Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 52 : I'm Happy


__ADS_3

Saking lelahnya hari ini Luna tertidur dalam dekapan prianya selama atraksi berlangsung. Tidak lama Luna di bangunkan oleh kecupan lembut dari bibir kekasihnya.


"Sayaaang..."


"Kamu masih ngantuk ya?!"


"Kita pulang sekarang acaranya udah selese."


Luna menggeliat, dia merentangkan tangannya ke atas.


"Maaf aku ketiduran..."


"Mas ga ikut tidur ya?!"


"Kalau aku tidur siapa yang jagain kamu selama tadi kamu tidur." Dia mengecup mesra kening Luna sukses membuatnya tersipu.


"Yuk..." Ajaknya seraya mengulurkan tangan.


Selama perjalanan pulang menggunakan MRT Luna juga tertidur, badannya telah diambang batas. Sesampainya di area Royal Junction tetiba kaki Luna kram.


"Aaawhh..." Pekik Luna seraya memegang kaki sebelah kanan.


"Kenapa yang?" Terlihat ekspresi khawatir dari kekasihnya.


"Kaki ku kram..." Rintih Luna merasakan kaki yang kebas.


"Astaga... Kita cari tempat duduk dulu." Dengan khawatir dia sibuk mengedarkan pandangan mencari tempat yang bisa digunakan untuk Luna mengistirahatkan kakinya. Padahal tinggal lima menit lagi sampai di area hotel.


"Disana yang.. Sini aku gendong.." Adira segera berjongkok, mengintruksikan agar Luna naik dipunggungnya.


Awalnya malu namun kakinya benar-benar seperti mati rasa. Akhirnya dia mau juga digendong di punggung kekasihnya. Sesampainya di kursi panjang yang memang khusus disediakan bagi para pejalan kaki yang ingin beristirahat Adira meletakan wanitanya dengan hati-hati kemudian mulai memijit dibagian yang sakit.


"Aaawwwww..." Luna meringis kesakitan.


"Maaf yang.... Sakit banget ya? Ke tempat pijit ya?" Tanya kekasihnya khawatir.


"Sakit sih mungkin butuh di istirahatin aja nanti pas sampai hotel aku rendam air panas aja." Hardik Luna.


"Beneran? Nanti aku pijit juga di hotel."


"Masih belum bisa jalan yang?" Tanyanya kemudian.


"Di coba deh."


Adira mencoba memapah Luna, namun ia masih kesulitan.


"Aaawwww..." Luna tidak bisa merasakan kakinya dengan baik.


"Ya udah jangan dipaksa, sini aku gendong lagi."


"Tapi nanti mas cape. Aku berat loh..." Hardik Luna lagi.


"Enggak ko. Biar cepet sampe juga jadi cepet diistirahatin ya.." Akhirnya Luna menyanggupi.


Sepanjang perjalanan ada beberapa orang yang memperhatikan mereka, Luna menyembunyikan wajahnya dibelakang bahu bidang prianya. Akhirnya sampai di area hotel setelah masuk lift Adira menurunkan Luna.


"Cape ya yang..."


"Enggak sayaang."


Adira mengecup kening kekasihnya mesra.


Tring!


Pintu lift terbuka. Luna mencoba untuk berjalan namun tanpa basa-basi Adira membopongnya.


"Maaass.." Luna membenamkan wajahnya di dada bidang kekasihnya.


Wangi parfume yang sedikit memudar namun masih membuat Luna terbius yang membuatnya enggan melepaskan pelukannya. Luna semakin mengeratkan rangkulan tangan di bahu Adira. Adira menurunkannya untuk membukakan pintu kemudian kembali membopong kekasihnya. Luna tersipu malu dua hari ini ia sungguh dimabuk asmara oleh perhatian kekasihnya.


"Maaf ya mas ngerepotin kamu deh..." Rengek Luna manja.


"Ini ga gratis!" Kekasihnya tersenyum penuh makna.


Luna terkekeh mengetahui maksudnya, ia duduk di tepi tempat tidur Adira mulai membukakan sepatu Luna, wanita itu tersentuh selama ini yang dia tahu yang selalu memperlakukannya bak putri hanya mantan kekasihnya.


"Astaga NALUNA!!!" Pekik Adira kemudian.


"KAKI KAMU LECET KOK DIEM AJA TADI DISANA!!"


"Aku pikir kamu diem berarti ga kenapa-kenapa!!" Sungut Adira emosi.


Luna sontak terkejut Adira tiba-tiba murka karena kini kedua kakinya lecet. Sejujurnya Luna tidak terbiasa memakai sneakers dan ini pertama kalinya baru pula!


Kedua tumitnya lecet memerah dan di kedua ujung kelingkingnya juga sama lecetnya.


"Kamu kayak gini aja ga bisa sayang sama diri sendiri gimana mau sayangin aku!" Adira masih mengomel dengan menunjuk telunjuknya di kening Luna.


"M-Maaf..."


"Aku ga mau disereet pulaaang..."


"Makanya aku diem aja!" Rengek Luna memelas.

