"Ah bodo lah!! Kalau aku menginginkan bersama lagi apa aku salah?"
Mereka segera memasuki kamar. Tempat itu dari awal Luna menempatinya sampai sekarang selalu sepi. Terkadang dia merasa horor jika malam hari harus melewati lorong dan tangga. Luna segera membukakan pintu, Adira menaruh sepatunya di rak dan bergegas masuk. Luna menutup pintu dan menguncinya. Sudah hal biasa tamu disini diperbolehkan masuk dan menutup pintu.
Adira menunggu dengan menyalakan tv seperti biasa. Luna telah selesai menganti baju dengan dress tidur yang lebih tepatnya Lingerie. Luna sangat terbiasa memakai pakaian tidur khusus untuk wanita yang telah menikah itu. Dengan julukan baju haram yang memang setipis itu. Bahkan pria di depannya dengan sangat jelas bisa melihat isi di balik baju tidur tipisnya itu.
Adira menyeringai menatap nakal, dia bergegas menghampiri kekasihnya yang masih berada di dekat kamar mandi. Dia merangkul erat dan menghujaninya dengan ciuman mesra.
"Aaaaahh..." Luna melenguh pelan merasakan setiap sentuhan sensualitasnya yang membuat dia seperti kembali tersengat aliran listrik jutaan volt.
Sebenarnya saat sudah menikah dikehidupan Luna sebelumnya dia sudah hafal dengan gaya permainan ranjang mereka. Seperti wajar toh kita sudah menjadi pasutri.
Namun kali ini dikehidupan saat ini, selama mereka melakukan hubungan badan juga sudah tak terhitung gaya yang sudah mereka praktekan. Luna bahkan sempat takut dan curiga apa mungkin prianya bisa seahli ini karena sudah pernah melakukan atau mungkinkah dia sering menonton film dewasa?
Luna menjadi teringat dulu seminggu setelah mereka melakukan hubungan yang pertama kali di hotel. Dia kembali meminta berhubungan badan yang kagetnya menyuruhku berada diatasnya.
"Dia bilang bahasa kerennya woman on top. Kalian tau seperti apa rasanya?"
"Ikan hiu makan tomat, rasanya sungguh niqmad seperti anda menjadi iron men hahaha."
__ADS_1
Sering kali Luna seperti kerasukan dan menjambak rambut kekasihnya. Namun setelahnya ia meminta maaf, tapi Adira justru terkekeh dan berujar.
"Aku sangat menikmatinya sayang. Jangan kamu tahan aku suka rintihan kamu bahkan jeritan suaramu buat aku makin ingin teruss..."
"Aaaaaa malu rasanya mengingat semua itu!"
Adira terus menggerayangi tubuhnya. Tangannya memainkan tali dress tipis dan menurunkannya dari bahu mengekspose bagian depan tubuh kekasihnya yang aduhai. Dia menyesapnya meninggalkan kissmark disana. Tangan Luna juga tidak tinggal diam dia membuka baju yang melekat ditubuh kekasihnya kemudian membuka kancing celananya. Adira tersenyum manis menggoda sudah sangat hafal dengan kelakuan wanitanya jika sudah tersulut hasratnya.
"Kamu nakal ya..." Bisiknya tanpa aba-aba menggotong tubuh Luna dan menghempaskannyadi tempat tidur.
Nafasnya tengah memburu dia kembali menampilkan senyuman mematikannya yang hanya akan dia berikan dalam situasi seperti ini. Luna terpana, tangannya merangkul pundaknya seperti biasa dia meminta ijin dan Luna tersipu.
"Aku mencintaimu mas." Lirih Luna sebelum mereka memulai permainan papa mama.
Adira hanya melengkungkan senyumnya kemudian dia sudah hilang kendali, dia menerobos masuk begitu saja tanpa foreplay. Luna berusaha menahan jeritan dengan menutup mulut dengan tangannya. Matanya dia tutup erat merasakan setiap gerakan yang Adira berikan yang akan membuat dia merasakan bermacam rasa, melayang, perih dan candu!
Adira mengatupkan bibirnya dia masih berusaha menembus inti milik Luna. Dengan bantuan satu tangannya membukakan jalannya dan....
Luna kembali menjerit menahan rasa perih dan sesak di bawah sana. Terdengar lenguhan pendek prianya seolah menyoraki keberhasilannya menembus batas nol seorang pria dan wanita. Dia membiasakan kehadiran adik junior di dalam sana membuat Luna nyaman dengan hadirnya.
"Sudah siap sayang?" Ujarnya menggoda.
Luna hanya menggelengkan kepalanya kekiri dan kanan dengan suara terengah yang bisa prianya dengan.
"Arrghh..." Keduanya sama-sama bersuara dan menikmati nikmatnya surga dunia.
Seperti biasa Adira tidak pernah ingin membuang waktu dia menggunakan seluruh tubuhnya juga mengeksplorasi tubuh kekasihnya. Luna mendelik dan mengatupkan bibirnya rapat kemudian tak kuasa menjerit menahan perihnya saat gigi rapi prianya menggigit puncak bukit kembarnya.
Tubuh Luna bergetar hebat dia telah merasakan pelepasannya, energinya merosot tajam Adira yang sudah tahu pasti wanitanya telah sampai dia menghentikan gerakan agresifnya.
"Aku mencintaimu sayang..." Adira membungkuk mencium bibir Luna.
Tak lama kemudian dia menyelesaikan bagiannya. Dua puluh menit sudah mereka melakukan olahraga malam. Luna tertidur dalam pelukan pria perkasanya. Biasanya Adira akan melepaskannya dan bergegas membersihkan diri kemudian ijin pulang tapi sepertinya Luna merasa Adira tertidur merangkul erat dirinya dan ikut tertidur.
* * * * * * * * * *
__ADS_1