__ADS_1


"Kamu nih pinternya pas kerja doang!!" Rutuk Adira kesal.


"Maafin aku ya.. Ini ga parah ko besok aku tempel plaster." Rayu Luna dengen menggelayut manja di lengan kekasihnya.


"Lain kali lebih perhatiin lagi sama diri sendiri."


"Aku siapin air panas dulu. Nanti kita bersihin sekalian mandi ya." Kini nada suaranya sudah melemah.


Luna hanya membalas dengan senyuman.


* * * * *


Adira tengah membersihkan kaki Luna yang lecet. Dia telaten sekali mengobati kekasihnya, sebelumnya ia menelpon pihak hotel agar membawakannya kotak p3k. Sekarang dia tengah memberikan obat luar kemudian menempelkan plester. Sekelebat kejadian masa lalu setiap kali Luna atau anak-anaknya terluka Adira akan sigap mengobati atau langsung mengajak mereka ke UGD.


Luna kembali teringat saat Nena demam tinggi ia panik bukan main. Namun dengan sigap Adira membawanya ke UGD dan tidak mengeluh lelah saat bergantian menjaganya karena ternyata Nena harus dirawat inap.


"Tidak pernah sekalipun keluar dari mulutnya bahwa dia lelah, bosan atau kurang nyaman. Dia selalu menutupi segala apa yang dia rasa. Dia hanya meminta untuk di manja ketika dia dirumah."


"Dia juga satu-satunya orang di rumah yang jarang sakit. Dia bilang jika dia sakit siapa yang akan menjaga kami." Tanpa sengaja air mata Luna lolos terjatuh begitu saja mengingatnya kembali.


"Cintanya memang tidak pernah berubah..." Batin Luna.


"Sakit banget ya yang..." Tanya Adira dengan nada khawatir membuyarkan lamunan Luna.


"Enggak ko, perih dikit aja." Ujar Luna sendu.


Tangannya merangkulleher prianya. "Makasi mas..."


"Lain kali ga ada yang kedua kalinya!"


"Maaf ya aku ga perhatiin dari awal..." Lirih Adira berucap dengan membelai pipi Luna merasa bersalah.


"Mandi sekarang?" Tanyanya kemudian.


Luna mengangguk kemudian Adira membantunya dengan mendudukan di Bathtub dengan nyaman.


Adira membersihkan tubuh Luna dengan telaten, dia bahkan tidak sedang ingin mengusili Luna namun terlihat jakunnya naik dan turun.


"Sungguh aneh, aku malah ingin menggodanya." Batin Luna mulai menunjukan kenistaannya.


"Sayang....." Panggil Luna manja.


Adira tengah membersihkan punggung Luna, Luna kini merentangkan tangan di kepala kekasihnya dan mencium bibirnya.


"Kamu sengaja godain aku yang?" Adira membalas ciumannya.


Luna berbalik badan dan bersiap dengan posisi woman on top. Adira menyeringai akan tingkah mesum kekasihnya.


"Aaaahh..." Lenguh Adira menekan kepalanya dalam dekapan Luna.


"Love you mas...." Luna bisikan kata cinta di telinga Adira dan membuat kissmark disana. Anehnya pria itu tidak mencegah namun menikmatinya.


"Mas..."


Keduanya tengah berbaring di tempat tidur, namun kantuk Luna justru menghilang. Luna menatap kekasihnya telah lebih dulu terpejam.


"Hmmm..."


"Mas ni belajar dari mana sih, aku curiga mas suka nonton begituan ya." Tanya Luna penasaran.


Sedari dulu ingin sekali Luna mengetahui dari mana keahlian ranjang seorang Adira. Dia selalua cemas atau cemburu jika prianya berhubungan dengan wanita lain.


"Mana mau aku nonton begituan."


"Emang aku cowok apaan mening praktek langsung." Dengan terkekeh Adira menjawab datar.


"Jadi mas sudah pernah praktek sama siapa aja?" Luna bangkit dari tidurnya dan mulai merajuk.


"Sama kamu lah. Kamu nih mikirnya aneh-aneh aja." Adira makin terbahak.


"Ko bisa gayanya banyak beneer!" Tanya Luna polos.


"Ya itu namanya improvisasi." Jawab prianya tak kalah datar.


Luna hanya bisa menganga, "Mas, janjikan ga akan meninggalkan aku lagi?" Tanya Luna lirih kembali merebahkan diri di samping prianya dengan memainkan jari di dada bidangnya yang tak berbalut apapun.


"Tidak akan pernah sayang..." Adira terbangun dan mengecup kening Luna lembut.


"Sayang bulan depan kita menikah ya?"


"Aku tidak ingin ada penolakan lagi!"


"Lakukan apa yang ingin kamu lakukan berkarier atau apapun. Kamu tidak ingin memiliki anak sekarang aku tidak masalah. Selama kamu sudah berstatus sah menjadi istriku maka aku lebih tenang." Ujar Adira serius dengan tatapan mematikan seperti saat akan menginginkan tubuh Luna.


Awalnya Luna tercekat, namun perlakuan luar biasa prianya selama beberapa hari ini membuat Luna yakin akan pilihannya pada Adira.


Luna membelai rambut hingga pipi kekasihnya dengan tatapan cinta "Iya sayang..."


Luna tidak ingin terjatuh dalam dosa yang cukup lama, dia juga ingin mengakhirinya. "Aku bisa membuat surat perjanjian pra penikahan, jadi sebisa mungkin tidak ada yang di rugikan dari kedua belah pihak!"


Terpancar kebahagian dari wajah Adira, kemudian kembali menyesap bibir Luna lembut. Adira mengeratkan genggaman tangan keduanya dan suasana kembali memanas.


"Aaaaahh sayaaang..." Tubuh Luna bergetar hebat.

__ADS_1


"Naluna Maharani, sebentar lagi kamu akan menjadi istriku dan milikku sepenuhnya!" Racau Adira saat hendak kli*maks.


"Aaarrggh!"


Keduanya mencapai puncaknya bersamaan. Adira mengecup kening Luna penuh kelembutan dengan senyuman mematikannya menatap wajah cantik natural kekasihnya yang masih terengah. Ingin rasanya dia meminta lagi namun dia ingat Luna tengah kecapean, keduanya kemudian memilih tertidur dalam dekapan saling menggenggam.


* * * * *


"Pagi Sandraaaaaa..."


Suara Luna riang memecahkan kesunyian ruangan yang hanya berisi Sandra saat ini.


"Seneng banget lu!"


"Diapain ama si Dira!" Selidiknya


"Diberi kasih sayaaaaang dong!" Jawab Luna manja.


"Preeet! Mana pesenan gue dah beliin?" Sandra menjulurkan tangan.


"Pastinya!"


"Nih gue kasih bonus lagi."


"Beneran? Wah gue mesti bilang Dira sering-sering bikin lo happy biar gue kebagian happynya!" Pekik Sandra kegirangan menghampiri Luna sekarang.


Gimana Sandra tidak merasa senang dia cuma pesan sling bag Fosil. Luna memberinya bonus skin care SKII lengkap, belum lagi peralatan lenong MAC dan NAKED bukannya untung malah buntung. Tapi ini bukan soal bisnis, ini soal dedikasinya sebagai sahabat terbaik Luna yang selalu support dirinya bahkan mau merahasiakan apa yang tengah terjadi padanya selama ini. "Semua yang aku beripun mungkin belum sebanding atas apa yang aku berikan ini."


"Lu dapet untung banyak ya? Ini semua berapa coba belum lagi eypun kemaren. Asli lu ga jual diri?!" Tanyanya penasaran.


"Kamfreeeet lu kalo ngatain gue ga tanggung-tanggung!" Sungut Luna mulai kesal.


"Gue ngefet!!


"Puas Lo!!"


"Idiiih... Jadi lo ngapain aja bisa sesumringah ini?"


"Aku dah bilang di bikin mabuk kasih sayang. Hahaha" Luna tak tahan untuk tidak terbahak.


"Setaaan lo!" Dia menepuk bahu sahabatnya.


"Kemana aja? Mau dong kapan-kapan kesana bareng gue." Bujuknya.


"Ok next week ya."


"Seriously? Belum gajian tapi."


"Gue yang bayar semuanya asaaaaaal...."


"Tiba-tiba gue ga enak perasaan sih."


Luna tersenyum menyeringai! Tentu saja Luna butuh Sandra.


"Hari ni lu ijin nyokap ya nginep tempat gue? Boleh ga? Aku mau ceritain semuanya."


"Lu ko berkaca-kaca." Tanya Sandra heran.


"Gue mau married bulan depan san." Lirih Luna bahagiam


"Serius? Sama Dira?" Sandra terkejut.


"Tentu saja." Luna tersenyum puas tanpa disadari ia memainkan liontin yang kekasihnya beri.


"Set daaah..."


"Dah pake kalung baru aja..."


"Makanya happy bener pantes sih!" Ledeknya


"Gue seneng akhirnya lu bisa bahagia sis. Gue doain semua lancar."


"Makasi san..."


Luna mengangguk masih dengan senyum bahagia yang terpancar disepanjang hari ini. Kemudian Luna ijin ke toilet sebenernya hanya ingin melihat Adira diruangannya.


"Kok dia ga ada di kursinya? Apa ada meeting?" Gumam Luna tidak memperhatikan langkah kakinya.


Bruuukk!


"Ups maaf ga liat." Ujar Luna tanpa memperhatikan orangnya.


"Gapapa sayang lain kali ati-ati jangan liatin kursi aku terus." Canda prianya sambil mengacak rambut Luna.


Luna refleks menghindar seraya melihat wajahnya.


"Maaaas..." Luna menepuk bahunya sungguh malu!


"Pameeeer terooooooos... Masih pagi juga hawanya udah panas gini!" Sungut Daniel yang berada di belakang Adira.


Sekarang Luna tengah tersipu malu, Adira melewatinya begitu juga Daniel.


"Aaaahh Nalunaa!" Rutuk Luna dalam hati.

__ADS_1


* * * * * * * * * *


__ADS_2